
Keesokan harinya Inara membuat sarapan seperti biasanya. Setelah semua makanan dia letakkan diatas meja dia kembali ke kamar untuk membantu Sean bersiap kerja. Senyum mengembang di wajah Sean saat istrinya membua pintu. Sejak tinggal dengan Inara dia sudah terbiasa dilayani oleh istrinya. Bahkan memakai dasi pun dia sudah lupa bagaimana caranya.
“Sayang, sepertinya aku tidak bisa hidup tanpa dirimu.” ucap Sean kemudian merengkuh pinggang istrinya dengan lembut. Menyandarkan kepala di bahu istrinya yang kini terlihat semakin menggemaskan ketika hamil.
Inara memukul bidang dada suaminya dengan lembut. “Pagi-pagi sudah gombal.”
Sean mengurai pelukan kemudian menyelam ke dalam bola mata Inara. Mencari cinta yang begitu indah yang terpancar disana. Tak lupa Sean memberi istrinya sebuah kecupan di kening istrinya sebagai ucapan selamat pagi.
Cup “Morning kiss sayang.”
“Ayo turun sarapan sudah siap. Aku akan melihat Alex lebih dulu.” Sean memegang pergelangan tangan Inara. Dia seperti enggan Inara pergi.
“Sayang, bagaimana denganku?” Sean memperlihatkan simpul dasi yang menggantung dilehernya yang belum tersimpul sempurna. Inara tersenyum kemudian mendekat dan membenarkan simpul dasi milik suaminya.
“Sudah. Begitu saja tidak bisa.”
“Tidak bisa sayang bahkan sedetikpun aku tidak bisa berpisah denganmu.”
“Gombal. Sudah ayo kita turun kebawah.” Inara menggenggam tangan Sean menuntun suaminya untuk keluar dari kamar.
Di dapur terlihat Sandra sedang membuat dua cangkir kopi. Sean menarik salah satu kursi untuk Inara duduki. Kemudian menarik kursi satu lagi tepat disamping istrinya.
“Selamat pagi ma, pa.” sapa Alex yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
“Ini untukmu Sean.” Sandra meletakkan secangkir kopi di depan meja Sean. Inara diam menatap Sandra melakukan hal itu.
“Maaf Inara aku hanya membuat dua. Karena setahuku wanita hamil tidak boleh minum kopi.” ucap Sandra dengan senyum sinisnya.
“Tidak masalah.” Inara kemudian menyendok satu piring nasi goreng yang tadi dia buat.
“Sayang.” panggil Sean menyerahkan piring kosongnya untuk diisi oleh Inara.
“Sini biar aku saja.” Sandra mengambil alih piring Sean yang hampir saja dipegang oleh Inara.
__ADS_1
“Ini Sean.” Satu piring nasi goreng lengkap dengan lauknya tersaji di depan Sean.
“Buka mulut.” Sean tersenyum saat Inara hendak menyuapkan satu sendok penuh nasi goreng untuknya.
“Kan semalam sudah aku bilang jika main jangan ganas kan aku jadi gigit lengan kamu karena keenakan.” ucap Inara sengaja memanas-manasi hati Sandra. Siapa suruh wanita itu mencari perhatian suaminya. Untung saja Alex sudah selesai sarapan dan mengambil tas di kamarnya. Sehingga kata-kata absurd Inara tidak didengar oleh bocah itu. Benar saja kemesraan-kemesraan kecil yang Inara dan Sean lakukan di hadapan Sandra berhasil membuatnya iri dan cemburu.
Selepas Sean pergi ke kantor dan Alex ke sekolah Inara duduk santai di ruang tamu sambil membaca sebuah buku tentang persiapan persalinan bagi ibu hamil. Ditemani segelas susu coklat yang dikhususkan untuk ibu hamil.
Inara sengaja memakai daster dengan lengan sabrina memperlihatkan lehernya terekspos dengan beberapa tanda merah jejak kepemilikan Sean. Dan Sandra melihat itu. Matanya memerah hatinya pun memanas. Dia seperti tidak rela Sean bahagia dengan wanita lain.
Hari-hari berikutnya Sandra selalu berusaha mencari perhatian Sean bahkan wanita itu tidak pernah malu untuk menggoda Sean. Karena hormon kehamilan terkadang sikap Sandra menimbulkan kesalah pahaman dan menciptakan gesekan-gesekan kecil di dalam rumah tangga mereka. Dan sikap Sean yang selalu meluluhkan Inara membuat Sandra frustasi.
“Arrghhh.” teriak Sandra membuang semua benda-benda yang ada di atas meja riasnya.
