Inara, My Baby Sugar

Inara, My Baby Sugar
Ungkapan cinta


__ADS_3

Mata Angela hampir saja keluar dari tempatnya saat gadis yang tadi dia lihat memanggil Sean dengan kata sayang. Ini tidak mungkin rasanya tidak dapat dipercaya. Sean Pradipta masih single dia belum punya kekasih pasti gadis ini berbohong.


“Siapa kamu ?” tanya Angela dengan nada yang terkesan tidak ramah.


“Aku…” Inara mulai bingung harus menjawab apa tidak mungkin dia berkata bahwa dirinya adalah baby sugar Sean.


Inara hampir melepas lengan yang menggantung di leher Sean namun dengan cepat lelaki itu memeluk pinggang Inara. Angela melihat itu membuat mata dan hatinya memanas. Bagaimana mungkin dia dikalahkan oleh seorang gadis kecil seperti ini.


“Dia kekasihku.” jawaban Sean membuat Inara tersenyum tidak percaya. Ada kebahagiaan tersendiri saat Sean mengakui dirinya sebagai kekasih. Apa itu artinya mereka sekarang berpacaran atau hanya sekedar ucapan belaka, entahlah.


Di lain sisi Angela terlihat kesal dia sudah menghabiskan biaya yang tidak sedikit untuk ke salon pagi ini. Tapi apa tidak sedikitpun Sean meliriknya. Padahal dia sudah menggoda Sean dengan cara yang sama saat dirinya menggoda rekan bisnis yang lain. Melihat sikap Sean yang dingin membuat harga diri Angela merasa tertantang untuk mendapatkan lelaki ini. Dia harus bisa memiliki Sean.


“Oh maafkan saya tuan Sean.” Angela kembali duduk di kursi diikuti Vilia yang berdiri dibelakang bosnya.


“Ini berkas yang harus Anda tanda tangani tuan.” Vilia menyerahkan sebuah map yang berisi surat perjanjian antara kedua perusahaan.


Devan mendekat kemudian mengambil map itu dari tangan Vilia.


“Saya akan mempelajarinya terlebih dahulu jika setuju maka pihak kami akan mengirimkan copydraf nya kepada Anda.” ucap Devan.


“Kalau begitu kalian boleh pergi sekarang.” ucapan Sean membuat Angela kesal. Wajahnya mulai memerah menahan marah. Selama ini tidak ada seorang pun yang pernah mengusir dirinya secara terang-terangan.


“Baik tuan Sean tuan Devan kalo begitu kami permisi.” Vilia menggenggam tangan bosnya mengajak wanita itu untuk segera pergi. Angela yang sudah kesal pergi begitu saja tanpa pamit pada Sean. Pun dengan Devan yang juga ikut keluar untuk pergi makan siang.


Inara berdiri saat Angela sudah pergi. Gadis itu kembali duduk di sofa kemudian memainkan sebuah game di ponselnya. Sean menatap Inara kemudian mendudukkan diri disamping gadis itu.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Sean.


“Main game.” jawab Inara singkat tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.


Sean merebut ponsel Inara kemudian meletakkannya diatas meja. Inara ingin mengambil ponselnya Kembali namun buru-buru Sean menaruh ponsel tersebut ke dalam saku celananya.


“Dad.” protes Inara saat ponsel miliknya diambil oleh Sean secara paksa.


“Kenapa?” tanya Sean.


“Dad apa kau mencintaiku ?” Inara memberanikan diri untuk bertanya. Dia tahu ini salah Sean sudah beristri tetapi rasa ini semakin hari semakin dalam. Rasa yang tidak bisa tertahan hanya di dalam hati. Rasa yang mungkin akan menyakiti wanita lain. Tapi dia juga tidak ingin Sean meninggalkan dirinya. Rasanya begitu menyesakkan saat wanita lain berusaha menggoda Sean seperti tadi.


“Kenapa kau bertanya seperti itu?”


