
Tatapan Sean kini dipenuhi dengan kebahagiaan saat mendapati istrinya pulang. Sean memeluk Inara dari belakang melingkarkan tangannya pada pinggang Inara dan meletakkan kepala di bahu gadis itu. Mencium aroma parfum yang sangat dia rindukan.
“Kau dari mana?” tanyanya dengan suara parau.
“Dad, lepaskan aku.” Inara mencoba melepaskan tangan Sean yang melingkar di tubuhnya. Namun tidak berhasil karena Sean terlalu kuat memeluk dirinya.
“Daddy.”
“Kau?”
"Bagaimana anak ini bisa bersama dengan Inara?" batin Sean sambil menatap manik hitam istrinya meminta penjelasan.
Inara yang tahu maksud tatapan Sean hanya bisa mengangkat kedua bahu sambil berlalu meninggalkan Sean yang masih terdiam di tempat.
"Dad." sebuah tangan kecil yang menyentuh lengannya menyadarkan Sean.
"Apa?" ketus Sean yang merasa tidak suka saat Alex memanggil dirinya dengan sebutan Daddy.
Merasa dibentak anak kecil itu pun berkaca-kaca. Dia pun mundur dua langkah menjauh dari Sean. Selama ini dia begitu mendambakan kasih sayang seorang ayah yang begitu menyayangi dirinya. Kasih sayang yang tidak pernah dia dapatkan selama ini.
Sejujurnya Alex tahu lelaki dihadapannya bukanlah ayahnya. Selama ini dia hanya mengikuti apa yang diperintahkan oleh Sandra ibunya tanpa banyak bertanya. Bukan tanpa alasan kenapa Alex menjadi anak yang begitu penurut. Dia takut, takut jika dihukum oleh ibunya.
Inara yang mendengar Sean berteriak pun kembali melangkahkan kakinya ke dapur. Dia melihat Alex yang begitu ketakutan saat suaminya meninggikan suara.
"Alex." Inara memeluk Alex yang sedang bergetar. Seketika tangisnya langsung pecah saat Inara memberinya pelukan yang hangat.
Sean yang melihat itu merasa cemburu saat tangan anak kecil itu memeluk pinggang ramping istrinya. Rahangnya mengeras rasa tidak suka dengan anak itu menjadi bertambah. Terlebih saat Inara mencium pucuk kepala Alex.
"Aunty, uncle itu jahat." tunjuk Alex pada sosok Sean yang terlihat jelas sedang menahan amarah.
__ADS_1
Sean yang merasa ditunjuk pun melebarkan matanya seolah ingin menakuti anak itu. Namun sayang hal itu tidak berhasil menakuti seorang anak bernama Alex.
"Baby." panggil Sean dengan lembut.
"Aku lelah,ingin istirahat. Ayo Alex." Inara menggandeng tangan anak itu menuntunnya menuju kamar utama. Kamar yang biasa Inara dan Sean tempati. Setelah berbalik Alex melihat ke arah Sean yang kebetulan sekarang keduanya saling melemparkan tatapan permusuhan. Dan Alex menjulurkan lidahnya untuk mengejek Sean. Dada Sean naik turun dengan cepat tangannya terkepal seandainya anak itu lelaki dewasa seperti dirinya. Pasti sudah habis dia hajar hingga wajah dan mukanya tidak lagi berbentuk.
"Awas kau anak kecil." gerutu Sean dengan wajah yang sudah merah padam.
Tiga puluh menit berlalu.
Selama itu pula Sean memikirkan cara bagaimana dirinya bisa masuk ke dalam kamarnya sendiri. Memindahkan bocah tengil itu dari kamarnya. Dan tentunya bisa berduaan dengan Inara tanpa gangguan dari siapapun.
Sean bangkit dari duduknya mencari kunci duplikat kamarnya yang biasa dia simpan di laci meja kerjanya. Karena jika Inara sedang marah istrinya selalu mengunci kamar mereka. Tidak membiarkan dirinya untuk masuk beruntung Sean selalu menyimpan kunci duplikat itu sehingga dia dapat masuk ke kamar saat Inara sudah terlelap.
Sebelum masuk terlebih dahulu Sean memastikan istrinya sudah tertidur dari kamera cctv yang dia pasang secara tersembunyi tanpa sepengetahuan istrinya tentunya.
