
Sean masuk ke dalam ruangan setelah mengucapkan terima kasih kepada dokter. Ia melepaskan genggamannya pada Alex dan mengangkat anak itu untuk duduk di samping istrinya yang masih terbaring lemas. Kedua manik mata hitam pekat miliknya kini perpusat pada wajah Inara dengan seulas senyum di kedua sudut bibirnya.
Rasa syukur yang Sean rasa membuat kedua sudut matanya membasah. Saat membayangkan sebentar lagi dirinya memiliki seorang anak. “Aku akan memiliki anak?” rasanya sungguh menggetarkan seluruh tubuhnya. Kata-kata itu seperti mimpi. Bertahun-tahun dia melakukan pengobatan hingga putus asa. Tapi kini Tuhan bermurah hati menitipkan janin di dalam Rahim istrinya. Memberikan kepercayaan kepada dirinya dan Inara.
Sean menggenggam tangan Inara lalu kemudian menghadiahinya dengan kecupan yang bertubi-tubi. Rasa bahagia yang Sean rasa membuat dirinya sejenak melupakan Alex. Anak itu masih diam tanpa ekspresi di samping Inara.
“Apa mereka akan membuangku setelah memiliki anak?” itulah yang ada di dalam pikiran Alex saat ini. Rasa takut akan dibuang seperti sebelum-sebelumnya. Di buang oleh ibu kandungnya sendiri.
“Sean…” Inaramembuka mata perlahan wanita itu masih merasakan rasa pusing di kepala.
“Kenapa tidak makan?” pertanyaan Sean terasa seperti mengintimidasi. Membuat Inara tidak berani menatap wajah suaminya.
“Aku…”
“Aku apa?” tegas Sean. Inara hanya diam dia sendiri tidak tahu kenapa akhir-akhir ini nafsu makannya menurun dan kepalanya sering sekali pusing.
“Untung tidak terjadi apa-apa dengan anak kita!” Inara seketika mengangkat wajahnya mendengar ucapan Sean. Matanya menatap mata Sean dengan penuh tanya.
“Anak?”
“Iya, kita akan memiliki anak.” Bisiknya tidak lupa menghadiahi kecupan di pucuk kepala istrinya sebagai rasa terima kasih. Tubuh Inara terasa hangat merasakan pelukan Sean terlebih saat mendengar perkataan Sean. Rasa bahagia melingkupi seluruh hatinya hari ini.
“Apa kalian akan membuangku?” suara Alex memecah keheningan diantara dua manusia yang saling berpelukan. Sean dan Inara saling tatap sebelum seulas senyuman mereka berikan untuk Alex.
“Sayang.” Inara memberikan kecupan pada pipi Alex kemudian memeluknya dengan penuh kasih sayang. Membuat tubuh Alex bergetar karena menangis terharu.
Sean mengusap-usap kepala Alex. Tak lama setelah itu melerai pelukannya dengan Inara. Membalik badan anak itu untuk menatap dirinya.
“Apa kamu pikir kami tega membuangmu?” Alex memejamkan kedua matanya diikuti dengan bulir bening yang ikut jatuh membasahi kedua pipinya. Sebelum akhirnya menggeleng menjawab pertanyaan Sean.
__ADS_1
“Lalu apa kamu akan membenci adik ketika dia lahir nanti?”
“Adik?” Alex mengangkat wajahnya dengan tegas menatap wajah Sean. Guratan wajah Sean yang tadi terlihat dingin kini berubah menjadi lembut. Tidak lupa seulas senyum dia berikan untuk putra angkatnya. “Bukankah anak kami akan menjadi adikmu kelak?” perkataan Sean membuat hati Alex menghangat. Rasa sesak yang sempat memenuhi hatinya kini hilang menguap begitu saja. Berubah menjadi perasaan lega.
“Jadi aku akan tetap menjadi putra kalian dan aku akan memiliki adik?” Baik Inara dan Sean mengangguk menjawab pertanyaan anak itu.
“Yeay.” Alex turun dari ranjang kemudian melompat-lompat kegirangan.
“Aku akan punya adik, Yeay….Terima kasih papa. Terima kasih mama.” Alex memeluk Sean dan Inara secara bergantian.
