
Semenjak kejadian malam itu kini hubungan Sean dan Inara resmi berpacaran bukan lagi hubungan yang saling menguntungkan. Setiap hari Inara selalu diantar jemput oleh Sean ke kampus. Seperti pagi ini Sean sudah menunggu Inara di depan rumah. Inara tidak memperbolehkan Sean masuk ke dalam rumah. Dia tidak ingin Ana membuat masalah dengan hubungan mereka.
Tuan Abi selalu melihat dari lantai atas kamarnya saat mobil Sean terparkir. Lelaki tua itu dapat melihat dengan jelas wajah Sean sebab kaca mobil dibuka oleh Sean.
Melihat Inara yang sudah keluar rumah Sean segera keluar dan membukakan pintu mobil untuk gadisnya itu.
"Silahkan my little queen."
“Terima kasih.” ucap Inara dengan senyum di wajahnya.
Dari kejauhan tuan Abi tersenyum melihat putrinya bahagia. Lelaki tua itu tahu siapa Sean. Salah satu pebisnis muda yang sukses. Dan siapa yang tidak kenal dengan keluarga Pradipta. Keluarga yang sukses dengan berbagai bisnisnya.
Disisi lain seseorang terlihat marah rahangnya mengeras sorot matanya pun penuh dengan amarah saat melihat Inara pergi bersama seorang lelaki. Dia sudah memendam perasaan suka pada gadis itu selama bertahun-tahun bahkan sejak pertama kali datang ke rumah ini.
“Tidak Inara, tidak ada lelaki manapun yang boleh memiliki kamu kecuali aku.” ucap lelaki itu.
Mata tuan Abi melebar dia begitu terkejut dengan ucapan anak tirinya yang menyukai anaknya. Lelaki itu tidak sengaja mendengar ucapan Adnan saat dirinya hendak memanggil anak itu untuk mengajaknya minum kopi. Adnan tidak setiap hari pulang karena dia memiliki apartemen sendiri. Dan sudah beberapa hari ini lelaki itu tinggal di kediaman tuan Abi.
“Papa.” Adnan terkejut saat dia berbalik ada tuan Abi yang sudah berdiri di ambang pintu.
Tuan Abi berusaha menormalkan suasana hatinya seolah dia tidak mendengar apapun. Lelaki itu tersenyum kemudian mendekati Adnan. Lelaki tua itu ingin tahu apa yang dia lihat di balik kaca jendelanya. Ternyata dari sana juga dapat melihat dengan jelas tempat mobil Sean biasa terparkir.
“Kau lihat apa nak ?” ucap tuan Abi namun gerak gerik papanya dapat dibaca oleh Adnan.
“Sepertinya lelaki tua ini sudah mulai curiga.” batin Adnan menatap lekat wajah papa tiri yang berdiri di hadapannya.
“Tidak ada. Apa yang membuat papa datang kemari tanpa mengetuk pintu?”
“Maafkan papa, tadi beberapa kali papa ketuk namun tidak ada jawaban. Karena tidak terkunci makanya papa masuk.” bohong Tuan Abi. Kebohongan itu dapat dibaca oleh Adnan.
“Lelaki tua ini ingin coba-coba bermain denganku rupanya.” ucap Adnan dalam hati.
__ADS_1
“Ayo ngopi sudah lama papa tidak bermain catur denganmu sambil ngopi.” ajak tuan Abi kemudian keluar kamar diikuti oleh Adnan dibelakangnya.
Sementara di dalam mobil dua insan manusia sedang dimabuk cinta. Serasa dunia milik berdua. Yang lain mungkin ngontrak. He he 😊
Sean berulang kali mencium punggung tangan Inara. Bahkan saat sedang menyetir seperti ini Sean pun enggan untuk melepas tangan gadisnya itu.
“Dad lepas dulu kau kan sedang menyetir.” ucap Inara.
“Tidak akan, aku tidak akan membiarkanmu lepas dari genggamanku.” Sean kembali mendaratkan kecupan di punggung tangan Inara. Telinga Inara merasa geli saat mendengar gombalan Sean.
“Sudahlah jangan membual lagi. Lepaskan tanganku aku ingin membalas pesan dari Mila.” Sean pun menurut.
