
Sepanjang perjalanan dari toilet menuju tempat parkir rumah sakit Roy terus saja menggerutu karena kesal. Bahkan lelaki itu sampai membuka dan menutup pintu mobil dengan keras. Membuat Alex dan David terlonjak kaget karena ulah Roy.
“Ada apa denganmu?” tanya David penasaran.
“Gadis itu terus saja membuatku kesal.”
“Gadis?” baik Alex maupun David sama-sama mengerutkan dahi mendengar penuturan Roy.
“Maksudmu putri Pak Nana.” tebak Alex. Membuat David menatap curiga kepada Roy.
“Jangan menatapku seperti itu.” Roy semakin bertambah kesal saat David menatapnya dengan aneh.
“Oke, apa yang terjadi sampai kau kesal seperti itu?” tanya David kemudian menyalakan mesin mobil dan melaju perlahan meninggalkan parkiran rumah sakit.
“Kau tahu baru kali ini aku melihat gadis seperti itu.” gerutunya kemudian menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.
“Memang apa yang sudah dia lakukan padamu?” tanya David yang tetap fokus pada kemudinya.
“Kau tahu dia menghentikanku dengan tiba-tiba di depan toilet. Aku pikir dia ingin mengatakan sesuatu yang penting. Ternyata tidak.”
“Memang apa yang sudah dia tanyakan padamu?” Alex ganti bertanya sambil memainkan ponsel miliknya. Melihat-lihat sosial media seseorang.
“Sudahlah aku tidak ingin membahasnya.”
“Yasudah kalau tidak ingin dibahas. Lalu kenapa mukamu masih terlihat kesal?” David melirik sekilas wajah Roy yang masih terlihat masam.
Bagaimana tidak kesal gadis itu menghentikan dirinya di depan kamar mandi hanya untuk menitip salam kepada Alex. Serta dengan berani meminta nomer ponsel Alex padanya.
Sementara Alex terus saja melihat layar ponsel miliknya. Membuka berbagai jenis media sosial seorang gadis yang dia cintai. Mulai dari IG, twitter, Facebook bahkan status wa. Itu dia lakukan untuk mengetahui apa saja yang dilakukan Seira selama dirinya pergi. Selain itu melihat sosial media Seira dapat sedikit mengobati kerinduannya pada gadis itu.
Satu pesan masuk mengharuskan Alex keluar dari sosial media milik Seira. Melihat nama pengirim pesan adalah Emily dengan segera Alex membuka pesan tersebut.
Rahang Alex mengeras. Matanya memerah. Tangannya bahkan menggenggam ponsel dengan begitu erat. Dadanya terasa sesak. Nafasnya seakan tercekat ditenggorokan. Bagaimana tidak jika pesan yang dikirim Emily berisikan gambar Seira dengan seorang lelaki yang sama sekali tidak dia kenal.
“Kak Alex tahu tidak sekarang kak Seira sudah punya pacar. (emoji senyum dari Emily) disertai sebuah gambar yang menampilkan Seira dan lelaki itu duduk berhadapan di ruang tamu.”
__ADS_1
“Alex.” panggil David namun tidak ada jawaban dari yang punya nama.
“Alex.” giliran Roy yang memanggil namun reaksi yang sama diterima oleh Roy. Keduanya saling pandang melihat Alex tidak mendengar panggilan mereka berdua.
Layar ponsel masih menjadi fokus Alex. Memperbesar layar untuk memperjelas wajah lelaki yang ada di gambar bersama Seira. Berulang kali melihat dan mengamati Alex benar-benar baru pertama kali melihat lelaki yang disangka Emily adalah kekasih Seira. Dia yakin itu bukan kekasih Seira. Namun dia harus memastikan hal itu.
Roy mengangkat kedua bahunya saat kedua mata David seolah bertanya apa yang terjadi kepada Alex. Roy memiringkan badan menghadap kursi dimana Alex duduk. Tangannya menyentuh tangan Alex yang masih memegang ponsel. Membuat lelaki itu tersadar dan mengalihkan pandangan kepada Roy yang menatap dirinya.
“Ada apa?” wajah Alex terlihat sedang menahan marah.
“Apa ada masalah?” tanya Roy.
