
“Sedang apa kalian disini?” suara mama Naura di ambang pintu mengalihkan pandangan mereka. Keduanya nampak terkejut dengan kedatangan mama Naura yang tiba-tiba. Alex dengan cepat memasukkan test pack ke dalam kantong celana. Dan Seira memasukkan bekas bungkus test pack ke dalam kantong celana belakang miliknya.
“Seira menjerit karena di dalam kamar mandi ada kecoa ma, jadi Alex membantu Seira untuk mengusirnya.” bohong Alex yang tidak ingin menimbulkan kecurigaan di dalam pikiran mama Naura.
“Itu ma kecoanya terbang ke arah mama.” teriak Seira membuat mama Naura melompat-lompat takut karena merasa geli dengan binatang berwarna coklat yang bisa terbang dan suka hidup di tempat yang jorok dan kotor.
“Alex cepat kamu usir binatang itu kalau perlu bunuh saja. Ih menjijikkan.” kesal mama Naura membayangkan jika binatang itu hinggap di tubuh atau badannya.
“Iya ma.” Alex lalu menutup pintu kamar Seira sesaat setelah mama Naura keluar. Dia ingin berbicara empat mata dengan adiknya.
“Ikut kakak.” Alex menarik lembut lengan Seira. Menuntunnya untuk duduk di tepi tempat tidur.
“Ada apa kak?” tanya Seira dengan sedikit gugup. Terlihat dari telapak tangannya yang terasa dingin dan berkeringat.
“Apa kau yakin tidak ingin kakak bertanggung jawab dengan apa yang sudah kita lakukan?”
Seira tersenyum kemudian menggenggam satu telapak tangan kakaknya kemudian berkata “Kak kita melakukan itu karena ketidaksengajaan. Karena teman Seira yang menjebak Seira. Dan itu bukan salah kakak sepenuhnya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan kak. Kita masih sama-sama muda. Ego kita masih sama-sama tinggi dan Seira ingin menikmati hidup. Menikmati bagaimana kuliah. Menikmati bagaimana bekerja. Dan terlebih Seira ingin mengejar mimpi Seira kak. Pun dengan kakak berbahagialah dengan pasangan kakak. Jangan menjadikan kejadian itu sebagai beban untuk kakak.” Alex menatap kedua mata adiknya. Ada rasa yang ingin dia sampaikan namun dia urungkan setelah mendengar ucapan Seira.
Lagipula jika memang kami berjodoh maka tidak akan kemana. Sejauh apapun kita pergi pasti akan kembali juga.
“Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu. Kakak akan selalu mendukung.” Alex melepas genggaman Seira kemudian bangkit dan berbalik badan meninggalkan Seira yang masih duduk di tepi ranjang.
Namun sebelum itu dia bertanya satu hal kepada Seira “Apa kau tidak ingin menikah dengan kakak Seira?”
Pertanyaan itu sungguh sulit untuk Seira jawab. Jika Seira menjawab iya maka akan banyak konsekuensi dari keputusan itu. Dan akan lebih baik jika Seira menjawab tidak. Seira hanya ingin kakaknya bahagia dengan hidup berkecukupan dan karir yang bagus.
“Tidak kak, dasar utama pernikahan adalah cinta sedangkan kita tidak saling mencintai. Bagaimana rumah tangga akan terbangun jika dasarnya saja tidak ada.” jawaban itu menyadarkan Alex bahwa cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
Alex menuruni anak tangga dengan terburu-buru. Sungguh suasana hatinya sedang tidak baik. Laki-laki juga manusia. Dia bisa menangis dan terluka. Hanya tidak ditunjukkan saja di depan wanita.
Alex melajukan mobilnya meninggalkan rumah tanpa arah dan tujuan. Dering ponsel yang berbunyi berkali-kali tidak dihiraukan olehnya. Saat ini dia sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun. Dia juga tidak ada niat untuk membuka pesan beruntun yang masuk ke dalam ponsel miliknya.
Alex memarkirkan mobilnya di tepi danau. Tangan kanannya bergerak memutar kontak mobil untuk mematiakn deru mesin. Kemudian bersandar pada kursi kemudi tanpa ada niat untuk turun dari sana. Matanya terpejam berusaha mencari ketenangan ditengah kekecewaan yang dia rasakan.
