Inara, My Baby Sugar

Inara, My Baby Sugar
Bab 19 season 2


__ADS_3

“Apa kau seorang homosex?” Alex yang baru menyesap kopinya langsung menyemburkannya begitu saja hingga membasahi celana yang dia pakai.


“Maksud papa?” Alex merasa terkejut dengan pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut papa yang selama ini merawat dan mendidiknya dengan tulus.


“Selama ini kau tidak pernah sekalipun mengenalkan seorang gadis kepada papa. Kau juga selalu terlihat cuek bahkan tidak peduli dengan gadis manapun. Sikapmu seperti seorang pria yang sama sekali tidak tertarik dengan seorang wanita. Jadi papa pikir kamu…” papa Sean tidak melanjutkan ucapannya lagi. Dia tidak ingin membuat putranya merasa malu.


Alex bangkit dari duduknya kemudian duduk disamping sofa dekat dengan papa Sean. Dia memeluk pundak lelaki tua yang terlihat khawatir dengan dirinya.


“Pa, jika saatnya telah tiba Sean akan bercerita dengan papa siapa gadis yang sudah mencuri hati Alex sejak lama. Bahkan untuk berpaling darinya pun Alex tidak sanggup. Meski banyak wanita cantik dan sexy di dunia ini bagi Alex dialah yang tercantik. Dialah yang tersexy dan dialah yang terbaik menurut Alex dan mungkin juga menurut papa dan mama.” Papa Sean menatap wajah putranya mencari kebohongan yang di sana. Namun apa yang diucapkan putranya begitu sungguh-sungguh dan yakin. Jika memang ada gadis itu di dalam hidup putranya. Mendengar hal itu papa Sean merasa lega.


“Jadi kapan papa bisa bertemu dengan gadis itu?”


“Mungkin tiga tahun lagi?”


“Jangan bilang jika gadis itu masih dibawah umur atau mungkin dia masih SMA ?” Alex tersenyum menanggapi ucapan papanya.


“Ya ampun Alex apa kau seorang pedofil ? penyuka anak dibawah umur.” Alex hanya tersenyum dan senyum itu semakin membuat papa Sean penasaran. Jangan sampai putranya menjadi lelaki yang menyukai anak dibawah umur.


“Alex.” Papa Sean meninggikan suaranya. Dan itu membuat Alex tertawa melihat wajah papanya yang begitu lucu bagi Alex.


“Kenapa kau tertawa?” sebuah bantal sofa melayang tepat di depan wajah Sean namun sebelum mengenai wajah tampannya Alex berhasil menangkap bantal tersebut.


“Tidak pa, dia masih kuliah di Paris.”


“Paris?? Bukankah Seira juga di paris? Apa dia teman Seira atau mungkin Seira kenal dengan gadis itu?” tanya papa Sean dengan begitu antusias.


“Bukan Pa, gadis itu bukan teman Seira tetapi dia adalah Seira, putri papa.” Kalimat itu hanya terucap di dalam hati. Karena Alex belum siap mengatakan hal itu jika Seira belum resmi menerima dirinya. Bahkan gadis itu masih menganggap dirinya sebagai seorang kakak.


“Ngomongin Seira papa jadi rindu dengan anak gadis papa.” Sebuah ponsel dari dalam saku papa Sean ambil. Membuka kontak mencari nama putrinya didalam sana. Kemudian melakukan panggilan video.


Karena perbedaan waktu Jakarta dan Paris 6 jam maka jika sekarang di Jakarta pukul dua siang di paris sekarang pukul 8 malam. Seira yang baru saja menyelesaikan tugasnya mendengar dering ponsel miliknya yang terdengar begitu nyaring karena selepas mata kuliah dia sengaja menaikkan volume suara hingga penuh.

__ADS_1


“Papa.” Gumam Seira setelah melihat ID pemanggil yang tertera di layar ponsel miliknya. Dai segera menggeser layar berwarna hijau untuk menjawab panggilan itu.


