
“Tante, Alex terus saja menolak bertemu denganku.” Laudya merajuk di depan mommy Nela. Istri kedua daddy Alex setelah mommy Sandra. Wanita itu merupakan sahabat dari ayah Laudy. Gadis yang menyukai Alex sejak pertama kali bertemu.
“Kau tenang saja sayang, tante akan mencari cara agar dia mau bertemu denganmu.” Nela mengusap pipi Laudya dengan lembut. Dia juga sudah menganggap Laudya sebagai putrinya sendiri.
“Tapi kapan tante?” Laudya seolah sudah tidak sabar menunggu dimana dia akan bertemu dengan lelaki yang sangat dia cintai dan ingin dia miliki. Nela tersenyum melihat tingkah Laudya. Gadis ini memang dimanja sejak kecil. Semua keinginannya selalu dipenuhi oleh kedua orang tuanya. Hingga sekarang apa yang dia inginkan harus juga terpenuhi. Seperti saat ini dia menginginkan seorang laki-laki yang dia cintai tanpa peduli lelaki itu mencintainya juga atau tidak.
“Secepatnya sayang.” Nela mencolek dagu Laudya dengan gemas saat melihat wajah gadis itu yang seperti anak kecil minta dibelikan mainan.
“Tante janji?” Laudya mengangkat jari kelingking meminta kepastian agar mommy Nela menepati janjinya.
“Iya tante janji.” Kedua jari kelingking mereka pun menyatu. Sebagai tanda kesepakatan perjanjian mereka.
Ruang kerja Robert ayah Laudya.
Robert mengalihkan pandangan dari layar laptop miliknya saat mendengar decitan pintu yang di dorong oleh seseorang dari luar.Senyum dia berikan kepada wanita yang merupakan sahabat sekaligus selingkuhan dirinya sejak dulu.
“Sayang.” Nela mendekat ke arah Robert lelaki tua dengan uban yang mulai memenuhi rambutnya dan jangan lupakan perut buncit dan tubuh gemuk yang semakin memperburuk penampilan lelaki itu. Namun Nela harus tetap dekat dengan Robert karena hanya dia sumber uangnya saat ini.
“Bagaimana? Apa Laudya masih tetap menginginkan lelaki itu?”
__ADS_1
“Iya, sepertinya putrimu itu sangat mencintai putra tiriku.” Nela memeluk tubuh Robert dari arah belakang kursi dimana lelaki tua itu duduk.
“Kau benar, putramu itu memang tampan selain itu dia juga salah satu pengusaha muda tersukses di negeri ini. Tidak heran jika banyak gadis yang menyukainya.” Robert mengakui kehebatan Alex di dunia bisnis. Bahkan lelaki muda itu berhasil membuat perusahaan ayahnya yang hampir bangkrut kembali Berjaya.
“Iya tapi dia tidak mau tinggal bersama denganku. Membuatku susah untuk mengendalikan dirinya. Bahkan aku hanya bertemu dengannya sekali saja. Itupun karena wasiat daddynya.”
“Dan kau hanya mendapatkan rumah mewah itu saja.Hahaha.” Robert menertawakan Nela yang tidak mau memiliki anak dengan lelaki itu hanya karena daddy Alex tidak mencintainya.
“Seharusnya aku menuruti ucapanmu dulu. Jika aku memiliki anak maka separuh hartanya pasti akan menjadi milikku.”
“Menyesal memang selalu belakangan honey. Sebaiknya kita lakukan kegiatan yang tidak akan membuat kita menyesal.” Robert mengedipkan sebelah matanya. Kemudian menuntun Nela menuju ruangan dimana hanya ada sebuah kasur disana. Tempat dimana Robert dan Nela melakukan kegiatan terlarang mereka dengan dalih membahas pekerjaan. Pekerjaan yang hanya memuaskan mereka berdua saja. Kegiatan yang menguras keringat membuat kedua tubuh mereka seperti melayang-layang diudara. Kegiatan yang hanya dipenuhi oleh suara merdu keduanya. Suara dimana dua manusia berbeda jenis mencapai surga duniawi yang memabukkan. Dan itu sudah mereka lakukan selama bertahun-tahun. Bahkan sejak istri dan suami mereka masih hidup.
Perusahaan Papa Sean
“Ada apa pa?” tanya Alex kemudian menyesap secangkir kopi yang terlihat masih panas dari asap yang terlihat mengepul yang sebelumnya dibuatkan oleh salah satu OB.
“Papa hanya ingin berbicara santai saja dengan putra papa. Apa kau sibuk?” tanya papa Sean yang kemudian ikut menyesap secangkir kopi di depan mejanya.
“Tidak, Alex tidak ada meeting hari ini.”
__ADS_1
“Baguslah, kalau begitu temani papa menghadiri pesta rekan bisnis papa malam ini.” Papa Sean sengaja mengajak Alex karena dia ingin memperkenalkan putranya dengan putri rekan bisnisnya itu.
“Kenapa bukan mama atau Bryan saja Pa ?” Alex terlihat enggan untuk menghadiri sebuah pesta. Karena dia terlalu malas meladeni putri para rekan bisnis papanya.
“Emily sedang sakit jadi mama tidak bisa pergi dia pasti lebih mementingkan kesehatan putrinya daripada menemani papa ke sebuah pesta. Kau tahu sendiri mamamu kan. Sedangkan Bryan, anak itu sudah memiliki janji terlebih dahulu dengan teman-temannya. Dan dia merasa tidak enak jika harus membatalkan janji dengan teman-temannya.”
“Anak itu.”
“Apa kau keberatan menemani papamu ini Nak?” tanya papa Sean yang berpura-pura sedih. Dan cara ini selalu ampuh membuat Alex mau pergi dengannya.
Alex menatap wajah papa Sean. Dia tidak mungkin membiarkan papanya pergi seorang diri. Alex menarik nafas dan membuangnya dengan perlahan. Kedua sudut bibir papa Sean melengkung. Dalam hati dia begitu senang.
“Tapi dengan satu syarat pa?” dahi papa Sean berkerut dalam. Tidak biasanya Alex mengajukan syarat jika pergi dengannya.
“Baiklah.”
“Alex tidak ingin dikenalkan dengan siapapun. Termasuk putri-putri rekan bisnis papa. Itu membuat Alex tidak nyaman dan membosankan.” Alex bergidik ngeri membayangkan para gadis yang selalu mengikuti setiap langkahnya kemanapun dia pergi.
“Alex.” panggil papa Sean.
__ADS_1
“Iya.”
“Apa kau seorang homosex?”