
Butiran-butiran air mulai berjatuhan dari langit. Membasahi sebagian wilayah di bumi malam ini. Seira berusaha memejamkan mata namun tidak juga terlelap. Dia terus berbaring ke kanan dan kiri dengan gelisah. Membuat tidur Lena menjadi terusik.
“Seira, kau mengganggu tahu tidak.” Lena terpaksa membuka kedua matanya dengan berat. Rasa kantuk dan lelah membuatnya tertidur lebih awal.
“Maaf.”
“Kau kenapa?”
“Aku juga tidak tahu.” Seira sendiri juga merasa bingung dengan apa yang dia rasakan saat ini.
“Apa karena kakak tampanmu itu.” Seira terdiam dan diamnya Seira membuat Lena mengerti.
Flashback
“Siapa yang akan menikah?” suara itu bukan berasal dari dalam rumah melainkan seseorang yang baru saja masuk dari arah pintu. Semua mata langsung tertuju ke sumber suara. Jantung Seira berdegup begitu kencang saat suara derap Langkah sepatu bergesekan dengan lantai berjalan semakin mendekat.
Deg
Alex terdiam, mematung di tempat saat matanya bertemu dengan mata seseorang yang sangat dia rindukan. Byan melihat interaksi keduannya pun dengan papa Sean. Dia menatap putra dan putrinya secara bergantian. Wajahnya datar seperti sedang menebak sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.
“Kak Alex.” Teriak Emily yang langsung berhambur memeluk kakaknya.
“Emily kau tidak belajar sayang?”
“Emily bosan belajar sendiri. Bagaimana kalau kak Alex temani Emily belajar?” pinta anak itu dengan penuh semangat.
“Emily kak Bryan akan menemanimu belajar. Ayo sini kak Alex baru pulang biarkan kakak makan terlebih dahulu.” Bryan berjalan mendekat mengulurkan tangan kepada Emily untuk mengikuti dirinya. Anak kecil itu menerima uluran tangan kakaknya. Dia setuju sebab jika belajar dengan Bryan bocah kecil itu akan lebih banyak bermain dengan mainannya daripada belajar serius.
Alex berjalan melewati tubuh Alex namun sebelum itu dia berbisik “ Manfaatkan kesempatan dengan baik.”
Alex tersenyum kecil mendengar kata-kata adiknya. Anak itu seperti sudah paham dengan situasi saat ini.
__ADS_1
“Seira.” bisik Lena yang sedari tadi hanya mendengarkan interaksi diantara keluarga Seira.
“Oh iya pa, ma ini sahabat Seira di Paris namanya Lena. Untuk sementara dia akan tinggal disini sebelum dia mendapat pekerjaan. Boleh kan Pa, Ma ?” Seira meminta ijin kepada kedua orang tuanya secara bergantian.
“Tentu saja boleh. Nak Lena kau boleh tinggal disini dan anggap seperti rumah sendiri.” Ucap papa Sean.
“Tidak perlu sungkan. Kau bisa tidur di kamar tamu ataupun tidur bersama dengan Seira.” Sambung mama Inara.
“Terima kasih om, tante.” Lena menundukkan kepala sebagai rasa terima kasih karena sudah diterima di rumah itu dengan baik oleh kedua orang tua Seira.
“Kalau begitu Seira ajak Lena ke kamar dulu ya Pa, Ma.” Setelah mendapat persetujuan dari Mama dan Papa Seira langsung menarik Lena menuju kamarnya dilantai dua.
Dia tidak bisa lama-lama berada di dekat kak Alex. Rasanya jantungnya seakan ingin melompat dari dalam dada saat tidak sengaja melihat mata lelaki itu terus menatap dirinya.
“Kau seperti habis melihat hantu saja.” Lena menghempaskan tubuhnya diatas kasur mewah milik Seira. Setelah sebelumnya dia ditarik paksa oleh Seira untuk mengikuti langkah cepat sahabatnya itu.
Wanita itu memegang jantungnya yang masih berdetak tidak beraturan dengan kedua tangannya. Lena terus menatap Seira yang masih berdiri di balik pintu.
“Astaga.” Seira terjingkat. Dia terkejut dengan tepukan pelan yang dilakukan oleh Lena.
