
“Kalau Blesteran seperti kak Alex kakak suka.” tanya Bryan dengan maksud tertentu.
“Suka. Kak Alex itu tampan, tinggi, badan bagus, keren, pintar dan kelihatannya bertanggung jawab.” pujian itu keluar dari mulut Emily yang membayangkan bagaimana teman-temannya begitu mengagumi ketampanan kakaknya saat mengambilkan raport kemarin.
“Kakak bertanya pada kak Seira bukan bocah ingusan kayak kamu.”
“Mama, kak Bryan bilang Emily bocah ingusan. Padahal Emily kan tidak ingusan. Nih hidung Emily bersih kan. Tidak ada ingus kan” Emily mendekatkan hidungnya ke Bryan karena memang posisi duduk mereka bersebelahan.
Bryan mendorong dengan kasar hidung Emily menggunakan jari telunjuknya. Membuat anak itu mengadu kesakitan.
“Auh sakit.Papa kak Bryan nih pa.” adu Emily yang tidak terima dengan perlakuan kasar Bryan.
“Bryan.” tegur papa.
“Ngadu aja terus dasar anak manja.” gerutu Bryan.
“Mamaaaa.” Teriak Emily meminta perlindungan dari mama Naura.
“Bryan, suka sekali mengganggu adikmu.” tegur mama.
“Iya iya.” Byan sudah selesai makan. Dia menggeser kursi kemudian pergi ke kamar namun sebelum itu dia membisikkan sesuatu tepat di dekat daun telinga Emily. “Anak bungsu kesayangan.”
“Kak Bryan.” teriak Emily dan disambut gelak tawa Bryan yang merasa puas sudah menjahili adik manja kesayangan semua orang.
Keesokan harinya
Seira pergi ke salah satu pusat perbelanjaan untuk membeli pernak pernik yang berhubungan dengan girlband korea yang beranggotakan lisa, jennie, ji soo dan rose. Namun yang lebih diidolakan oleh Seira adalah Lisa Blackpink. Karena semua orang sibuk maka dia berbelanja sendiri dan membawa mobil sendiri. Kebetulan Seira sudah memiliki ijin untuk mengemudi. Papa Sean ada meeting pagi ini, Bryan dan Emily sekolah dan mama Naura ada arisan dengan teman-temannya. Sedangkan kakaknya masih berada di Bandung.
“Ini lucu sekali.” ucap Seira memegang bando berwarna pink yang berbentuk seperti telinga kelinci.
“Sayang aku mau itu.” tunjuk salah satu pengunjung wanita yang menginginkan bando yang dipegang oleh Seira.
__ADS_1
“Cari yang lain saja ya. Kamu boleh pilih apa saja hari ini.” Pria yang digandeng oleh wanita itu menyarankan untuk memilih barang lain karena merasa tidak enak dengan Seira yang lebih dulu memegang bando tersebut.
“Tapi aku mau itu. Tidak mau barang lain. Titik” wanita itu melepaskan genggaman dan melipat tangan di depan dada kemudian membelakangi pria itu.
Tidak ingin melihat perdebatan yang tidak berfaedah itu Seira memilih untuk pergi ke kasir. Membayar bando yang sudah dia pegang. Dan akan dia gunakan saat menonton konser blackpink nanti.
“Ini milikku.” Wanita itu merebut bando yang sebelumnya masih dipegang oleh Seira saat di depan kasir.
“Tapi aku yang memegangnya lebih dulu.” Seira merebut kembali bando miliknya.
“Tapi aku ingin membelinya. Kau cari barang yang lain saja.” perebutan kembali terjadi di depan kasir. Hambir semua pengunjung menonton aksi saling rebut mereka.
“Kenapa tidak kau saja yang membeli barang yang lain.” Seira tidak ingin kalah dengan gadis tidak tahu sopan santun yang asal merebut barang milik orang lain.
“Mbak saya mau bayar yang ini.” ucap Seira kemudian memberikan bando tersebut kepada kasir. Belum sempat kasir mengambil wanita itu lebih dulu merebut kembali.
“Mbak saya yang mau bayar ini.”
“Tapi saya yang lebih dulu ngambil mbak.” sambung Seira menjelaskan bahwa dia yang lebih dulu memegang bando tersebut.
