
Kau dari mana nak, semalam tidak pulang.” tanya tuan Abi yang melihat putrinya pulang pagi. Inara pergi dari apartemen Sean saat lelaki itu masih terlelap. Inara tidak dapat memejamkan mata setelah membersihkan diri tadi karena memikirkan Sean. Sedangkan lelaki itu terlelap tanpa berkata sepatah katapun hingga sang surya mulai naik dari peraduannya.
“Tidak tahu aturan.” cibir ibu tiri Inara yang sedang mengoles roti dengan selai strawberry.
Inara jengah meladeni mulut ibu tirinya yang tajam seperti pedang. Dia tidak menjawab dan berlalu pergi begitu saja ke kamar untuk bersiap ke kampus.
Inara melempar tasnya di atas kasur kemudian merebahkan tubuhnya diatas ranjang dengan kedua kaki yang menjuntai ke bawah. Matanya menatap langit-langit kamar yang sudah setahun ini dia tempati. Bulir bening pun akhirnya mengalir dari kedua sudut matanya saat ia memejamkan mata.
“Akhhhh.” teriak Inara saat wajah Sean kembali terlintas di dalam pikirannya.
“Sadar Inara sadar dia bukan kekasihmu kalian tidak ada hubungan apa-apa kecuali hubungan yang saling menguntungkan.” Inara berusaha menasehati dirinya sendiri untuk tidak berharap lebih.
Sementara di dalam kamar sebuah apartemen Sean baru saja membuka mata. Pandangannya mengedar ke setiap sudut mencari sosok yang dia cari. Namun sisi ranjang terasa dingin itu artinya Inara pergi sudah lama. Saat turun ke bawah untuk mengambil air minum dia menemukan sebuah note yang tertempel di pintu lemari pendingin.
“Maaf aku pulang tanpa berpamitan, Inara.” begitulah isi tulisan dari secarik kertas yang ditulis oleh Inara. Sean meremas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah.
Tiga puluh menit berlalu Inara sudah siap untuk pergi ke kampus. Tiba-tiba sebuah notifikasi dari account bank memberitahu sejumlah transferan masuk ke rekening Inara. Itu adalah uang yang dikirim oleh Sean.
“Berbelanjalah.” satu kata yang Sean kirim untuk Inara.
Gadis itu mendudukkan dirinya di tepi ranjang saat selesai membaca pesan yang Sean kirim. Tangannya meremas ponsel yang masih dalam genggaman. Entah kenapa dadanya berdenyut nyeri saat Sean menghargai dirinya dengan sejumlah nominal. Bukankah benar jika dia adalah seorang baby sugar yang menjual tubuhnya pada seorang daddy sugar untuk mendapatkan itu lalu kenapa dia harus sesakit ini.
*********
Seminggu kemudian
Inara berusaha tidak memikirkan Sean dengan menyibukkan diri. Seperti sekarang hari sudah sore namun Inara masih berada di perpustakaan. Tempat Tempat favorit untuk menyelesaikan tugas dari dosen. Bohong jika dia tidak merindukan daddy sugarnya itu namun dia berusaha membentengi diri untuk tidak jatuh terlalu dalam dengan perasaannya.
“Woy.” Mila menepuk kedua pundak Inara dari belakang. Membuat gadis itu terperanjat kaget.
“Aish kau ini.” Inara mencebikkan bibirnya karena tingkah usil Mila.
“Perpus mulu perpus mulu ngopi ngapa ngopi.” Inara tidak mempedulikan celotehan Mila. Gadis itu tetap saja membaca dan menulis di buku catatannya.
“Ayolah.” semua buku yang berada di atas meja dibereskan oleh Mila tanpa persetujuan Inara.
“Baiklah.” Inara pun hanya bisa pasrah dan menuruti ajakan Mila karena memang dirinya butuh merefresh diri.
__ADS_1
Akhirnya mereka pergi ke sebuah cafe yang biasa mereka datangi. Mereka pun memesan kopi kesukaan masing-masing. Jika Inara suka caffe late dengan less sugar maka Mila lebih suka Moccacino brown sugar.
“Inara.” panggil Mila.
“Kenapa?” tanya Inara menatap Mila.
“Ke Club yuk.” ajak Mila.
“Pasti lagi ada masalah makanya ngajak ke club nih bocah.” gumam Inara dalam hati.
“Kenapa lagi?” tanya Inara.
“Biasa. Mau kan ke club malam ini?” tanya balik Mila.
“Ehm.” Inara tampak berfikir tidak ada salahnya dia pergi kesana. Setidaknya dia bisa sejenak untuk tidak memikirkan Sean.
“Baiklah. Kau yang jemput atau aku yang bawa mobil?”
