Inara, My Baby Sugar

Inara, My Baby Sugar
Hamil


__ADS_3

Satu bulan kemudian


Inara berdiri di sebuah sekolah untuk menjemput Alex. Satu minggu yang lalu Inara dan Sean sepakat untuk memasukkan Alex ke sekolah. Selain usianya yang sudah pantas untuk mendapat Pendidikan usia dini Inara juga merasa kasihan setiap dirinya harus meninggalkan anak itu sendiri di apartemen terlebih ketika dirinya harus kuliah dan Sean pergi ke kantor.


Inara memilih sekolah yang sekaligus bisa menitipkan anak supaya dia tidak perlu khawatir saat dia memiliki mata kuliah hingga sore hari.


Sandra ibu dari anak itu tak kunjung menjemput putranya sesuai dengan janji yang dia ucapkan waktu itu. Entah dibelahan bumi mana wanita itu berada yang pasti Sandra hilang tanpa ada kabar. Alex pun tidak pernah bertanya seolah ini sudah biasa terjadi pada dirinya.


“Mama.” teriak seorang anak kecil yang berlari memakai seragam sambil memegang kedua tali tas di pundaknya.


“Pelan-pelan sayang nanti jatuh.”


“Mama sendiri?” tanya Alex pada Inara.


Ya sehari setelah masuk sekolah Inara meminta Alex untuk memanggil dirinya mama. Bukan tanpa sebab Inara mendengar dengan telinganya sendiri bagaimana teman-teman Alex yang baru saja sehari bertemu sudah berani membully anak itu dengan mengatakan Alex anak yatim. Alex tidak punya orang tua. Alex tidak punya mama. Alex tidak punya papa.


Alex tidak marah mendengar bullyan teman-temannya bahkan anak itu tidak mempedulikan ucapan teman-temannya. Justru Inaralah yang merasa tidak terima akan hal itu. Dan malam harinya setelah berbicara dengan Sean Inara pun meminta Alex untuk memanggil dirinya mama dan memanggil Sean dengan sebutan papa.


“Ehm, bagaimana sekolahmu hari ini?”


“Everithing it’s okay mama.”


“Sungguh?”


“Yess mama.”


“Tidak ada teman yang mengejekmu lagi hari ini?” Alex menggelengkan kepala sebagai jawaban.


“Ayo ma.” Alex segera menggandeng tangan Inara untuk berputar seratus delapan puluh derajat menuju mobil dimana terparkir karena tidak ingin mendengar pertanyaan mamanya yang selalu berulang setiap hari.


Semenjak masuk ke dalam mobil Inara hanya diam kemudian memejamkan kedua mata menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dan sesekali memijit kepalanya yang terasa pusing. Rasa yang tiba-tiba hadir setelah mobil yang mereka tumpangi berjalan meninggalkan area sekolah.


“Mama sakit?” tanya Alex yang merasa ada yang aneh dengan Inara. Dan benar saja wajah Inara terlihat begitu pucat seolah tidak ada darah yang mengalir disana. Membuat Alex merasa khawatir kemudian anak itu menempelkan telapak tangannya pada kening Inara untuk merasakan suhu tubuh mama angkatnya itu.


“Tidak panas.”lirih Alex.

__ADS_1


Ponsel Inara berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk. Sungguh dia tidak sanggup untuk membuka mata karena rasa pusing yang begitu hebat yang dia rasa.


“Alex, tolong angkat telepon mama.” Ucapnya dengan sekuat tenaga supaya Alex mendengar ucapannya.


“Iya ma.” Alex pun mengambil ponsel milik Inara yang berdering untuk kedua kalinya di dalam tas. Menggeser icon berwarna hijau dan menempelkan benda pipih itu di dekat daun telinganya. Menjawab panggilan yang tidak lain dari Sean.


“Hallo pa.”


“Alex, dimana mama?” tanya Sean saat mendengar Alex yang menjawab panggilan darinya.


“Mama pa…” Alex menjeda ucapannya membuat Sean sedikit cemas.


“Mama kenapa Alex?”


“Mama dari tadi diam dan memejamkan mata Pa dan…” belum sempat Alex meneruskan ucapannya terdengar Inara yang sedang mengeluarkan isi di dalam perut yang berusaha dia tahan sedari tadi. Dan suara itu pun terdengar di telinga Sean.


“Wueekkk,wuekkk.”


