
“Ahrgg.” Teriak alex saat rambutnya dijambak oleh ibu kandungnya. Amarah di mata Sandra sedang tidak terkontrol. Wanita itu sama sekali tidak peduli dengan teriakan anaknya. Dia hanya butuh pelampiasan untuk membuat hatinya tenang. Walaupun itu anak kandungnya sendiri. Dia begitu benci dengan ayah kandung Alex yang selalu menyiksa dirinya.
“Mommy . . ampun mommy.” mohon Alex dengan suara yang tercekat di tenggorokan.
“Sakit.” rintih Alex akibat cengkeraman di rambutnya yang begitu kuat.
“Gara-gara daddy kau mommy jadi seperti ini.” teriak Sandra di dekat daun telinga Alex.
“Ampun mommy.”
“Sekarang kau yang harus menanggung akibatnya. Karena kau tidak bisa diandalkan untuk memisahkan Sean dan Inara.” Sandra kemudian menghempaskan tubuh bocah itu hingga tersungkur diatas ubin lantai yang keras.
“Mommy ampun mommy.” tubuh bocah kecil itu berangsur mundur ingin menghindar namun tenaganya yang tidak seberapa tidak mampu melakukan itu.
Sandra tertawa histeris seolah dia seperti seorang wanita yang kehilangan akal sehat.” Hahahaha.” langkah kakinya setapak demi setapak mendekat kearah Alex. Bocah kecil itu semakin ketakutan. Entah apa yang akan dilakukan lagi oleh wanita yang berstatus ibu kandungnya itu.
“Jangan mommy, mommy aku anakmu mom. Kumohon jangan sakiti aku lagi.” pinta Alex dengan memohon mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Berharap belas kasih dari ibunya.
Sandra tertawa semakin kencang. “Hahahaa, teruslah memohon aku suka kau memohon. Siapa suruh kau lahir di dunia ini. Kau menghancurkan segalanya. Bahkan kau lebih menyayangi mereka daripada mommy mu sendiri.” Sandra mencengkeram dagu Alex. Meluapkan emosi disana.
“Mommy tidak baik merusak hubungan orang lain. Jika mommy tidak bahagia dengan daddy, mommy bisa mencari pria lain yang bisa membahagiakan mommy. Alex tidak masalah dengan hal itu. Mommy Alex sayang mommy.”
Sandra tersenyum sini “ Jika kau sayang mommy seharusnya kau membantu mommy bukan mereka.” kesal Sandra memegang dagu Alex kemudian membuangnya dengan kasar.
“Kau tahu Alex, pria yang bisa membahagiakan mommy adalah Sean suami dari Inara.” ucap Sandra dengan wajah sendu merasa iri setiap kali melihat Sean memperlakukan Inara dengan sangat lembut. “Jadi, please…bantu mommy untuk memisahkan mereka.” kini Sandra yang mengatupkan kedua tangannya untuk meminta pertolongan dari anaknya itu.
Alex menggeleng pelan dan tertangkap oleh kedua mata Sandra. Membangkitkan kembali amarah yang sempat mereda.
Plak
Satu tamparan mendarat di pipi kanan Alex dengan kuat. Bahkan sudut bibir anak itu sampai mengeluarkan sedikit darah segar.
__ADS_1
“Itu akibatnya jika kau tidak menuruti perkataan mommy.” Sandra berdiri meninggalkan kamar Alex. Saat sampai di depan pintu wanita itu berbalik dan berucap “ Mommy akan memberimu waktu untuk berfikir jika kau berubah pikiran datanglah temui mommy. Jika tidak kau tahu apa akibatnya.” kemudian pintu tertutup dengan begitu keras membuat Alex terjingkat kaget. Sandra sengaja membanting daun pintu untuk memberi rasa takut kepada anaknya.
*** Rumah Sakit ***
Inara merasakan nyeri yang begitu hebat di bagian perutnya. Matanya baru saja terpisah dari kelopak matanya. Tangannya memijat pelipis dengan pelan saat merasakan pusing di kepala.. “Dimana aku?’ lirihnya.
Sean baru saja kembali dari ruang Nicu melihat anaknya yang harus mendapat perawatan intensif untuk menyempurnakan kedua paru-parunya. Matanya menatap sosok yang sudah membuka mata menatap dirinya dengan derai air mata yang membasahi kedua pipinya.
“Sayang.” panggil Sean dengan lembut kemudian mendekat ke brankar dimana Inara terbaring lemah.
“Hiks hiks. Anak kita Dad…Dimana anak kita?”