“Karena aku mencintaimu. Aku tahu ini salah tapi aku tidak bisa lagi memendamnya. Aku tidak meminta dirimu untuk bercerai tapi tolong biarkan aku terus berada disisimu sampai aku bisa melepasmu dengan hati yang tidak terluka.” Inara memegang kedua tangan Sean saat mengatakan itu.


Dalam hati Sean begitu bahagia tidak menyangka gadisnya juga mencintai dirinya. Sean tidak berbicara apa-apa dia hanya menatap dalam bola mata Inara yang memancarkan kesungguhan di dalamnya. Melihat ketidak tahuan hubungan dirinya dengan Sora,Sean ingin sedikit mengerjai gadisnya ini.

__ADS_1


“Aku akan selalu berada disisimu asalkan kau mau bertemu dengan Sora. Meminta ijin agar kita bisa tetap bersama.”


“Dad, apa kau sudah gila?”


“Bagaimana, mau tidak ?” ucap Sean dengan senyum yang begitu tipis. Senyum yang bahkan Inara tidak melihatnya.


“Mau, mau, mau ayo jawab mau Inara.” gumam Sean dalam hati menatap wajah Inara menunggu jawaban dari gadis itu.


Bagaimana mungkin pihak ketiga meminta ijin pihak pertama untuk bersama dengan pihak kedua. Apa ada wanita yang akan mengijinkan suaminya menjalin hubungan dengan wanita lain. Rasanya mustahil ada wanita seperti itu didunia ini. Inara masih berkutat dengan pikirannya saat dering ponsel Sean memanggil untuk segera diangkat.


“Sora, kebetulan sekali.” lirih Sean kemudian menatap Inara dengan senyum yang sulit diartikan.


Sean menggeser icon berwarna hijau kemudian menempelkan ponsel di telinganya.” Hallo.”


“Aku berada di café dekat kantormu, cepat kesini temani aku makan siang.”


“Baiklah kebetulan sekali ada yang ingin bertemu denganmu.” Inara mencuri dengar saat Sean sedang menelepon.


“Siapa?” tanya Sora penasaran.


“Nanti juga akan bertemu.”


“Baiklah aku tunggu kalian disini segera. Dan jangan lama-lama.” panggilan pun berakhir kemudian Sean mengambil jas yang sebelumnya dia letakkan di sandaran kursi. Menggenggam tangan Inara mengajaknya untuk menemui Sora.


“Untuk apa buru-buru dosennya saja sedang makan siang.”


“Apa?”


****************


Sementara di perusahaan tuan Abi


Dia bersama dengan pengacara pribadinya sedang membuat surat wasiat. Dia ingin mengalihkan semua harta kekayaannya untuk Inara. Rasanya dia sudah semakin tua. Tubuhnya juga tidak sesehat dulu.


Tuan Abi merasa marah saat Inara memperlihatkan hasil CCTV yang dia pasang sebelumnya di dapur secara tersembunyi. Dimana istrinya selalu menaruh serbuk ke dalam minuman yang dibuat untuk dirinya. Serbuk yang lama-kelamaan dapat membunuh syaraf di tubuhnya secara perlahan. Dan sejak saat itu tuan Abi akan berpura-pura meminum minuman yang dibuat oleh istrinya tanpa sepengetahuan istrinya.


Tuan Abi tidak melaporkan kejahatan istrinya kepada polisi karena akan percuma jika ibu di penjara namun anaknya masih bebas berkeliaran. Sebab tidak ada bukti yang dapat memenjarakan Ana. Tuan Abi tahu Ana sama licik dengan ibunya. Yang telah menjebak dirinya di dalam sebuah kamar hotel. Saat itu dirinya tidak sadarkan diri dalam perjamuan pesta sebuah perusahaan rekan bisnisnya. Dan karena itulah tuan Abi terpaksa menikahi wanita iblis itu.


