
Cahaya matahari masuk melalui celah-celah gorden yang menutup jendela. Sinarnya yang hangat mengusik kenyamanan Devan yang masih terlelap. Matanya enggan untuk terbuka. Perutnya terasa berat karena sebuah tangan melingkar disana. Dia memegang kepala yang terasa pusing karena terlalu banyak minum. Pandangannya mengarah kesisi ranjang yang lain. Terlihat seorang wanita tertidur.
“Astaga jangan-jangan?” Devan bernafas lega saat melihat pakaian yang dia kenakan masih menempel sempurna di tubuhnya.
Lelaki itu berusaha menyingkirkan tangan Mila secara perlahan. Dia belum sadar jika gadis itu adalah Mila baby sugar yang selama ini dia rindu. Karena memang wajah Mila yang tertutup s bagian oleh rambut panjangnya.
Gerakan Devan membuat Mila menggeliat. Rambut yang sempat menutupi wajahnya pun tersingkap dengan sendirinya. Kedua sudut bibir Devan tertarik keatas membuat icon senyum di wajahnya yang kusut menjadi bahagia.
Kemudian lelaki itu mencium kening Mila secara bertubu-tubi. Menyalurkan kerinduan yang selama ini hanya bersarang di hati. Membuat pikiran dan hati menjadi emosi mencari pelampiasan yang tidak pasti.
“Lima menit lagi, plisss.” Igau Mila dengan mata yang masih terpejam. Merasa terganggu dengan apa yang dilakukan oleh lelaki itu. Devan bukannya berhenti dia justru merasa gemas. Kembali dia memberi kecupan bukan hanya di kening tetapi di pipi kiri dan pipi kanan serta bibir Mila yang terlihat begitu menggoda pagi ini.
“Aah sayang hari ini tuh hari minggu kampus juga libur jadi bisakah aku tidur lima menit lagi.” Mila berbicara dengan keadaan belum sadar sepenuhnya karena rasa kantuk yang tidak bisa dia lawan.
“Baiklah.” Devan mencium bibir Mila sekilas sebelum pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Lima belas menit berlalu Mila masih menutup mata dengan nafas yang pelan dan teratur. Devan tersenyum kemudian keluar kamar. Perutnya terasa lapar belakangan ini makannya menjadi tidak teratur.
Tidak ada makanan di meja yang bisa dia makan. Karena ini hari minggu maka asisten yang biasa bekerja di apartemen Sean pun libur.
Membuka lemari pendingin mencari bahan yang bisa dia masak. Tangan Devan bekerja begitu lihai saat memasak seperti seorang koki professional.
Bau masakan mulai menyeruak di dalam apartemen yang mengganggu indera penciuman Mila sebab pintu kamar tidak tertutup sempurna. Perut yang mulai lapar memaksa dirinya untuk segera bangun. Melihat sisi ranjang sudah kosong pasti yang memasak adalah Devan. Lelaki itu terbiasa hidup mandiri meskipun dari keluarga kaya. Dia juga lebih memilih bekerja di perusahaan orang lain daripada bekerja membantu di perusahaan ayahnya.
Menyingkap selimut yang menutup tubuhnya Mila turun dari ranjang keluar kamar mencari sosok yang masih dia cintai. Devan yang melihat Mila turun pun menghampiri gadisnya.
__ADS_1
“Sayang kau sudah bangun.”
“Kau masak apa?” tanya Mila begitu sampai di dapur.
“Nasi goreng, ayo duduk kita sarapan.” Devan menggeser salah satu kursi mempersilahkan Mila untuk duduk disana.
Devan menyediakan dua piring nasi goreng di atas meja. Selesai sarapan Devan mengajak Mila untuk berbicara dari hati ke hati menyelesaikan masalah yang terjadi diantara mereka berdua.
Sementara di kamar Sean sudah terbangun terlebih dahulu. Matanya menatap gadis yang dia cintai. Begitu damai dan membahagiakan. Dia belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Di usia yang sudah kepala tiga Sean begitu ingin menikah. Mengingat usia Inara yang masih muda dia belum berani mengutarakan niatnya itu. Dia akan menunggu waktu yang tepat untuk meminang gadis yang sudah berhasil membawa separuh jiwanya.
