
Alex, David dan Roy saat ini sedang berada di dalam sebuah mobil. Mereka bertiga berencana mengunjungi perusahaan Alex yang terletak di Bandung. Selama ini David dan Roy lah yang membantu Alex mengelola perusahaannya.
Karena perjalanan Jakarta-Bandung memakan waktu kurang lebih tiga jam, Roy dan David membawa mobil secara bergantian. Karena setiap berkunjung ke perusahaan milik Alex mereka tidak pernah membawa sopir.
David menyenggol lengan Roy mengisyaratkan untuk melihat Alex dari kaca spion. Sepanjang perjalanan Alex tidak banyak bicara seperti biasanya. Padahal jika urusan perusahaan di Bandung Alex lah yang paling bersemangat. Namun kali ini berbeda. Lelaki itu lebih banyak diam dan melihat ke arah luar jendela dengan tatapan kosong. Seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat.
“Alex apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Roy yang sedang mengemudikan mobil.
“Tidak ada.” jawabnya singkat.
“Apa kau sudah tidak menganggap kita sebagai sahabat?” imbuh David yang duduk di samping Roy menatap ke arah kursi belakang dimana Alex duduk.
Alex menarik nafas panjang kemudian menghembuskan secara perlahan. Menatap kedua sahabatnya secara bergantian. Menimang-nimang apakah dia harus menceritakan masalahnya tau tidak dengan kedua sahabatnya itu.
“Apa ada hubungannya dengan Seira?” celetuk Roy.
Alex masih terdiam. Dia masih bimbang dengan pikirannya. Dia bahkan memejamkan mata sebentar sebelum akhirnya dia mengiyakan ucapan Roy dengan menganggukan kepala tanpa mengeluarkan suara.
“Apa yang terjadi? Apa kau ditolak oleh adikmu itu? Kalau kau ditolak berarti aku ada kesempatan.” Setelah mengatakan itu Roy tertawa tanpa melihat tatapan Alex yang seakan ingin membunuhnya.
“Roy.” ucapan David menghentikan tawa Roy. Lelaki itu menelan saliva dengan kasar mendapati Alex sedang menatap dirinya dengan tatapan yang tajam dan begitu menakutkan.
“Apa kau ingin mati muda jika iya maka aku dengan senang hati akan mengabulkannya.”
“Aku hanya bercanda kawan. Maafkan aku.” ucap Roy dengan tulus. Entah kenapa Alex menjadi sensitif jika itu bersangkutan dengan Seira.
Semalam Seira memberi tahu semua anggota keluarga jika gadis itu akan melanjutkan pendidikan S1 di luar negeri. Meskipun dilarang oleh semua keluarga Seira tetap teguh dengan keinginannya untuk mengambil kuliah di Paris, Prancis. Dia akan mengambil jurusan designer seperti mimpinya yang ingin menjadi seorang designer pakaian bayi.
Alex seperti tidak rela jika harus berjauhan dengan orang yang dia cintai dalam diam. Cinta yang hanya dia rasa. Dan sudah bertahun-tahun Seira memenuhi seluruh ruang di hatinya. Dan tidak ada celah sedikit pun untuk gadis lain masuk. Bahkan Alana yang seorang primadona kampus dan diidolakan oleh hampir semua kaum laki-laki ditolak oleh Alex.
__ADS_1
“Apa yang kau pikirkan, ceritalah.” tutur David.
David dan Roy mengetahui jika sahabatnya itu mencintai adik angkatnya. Selama ini Alex lah yang menjadi pelindung gadis itu. Bahkan Alex tidak segan-segan membalas orang yang membuat Seira meneteskan air mata.
“Dia akan melanjutkan kuliah di luar negeri.”
“Lalu?” celetuk Roy.
“Kau itu jangan terlalu bodoh jadi orang. Makanya tidak ada cewek yang tertarik menjalin hubungan denganmu.” David menjadi kesal dengan otak Roy yang sedikit lambat dalam berfikir.
“Apa yang kau khawatirkan?” tanya David.
“Bagaimana kalo dia hamil?”
“Hamil??” Roy dan David berkata secara bersamaan kemudian saling memandang satu sama lain.
“Tempatkan saja dia di asrama perempuan. Dan taruh pengawal secara diam-diam untuk menjaganya.” saran David memberi ide Alex bagaimana menjaga gadis itu dari jauh.
