
"Kakak…apa yang kita lakukan.” Seira mulai mengeluarkan air mata. Mengingat apa yang sudah dia lakukan semalam dengan kakak angkatnya. Dia menyesal kenapa dia pergi ke acara prom night sekolah. Padahal Alex sudah melarang dengan keras.
Alex terdiam menatap Seira yang sedang menangis. Dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Semua yang terjadi mengalir begitu saja. Adik yang selalu dia jaga dan dia lindungi kini dirusak oleh dia sendiri.
“Seira…” panggil Alex dengan lembut kemudian membelai rambut panjang Seira yang terlihat berantakan. Merapikan beberapa anak sulur yang menutupi wajah Seira. Tangis Seira semakin pecah. Dia sudah tidak suci lagi. Mahkota yang selama ini dia jaga baik-baik telah hilang. Dia sudah tidak perawan lagi. Ciuman dan malam pertama yang diperuntukkan suaminya kelak sudah dia lakukan dengan orang yang selama ini menjaganya. Orang yang dia anggap sebagai pelindung sekaligus perusak.
“Maafkan kakak Seira. Kakak…”
“Ini semua salahku. Seharusnya aku menuruti perintah kakak untuk tidak datang ke acara itu. Seharusnya aku tahu mana teman mana musuh. Dan seharusnya juga aku bisa menjaga diri. Tapi…hiks hiks.” Seira kembali menundukkan kepala menangisi apa yang sudah terjadi. Mengingat kembali saat Dona memberikan segelas minuman berwarna merah. Minuman yang Dona bilang hanya segelas sirup. Dan dengan bodohnya Seira percaya itu.
“Kena kau Seira.” gumam Dona dengan senyum licik melihat Seira meneguk habis minuman yang sudah dia campur dengan sebutir obat perangsang.
Dona mengacungkan jempol kepada seseorang. Pria yang berdiri di kegelapan itu perlahan mendekat ke arah mereka ketika Dona memberikan sebuah kode untuk datang.
“Kerja bagus.” Lelaki itu tersenyum puas dengan pekerjaan Dona.
“Jangan lupa uangnya.” bisik Dona begitu lelaki itu berdiri di samping Seira. Pria itu mengangguk kemudian menopang tubuh Seira yang mulai sempoyongan.
“Coba saja kau terima cintaku, tidak akan aku berbuat seperti ini untuk memilikimu Seira.” Damian membawa Seira masuk ke dalam sebuah mobil yang sudah dia siapkan sebelumnya.
Dari kejauhan orang suruhan Alex yang dia tugaskan untuk menjaga Seira mengirim sebuah pesan sekaligus gambar Seira yang tidak sadarkan diri dengan seorang pria.
Wajah Alex memerah. Tangannya mengepal kuat. Rahangnya pun mengeras dan kedua mata Alex hampir saja lompat dari tempatnya saat melihat gambar di ponsel miliknya menampilkan Seira yang dibawa oleh seorang pria.
__ADS_1
“Kalian ikuti mereka dan kirimkan lokasinya sekarang.” setelah menerima perintah dari tuannya pengawal itu pun mengikuti mobil yang membawa Seira.
“Dimana Seira?” Alex bertanya begitu dia sampai di lokasi yang sebelumnya di share oleh pengawal yang dia tugaskan menjaga Seira.
“Nona dibawa ke kamar 101 tuan di lantai 7.” Alex langsung berlari menuju lift kemudian menekan tombol dimana Seira dibawa oleh pemuda itu. Dia tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Jika sampai pemuda itu melakukan sesuatu yang tidak-tidak maka dapat dipastikan Alex akan membunuh pemuda itu dengan tangannya sendiri.
“Panas…panas.” racau Seira.
“Tenang Seira sayang sebentar lagi aku akan menghangatkanmu.” bisik pemuda itu tepat di daun telinga Seira.
“Panas tolong tubuhku panas…. Damian.” panggil Seira dengan lirih di tengah kesadarannya.
Damian membaringkan tubuh Seira diatas ranjang. Dia memandang tubuh Seira yang terlihat menggeliat karena obat tersebut mulai bekerja. Sudut bibirnya terangkat merasa sudah menang bisa memiliki gadis idamannya selama ini.
