
Dari pantulan cermin Seira dapat melihat bagian tubuhnya yang memiliki banyak sekali jejak merah. Jejak yang semalam dibuat oleh Alex. Pikirannya berucap dia harus marah namun hatinya berkata jangan.
“Perasaaan apa ini? Kenapa aku seperti ini?” Seira memukul dadanya dengan pelan. Merasa kesal saat hati dan pikirannya tidak sejalan.
Mungkin itu karena dirinya juga yang salah. Tidak mendengarkan peringatan kakaknya. Namun ada sesuatu di hati yang masih mengganjal. Sesuatu perasaan aneh yang baru dia rasa. Tapi apa, entahlah…
Disaat Seira belum bisa memahami perasaannya sendiri yang belum jelas, Dia memilih untuk membersihkan tubuh dengan air hangat yang sebelumnya disiapkan oleh Alex. Pria itu yakin bagian inti Seira masih terasa sakit karena itu dia mengisi bath up penuh dengan air hangat untuk mengurangi rasa nyeri akibat pergumulan mereka semalam.
Pintu kamar mandi berhasil terbuka saat Seira berhasil memutar handle pintu. Alex mematikan sambungan telepon menatap Seira dalam diam. Kedua bola matanya terus menatap kearah Seira yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di dada hingga diatas lutut. Alex menelan saliva dengan kasar. Oh Tuhan rasanya tubuh Alex kembali panas saat adegan-adegan semalam mulai terlintas kembali dalam bayangan pikirannya.
“Kak.” panggilan Seira menyadarkan Alex membuang jauh-jauh pikiran kotor yang sempat dia inginkan kembali.
Lelaki itu berdehem untuk menetralkan tubuhnya. Padahal ini bukan kali pertama Alex melihat Seira seperti itu. Namun rasanya kali ini berbeda. Sungguh berbeda sekali. Ada rasa ingin mendekat kemudian memeluk, kemudian mencium kemudian ah sudahlah.
“Pakaianmu ada disana karena yang lama sudah kakak buang.” Seira tidak menjawab dia hanya mengangguk perlahan. Kemudian satu langkah kaki bergantian berjalan untuk mengambil paper bag yang berisi pakaiannya.
“Gantilah disini kakak akan berbalik badan.” Alex seperti sudah tahu arti tatapan mata Seira. Tanpa menunggu lama Seira langsung berganti baju ketika kakaknya sudah membelakangi dirinya. Lagipula kenapa harus berbalik badan bukankah mereka sudah melihat satu sama lain. Tapi sudahlah terserah mereka saja. Lagipula yang menjalani kan mereka berdua.
“Sebelum pulang kita sarapan dulu. Kakak menunggumu di restoran bawah.” tanpa menunggu jawaban Seira Alex keluar dari kamar. Mata Seira terlihat sendu saat menatap tubuh kakaknya mulai menghilang di balik pintu.
“Kakak.” lirihnya
***
__ADS_1
Mansion Sean
Mobil Alex memasuki sebuah garasi rumah mewah. Rumah dimana anak-anak Sean dan Naura tumbuh bersama. Dari pernikahannya Inara dikaruniai tiga buah hati. Yang pertama bernama Seira. Anak kedua mereka laki-laki diberi nama Bryan. Rasanya dua anak sudah cukup bagi Inara namun siapa sangka Tuhan memberikan lagi mereka anugerah anak ketiga yang diberi nama Emily.
Seira memegang lengan Alex yang hendak turun dari mobil. “Kak.” kedua mata mereka saling bertemu. Dalam beberapa detik saling menyelami masuk ke dalam. Mencari tahu apa yang masing-masing diinginkan oleh salah satu dari mereka.
“Ada apa?” Alex memposisikan duduknya menghadap Seira. Anak kecil yang dulu dilindunginya kini tumbuh menjadi gadis dewasa.
“Jangan memberitahu mama atau papa tentang kejadian semalam.” pintanya.
“Tapi Seira.” Alex nampak tidak setuju dengan keputusan yang diambil Seira.
“Seira mohon kak.” pinta Seira dengan tulus mengatupkan kedua tangannya di depan wajah yang pagi ini terlihat pucat. Alex menghembuskan nafasnya dengan kasar. Jika sudah seperti itu dia tidak dapat menolak permintaan Seira.
