Inara, My Baby Sugar

Inara, My Baby Sugar
Lima bulan kemudian


__ADS_3

“Bagaimana dokter?” tanya Sean cemas dengan nafas yang terengah-engah karena berlari cukup jauh. Penampilan yang lusuh dan acak-acakan tidak lelaki itu pedulikan. Bahkan dia rela meninggalkan mobil mewahnya yang terjebak di kemacetan agar sampai di rumah sakit tepat waktu.


“Ketuban nyonya sudah pecah tuan jadi kita harus mengeluarkan bayinya untuk menyelamatkan nyawa ibunya.”


Deg


Perkataan dokter membuat jantung Sean serasa ditikam ribuan jarum. Begitu sakit dan menyesakkan dada. Tubuhnya pun bergetar lututnya terasa lemas namun dia tetap bisa menopang tubuhnya agar tetap berdiri.


“Anak kami dok?” tanya Sean dengan mulut yang bergetar. Ada ketakutan lebih yang terpancar di sana.


“Kami akan berusaha menyelamatkannya tuan, berdoalah agar operasi berjalan lancar dan keduanya bisa kami selamatkan.” Seperti ada sebuah harapan yang membutuhkan perjuangan dan Sean harus bertemu Inara untuk memberi semangat kepada istrinya.


“Dimana istri saya dok?”


“Istri anda masih di ruang UGD. Untuk melaksanakan operasi kami membutuhkan tanda tangan anda Tuan.Dan tolong selesaikan semuanya di bagian administrasi.”


Pintu ruang UGD terbuka pelan saat Sean mendorongnya dengan sedikit tenaga. Hatinya mencelos saat melihat istri yang biasanya ceria dan membuatnya semangat kini terbaring di brankar rumah sakit tidak sadarkan diri. Setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit Sean pun masuk untuk menemui istrinya.


Dengan Langkah gontai lelaki itu mendekat. Menggenggam tangan Inara dengan erat tidak lupa memberikan kecupan cukup lama di kening istrinya. Hingga sebulir bening yang berusaha dia tahan jatuh membasahi dahi Inara.


“Se-an.” panggil Inara dengan sisa tenaganya setelah menyadari seseorang menangisinya.


“Sayang, kamu sudah bangun. Apa ada yang sakit?” tanya Sean mendekatkan wajahnya untuk mendengar ucapan Inara.


“A-nak kita?” Inara mulai mengeluarkan air mata. Penyesalan mulai menggerogoti hatinya. Rasa sesak akan bersalah membuatnya terus menangis. Sean yang melihat Inara berusaha membuat istrinya itu tenang.


“hutttssss.” Sean meletakkan jari telunjuknya di bibir pucat Inara. Bibir yang selalu berwarna merah muda dan membuatnya candu kini menjadi begitu pucat.


“Dokter akan mengusahakan yang terbaik untuk kalian.” Pelukan dari Sean membuat Inara sedikit tenang.

__ADS_1


Sean harus menguatkan Inara bagaimana pun istrinya adalah yang paling penting. Sementara Inara dia tahu ini adalah anak yang begitu dinantikan kehadirannya oleh Sean. Mengingat bagaimana antusiasnya lelaki itu dalam berbagai hal selama dirinya hamil.


Cukup lama berpelukan untuk saling menguatkan hingga pelukan itu harus terurai karena seorang dokter dan dua orang perawat baru saja masuk.


“Maaf tuan,nyonya kami harus segera membawa nyonya ke ruang operasi .”ucap salah satu perawat.


Inara memegang tangan Sean membuat lelaki itu menoleh kepadanya. “Maafkan aku.” Sean mendekat mengecup sekilas bibir pucat Inara yang membasah karena air mata yang mengalir melewati pipi.


“Ini bukan salahmu sayang, berjuanglah dan semua akan baik-baik saja. Apapun yang terjadi aku mencintaimu.” bisik Sean tepat di daun telinga istrinya memberi semangat agar Inara berjuang di ruang operasi. Inara mengangguk pelan sebelum akhirnya kedua perawat membawanya keluar meninggalkan dokter dan Sean yang masih di ruang UGD.


“Dokter tolong usahakan yang terbaik.” pinta Sean dengan wajah yang memohon dan tulus.


“Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk yang terbaik tuan. Berdoalah agar semua berjalan dengan lancar.” ucap dokter sebelum pergi ke ruang operasi.