“Maaf kak memang benar kakak ini yang lebih dulu memegang bando itu.” pelayan kasir mulai menengahi perdebatan mereka.
“Sayang sudahlah. Ayo kita pergi.” pria itu mengambil bando yang dipegang oleh wanita itu kemudian memberikan kepada Seira.
“Maafkan kekasih saya, ini bando anda.” setelah meminta maaf pria itu menarik paksa kekasihnya untuk keluar dari dalam toko.
“Dasar wanita aneh.” gerutu Seira saat sepasang manusia tadi sudah menghilang dari pandangannya.
Dua jam berkeliling di dalam mall membuat kaki Seira terasa pegal. Makanan yang tersedia diatas meja membuat perutnya semakin lapar. Tidak perlu waktu lama untuk Seira menghabiskan makanan yang sudah dia pesan sebelumnya.
Setelah selesai membayar dan hendak pergi seseorang memanggil nama Seira dengan cukup kencang. Seira memutar leher mencari sumber suara itu.
__ADS_1
“Damian.” tubuh Seira bergetar dia takut lelaki itu kembali berbuat macam-macam dengan dirinya. Tidak ingin hal itu terjadi Seira berlari keluar meninggalkan Damian yang mengejar di belakang dirinya.
Dia sungguh tidak peduli dengan teriakan Damian yang terus memanggil-manggil namanya berulang kali.Melihat lift yang hampir tertutup membuat Seira dengan sekuat tenaga menambah laju kecepatan kakinya.
“Tunggu.” melihat seorang gadis yang berlari menuju lift membuat seseorang yang sudah berada di dalam lift membuka kembali pintu lift yang nyaris tertutup dengan menggunakan jari telunjuknya.
“Terima kasih.” ucap Seira dengan nafas yang tidak teratur. Bahkan dia sampai berpegangan pada pintu lift untuk membuat nafasnya kembali teratur.?
“Ayo cepatlah tertutup.” lirih Seira dengan penuh ketakutan. Takut jika Damian mampu mengejar dirinya.
Saat melihat Seira berada di dalam lift Damian pun berlari dengan kecepatan penuh. Mata Seira membulat sempurna hingga dia terus menekan tombol berharap pintu segera tertutup. Jantung Seira semakin berdebar saat langkah kaki Damian semakin mendekat.
Laki-laki yang berdiri di belakang Seira menatap bergantian kearah Seira dan Damian. Kedua matanya tidak luput menatap jari Seira yang terus menekan tombol lift.
Akhirnya pintu lift tertutup sempurna. Membuat Seira akhirnya bisa bernafas dengan lega.
Di dalam lift Seira memegang dada dengan tangan kanan. Berusaha mengatur nafasnya agar kembali normal. Tanpa dia sadari ada sosok laki-laki yang bersandar di dinding belakang lift dengan tangan yang dimasukkan di kantong celana menatap Seira dari belakang.
“Apa dia kekasihmu?” suara itu menyadarkan Seira bahwa bukan hanya dirinya yang ada di dalam lift.
“Bukan.”
Tidak ada percakapan di antara keduanya hingga pintu lift terbuka. Seira buru-buru keluar hingga meninggalkan barang belanjaan yang sudah dia beli.
“Dasar ceroboh.” lelaki itu mengambil barang itu. Dan pergi mengejar Seira yang terlihat belum jauh.
“Nona.” panggil lelaki itu. Seira menoleh namun tidak menghentikan langkahnya. Dia bahkan menambah kecepatan jalan dengan sedikit berlari menuju parkiran. Dia melihat lelaki tadi terus mengejar dirinya.
“Kenapa lelaki itu terus mengikutiku?” Seira mengambil kontak mobil yang sebelumnya dia simpan di dalam tas. Kemudian membuka pintu dan menyalakan mobil. Lelaki itu mengetuk kaca mobil berulang kali. Namun Seira tidak mempedulikannya. Dia terus melajukan mobil meninggalkan lelaki itu.
“Dasar gadis tidak tahu berterima kasih.” gerutu Soni yang baru kali ini di abaikan oleh seorang gadis.
__ADS_1