Sejujurnya Seira tidak ingin membuat orang tuanya marah dengan Alex. Dan mengusir laki-laki itu dari rumah mereka. Biarlah nanti dirinya yang akan pergi.
Inilah yang ditakutkan Seira juga. Sebab mereka melakukan itu berkali-kali tanpa pengaman. Semoga itu tidak terjadi karena Seira sedang tidak dalam masa subur. Menurut perhitungannya jika lima hari lagi dia datang bulan maka dapat dipastikan dirinya tidak hamil. Tapi bagaimana kalo ada dua garis merah kelak. Ah rasanya Seira semakin pusing namun tidak dia tunjukkan di depan kakaknya.
“Kemungkinan hamil kecil kak karena aku sedang tidak dalam masa subur sekarang.” entah kenapa hati Alex terlihat sedikit kecewa. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia justru ingin benihnya tumbuh di rahim Seira.
“Tapi jika kamu hamil orang pertama yang harus kamu beritahu adalah kakak.” ucapnya dengan nada tegas.
Seira mengangguk kemudian turun dari mobil disusul dengan Alex yang berjalan di belakangnya. Rumah terasa sepi. Tidak ada suara orang di dalam. Mungkin mereka sudah pergi kerja atau sekolah.
__ADS_1
Alex mencari kunci di dalam saku celananya. Memasukkan kunci tersebut ke dalam lubang pintu dan mendorong pintu kayu berwarna cokelat tersebut untuk membukanya.
Seira masuk terlebih dahulu setelah Alex memberikan isyarat dengan gerakan kepala.
“Sepi sekali kemana bibi dan mama.” gumam Seira, ia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam. pun dengan Alex yang mengekor di belakang Seira. Keduanya memindai setiap sudut rumah untuk mencari penghuni rumah. Namun suasana begitu sepi. Tidak seorang pun ada di dalam rumah.
“Surprise.” teriak semua orang yang sedari tadi berdiri di balik dinding tembok.
“Ulang tahun, siapa yang berulang tahun.” pikir Seira.
“Kakak.” Seira menoleh ke belakang dimana Alex berdiri. Gadis itu baru tersadar jika hari ini adalah ulang tahun kakaknya.
Emily membawa sebuah kue coklat berbentuk kotak dengan hiasan huruf bertuliskan Happy Birtday dan beberapa buah cherry diatasnya. Tidak ketinggalan dua buah lilin dengan lambang angka 2 dan 4.
“Selamat ulang tahun sayang.” Mama Inara memberikan sebuah pelukan hangat seperti tahun-tahun sebelumnya. Tidak lupa wanita yang kulitnya sudah mulai menua namun masih terlihat cantik itu memberinya sebuah kecupan di kening pria yang selama ini sudah dia anggap sebagai putra sulung mereka.
Alex sama sekali tidak merasa risih justru dia merasa senang. Setiap pelukan dan ciuman yang dia terima baik dari papa maupun mamanya menandakan jika mereka mencintai dan menyayangi dirinya. Cinta yang tidak pernah dia dapat dari kedua orang tua kandungnya.
“Selamat ulang tahun kak.” peluk Bryan bergantian setelah papa memberikan ucapan selamat kepada kakak sulungnya itu.
“Aku juga ingin memeluk kakak. Jadi cepat tiup lilinnya. Rasanya tanganku sudah pegal dari tadi memegang kue ini.” kesalnya membuat Alex melebarkan senyum kepada adiknya yang bawel kemudian mengacak-acak rambut Emily dengan lembut.
Alex meniup kobaran api kecil diatas angka 24. Namun sebelum itu dia memejamkan mata berdoa terlebih dahulu meminta sesuatu kepada Tuhan. Setelah itu mengambil pisau kue yang diberikan oleh Byan. Alex memotong kue tersebut. Dan memberikan potongan kue pertama untuk mama dan papa. Alex terdiam sesaat saat memberikan potongan kue ketiga untuk Seira.
__ADS_1
Tidak ingin membuat keluarga merasa aneh Seira pun langsung memakan potongan kue tersebut. Melihat gerakan Seira membuat Alex tersadar. Sisa potongan dia berikan kepada Bryan dan Emily secara bergantian.
“Semalam kalian darimana?”