Inara, My Baby Sugar

Inara, My Baby Sugar
Siapa lelaki itu


__ADS_3

Plaza Indonesia


Sean duduk di salah satu café yang berada di mall tersebut pun dengan Inara. Saat perjalanan menuju apartemen Sean mendapat telepon dari sekretarisnya bahwa ia harus menghadiri pertemuan dengan salah satu rekan bisnisnya. Dan pertemuan ini tidak bisa diwakilkan.


Lima belas menit berlalu Sean masih menunggu. Inara sibuk bermain ponsel sesekali dia meminum jus yang tadi sempat dia pesan.


“Apa kau lapar? Aku akan pesankan makanan untukmu?”


“Apa tidak sebaiknya kita menunggu rekan bisnismu itu?”


“Apa kau yakin ini sudah jam tiga sore dan kita melewatkan jam makan siang karena menunggu orang ini.” kesal Sean saat melihat jam di pergelangan tangannya.


“Bersabarlah mungkin dia terkena macet.” ucap Inara menenangkan Sean walaupun sejujurnya dia sudah sangat lapar apalagi tadi pagi dia tidak sempat sarapan.


Dari arah pintu masuk café datanglah seorang wanita cantik dengan rok hitam pendek, kemeja tanpa lengan dengan belahan dada yang rendah masuk bersama asisten pribadinya.


“Selamat sore tuan Sean, maaf kami terlambat biasa Jakarta macet.” ucap Vilia asisten pribadi Angela CEO perusahaan periklanan terbesar di Jakarta.


“Lima belas menit saya menunggu kalian.” Ucap Sean yang sedikit kesal karena menjadikan macet sebagai alasan yang klasik.


“Maafkan kami tuan.” Angela kemudian duduk di samping Sean tanpa meminta persetujuan dari lelaki tersebut. Inara hanya diam mendengar percakapan mereka sambil bermain game di ponselnya.


“Dia nona Angela tuan pemilik perusahaan yang akan bekerja sama dengan Anda.” Vilia memperkenalkan bos nya pada Sean.


“Angela.” wanita itu mengulurkan tangan kepada Sean dengan posisi tubuh yang begitu menggoda. Inara melirik sekilas kearah mereka. Ada rasa tidak suka ketika wanita itu berusaha menggoda daddy sugarnya.


“Sean.” ucap Sean menerima uluran tangan Angela kemudian dengan cepat melepaskan genggaman tangan itu. Kulit tangannya halus namun Sean tidak ingin berlama-lama disini. Tanpa disuruh vilia pun duduk di sebelah Inara.


“Dia?” tanya Vilia meminta penjelasan kepada Sean.


“Apa dia sekretaris Anda tuan?” tanya Angela saat melihat Inara yang duduk di hadapan mereka.


“Bukan.” jawab Sean singkat.

__ADS_1


Karena tidak ingin mengganggu pekerjaan Sean, Inara pun bangkit dan memilih tempat duduk lain yang tidak jauh dari mereka.


“Aku akan mencari tempat duduk lain kalian bekerjalah aku tidak akan mengganggu.” Sean menatap Inara seolah menolak ucapan gadis itu namun Inara tidak mengindahkan tatapan mata Sean yang mengarah padanya.


Sean tidak focus saat membahas kontrak kerja sama dengan Angela. Matanya sesekali melirik kearah Inara yang sibuk bermain ponsel sedari tadi.


Di sisi lain di dalam café ada seorang lelaki yang sedari tadi memperhatikan Inara. Dia adalah Adnan kakak Ana sekaligus kakak tirinya. Inara tidak membenci Adnan karena lelaki itu sama sekali tidak jahat pada dirinya. Adnan baik terkadang dia suka membantu dirinya jika Ana memfitnahnya.


“Inara.” Sapa Adnan yang melihat Inara duduk sendiri.


“Kak Adnan.” jawab Inara yang terkejut dengan kehadiran kakak tirinya.


“Kau sendirian?” tanya Adnan.


“Ehm aku….” belum selesai berbicara Adnan terlebih dulu memotong ucapan Inara.


“Boleh aku duduk disini?” tanya Adnan meminta ijin pada Inara.


“Boleh.” jawab Inara tanpa melihat Sean yang sedang memperhatikan interaksi mereka.