“Hallo sayang.” Sapa papa Sean.


“Hallo pa.” mendengar suara Seira membuat jantung Alex berdebar begitu kencang. Sudah lama dia tidak mendengar suara Seira.


“Apa yang sedang putri papa lakukan sekarang?”


“Seira baru saja menyelesaikan tugas kuliah. Bagaimana kabar papa?” Papa Alex tiba-tiba merasa mulas. Dengan cepat dia menghampiri Alex dan menyerahkan ponsel miliknya setelah memberitahu putrinya bahwa dia akan ke kamar mandi sebentar.


“Sayang perut papa sakit, dan papa harus segera ke kamar mandi kau berbicaralah dengan kak Alex.” Mendengar nama Alex kini jantung Seira yang berdegup dengan kencang.


Keduanya terdiam menatap wajah masing-masing. Wajah orang yang mereka rindukan dalam diam. Dalam pandangan Alex, Seira semakin dewasa dan cantik terlebih saat rambutnya di gerai seperti malam ini. Dan dalam pandangan Seira, Alex terlihat semakin tampan dengan bulu-bulu halus yang memenuhi kumis dan jenggotnya.


“Ngomong woi, diem-diem aja.” Suara Lena memecah keheningan diantara mereka.


“Hai Seira.”


“Apa kabar?”


“Kabarku baik kak.” Setelah mengatakan itu tiba-tiba saja ponsel Seira gelap. Dan ternyata baterainya habis. Dia terlalu sibuk hingga lupa mencharge ponsel miliknya.


Bertepatan dengan itu papa Sean keluar dari dalam toilet.


“Apa kalian masih berbicara?”


“Tidak pa, tiba-tiba panggilan kami terputus.” Alex terlihat sedikit kecewa karena Seira tiba-tiba mematikan panggilan.


“Mungkin baterai ponsel milik Seira habis. Kebiasaan anak itu pasti lupa mencharge ponsel Ketika sibuk belajar.” Ucapan papa Sean membuat Alex tersadar kenapa dia berpikiran buruk tentang gadis itu. Bukankah dia ada Lena yang menjadi matanya disana.


“Sebaiknya aku menghubungi Lena.” Gumam Alex namun sebelum itu dia berpamitan lebih dulu dengan papa Sean.

__ADS_1


Sementara di Paris


Seira terlihat kesal hingga memukul-mukul ponsel miliknya di telapak tangannya. Kenapa baterai harus habis disaat yang penting seperti sekarang.


“Jika kau sudah bosan dengan ponsel itu berikan saja padaku.” ucap Lena yang terlihat jengah melihat tingkah sahabatnya.


Seira menghempaskan tubuhnya di atas Kasur. Dengan ponsel yang masih berada di genggaman tangannya.


“Kau tidak ingin mencharge ponselmu?”


“Tolong, plisss….” Seira mengangkat salah satu lengannya memberikan ponsel miliknya kepada Lena.


“Kau ini.”


“Siapa lelaki tadi?” tanya Lena.


“Lelaki mana?” Lena menghembuskan nafasnya dengan kasar.


“Tentu saja lelaki yang membuatmu terdiam begitu lama tadi? Tidak mungkin dia papamu kan?”


“Oh, dia kakakku.”


“Kalian seperti orang yang baru saja berkenalan, hai, apa kabar.” Lena melambaikan tangan secara bergantian seperti seseorang yang sedang menyapa.


“ Kalian bukan seperti seorang kakak adik. Lebih tepatnya seperti seseorang yang saling gugup saat bertemu. Jangan-jangan kalian…” Lena menggantung ucapannya menatap wajah Seira yang juga menatap dirinya.


“Jangan-jangan apa?” ketus Seira.


“Kalian saudara yang memiliki hubungan terlarang?” tebak Lena.


“What?”

__ADS_1


__ADS_2