“Yess, aku yang jemput kan aku yang ajak kau. Oke.” Mila memberi dua jempol dengan senyum penuh semangat. Inara mengangguk menyetujui ucapan Mila.
Dragonfly diskotik salah satu club malam yang berada di daerah Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Selalu ramai dan tidak pernah sekalipun sepi. Club ini buka mulai pukul 21.00 sampai pukul 04.00 dinihari.
Saat membuka pintu alunan music DJ menggema di setiap sudut ruangan. Mila terasa dihipnotis tubuhnya mulai bergoyang mengikuti alunan music. Inara menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya.
“Ayo turun ke lantai dansa.” Inara menarik tangan Mila mengajak gadis itu untuk duduk terlebih dahulu.
“Sekarang cerita ada masalah apa?” tanya Inara to the point.
“Kau memang sahabat terbaik.” Mila mencubit pipi Inara dan menggoyang-goyangkannya membuat gadis itu mengadu kesakitan saat cubitan itu terlepas.
“Aku akan menjadi pendengar terbaik, cepat ceritakan.” ucap Inara kemudian memesan minuman pada bartender.
Mila menghembuskan nafas dengan kasar pikirannya mulai membuka kembali kepingan ingatan beberapa hari yang lalu. Dimana sugar daddynya ingin mengakhiri hubungan mereka. Mila dan Inara sama, sama-sama jatuh cinta dengan daddy sugar mereka.
“Kok bisa?” Jangan-jangan istrinya tahu hubungan terlarang kalian? Terus seperti di dalam drama -drama kau pasti dijambak-jambak oleh istrinya, iya kan?” Inara cukup terkejut dengan kandasnya hubungan Mila namun satu yang pasti hubungan seperti ini cepat atau lambat pasti akan ketahuan juga.
“Sembarangan. Dia single tau.”
__ADS_1
“Serius kamu. Dia perjaka tua dong.” tebak Inara sambil tertawa.
“Hush kau ini dia itu matang bukan tua.Usianya saja masih 30an.” sanggah Mila yang tidak terima daddy sugarnya dikata tua oleh sahabat nya.
“Sama saja oneng.” Mila terdiam sejenak pandangannya mulai kosong menatap lurus ke depan.
Inara melihat ada kesedihan yang tersirat di wajah yang biasanya selalu ceria. Wajah yang selalu bisa menyembunyikan kesedihannya di balik senyum yang selalu dia tunjukkan.
“Minumlah, mungkin ini bisa mengurangi sedikit kesedihan hatimu.” Inara memberikan segelas minuman beralkohol untuk Mila. Gadis itu memeluk Inara setelah menghabiskan minuman itu hingga tandas.
“Terima kasih.” bulir bening yang Mila tahan akhirnya keluar dari kedua sudut matanya. Dan Inara melihat itu.
“Let’s dance baby.” ajak Mila setelah menghapus air mata yang sempat membasahi pipinya.
“Kau duluan.” ucap Inara menolak ajakan Mila.
Dia tidak ingin berdansa entah kenapa di dalam pikirannya hanya ada Sean,Sean dan Sean. Inara menenggelamkan wajahnya diatas tangan yang terlipat diatas meja bar.
“Inara.” panggil seseorang dia adalah Nail.
“Nail.” ucap Inara saat mengangkat kepala melihat sosok yang telah menyebut namanya.
“Sendirian?” tanya Nail. Inara menggeleng dia menunjuk seorang gadis yang sedang berdansa di atas lantai dansa.
“Kau tidak ikut berdansa?” tanya Nail, Inara menggeleng sebagai jawaban.
“Boleh duduk?” ijin Nail pada Inara.
Inara mempersilahkan Nail untuk duduk di sampingnya. Mereka mengobrol dengan begitu akrab. Sesekali mereka tertawa dalam obrolan tersebut. Nail pun membelai pipi Inara yang terlihat ada noda. Inara terdiam menatap Nail pun dengan lelaki itu.
“Cantik.” satu kata yang keluar dari mulut Nail.
“Makasih.” balas Inara yang merasa tersipu.
Sean merasa panas saat kedua matanya menangkap sosok yang dia kenal. Seorang gadis yang mampu membuatnya menjadi lelaki sempurna. Karena dia dan hanya dia yang mampu membangunkan miliknya. Seminggu ini Sean disibukkan dengan Devan yang selalu mabuk hampir setiap hari. Membuat pekerjaannya menjadi berantakan.
Bagaimana tidak sekretaris yang biasa dia andalkan menjadi seperti orang yang hilang kewarasan saat putus cinta. Jika masih cinta kenapa putus dan kenapa putus jika masih cinta. Membingungkan bukan ya begitulah cinta.
__ADS_1
***Jangan lupa like dan komen yah teman. Aku tanpa like dan komen hanyalah butiran debu 😂😂😂*****