Inara merasa jantungnya berdetak kencang rasa gugup melingkupi hatinya saat seorang dokter mulai mengolesi perutnya dengan sebuah gel sebelum sebuah alat tranducer bergerak perlahan di atas perutnya. Mencari sebuah kantung Rahim yang sudah berisi janin yang tumbuh disana.
“Lihatlah tuan,nyonya itu anak kalian.” Inara menangis terharu. Sean menggenggam tangan istrinya lelaki itupun terlihat bahagia dengan senyum yang tidak pernah surut dari wajahnya.
“Usianya baru 9 minggu.” Sambung dokter dengan alat yang masih dia gerak-gerakkan diatas perut Inara.
“Dan ini detak jantung anak kalian.” Dari layar monitor semua orang yang berada di ruangan itu mendengar detak jantung janin yang masih berada di dalam perut Inara.
“Saya hanya kurang nafsu makan dok dan kepala saya sering sekali pusing.” Jawab Inara yang mulai bangkit dari brankar dibantu oleh Sean.
“Baiklah,Itu hal biasa dialami ibu hamil nyonya. Saya akan meresepkan obat untuk mengurangi rasa pusing dan vitamin untuk menambah nafsu makan.”
“Apa ada yang ingin kalian tanyakan?” ucap dokter sambil menulis resep untuk Inara.
“Itu dok, ehm..” Sean terlihat malu untuk menanyakan tentang berhubungan intim saaat hamil. Dia pernah mendengar dari seorang temannya jika istri sedang hamil muda maka tidak boleh melakukan hubungan suami istri selama tiga bulan.
Dokter tersenyum dia sudah tahu apa yang ingin ditanyakan oleh Sean. Sebab pasti itu yang ingin ditanyakan oleh para suami jika istri mereka sedang hamil muda.
“Boleh tuan, asal dilakukan dengan pelan.”
__ADS_1
“Dokter tahu saja maksud saya.”
“Apa yang boleh dilakukan dengan pelan dok?” tanya Inara polos.
“Berhubungan suami istri nyonya.” Inara merasa menyesal bertanya hal itu membuat pipinya merona merah menahan malu.
“Sekali lagi selamat ya tuan, nyonya. Dijaga baik-baik kandungannya. Jangan melakukan aktifitas yang berat karena dapat membahayakan janin.” Nasehat dokter kemudian menyerahkan selembar kertas untuk ditebus di apotek.
“Terima kasih dok.” Sean dan Inara bangkit dari duduknya pergi meninggalkan ruangan setelah dokter memberinya ijin untuk keluar.
“Kalian mau makan apa?” mereka bertiga sudah berada di dalam mobil setelah Sean menebus obat terlebih dahulu. Inara tampak berfikir sedang memilah-milah dalam pikiran makanan apa yang ingin dia makan.
“Apa ya? Alex kau ingin makan apa sayang? Tanya Inara kepada Alex yang duduk di disampingnya.
“Terserah mama, Alex bisa makan apa saja yang terpenting mama mau apa supaya adek makan juga.” jawab Alex mengusap perut Inara yang masih terlihat datar dengan lembut.
Perlakuan anak itu membuat kedua mata Inara berkaca-kaca merasa terharu dengan kelakuan putranya. “Sayang.” Inara memeluk Alex dengan erat membuat Sean merasa iri melihatnya.
“Aku juga mau dipeluk.” Ucapan Sean membuat pelukan mereka memudar kemudian mereka berdua memeluk Sean yang sedang mengendarai mobilnya. Bahagia itulah yang dirasakan Sean, Inara dan Alex saat ini. Bahkan tubuh anak itu bergetar hebat karena tangis yang sebelumnya dia tahan sedari tadi.
Inara mengusap punggung Alex. “Kenapa sayang?”
“Terima kasih Pa, Ma telah memberikan Alex sebuah keluarga yang lengkap dan bahagia seperti ini.” ucap Alex dengan sesenggukan karena tangis bahagia yang dia rasakan.
“Sayang.” Inara kembali memeluk Alex menyalurkan rasa sayang yang begitu tulus dari hatinya.
“Jadi kita makan apa mala mini?” tanya Sean sekali lagi.
“Bagaimana kalau makan disana?” tunjuk Inara. Sebuah restoran cepat saji dengan huruf M dan logo badut disana.
__ADS_1
“Baiklah sesuai perintah ratu."