Mendapati Inara yang sudah memejamkan mata dengan anak kecil disampingnya yang juga ikut terlelap. Sean kemudian mengambil kunci dan melangkah menuju kamar mereka yang letaknya tepat di samping ruang kerjanya.
Perlahan pintu pun terbuka kemudian Sean menutupnya kembali dengan begitu hati-hati supaya tidak menimbulkan bunyi yang terlalu kencang. Langkah kaki yang mengendap-endap tanpa menimbulkan suara berhasil membuatnya sampai disisi ranjang.
Sisi dimana Alex tertidur. Sisi yang biasa dia tempati saat tidur bersama istrinya.
"Ini tempatku bocah kecil. Sekarang kau harus pindah." ucap Sean dalam hati.
Dengan perlahan Sean mengangkat anak itu. Beruntung Alex tidak terbangun saat tubuhnya melayang karena diangkat oleh Sean.
"Daddy jangan tinggalkan aku." racau Alex dalam tidurnya kemudian memeluk leher Sean dengan begitu erat.
Meletakkan tubuh kecil itu diatas ranjang di kamar sebelah dengan hati-hati. Sean menatap wajah anak kecil yang terlihat damai namun begitu banyak beban di wajahnya membuat Sean sedikit mengiba.
__ADS_1
Dia pun membelai lembut rambut anak itu kemudian menyelimuti tubuhnya dengan selimut putih hingga sebagian dada. Meninggalkan Alex di sana Sean kembali ke kamar pribadinya. Tidak lupa dia mengunci pintu kamarnya.
"I Miss you, baby." bisik Sean pada daun telinga Inara.
Sean menghujani pucuk kepala Inara dengan ciuman yang bertubi-tubi. Inara yang merasa sangat lelah tidak merasa terganggu dengan itu.
Sesaat Sean memandang wajah istrinya yang begitu dia cintai. Wanita yang berhasil mengubah dunianya. Wanita yang menjadi obatnya. Wanita yang kini menjadi dunianya.
Tangan Sean mulai membelai pipi Inara dengan lembut. Matanya menatap bibir mungil yang terlihat merah muda. Bibir yang selalu menjadi candunya.
Dan kini bibir itu sudah dia nikmati yang awalnya cuma kecupan kini menjadi *******. Meminta lebih untuk menjelajah lebih dalam. Tangan Sean pun mulai bergerilya ke tempat yang seharusnya. Baju yang Inara kenakan entah sejak kapan sudah tersingkap ke atas.
Dalam tidurnya Inara bermimpi apa yang sedang dilakukan Sean sama dengan apa yang ada di dalam mimpinya.
Bibir Sean mulai turun ke leher dan menjelajah hingga meninggalkan bekas di sana. Inara melenguh membuat gai*rah Sean semakin terbakar.
"Ah, Dad." Inara meremas rambut Sean dengan mata terpejam karena dalam mimpinya Sean sedang memainkan apa yang sedang dia mainkan sekarang. Menikmati dengan lidah hingga menciptakan rasa yang begitu nikmat. Rasa yang mendesak sesuatu untuk segera dia masukkan.
Rasa yang membuat Inara merasa gelisah mencari benda yang tidak kunjung masuk ke dalam tubuhnya.
"Sekarang dad, pliss." mohon Inara yang sudah tidak tahan lagi dengan rasa yang dia rasa sekarang.
Sean tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya. Perlahan dia membuka apa yang menjadi penghalang bagian bawah istrinya.
Bermain terlebih dahulu di sana dengan lidah. Membuat Inara berteriak menikmati kenikmatan dunia yang tiada tara. Rasa nikmat yang hanya boleh dilakukan oleh sepasang suami istri.
"Auh dad kau membuatku gila." ucap Inara lagi-lagi dengan mata terpejam.
"Bersiap baby." Sean memasukkan apa yang seharusnya dia masukkan. Menggerakkannya dengan ritme yang awalnya perlahan menjadi tempo yang cepat.
__ADS_1
Kegiatan panas itu berlangsung cukup lama hingga Sean dan Inara mencapai puncaknya secara bersama.
"Thanks baby." Sean mencium pucuk kepala Inara sebelum menutup tubuh istrinya dengan selimut pun dirinya yang ikut terlelap dengan tubuh yang masih bercucuran keringat.