“Sadar, hantunya sudah pergi.” Seira memicingkan mata mendengar ucapan Lena. Melihat reaksi sahabatnya Lena pun kembali berucap. “Setan cinta yang ada dihatimu ini.” Tunjuk Lena di dada sebelah kiri milik Seira.
“Hantu, Setan cinta. Apa maksudmu?” Lena menepuk keningnya dengan kasar hingga menimbulkan bunyi plok.
“Apa cinta membuatmu menjadi bodoh? Kau itu sejak kedatangan lelaki blesteran itu tingkahmu menjadi aneh.” kesal Lena.
“Kak Alex Lena, lelaki itu namanya kak Alex.”
“Iya kakak angkat yang kamu cintai itu kan.” Seira langsung membungkam mulut Lena dengan tangannya. Takut jika ada seseorang yang mendengar ucapan Lena.
“Shuuutttttt jangan keras-keras.” Seira mendorong tubuh Lena dengan sekuat tenaga hingga ke dinding. Gadis itu menajamkan pendengaran takut jika ada seseorang yang lewat di depan kamarnya. Lena pun terdiam dengan mulut yang masih dibekap.
__ADS_1
Beberapa detik berlalu.” Lepas, kau belum cuci tangan. Dan tanganmu itu bau.” Ucapan Lena membuat gadis itu langsung reflek mencium telapak tangannya.
“Tidak bau.” lirih Seira kemudian menatap sahabatnya. Melihat tingkah konyol Seira membuat Lena tidak kuasa menahan tawanya.
“Lena!!! Awas kau ya.” Seira mengambil bantal kemudian melemparkan bantal tersebut ke arah Lena. Namun sayang Lena berhasil menghindar dan itu membuat Seira bertambah kesal dan mengambil satu bantal lagi dan melemparnya lagi ke arah Lena.
Pintu terbuka dan seorang pria berhasil menangkap bantal tersebut. Keduanya menatap siapa lelaki yang terhalang oleh bantal. Dan lelaki itu adalah Alex. Mengerti situasi Lena pun menggeser tubuhnya agar kedua manusia berlawan jenis itu dapat saling memandang dengan leluasa.
“Ekhem.” Suara Lena membuat pandangan mereka beralih padanya.
“Sepertinya aku harus keluar. Perutku sungguh lapar.” Lena pun pergi meninggalkan mereka di dalam kamar. Alex pun menutup pintu setelah Lena keluar tidak lupa dia menguncinya. Seira masih berdiri di tempat. Tidak ada satu kata pun yang mampu terucap dari mulutnya.
Langkah demi langkah Alex mendekat hingga jarak mereka begitu dekat.
“Apa kau memiliki teman dekat lelaki di sana?” Seira menggeleng.
“Apa kau memiliki kekasih saat ini?” Seira pun kembali menggeleng.
“Bagus.” Ucap Alex dengan senyum yang terukir indah di bibir lelaki itu membuat Seira menelan salivanya dengan kasar. Alex mendekatkan wajahnya. Seira mundur selangkah namun pinggangnya berhasil ditarik oleh Alex hingga posisi berdiri bereka begitu dekat. Suara detak jantung keduanya pun saling terdengar.
Seira memegang dada Alex dia merasakan detakan itu. Kemudian menatap lelaki yang entah matanya penuh dengan kerinduan.
“Kak.” Rasanya Alex sudah tidak tahan untuk tidak menikmati bibir ranum milik Seira yang beberapa tahun ini tidak dia sentuh.
“Kenapa?”
“Ini salah?” wajah Alex berubah datar. Senyum yang lembut tidak ada lagi di wajah tampannya namun tidak melepas pelukan di pinggang Seira.
“Lalu seperti apa yang benar?” Seira terdiam. Boleh dibilang dia senang dengan apa yang dilakukan Alex. Namun dia juga bingung dengan apa yang dia khawatirkan.
“Lupakan, kakak akan keluar.” Pelukan sudah terurai. Alex pun sudah berbalik badan. Namun tiba-tiba Seira berdiri di depannya dan…
__ADS_1
..."Dan apa ya kira-kira. Mau yang seru atau biasa saja nih bestie? Jangan lupa komen ya supaya author semangat untuk rajin update"🤗🤗🤗...