
Hari ini Inara berencana mengajak Sean untuk makan siang bersama. Berdiri di sebuah Gedung yang menjulang tinggi Inara mulai melangkahkan kaki memasuki area perusahaan yang dipimpin oleh Sean. Berhenti di depan resepsionis Inara pun menanyakan keberadaan Sean pada wanita yang duduk disana.
“Permisi.”
“Iya nona ada yang bisa saya bantu.” ucap wanita itu dengan ramah.
“Apa pak Sean ada?” tanya Inara.
“Apa nona sudah mempunyai janji dengan CEO kami?” Inara menggeleng kalo sudah memiliki janji bukan kejutan namanya.
“Baik tunggu sebentar ya nona saya akan menghubungi sekretaris tuan Sean terlebih dahulu.” wanita itu memegang gagang telepon berwarna putih kemudian menekan beberapa nomor untuk menghubungi Devan. Sambungan terhubung setelah menunggu beberapa detik.
“Hallo tuan Devan disini ada seorang wanita bernama…” resepsionist menghentikan ucapannya memandang Inara meminta gadis itu untuk menyebutkan namanya.
“Inara.” jawabnya saat mengerti maksud dari pandangan resepsionis kepadanya.
“Iya Inara, apa tuan Sean ingin menemuinya?” wanita itu mengangguk mengerti saat mendengar jawaban dari Devan.
Sementara dari arah pintu masuk datanglah dua orang wanita. Dia adalah Angela dan asistennya Vilia. Hari ini setelah makan siang Angela dan Sean ada pertemuan untuk pembahasan tanda tangan kontrak. Sepertinya mereka datang lebih cepat dari jam yang ditentukan. Wanita berusia hampir tiga puluh tahun itu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Sean.
Bahkan sebelum datang wanita itu menyempatkan diri pergi ke salon untuk melakukan perawatan demi mempercantik diri. Berbagai perawatan wajah maupun tubuh dia jalani pagi tadi. Hanya untuk membuat Sean terpesona dengan kecantikan dirinya.
Setelah menutup panggilan wanita yang berprofesi sebagai resepsionis itu mempersilahkan Inara untuk masuk dengan menggunakan fasilitas lift yang dikhususkan untuk para petinggi di perusahaan Sean.
Vilia menatap Inara dengan tatapan tidak suka. Bagaimana bisa gadis itu masuk dengan fasilitas yang bahkan dia sendiri belum pernah memakainya. Vilia menatap kearah pandang yang sama dengan bosnya. Kemudian Angela menatap asistennya pun dengan Vilia yang menatap balik bosnya. Lima tahun bekerja dengan Angela membuat Vilia sudah tahu pasti apa yang diinginkan oleh wanita itu.
“Ya ya ya aku akan mencari tahu gadis itu sekarang berhenti menatapku seperti itu.” keluh Vilia.
“Kau memang asisten terbaikku.” ucap Angela dengan senyum di wajahnya.
__ADS_1
Sean langsung memeluk pinggang Inara dari arah belakang saat pintu tertutup setelah sebelumnya sempat dibuka oleh Inara. Membuat gadis itu terlonjak kaget.
“Dad kau membuatku terkejut.”
Sean meletakkan dagunya diatas pundak Inara. Menghirup dalam-dalam aroma lili yang menempel di tubuh Inara. Aroma yang begitu memabukkan namun dia suka.
“Aku lelah bisakah kau memberikanku vitamin?”
Seminggu ini Sean maupun Devan memang sibuk bekerja bahkan sampai lembur demi untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Akhir pekan ini mereka sudah berencana untuk melakukan double date.
“Aku akan membelikannya.”
Inara berusaha melepas tangan Sean yang melingkar di pinggang namun sulit karena lelaki itu memeluk dirinya dengan begitu erat.
“Bukan vitamin itu tapi ini.” Sean mulai menjelajahi leher Inara membuat gadis itu merasa geli.
Sean memutar tubuh Inara hingga kini keduanya saling berhadapan. Mata mulai tertutup kabut gairah untuk meminta lebih. Sean memegang tengkuk Inara kemudian membenamkan ciuman disana. Saling menjelajah lebih dalam menikmati pertukaran saliva yang berlangsung cukup lama.
Sean memegang kedua pundak Inara dengan kening saling menempel menghirup oksigen sebanyak-banyaknya mengisi rongga paru-paru yang mulai kehabisan oksigen.