Inara mengambil ponsel yang biasa dia simpan di dalam tasnya. Membuka pesan yang bertuliskan nama Mila. Sudah ada lima pesan yang sahabatnya kirim.
“Nanti jadi kan kencan bersama.”
“Jangan lupa kasih tahu Sean.”
“JANGAN LUPA!!!” bunyi pesan Mila yang terakhir membuat Inara tersenyum. Senyum itu tidak luput dari pandangan Sean yang sedang mengemudi.
“Ada apa?” tanya Sean yang penasaran.
“Kau ingat kita ada janji untuk kencan bersama mereka.” mana mungkin Sean lupa ini juga kencan pertama buat mereka setelah resmi berpacaran.
Mobil Sean berhenti tepat di depan kampus. Rasanya dia begitu berat untuk meninggalkan Inara. Jika bukan karena rapat pagi ini dia pasti akan menunggu Inara selesai kuliah di ruangan kakaknya. Inara berusaha membuka pintu mobil namun masih terkunci.
“Dad.” Inara memegang lengan Sean membuat lelaki itu menoleh ke arah Inara.
“Apa?” tanya Sean.
“Bagaimana aku bisa keluar kalo pintunya masih terkunci?” Sean menarik Inara untuk lebih mendekat ke arahnya.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Inara menatap dalam bola mata Sean yang membuatnya terpesona. Pun dengan Sean yang menatap wajah Inara dengan penuh cinta. Hingga pandangannya berpusat pada bibir yang dioles dengan lipstick berwarna pink. Bibir yang selalu membuatnya candu. Sean menarik tengkuk Inara dan membenamkan ciuman cukup lama disana.
“Pergilah sebelum aku tidak bisa mengontrol diri.”
Baiklah.” Sebelum pergi Inara memberikan kecupan pada pipi Sean membuat lelaki itu tersenyum dan bersemangat untuk bekerja.
“Jangan lupa nanti sore.” teriak Inara setelah turun dari mobil sambil melambaikan tangan sebelum mobil Sean melaju kembali.
Nail langsung menghampiri Inara begitu dia mendudukkan diri. Dia begitu penasaran dengan lelaki yang selalu mengantar ataupun menjemput Inara. Beberapa hari ini raut wajah bahagia selalu terpancar di wajah Inara. Bagi Nail Inara adalah sosok wanita yang sederhana dan apa adanya. Tidak pernah dibuat berlebihan tidak seperti wanita lain. Bagi Nail Inara tidak seperti gadis-gadis lain dia memiliki daya tarik tersendiri yang tidak dimiliki oleh wanita lain.
“Kelihatannya lagi bahagia hari ini.” Inara menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Nail sudah duduk disampingnya. Menatapnya dengan senyum yang selalu ditujukan untuk Inara. Nail akan bersikap dingin dengan wanita lain namun saat dengan Inara Nail akan bersikap ramah. Itu yang membuat para mahasiswa lain merasa iri dengan Inara.
“Nail.”
“Apa yang membuatmu selalu tersenyum di pagi hari?” ucap Nail dengan ibu jari dan jari telunjuk masing-masing memegang salah satu sudut bibir Inara membentuk lengkungan disana.
“Tidak ada.”
“Jangan bohong. Aku bisa melihat aura bahagia di setiap sudut wajahmu.”
“Sungguh?”
“Tentu saja. Jadi apa yang membuatmu tersenyum terus pagi ini? Apa karena laki-laki yang selalu mengantarmu itu?” pancing Nail agar dia tahu siapa lelaki itu. Inara tersenyum menatap Nail tebakan lelaki itu benar dia bahagia karena Sean.
“Benar.” Hati Nail sedikit kecewa mendengar jawaban Inara.
“Apa dia kekasihmu?” Nail menanti jawaban Inara sambil berdoa dalam hati berharap jawabannya adalah bukan. Inara terdiam cukup lama menatap Nail yang sedang menunggu jawaban dirinya. Dia ragu haruskah dia jujur sama Nail atau merahasiakan hubungannya dengan Sean terlebih dahulu.
Jujur atau dirahasikan dulu ya mom’s?
kasih komen donk mom’s
__ADS_1
dan jangan lupa like nya ya😊