Inara mulai bergerak matanya mulai terbuka perlahan. Orang yang pertama kali dia lihat adalah Sean. Lelaki pujaan hatinya. Sungguh suatu hal yang begitu membahagiakan di dunia ini melihat orang yang kita cintai ada di samping kita saat bangun tidur.
“Dad, kau sudah bangun.”
“Morning kiss baby.” Sean mencium bibir Inara sekilas.
Sebuah senyum smirk terlihat di wajah Sean. Otak mesum mulai bekerja kembali di pagi hari jika itu berhubungan dengan Inara.
“Ayo kita gosok gigi bersama.” Ajaknya.
“Bersama?” ulang Inara di kalimat terakhir Sean.
“Tentu saja.” Lelaki itu menaik turunkan kedua alisnya dengan senyum penuh arti membuat Inara bergidik ngeri.
“Tidak, kau semalaman membuatku bekerja terlalu ekstra dan sekarang aku masih begitu lelah.” Kini Inara mulai paham dengan maksud kata bersama. Pasti daddy sugarnya akan membuat dirinya berolah raga pagi di dalam kamar mandi. Mungkin tidak hanya sekali bisa jadi berkali-kali.
__ADS_1
Sean tertawa begitu lepas saat Inara mulai paham dengan isi di dalam pikirannya.
“Lalu apa kau tidak ingin membersihkan diri, ehm?” Sean memegang dagu Inara pandangannya tertuju pada bibir Inara yang terlihat lezat untuk dia santap pagi ini.
“Aku akan membersihkan diri nanti rasanya tubuhku begitu lelah untu bergerak. Lagi pula aku masih mengantuk.”
“Bagaimana kalo aku menggendongmu?” bisik Sean di dekat telinga Inara kemudian mencium sekilas bibir yang menjadi candunya.
“Tidaaakkk.” teriak Inara kemudian menyembunyikan tubuhnya dibawah selimut. Rasanya dia tidak sanggup kalua harus melayani Sean pagi ini. Melihat Inara Sean tertawa terbahak-bahak kemudian berjalan menuju kamar mandi. Inara mengintip dari balik selimut. Ia pun merasa lega saat Sean sudah masuk ke dalam kamar mandi. Buru-buru Inara memakai baju yang semalam sempat berserakan di lantai. Kemudian kembali membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Berusaha untuk memejamkan mata kembali namun tidak bisa.
Gadis itu memilih untuk memainkan ponsel sembari menunggu Sean selesai mandi. Inara membuka beberapa pesan yang belum sempat terbaca. Salah satunya dari nomer yang tidak dia kenal. Nomer yang selalu mengirim dia foto dirinya beserta icon love. Selama ini Inara tidak terlalu menganggap penting pesan itu. Mungkin hanya orang iseng saja.
“Kau sedang apa?” tanya Sean dengan handuk putih yang melilit di pinggangnya.
Inara terpesona dengan tubuh Sean yang begitu atletis. Sean tersenyum melihat Inara yang terdiam saat melihat dirinya setengah telanjang seperti ini.
“Awas air liurnya nanti kamar bisa banjir.”
“Ck.” Inara mencebikkan bibirnya mendengar kepercayaan diri Sean yang begitu tinggi.
“Kau bisa menikmatinya sekarang jika kau menginginkannya.” Sean mengedipkan sebelah mata menggoda Inara.
“Siapa yang ingin menikmatinya. Awas aku mau mandi.” Inara menabrak sedikit tubuh Sean yang menghalangi jalannya. Namun tidak membuat tubuh itu berpindah dari tempatnya. Sean kembali tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah Inara yang begitu menggemaskan.
Ponsel Inara kembali menerima sebuah pesan. Kemudian ponsel itu berdering menyita perhatian Sean. Tidak ada identitas pemanggil hanya tertera nomor saja, membuat Sean penasaran dan mengangkat panggilan tersebut.
__ADS_1
Sean terdiam saat panggilan itu terhubung. Membiarkan orang tersebut untuk berbicara. Namun beberapa detik kemudian tidak ada suara terdengar. Hanya keheningan yang tercipta. Sean pun mematikan ponsel secara sepihak. Setelah itu sebuah pesan masuk membuat rahang Sean mengeras dan darahnya mendidih.
“Inara kau hanya milikku, MILIKKU❤️❤️❤️.”