“Aku mencintaimu Seira, sangat mencintaimu. Hingga aku rela melakukan apapun untuk memiliki dirimu. Damian mulai mencium kening Seira. Baru saja dia ingin mencium bibir Seira pintu sudah didobrak dengan kasar oleh seseorang.
Hal itu membut Damian terkejut. Terlebih melihat sosok lelaki yang berdiri diambang pintu dengan sorot mata tajam. Dia mengenal Alex pun sebaliknya Damian tahu bagaimana Alex.
“Kurang ajar! Dasar b*jingan.” Dengan langkah cepat Alex menarik Damian yang sudah berada diatas tubuh Seira. Tanpa menunggu lama Alex menghajar Damian dengan membabi buta.
“Kurang ajar. Berani sekali kau melakukan ini kepada Seira.” Alex lagi dan lagi menghajar Damian tanpa ampun yang sudah terkapar di lantai dengan sejumlah luka ditubuhnya. Damian sempat melawan namun tenaganya tidak sebanding dengan Alex yang jago beladiri.
“Cukup tuan dia bisa mati.” pengawal menghentikan pukulan terakhir yang Alex hendak berikan dan pukulan itu bisa membuat nyawa Damian melayang.
__ADS_1
“Urus dia.” pengawal itu pun membawa tubuh Damian yang sudah babak belur penuh dengan luka. dan darah ke rumah sakit. Dan ini pasti akan berakhir di ruang ICU. Seperti yang sudah biasa Alex lakukan kepada lelaki yang membuat hati adik kesayangannya itu bersedih.
“Panas…panas…” Seira pun membuka bajunya dengan Langkah tertatih dia berjalan mencari kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya yang terasa semakin panas.
“Seira.” Alex menghampiri Seira yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi. Di bawah guyuran air shower yang menyala Seira merasa tubuhnya tidak membaik. Dia pun membuka semua pakaian yang melekat di tubuh berharap panas aneh yang dia rasakan hilang.
“Oh..S*hi*t.” Alex melihat tubuh Seira dibawah guyuran air shower. Melihat butiran-butiran air yang mengalir di tubuh polos Seira. Mengalirkan sesuatu yang seharusnya tidak Alex rasakan. Dia lelaki normal. Tidak mungkin dia tidak tertarik dengan tubuh Seira yang begitu se*ksi dimatanya.
“Panas …tolong panas.”
“Seira.” Alex memeluk tubuh Seira yang terlihat tidak nyaman. Bukannya tenang Seira justru menarik tengkuk kakaknya dan membenamkan ciuman disana.
Awalnya Alex tidak membalas namun Seira bergerak begitu liar hingga membangunkan sebuah rasa yang menuntut lebih. Alex tidak bisa lagi membendung has*ratnya saat tangan nakal Seira menyentuh sesuatu miliknya.
“Seira….”
“Tolong kak.”
“Baiklah jika itu maumu.” Alex menggendong tubuh Seira membaringkannya di atas tempat tidur. Yang ada dalam pikirannya saat ini menolong Seira. Jika dibawa ke rumah sakit maka bisa saja terlambat. Obat tersebut dapat merusak saraf-sarafnya.
“Maafkan kakak Seira. Kakak akan bertanggung jawab akan hal ini kepada mama dan papa.” janjinya.
Dan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan akhirnya terjadi. Penyatuan tubuh tanpa ikatan cinta dan pernikahan itu mereka lakukan. Tidak hanya sekali bahkan berkali-kali hingga dini hari. Tidak dipungkiri Alex begitu menikmati pergumulan mereka. Meskipun awalnya begitu susah dan menyakitkan bagi Seira namun penyatuan terakhir membuat tubuh keduanya kelelahan.
__ADS_1
Seira langsung memejamkan mata sedangkan Alex terdiam memandang wajah gadis yang selama ini dia jaga. Dadanya terasa nyeri ada rasa sesal yang menyeruak di hatinya.
Alex turun dari ranjang dia ingin membersihkan diri di kamar mandi. Sebelum itu dia membenamkan bibirnya diatas kening Seira cukup lama. “Aku memang ingin memilikimu tapi tidak dengan cara seperti ini.”