“Mommy.” ucap Alex yang terbangun karena teriakan mamanya. Sandra yang gelap mata mendekati Alex. Dia menjambak rambut Alex ke belakang hingga anak itu meringis kesakitan.
“Mommy, ampun mom.” lirih Alex.
“Apa kau mau membantu mommy sayang.” Sandra membelai lembut pipi putranya namun dengan tatapan yang menakutkan. Alex mengangguk pelan dia tidak ingin merasakan sakit lagi.
“Anak pintar.” Sandra menepuk-nepuk pipi Alex merasa puas dengan jawaban putranya. Kemudian dia membisikkan rencananya pada Alex. Hingga kedua mata Alex hampir saja lompat dari tempatnya.
“Mom.” Alex ingin protes namun telunjuk Sandra sudah menempel di bibirnya. Mengisyaratkan Alex untuk diam.
“Shuutttts. Kau sudah berjanji pada mommy akan membantu mommy kan sayang.” Sandra kembali membelai lembut pipi Alex dengan jari telunjuknya secara bergantian. Dia ingin menolak tetapi tidak bisa.
“Bagaimana ini Tuhan.”
***
Sekolah Alex
Karena terlalu tertekan sekarang Alex sedang berada di ruang UKS. Badannya demam bahkan panasnya lebih dari 38 derajat. Anak itu merasa telah mengkhianati orang yang telah merawat dan menyayanginya dengan sepenuh hati.
__ADS_1
Semalam Alex berhasil mencuri kunci kamar milik Sean atas keinginan mommynya. Dan saat Inara memasak di dapur Sandra berhasil mengendap-endap masuk ke kamar mereka. Sean masih tertidur pulas sehingga dia dapat menjalankan rencananya dengan leluasa.
“Cepat lakukan apa yang mommy perintahkan semalam.” Sandra membuka atasan baju tidurnya menyisakan dalaman bagian atas saja. Kemudian merangkak masuk ke dalam selimut secara perlahan. Sean sama sekali tidak terganggu dengan goncangan kecil yang ditimbulkan akibat pergerakan Sandra. Sebab dirinya merasa lelah setelah melakukan serangan fajar untuk istrinya.
Sandra memeluk Sean dengan mata terpejam. Dan Alex melakukan tugasnya dengan tangan yang bergetar. Beberapa gambar berhasil dia ambil dari berbagai sudut di dalam kamar. Setelah dirasa cukup Sandra pun turun dari ranjang dan bergegas keluar sebelum Inara kembali ke kamar mereka.
“Kerja bagus sayang.” Sandra mencium kening anaknya sebagai tanda terima kasih. Namun Alex hanya diam. Dia merasa ini tidak benar namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Miss sudah menelepon Mr. Sean. Papamu akan menjemputmu segera.” ucap wali kelas Alex. Bocah itu hanya diam memandang langit-langit kamar UKS. Tanpa ingin menjawab atau menanggapi ucapan wali kelasnya.
Sementara di dalam sebuah kamar saat Inara sedang membaca beberapa artikel di ponsel miliknya. Beberapa notifikasi pesan whatapps secara beruntun masuk ke ponselnya.
“Apa-apaan ini?” Inara meremas ponselnya saat menatap foto suaminya dengan Sandra. Foto itu asli dan Inara tahu itu.
“Jadi dugaanku selama ini benar.” lirihnya.
“Harusnya aku tidak mengijinkan wanita itu tinggal hanya demi melindungi Alex.” tanpa terasa bulir bening mulai berjatuhan membasahi kedua pipinya. Setelah puas menangis Inara meneruskan ulang foto tersebut kepada Sean.
Cukup lama menunggu Sean tidak kunjung juga membuka pesan yang telah dia kirim. Hingga rasa khawatir Inara semakin menjadi. Mengingat wanita itu kini bekerja di kantor suaminya beberapa hari yang lalu. Karena tidak kunjung mendapat pekerjaan maka Sean memberi wanita itu pekerjaan agar segera pindah dari rumah mereka karena sejujurnya Sean sudah muak dengan segala tingkah wanita itu. Yang menurutnya sangan menjijikkan.
“Non Anda mau kemana?” teriak bibi yang melihat Inara keluar rumah dengan terburu-buru.
“Aku akan ke kantor Sean bi.”
“Hati-hati non.” teriak bibi merasa khawatir.
“Iya bi.” Inara masuk ke dalam taksi online yang dia pesan sebelumnya.
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit akhirnya Inara sampai di depan perusahaan Sean. Karena terburu-buru ingin segera bertemu dengan suaminya Inara berjalan begitu saja tanpa melihat ada sebuah motor yang melaju dengan kencang.
“Awas!!”
***Flashback off***
__ADS_1