Dia akan menyingkirkan ibu dan anak itu di waktu yang tepat. Sekarang tuan Abi sedang menjalani terapi secara diam-diam untuk mengeluarkan sisa racun yang ada di dalam aliran darahnya.


Tuan Abi tidak membenci Adnan sebab lelaki itu selalu melindungi putrinya dari kejahatan Ana dan ibunya.


“Silahkan tanda tangan disini Tuan maka semua akan sah di mata hukum.” Tuan Abi memberikan tanda tangannya diatas materai yang tertempel disana. Semua yang menjadi milik Inara akan kembali lagi ke Inara. Dia tidak akan membiarkan istrinya merebut apa yang sudah menjadi hak putri semata wayangnya.

__ADS_1


Langkah Inara terhenti saat melihat seorang wanita yang dia tahu sedang duduk di sebuah meja menikmati spaghetti di piringnya. Inara menatap Sean seolah meminta penjelasan. Namun Sean hanya tersenyum menatap raut muka Inara yang terlihat gugup. Telapak tangannya mulai basah akibat keringat dingin yang keluar.


“Ayo, masuk.”


“Tapi dad.” Rasanya Inara belum sanggup untuk meminta ijin dengan wanita itu.


“Tenang, percayalah dia pasti akan bisa menerimanya.”


“Sudah lama menunggu.” Ucap Sean yang sudah berdiri di samping meja kakaknya.


Sora menghentikan aktifitas makannya kemudian menatap Sean dan Inara secara bergantian.


“Lumayan.” Sora berdiri kemudian menempelkan pipinya dengan pipi Sean secara bergantian.


“Dia?” tanya Sora


“Dia Inara.” kemudian mengedipkan sebelah matanya kepada Sora.


“Hallo Inara.” Sora mengulurkan tangan dan disambut oleh Inara.


“Inara.”


“Kenapa tanganmu dingin?”


“aku….” Tidak mungkin Inara berkata bahwa dirinya gugup karena permintaan Sean yang menginginkan dirinya untuk meminta ijin agar tetap bersama.


“Sudahlah ayo duduk.” Sora melambaikan tangan memanggil pelayan. Sean dan Inara duduk di hadapan Sora. Setelah memesan makanan Sean ijin ke toilet sebentar. Maka tinggallah mereka berdua. Sean sengaja meninggalkan Inara dan kakaknya. Dia ingin melihat bagaimana Inara meminta ijin kepada Sora.


“Berapa usia kandungan kakak?” tanya Inara mengawali percakapan diantara mereka.


“Darimana kau tahu aku sedang hamil apa aku terlihat gendut sekarang?”


“Tidak, tidak, tidak. Bukan begitu maksudku. Waktu itu aku dan Sean yang mencarikan mangga untuk kakak.” Sora tersenyum mendengar ucapan Inara.


“Kau sudah lama mengenal Sean?” pertanyaan Sora membuat jantung Inara berdegub kencang.


“Baru beberapa bulan kak.” jawab Inara sambil mengaduk minuman yang baru saja diantar oleh pelayan cafe. Inara masih berfikir bagaimana merangkai kata untuk mengutarakan isi hatinya tanpa menyakiti wanita di hadapannya.


“Oh, tapi kelihatannya kalian cukup dekat.” Sora kembali memakan spaghetti yang baru dia makan separuhnya.


“Ehm, kak maafkan aku sebelumnya yang telah berani menjalin hubungan dengan suami kakak. Aku tahu aku salah. Tetapi saat ini aku belum bisa meninggalkan suami kakak. Aku terlanjur mencintainya kak.” Sora meletakkan garpu dan sendoknya setelah mendengar ucapan Inara. Dia menatap Inara dengan tatapan yang sulit diartikan.


Inara memberanikan diri untuk menggenggam tangan Sora dengan kedua tangannya. Gadis itu kembali berucap “Bisakah kakak berbagi cinta Sean denganku?”

__ADS_1


__ADS_2