Di luar ruangan terdengar sebuah keributan antara Devan dan Angela. Wanita itu bersikeras memaksa untuk masuk.
“Maaf nona Anda tidak bisa masuk tuan Sean sedang ada tamu.” Devan menghadang di depan pintu ruangan Sean menghalau agar wanita itu tidak masuk.
“Tuan Devan bukankah kita sudah ada janji untuk bertemu dengan tuan Sean?” ucap Vilia berusaha membantu bosnya.
“Bukankah pertemuannya jam satu siang sedangkan ini baru jam dua belas lewat beberapa menit.” ucapan Devan membuat asisten Vilia terdiam.
Angela tetap ingin masuk bagaimanapun caranya. Gadis tadi pasti sekarang berada di dalam. Angela menatap tajam asistennya seolah tatapan itu berbicara bahwa dia ingin masuk sesegera mungkin.
__ADS_1
“Tuan Devan jam satu atau pun jam dua belas sama saja. Bukankah lebih cepat lebih baik.”
“Baiklah saya akan berbicara dengan tuan Sean terlebih dahulu.” Devan mengetuk pintu membuat aktifitas yang sudah mulai memanas menjadi terhenti. Inara melepas ciuman saat mendengar ketukan pintu. Kemudian menutup kemejanya yang sempat terbuka dua kancing bagian atas.
“Shit, perusak kenikmatan.” Umpat Sean yang merasa kesal. Inara tersenyum melihat wajah Sean yang memerah entah menahan marah atau menahan gairah yang sudah membakar tubuhnya.
“Dad, kita bisa lanjutkan lain kali.” Bisik Inara dengan suara menggoda di dekat daun telinga Sean.
Lelaki itu memeluk pinggang Inara dan berucap.” Dan saat itu tiba aku akan memakanmu hingga habis.”
“Aku milikmu dad.”
Inara duduk di sofa yang berada di ruangan Sean sambil memainkan ponselnya. Kemudian lelaki itu kembali duduk berpura-pura membuka laptop dan membaca sebuah dokumen sebelum mempersilahkan Devan masuk.
Angela yang memang tidak penyabar pun mendahului Devan untuk masuk saat pintu ruangan terbuka. Devan tidak dapat menghentikan wanita itu. Dan tanpa diminta Angela duduk begitu saja di hadapan Sean membuat Vilia menggeleng dengan sikap bosnya yang seolah tidak beretika. Devan mengangkat kedua bahu saat Sean menatap dirinya untuk meminta penjelasan.
“Nona Angela bukankah pertemuan kita setelah jam makan siang?” Sean menatap datar pada wanita itu.
Angela tersenyum kemudian memegang kerah baju menampilkan belahan dada yang begitu rendah dihadapan Sean. Ukuran dada Angela yang cukup besar dengan kemeja ketat berwarna putih dengan bra merah yang menerawang membuat lelaki hidung belang pasti tergoda. Namun tidak dengan Sean hati dan seluruh jiwa lelaki itu sudah dimiliki oleh Inara.
Inara yang melihat seorang wanita berusaha menggoda daddy sugarnya pun merasa cemburu. Dadanya terasa panas matanya sakit saat wanita itu memperlihatkan bagian tubuh yang mencolok. Rasanya dia ingin menghempas wanita itu sekarang juga.
Angela begitu mengagumi ketampanan Sean. Wanita itu bangkit dari duduknya mendekati Sean. Tangan Inara mulai mengepal dengan kuat saat tangan wanita itu mulai memegang pundak lelakinya. Terlebih saat wanita itu memperlihatkan pahanya dengan sengaja. Sean terdiam matanya melirik kearah Inara yang terlihat kesal.
Sebuah lengkungan bibir terlihat saat Inara mulai berjalan mendekatinya. Sean sengaja membiarkan Angela melakukan hal-hal itu. Dia ingin melihat reaksi Inara. Ternyata apa yang diharapkan terjadi. Inara cemburu sungguh menyenangkan saat melihat gadisnya cemburu.
Saat Angela memutar kursi Sean agar menghadap dirinya dengan cepat Inara duduk di pangkuan Sean. Memeluk leher lelakinya kemudian menyandarkan kepala di bidang dada Sean dengan manja. Membuat Angela dan Vilia begitu terkejut kecuali Devan.
“Sayang.”
__ADS_1