Sudah tiga puluh menit Inara di ruang operasi. Namun lampu operasi belum juga mati. Membuat Sean dilanda rasa cemas dan khawatir yang berlebih. Mila dan Daven datang sepuluh menit yang lalu. Keduanya tidak bertanya apa yang terjadi. Lebih baik mereka bertanya setelah keadaan membaik.


“Sandra menjemputnya di sekolah sebelum kami datang.” Ada kilatan amarah yang terpancar di sorot mata Sean. Wanita itu sungguh tidak tahu berterima kasih.


“Alex sempat menolak dan memberontak sebelum akhirnya kami datang. Namun dengan segala drama yang dilakukan oleh wanita itu Alex pun diserahkan kepada Sandra.” penjelasan Daven membuat telinga Sean memerah . Amarah mulai memasuki relung-relung hatinya. Menyesal, seharusnya dia tidak mempercayai wanita itu sebulan yang lalu. Semenjak kedatangan Sandra pertengkaran-pertengkaran kecil sering terjadi diantara dirinya dan Inara. Seharusnya dia tidak memenuhi keinginan Inara untuk mengijinkan Sandra tinggal di rumahnya.


“Awas kau Sandra.” geram Sean mengepalkan kedua tangannya saat menyebut nama mantan kekasihnya itu.


Sementara di balik tembok rumah sakit ada seorang pria yang berdiri mengenakan masker dan kaca mata hitam sedang mengawasi mereka.


“Bagaimana keadaan wanita itu?” tanya seseorang yang berada di balik sambungan telepon.


“Belum tahu nyonya.”


“Bodoh!!!Bagaimana kau bisa tidak tahu sedangkan kau masih di rumah sakit sekarang?” kesal orang tersebut yang merasa sudah lama menunggu kabar dari orang suruhannya ini.

__ADS_1


“Wanita itu masih di ruang operasi saat ini nyonya.”


“Baiklah beritahu aku perkembangan selanjutnya.” tanpa menunggu jawaban si wanita memutus sambungan ponsel secara sepihak.


“Sial kalo tidak butuh duit mana mungkin diriku mau disuruh oleh orang seperti dirinya.”


Dua jam berlalu lampu ruang operasi akhirnya mati menandakan operasi telah berakhir. Sean menghampiri dokter yang baru saja keluar.


“Bagaimana istri dan anak saya dok?” tanya Sean dengan nada khawatir.


“Selamat tuan keduanya berhasil kami selamatkan.” terdengar helaan nafas Panjang dari semua orang yang mendengar kabar baik itu.


“Namun karena sang bayi terlahir premature maka harus mendapatkan sejumlah perawatan karena ada organ yang belum sempurna.” jelas dokter tentang keadaan anak Sean dan Inara.


“Lakukan yang terbaik dokter, biaya tidak jadi masalah buat saya.”


“Baik tuan, nyonya akan kami pindahkan ke ruang rawat inap. Dan Nyonya akan sadar setelah obat bius yang kami berikan sudah hilang.” Dokter tersebut pergi pamit setelah mendapatkan ijin dari Sean.


Sementara itu seseorang wanita terlihat marah setelah mendengar kabar bahwa Inara dan bayinya selamat. “Sial!!!” teriaknya dengan membuang barang-barang yang tersusun rapi di atas meja riasnya.


“Kenapa dia selalu beruntung? Kenapa???” teriaknya lagi bahkan lebih keras dari sebelumnya.


Anak kecil yang mendengar kegaduhan di dalam sebuah kamar hanya bisa berdoa agar dia tidak menjadi pelampiasan wanita tersebut. Wanita iblis yang terwujud dalam sosok seorang ibu.


“Mama, papa tolong.” Doa Alex dalam ketakutannya.


“Tuhan tolong aku Tuhan. Aku ingin keluar dari sini. Bantu aku Tuhan. Alex ingin ke tempat mama dan papa. Alex tidak ingin disini bersama wanita itu. Wanita itu seperti nenek sihir. Wanita itu bukan mommy Alex lagi. Wanita itu jahat.”


Setelah berdoa terdengar suara handle pintu terbuka. Derap Langkah sepatu heels yang mengetuk-etuk lantai begitu nyaring terdengar. Semakin mendekat dan semakin dekat. Membuat tubuh Alex bergetar karena rasa takut. Kali ini hukuman apalagi yang akan anak itu terima. Di kurung dalam kamar mandi semalaman, cambukan atau mungkin tamparan di wajahnya seperti sehari yang lalu saat dirinya menolak untuk ikut dengan mommynya pada saat dijemput sepulang sekolah.

__ADS_1


__ADS_2