
Lena sedang menikmati semangkok mie instant lengkap dengan telur, sayur, sosis dan bakso di dalamnya. Dengan kuah yang pedas dan bau khas mie Indonesia begitu menggugah selera. Cocok dinikmati saat suasana hujan seperti malam ini.
Sebuah tangan menepuk pelan pundak Lena dari arah belakang. Membuatnya sempat terkejut dan langsung menoleh ke belakang.
“Tante.”
“Kau lapar nak, kenapa tidak membangunkan bibi untuk memasak?” mama Inara menggeser salah satu kursi di ruang makan. Menemani Lena yang sedang menyantap mie.
“Tante mau Lena buatkan mie?” tawar Lena dengan sopan. Dia merasa sungkan saat mama Inara terus menatapnya.
“Tidak perlu, tante masih kenyang. Kau makanlah biar tante menemanimu disini.” Mama Inara mengambil sebuah apel kemudian mengupas dan memakan apel tersebut.
“Apa Seira sudah tidur nak?” Lena tersedak kuah pedas saat mendengar ucapan pertanyaan dari tante Inara.
“Pelan-pelan sayang.” Mama Inara memberikan segelas air minum untuk Lena. Dan menepuk pelan punggung gadis itu.
“Terima kasih tante.” Ucap Lena saat meletakkan gelas pemberian mama Inara setelah meneguk habis air yang ada di dalamnya.
“Seira sudah tidur tan mungkin dia lelah.” Bohong Lena semoga saja mama Inara percaya dengan ucapannya. Mama Inara melihat ke lantai atas yang memang sudah sepi sedari tadi. Sesungguhnya dia ingin berbicara banyak dengan putrinya. Dia begitu rindu dengan kemanjaan putrinya yang kini sudah beranjak menjadi wanita dewasa.
“Kenapa tan ?” Lena bertanya saat melihat raut sedih yang terpancar di wajah mama Inara.
__ADS_1
“Tante hanya rindu dengan putri tante yang manja nak. Tapi sekarang putri tante sudah dewasa. Mungkin juga dia sudah memiliki kekasih saat ini. Dan sebentar lagi dia akan pergi dari rumah meninggalkan tante. Mengikuti suaminya.” Mama Inara merasa belum siap membayangkan Seira menikah dan pergi mengikuti suaminya. Bagi seorang ibu dia tetaplah putri kecil yang dia sayang dan dia rawat dengan penuh kasih sayang.
“Tante.” Lena memeluk mama Inara. Membelai lembut penggung wanita yang masih terlihat begitu cantik di usianya.
Sementara di dalam kamar
“Lupakan, kakak akan keluar.” Pelukan sudah terurai. Alex pun sudah berbalik badan. Namun tiba-tiba Seira berdiri di depannya dan dengan cepat Seira berjinjit dan memegang tengkuk Alex. Membenamkan bibirnya disana. Alex sempat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Seira. Bola matanya seakan ingin melompat keluar. Namun di detik berikutnya dia mulai membalas ciuman itu. Alex memperdalam ciuman dengan memeluk pinggang Seira dengan kedua tangannya untuk lebih mendekat hingga tidak ada jarak diantara mereka berdua.
Pagutan yang begitu dalam baru terlepas disaat keduanya mulai kehabisan oksigen di rongga paru-paru. Nafas pun terengah-engah. Alex mengusap bibir ranum milik Seira dengan ibu jarinya. Kedua mata saling memandang. Memancarkan cinta yang dalam diantara keduanya. Seira pun reflek mengalungkan kedua tangannya di leher Alex. Tanpa berpikir lama Alex kembali membenamkan bibirnya di bibir Seira.
“Kak.” Seira merasakan sesuatu yang keras di dalam celana milik Alex.
“Sudah. Kakak akan keluar.” Ucapnya dengan terpaksa. Alex tidak ingin bertindak lebih. Terlebih ini di rumah. Dia tidak ingin papa dan mama kecewa kepadanya. Meskipun tidak menutup kemungkinan di masa depan mereka bisa saja kecewa jika tahu apa yang sudah dia dan Seira lakukan beberapa tahun lalu.
“Ada apa?” Alex berbalik menghadap Seira. Dia menatap gadis itu dengan penuh cinta. Tidak dipungkiri dia begitu ingin bersama dengan gadis di hadapannya ini. Memeluknya sepanjang malam. Namun itu tidak mungkin mengingat hubungan mereka yang belum jelas.
Seira selangkah maju untuk mendekat. Dia memegang kedua tangan Alex. Menarik nafas dalam-dalam mengumpulkan kekuatan di dalam diri untuk malam ini.
“Aku mencintaimu.” kalimat itu keluar dari bibir Alex saat kedua mata saling memandang.
“Tapi kak?”
__ADS_1
“Shuuttt.” Alex meletakkan jari telunjuk tepat di depan bibir Seira. Meminta gadis itu untuk tidak mengucapkan sepatah kata. Menundukkan kepala di depan Seira. Alex terdiam sejenak. Seira memiringkan wajah untuk melihat kakaknya. Lelaki itu masih menunduk memejamkan mata.
“I love you, Seira.” Alex memeluk Seira dengan erat. Dia tidak ingin jauh lagi dari gadis pujaan hatinya. Rasanya sungguh berat dan membosankan hidup tanpa melihat wajah Seira.
“Kak.” Seira tidak membalas atau menolak pelukan Alex. Dia sendiri bingung harus bagaimana. Haruskah dia mengakui perasaannya sekarang.
“Kakak sedang tidak ingin mendengar penolakan Seira.” Mendengar ucapan Alex membuat Seira mengangkat kedua tangan membelai lembut punggung Alex. Membalas pelukan hangat yang dia rasakan sejak tadi.
Mendapat pembalasan Alex semakin mengeratkan pelukan hingga Seira susah untuk bernafas.
“Auh.” pelukan terlepas saat Seira mencubit pinggang Alex dengan gemas.
“Kakak ingin membunuhku.” Alex memicingkan mata belum mengerti dengan ucapan Seira.
“Aku bisa mati jika kakak memelukku seperti tadi. Bahkan Seira sampai kesulitan untuk bernafas.” Alex tersenyum.
“Jangan senyum jelek tuh muka kalo senyum.” Alex semakin melebarkan senyumnya mendengar celotehan adiknya.
“Masih senyum. Yauda aku tidak akan mencintai kakak lagi.”
“Apa???”
__ADS_1
..."Pengen update LG jangan lupa komen ya besti biar author rajin update🤗🤗🤗"...