“Beginikah rasanya patah hati?” Alex memegang dadanya yang terasa sesak.
“Banyak wanita cantik di dunia ini tapi kenapa hati ini memilih dia. Kenapa harus Seira Tuhan? Kenapa hatiku tidak bisa terbuka untuk orang lain?” sesakit itu hati Alex hingga mengadu kepada Tuhan.
Dering ponsel kembali terdengar kali ini tanpa henti. Hingga terpaksa Alex mengangkatnya. Saat icon berwarna hijau berhasil digeser terdengar suara David yang terlihat panik.
“Gawat lex, gawat.”
“Bisa tidak bicara yang jelas.”
“Cepat cerita bukan malah panik seperti itu dasar b*odoh.” gerutu Roy yang berada di samping David.
“Terbakar?? Bagaimana bisa?”
“Entahlah, saat ini polisi sedang menyelidiki penyebabnya apa. Dan beruntungnya tidak ada korban jiwa di sana.” Inilah orang Indonesia saat terkena musibah masih bisa berkata beruntung.
“Kita ke Bandung sekarang.”
Sementara Alex pergi Seira masih berdiam di dalam kamar. Berdiri di dekat jendela memandang kea rah luar dengan tatapan kosong. Memikirkan Alex membuat kepala sakit. Terlebih hatinya. Mampukah dia melihat kakaknya bersanding dengan orang lain. Bahkan sejauh dia berpikir apakah suaminya kelak akan menerima keadaan dirinya yang sudah tidak suci lagi.
“Arrghhh.” teriaknya frustasi sambil meremas ujung rambut depan kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
Malam hari
Semua orang sudah berkumpul di meja makan kecuali Alex yang sudah memberitahu papa Sean bahwa dirinya sedang berada di Bandung untuk urusan bisnis. Seira melihat kea rah pintu seolah berharap ada seseorang yang masuk ke dalam. Bryan menyadari itu.
“Kak Alex belum pulang pa?” tanya Bryan seakan tahu kegelisahan kakaknya. Mendengar pertanyaan Bryan mengalihkan kedua mata Seira untuk menatap papa Sean.
“Dia tidak pulang hari ini atau mungkin beberapa hari ke depan.” tutur papa Sean.
“Tidak pulang?” ulang Seira yang ingin tahu lebih alasan kakaknya tidak pulang.
“Alex kata dia ada urusan bisnis di Bandung.” Seira nampak terdiam. Selera untuk makan malam sungguh sudah menghilang.
“Kakak kenapa seperti itu?” tanya Emily yang melihat Seira hanya mengaduk-aduk makanan tanpa sesuap pun dia masukkan ke dalam mulut. Semua orang di meja makan menatap Seira.
“Ehm, Seira hanya tidak berselera saja.”
“Kenapa sayang? Apa kamu sedang sakit?” tanya mama dengan nada sedikit khawatir. Sebab belakangan ini Seira lebih sering berdiam diri dikamar.
“Tidak ma, Seira hanya membayangkan saat Seira kuliah di luar negeri pasti akan merindukan suasana rumah seperti sekarang ini.”
“Ahh sayang.” Mama Naura menghampiri putrinya memberikan pelukan di tubuh Seira dan mengbelai rambut anak gadisnya dengan lembut.
“Makanya lebih baik kamu kuliah disini saja ya sayang. Biar mama bisa masakin kamu setiap hari. Dan kamu juga bisa membantu mama membuat kue.” Bujuk mama Naura sekali lagi berharap putrinya mau berubah pikiran.
“Tidak bisa ma, lagipula Seira sudah mendaftar di sana dan seminggu lagi Seira sudah masuk kuliah.” Mama Naura menghembuskan nafasnya dengan berat. Rasanya percuma membujuk putrinya lagi.
“Baiklah tapi jangan lupa telpon mama setiap hari. Dan ceritakan kegiatan kamu disana kepada mama. Termasuk jika kamu mempunyai kekasih bule disana.”
__ADS_1
“Naura disana kuliah ma bukan untuk mencari pacar. Lagipula Seira suka orang Indonesia daripada pria bule.”
“Kalau Blesteran seperti kak Alex kakak suka.”