“Tidak ada. Berapa lama lagi kita di Bandung.” rasanya Alex sudah tidak sabar untuk kembali ke Jakarta.
“Jika semua lancar besok pagi kita sudah bisa kembali ke Jakarta.” jawab David yang melihat ada sesuatu dari pancaran mata Alex.
“Kalau begitu percepatlah.”
***
Seira dan Soni telah duduk di ruang tamu. Seira tidak tahu bagaimana Soni bisa menemukan alamat rumahnya. Apa jangan-jangan lelaki itu mengikuti dirinya? Tapi untuk apa juga lelaki ini mengikuti dirinya?
Lama saling diam akhirnya Soni mengeluarkan suara untuk memecah keheningan diantara mereka.
“Apa kau terkejut aku bisa berada disini?”
“Tidak.” Soni tersenyum mendengar suara Seira.
“Karena aku yakin kau mengikutiku tadi.” sambung Seira yang tidak suka dengan kedatangan Soni ke rumahnya.
Untung saja kak Alex sedang tidak ada di rumah. Jika ada pasti dia akan diinterogasi habis-habisan oleh kakaknya itu.
“Kau percaya diri sekali nona.” Soni tersenyum setelah mengatakan itu kemudian menyeruput teh yang sebelumnya disediakan oleh bibi.
“Kita tidak saling kenal. Lalu bagaimana kau bisa sampai disini jika bukan mengikutiku dari belakang?”
__ADS_1
“Ini.” Soni meletakkan sebuah paperbag di atas meja. Paperbag milik Seira yang tertinggal di lift mall tadi.
“Astaga.” Seira menepuk keningnya dengan pelan saat menyadari paperbag itu dia letakkan di lantai lift saat Damian mengejar dirinya tadi.
“Terima kasih.” ucap Seira kemudian mengambil paperbag tersebut.
“Hanya terima kasih.” dahi Seira berkerut dalam apa maksud perkataan lelaki ini? Apa dia meminta imbalan darinya?
“Berikan aku nomer rekeningmu, akan aku transfer segera.” ucapan Seira membuat salah satu sudut bibir Soni terangkat.
“Aku tidak butuh uangmu nona. Untuk apa aku meminta uangmu jika uangku saja mampu membeli apapun di dunia ini.”
“Sombong.” cibir Seira.
“Hahahaa.” Soni tidak marah Lelaki itu justru terlihat tertawa terbahak menerima cibiran Seira.
“Lalu jika bukan uang apa yang kau inginkan dariku?”
“Gadis unik.” Gumam Soni dalam hati. Seumur hidup baru ada gadis yang berani memperlakukan dirinya seperti ini. Kebanyakan gadis akan merubah sikapnya menjadi lembut saat dia memberitahu hartanya tidak akan habis tujuh turunan. Namun tidak dengan Seira. Apa mungkin karena kedua orang tuanya sudah kaya? Namun jika dilihat-lihat rumah kedua orang tua Seira memang terbilang cukup mewah. Soni mengamati setiap sudut di dalam rumah tersebut dengan kedua matanya. Dan gerakan itu tidak luput dari pandangan Seira.
“Jangan bilang kalu kau menginginkan rumah ini sebagai imbalan.” celetuk Seira yang lagi-lagi membuat Soni tertawa.
“Tentu saja tidak. Hanya mengembalihan mainan seperti itu tidak perlu imbalan yang banyak nona.” Apa katanya hanya mainan. Apa dia pikir Seira anak kecil yang masih membeli mainan di mall?
“Ini bukan mainan. Tapi ini…” Seira mengeluarkan isi dalam paperbag.
“Ya ya ya aku tahu. Tapi itu terlihat seperti mainan bagiku.” potong Soni yang melihat Seira ingin menjelaskan barang apa yang ada di dalam paperbag.
“Kau!!” geram Seira dengan mengepalkan telapak tangan. Rasanya ingin sekali dia meninju wajah lelaki yang ada di hadapannya itu.
“Cepat katakan apa yang kau inginkan. Aku harus pergi sekarang.” Seira harus mulai menata barang-barangnya yang akan dia bawa ke luar negeri untuk kuliah.
“Aku ingin kita pergi berdua untuk menonton konser itu.”
“What?”
__ADS_1