“Lalu?” kali ini David yang sedikit lambat berpikir.
“Apa jangan-jangan kalian sudah…” Roy menjeda ucapannya menatap Alex yang duduk di kursi belakang.
Cukup lama Alex menutup rapat mulutnya sebelum akhirnya berucap “Ya kami sudah melakukannya. Bahkan bukan hanya sekali tapi berkali-kali pada malam itu.”
“What??” Roy dan David terkejut mendengar kejujuran Alex. Bahkan David sampai menginjak rem secara mendadak karena terlalu terkejut. Membuat Alex dan Roy terpental kedepan.
“Kau itu bisa menyetir tidak. Kau ingin membuat kita mati dengan tidakanmu ini. Apalagi berhenti di tengah jalan seperti ini.” gerutu Roy yang mendengar begitu banyak klakson baik itu dari pengendara mobil maupun sepeda motor yang kesal dengan tidakan berbahaya yang dilakukan oleh David. Roy bahkan membuka sedikit kaca jendela untuk meminta maaf pada pengendara yang lain.
“Maaf.” David melajukan kembali mobil mereka.
__ADS_1
“Bagaimana bisa kalian melakukan itu? Atau jangan-jangan kalian sudah menjalin hubungan secara diam-diam.” terka David yang masih fokus dengan kemudinya.
“Tidak.”lalu Alex menceritakan apa yang terjadi diantara dirinya dengan Seira. Bagaimana mereka bisa melakukan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan malam itu.
“Lalu kenapa kau tidak bertanggung jawab, misalnya menikahi Seira.” tutur David.
“Seira menolak.”
“Alasannya?” tanya David. Yang penasaran bagaimana seorang Alex yang tampan dan diidolakan banyak wanita ditolak oleh seorang gadis.
“Entahlah.” Alex sendiri tidak menanyakan lebih jelas kenapa Seira menolak jika dia menceritakan kejadian malam itu kepada orang tua mereka.
“Lalu kenapa kau tidak bertanya pada Seira?” gelengan kepala cukup menjadi jawaban atas pertanyaan Roy baru saja.
“Terlalu banyak bergaul dengan Roy membuatmu menjadi bodoh.” David menjadi kesal saat Alex yang dia kenal cerdas dalam berbagai hal begitu bodoh dalam masalah percintaaan.
“Apa maksudmu?” tanya Alex.
“Maksudnya seharusnya kau bertanya kepada Seira kenapa dia tidak mau kau bertanggung jawab atas apa yang sudah kalian lakukan bersama.” jawaban itu berasal dari Roy bukan Alex.
“Tuh Roy yang bodoh saja tahu.” David menggelengkan kepala melihat wajah Alex yang begitu jelas sedang berpikir keras.
Dan sepanjang sisa perjalanan Roy maupun David membiarkan Alex berpikir dalam diam. Sudah cukup dia memberikan ide itu sebagai masukan untuk hubungan keduanya. Biarlah selanjutnya itu menjadi urusan Alex dengan keluarganya.
Mereka bertiga berada di Bandung selama dua hari. Dan selama dua hari ini Alex, David dan Roy begitu sibuk menangani masalah yang ada. Dimana bahan baku yang biasa mereka pesan sudah tidak mau lagi mensuply mereka lagi.
Sampai akhirnya mereka harus bekerja keras untuk mencari pemasok yang kualitas bahannya lebih bagus atau setidaknya sama dengan sebelumnya.
Sementara di Jakarta tepatnya di sebuah kamar seorang gadis sedang bergelung di bawah selimut menatap seorang lelaki yang menjadi gambar di layar ponsel miliknya. Semenjak Alex pergi ke Bandung Seira merasa ada yang hilang di hidupnya. Lalu bagaimana nanti saat dirinya menempuh pendidikan di luar negeri. Sanggupkah dia jauh dari kakaknya itu ? Atau mampukah dia melihat suatu hari nanti Alex menemukan pasangan hidupnya dan menikah dengan wanita lain.Lalu bagaimana jika dirinya…
__ADS_1
Seira membelai lembut perutnya yang datar. Semoga hal yang dia khawatirkan tidak terjadi. Dia tidak ingin memiliki Alex dengan terpaksa. Biarlah kakaknya itu memilih wanita yang dia cintai. Cukup melihat kakaknya bahagia mungkin akan membuatnya bahagia juga.
“Kakak aku rindu.”