“Nona bisakah kita lanjutkan besok di kantor saya ada urusan mendadak.” pinta Sean kepada Angela. Wanita itu tersenyum tentu saja dia mau karena dia akan lebih leluasa jika di dalam ruangan Sean.


“Baiklah tuan.” Sean bangkit meninggalkan kedua wanita itu dan menghampiri Inara yang duduk tidak jauh dari mejanya. Baik Angela maupun Vilia menatap punggung Sean dari belakang. Angela begitu kagum dengan wajah Sean yang tampan dan dingin. Hal itu merupakan keunikan tersendiri bagi Angela.


“Vilia.” panggil Angela pada asistennya.


“Iya nona.” jawab Vilia.


“Aku harus mendapatkan lelaki itu.” ucap Angela yang terus menatap tubuh Sean tanpa melihat kearah asistennya.


"Mulai lagi." batin vilia.


……………………….

__ADS_1


Di dalam mobil Inara mendiamkan Sean karena sudah secara paksa membawanya keluar dari café tanpa berpamitan kepada kakaknya. Pun dengan Sean yang merasa kesal karena Inara lebih mementingkan lelaki itu daripada dirinya.


“Apa dia kekasihmu?” tanya Sean.


“Bukan.” jawab Inara singkat tanpa menoleh kearah Sean.


“Apa dia mantanmu?” tanya Sean Kembali.


“Bukan.” lagi-lagi Inara menjawab pertanyaan Sean dengan jawaban yang tidak memuaskan bagi Sean.


“Baiklah.” Sean melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju apartemen mewah yang tidak jauh dari café tadi. Begitu sampai di parkiran Sean membuka pintu mobil memaksa Inara untuk turun dan membawanya ke unit dimana tempatnya berada.


Inara mengaduh kesakitan saat Sean menarik pergelangan tangannya dengan paksa. Namun Sean tidak mengindahkan hal itu. Lelaki itu tidak peduli dengan kesakitan Inara saat ini.


Sean menempelkan kartu akses untuk membuka pintu dan langsung menghempaskan tubuh Inara diatas ranjang. Kemudian menindih tubuh Inara dan mengungkungnya di bawah.


“Kau berani bermain dengan lelaki lain,hm?” ucap Sean memegang dagu Inara. Gadis itu terlihat takut saat melihat amarah yang terpancar di mata Sean. Inara menggeleng dia tidak tahu kenapa Sean bisa semarah ini.


“Siapa lelaki itu?” tanya Sean yang menanyakan status Adnan bagi Inara.


“Kak Adnan.” jawab Inara.


Sean semakin terbakar amarah saat Inara memanggil lelaki itu dengan sebutan kak. Sean dengan kasar dan rakus mencium bibir Inara. Tidak ada kelembutan disana membuat Inara sedikit kesakitan.


“Apa hubunganmu dengan lelaki itu?”


“Kak Adnan dia, hmhmpftt.” Inara menghentikan ucapannya saat Sean lagi-lagi mencium bibirnya dengan kasar. Sean melepaskan tautan bibir dan kembali berucap.


“Jangan sebut nama lelaki lain saat kita sedang berdua.” Sean merobek baju Inara dengan kasar kemudian bermain di pay*dar* Inara yang terlihat menyembul. Tubuh Inara bergetar karena takut karena Sean bermain dengan kasar. Tidak ada kelembutan maupun kenikmatan disana. Inara tidak bisa melawan dia tidak memiliki cukup tenaga karena sedari pagi dia belum makan


Saat sedang rakusnya melahap bagian tubuh Inara tiba-tiba cacing di dalam perut Inara menabuh genderang meminta makan. Sean yang mendengar bunyi perut Inara yang cukup keras akhirnya menghentikan aktifitas yang sudah membangkitkan sesuatu didalam celananya.


“Kau lapar.” Inara mengangguk pelan. Sean bangkit dari tubuh Inara kemudian pergi menuju dapur.

__ADS_1


Inara melihat bajunya yang sudah robek tergeletak di atas lantai karena ulah Sean. Haruskah dia keluar tanpa baju bagaimana jika ada tamu yang datang. Atau lebih baik dia berdiam diri saja dikamar atau….


*****Atau apa ya teman-teman bagi ide atau masukan boleh? jangan lupa tinggalkan like dan komen kalian yah🙏🙏🙏😁*******


__ADS_2