“Hutsss.” Sean memberi pelukan hangat untuk memberi rasa nyaman sekaligus menenangkan suasana hati istrinya. “Anak kita selamat.” bisiknya membuat Inara mengurai pelukan dan menatap lekat wajah suaminya.
Sean menghapus sisa air mata yang masih mengalir di kedua pipi Inara dengan ibu jarinya secara bergantian. “Benar anak kita selamat. Sekarang Seira sedang berada di ruang Nicu karena dia harus mendapat perawatan intensif karena terlahir secara premature.”
“Seira?” seperti nama seorang anak perempuan. Sean tersenyum kemudian membelai pipi lembut Inara dengan penuh kasih sayang.
“Alex?” Inara teringat akan anak itu. Dimana dia sekarang. Bagaimana keadaannya? Saat memikirkan Alex wajah Inara kini diliputi oleh rasa khawatir dan rasa cemas.
“Dad, dimana Alex?”
“Dia bersama dengan ibunya.” jawab Sean dengan tenang.
“Dad..” Inara memegang lengan Sean seolah ada rasa takut yang berlebih yang ada dalam hati dan pikirannya saat memikirkan bocah malang itu.
“Tenanglah, aku akan berusaha mencarinya. Jika dia tidak baik-baik saja maka aku akan melakukan apapun untuk membawanya pulang bersama kita.” Inara menunduk air mata mulai membanjiri wajahnya kembali. Saat teringat dengan keputusannya yang salah sudah mengijinkan wanita itu tinggal bersama dengan keluarga kecilnya.
**Flashback on**
Satu bulan yang lalu…
__ADS_1
“Kumohon Inara, ijinkan aku tinggal bersama kalian hingga aku mendapatkan pekerjaan dan menyewa sebuah rumah untuk kami.” pinta Sandra dengan wajah berjuta sandiwara disana.
“Tidak. Aku akan menyewakan rumah untuk kalian.” tolak Sean yang enggan tinggal bersama dengan mantan kekasihnya.
“Bagaimana ini bisa gagal rencanaku.” gumam Sandra sambil memikirkan cara agar dirinya bisa diijinkan tinggal bersama mereka.
Inara memandangi wajah Alex yang berdiri di belakang Sandra untuk menyembunyikan sebagian wajahnya. Saat Inara menatap Alex maka Alex akan bersembunyi di balik tubuh ibunya. Inara merasa ada sesuatu yang ditutup-tutupi oleh Alex darinya. Dan untuk memastikannya Inara meminta Alex untuk mengambilkan ponsel miliknya yang dia letakkan di atas nakas samping tempat tidur.
“Ini ma.” Alex mengulurkan ponsel milik Inara sambil menundukkan kepala hingga Inara kesulitan untuk melihat wajah ceria Alex yang berubah menjadi pendiam setelah bertemu dengan mommynya.
Sudut bibir Alex sedikit membiru. Inara dapat melihat itu disaat Alex akan berbalik meninggalkan dirinya. Dan disinilah Inara mengambil keputusan untuk mengijinkan wanita itu tinggal bersama dengan keluarga kecilnya. Dia ingin memastikan sesuatu sebelum wanita itu membawa Alex untuk pergi.
“Baiklah. Tapi setelah kau mendapat pekerjaan yang layak kau harus pergi.”
“Tentu.” kedua sudut Sandra tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman yang penuh dengan sebuah rencana.
“Sayang.” protes Sean dengan keputusan istrinya.
“Sudahlah aku lelah ayo kita ke kamar. Apa kau tidak ingin olah raga malam hari?” goda Inara dengan senyum menggodanya. Dan Sean pun luluh hanya dengan kata-kata absurd seperti itu.
“Ayo aku sudah tidak sabar untuk berolah raga denganmu.”
“Dasar mesum.”
Keduanya pun bangkit menuju kamar mereka. Namun sebelum itu Sean berucap dengan nada dingin dan datar. “Kau tidurlah bersama Alex.”
“Baiklah.” jawab Sandra dengan nada yang tertekan di tenggorokan dan tangan terkepal melihat kemesraan yang dengan sengaja mereka perlihatkan di depan dirinya.
“Bersenang-senanglah Inara sebelum mantan kekasihku itu aku rebut kembali.” senyum smirk terlihat di salah satu sudut bibir Sandra. Alex melihat itu. Dan dia harus melindungi keluarga mama dan papanya meskipun harus melawan ibu kandungnya sendiri. Sungguh dewasa sekali Alex. Pemikiran yang jauh dari usianya saat ini.
Keesokan harinya…
__ADS_1