“Mama.” Alex yang melihat mamanya bertambah pucat pun meminta Sean untuk segera pulang. Namun Sean meminta Alex untuk meminta tolong kepada supir mereka agar membawa Inara ke rumah sakit terdekat.


“Minta tolong pada pak Agus untuk membawa mama ke rumah sakit terdekat papa akan segera ke sana.”


“Iya pa.” setelah ponsel dimatikan Alex pun meminta pak Agus untuk membawa mereka ke rumah sakit terdekat.


Sean mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh dan kurang dari sepuluh menit Sean telah tiba di rumah sakit setelah pak Agus berbagi lokasi dengan dirinya. Dengan langkah terburu-buru Sean menuju ruangan dimana Inara sedang diperiksa oleh dokter. Terlihat Alex yang sedang menunggu di kursi tunggu. Kursi besi yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Anak itu terlihat khawatir bahkan beberapa kali Alex menghapus air mata yang mengalir di pipinya.


“Alex.”


“Papa,huaaa.” Alex berlari memeluk Sean dan semakin histeris menangis.


“Mama pa.”


“Tenanglah.” Meskipun dirinya merasa khawatir juga dengan Inara namun melihat Alex seperti ini Sean berusaha setenang mungkin agar Alex tidak semakin cemas dan takut.


“Mama akan baik-baik saja.” Sean menghapus air mata anak itu kemudian memeluknya memberikan rasa nyaman. Dan menyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


Sean membawa Alex untuk duduk di sederet kursi besi di depan ruangan tempat Inara di periksa. Sean duduk sambil memeluk Alex menenangkan bocah itu yang sedari tadi masih menangis mengkhawatirkan keadaan mamanya.


“Mama kenapa pa, wajah mama sungguh pucat tadi dan di dalam mobil mama hanya memejamkan mata sebelum akhirnya mama muntah di dalam mobil ?”


“Mama tidak kenapa-kenapa sayang, sudah jangan menangis lagi.” Sean mengusap air mata yang terus mengalir di kedua pipi anaknya.


Ceklek, pintu ruangan terbuka terlihat seorang wanita memakai jas berwarna putih dengan stetoskop yang dia pegang di tangan keluar dari ruangan dimana istrinya diperiksa. Sean yang duduk memeluk Alex segera beranjak berdiri menghampiri wanita yang dapat dia ketahui dari pakaiannya adalah seorang dokter.


“Bagaimana keadaan istri saya dok? Apa-dia baik-baik saja ?” Sean bertanya dengan penuh kekhawatiran yang jelas terpancar dari raut wajahnya.


“Kenapa dokter malah tersenyum cepat katakan istri saya kenapa?” ucap Sean dengan kesal yang melihat dokter tersebut tersenyum bukannya memberikan jawaban atas pertanyaannya.


“Tenang tuan.” Tutur Dokter yang terlihat ramah.


“Istri anda baik-baik saja.” Sambungnya.


Membuat Sean dan Alex merasa lega.” Lalu kenapa istri saya bisa seperti tadi dok?”


“Karena nyonya belum makan membuat asam lambungnya naik. Dan fluktuasi tekanan darah istri tuan rendah itu yang membuatnya pusing. Hal ini biasa terjadi di awal kehamilan tuan jadi anda tidak perlu khawatir.”


“Awal kehamilan?” Sean masih belum sepenuhnya mencerna apa yang diucapkan oleh dokter.


“Iya tuan istri Anda sedang hamil.”


Kening Sean berkerut dalam matanya pun hampir saja lompat dari tempatnya. Saat mendengar kabar bahagia yang sudah lama dia tunggu-tunggu.


“Istri saya hamil dok?” ulang Sean memastikan dirinya tidak salah dengar.


“Iya tuan.”


“Dokter serius kan? Dokter tidak bercanda kan? Dokter tidak sedang ngeprank saya kan?” Sean memasang wajah serius saat memberikan pertanyaan beruntun kepada dokter takut jika ini hanya sebuah tipuan untuknya.


“Tidak tuan, untuk memastikan usia kandungan dan perkembangan janin nyonya mari kita lakukan USG.” Sean mengangguk menyetujui ucapan dokter dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya.


“Alex, kamu akan punya adik sebentar lagi sayang.” Ucap Sean memeluk Alex dan menghadiahi kecupan bertubi-tubi pada pucuk kepala anak itu.

__ADS_1


Alex hanya diam mendengar ucapan Sean. Pandangannya lurus kedepan dengan tatapan kosong tanpa ekspresi apapun.


__ADS_2