
Inara sudah terlelap pun dengan Sean setelah pergumulan panas yang baru saja mereka akhiri. Penyatuan tubuh yang dilakukan dengan amarah oleh Sean. Tidak ada kelembutan disana. Sean yang sudah setengah mabuk tidak menyadari kesakitan yang gadisnya rasakan. Bahkan saat kuku cantik Inara mencengkeram punggung milik Sean. Meninggalkan luka disana tetap saja lelaki itu sama sekali tidak peduli. Inara yang merasa sudah lelah dengan segala aktifitasnya tertidur diatas ranjang milik Sean. Selimut putih menjadi penutup tubuh mereka yang masih polos.
Pakaian Inara sudah tidak layak dipakai semua sudah Sean robek secara paksa. Bukan tanpa sebab perlawanan yang Inara berikan membuat amarah di hati Sean semakin memuncak. Sehingga tanpa sadar Sean telah menyakiti baby sugarnya.
“Maafkan aku baby.” lirihnya kemudian mengecup kening Inara. Sean terbangun saat menjelang subuh dan dia mengingat apa yang baru saja dilakukan kepada Inara. Rasa bersalah merasa menghinggapinya karena dengan paksa melakukan itu pada Inara.
Sean memijat pelipisnya saat merasakan pusing di kepala. Sepertinya dia terlalu banyak minum malam ini. Membenarkan selimut Inara yang sedikit turun Sean kemudian beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.
Inara melenguh merasakan tubuhnya yang sedikit sakit. Matanya mulai terbuka, saat sepenuhnya sadar Inara mencari sosok Sean. Pandangan pertama yang dia lihat adalah sisi ranjang namun Sean tidak ada disana.
Inara menyibak selimut dia melihat tubuhnya yang polos dan begitu banyak jejak kemerahan yang Sean tinggalkan semalam.
“Kenapa dia begitu kasar?” gumam Inara.
Inara melihat seluruh pakaiannya dan pakaian Sean yang sempat mereka pakai berserakan di lantai dan sudah koyak. Inara tidak tahan dia turun dari ranjang bergegas ke kamar mandi. Ada sesuatu yang mendesak untuk segera dibuang. Kandung kemihnya sudah penuh terisi air.
“Astaga, kau mengagetkanku.” ucap Inara saat melihat Sean sudah berdiri di balik pintu kamar mandi.
Sean menarik tubuh Inara memeluk pinggang ramping gadis itu. Membenamkan kepalanya di atas pundak Inara menghirup aroma lily yang masih tertinggal di tubuh baby sugarnya. Inara merasa aneh berpelukan dalam keadaan tanpa sehelai benang.
“Maaf.” ucap Sean yang merasa bersalah.
“Dad.” Inara menggerakkan tubuhnya membuat gesekan diantara kedua kulit itu. Menimbulkan rasa panas yang mulai menjalar di tubuh Sean.
__ADS_1
“Jangan bergerak baby kau bisa membangunkannya lagi.” bisik Sean tepat di daun telinga Inara. Gadis itu memejamkan mata merasakan hembusan nafas yang menghangat di bagian tubuhnya.
Sesuatu sudah tidak tahan untuk keluar. Inara melepas tangan Sean yang membelenggu tubuhnya dan berlari menuju tempat pembuangan yang berada di dalam kamar mandi. Sean mengikuti langkah Inara.
“Astaga, Dad kau lagi-lagi membuatku terkejut.” ucap Inara yang melihat Sean berdiri diambang pintu.
“Kau harus bertanggung jawab baby.” Sean menutup pintu kamar mandi kemudian mengisi bath up yang berada tidak jauh dari tempat mereka. Memberi sabun dan wewangian sebagai aroma terapi.
“Tanggung jawab? memang apa yang sudah aku lakukan?” tanya Inara dengan polos.
Sean tersenyum langkahnya teratur mendekati Inara. Merekatkan kembali tangan kekar itu di pinggang Inara. Menerjang gadis itu dengan kecupan-kecupan manja di leher Inara.
Inara memejamkan mata merasakan sentuhan Sean yang berbeda dari semalam. Sentuhan lembut yang bisa membawanya terbang melayang. Inara tidak menolak ia melingkarkan tangan di leher Sean membuat lelaki itu tersenyum. Dan detik berikutnya melu*mat bibir mungil yang menjadi candunya.
Tangan Sean tidak tinggal diam bergerak menuju area yang selalu membuat wanita melenguh nik*mat. Inara menikmati remasan tangan Sean yang begitu lembut. Bibirnya sudah tidak tahan ingin mengeluarkan nyanyian yang merdu untuk menemani kegiatan mereka.
Sean meninggalkan begitu banyak jejak disana Inara mengerang berkali-kali memanggil daddy sugarnya. Lidah yang tidak berhenti bermain di ujung gunungnya membuat tubuh Inara menggeliat. Pun dengan Sean yang tidak puas rasanya jika lidah itu tidak turun ke bawah.
Sean meminta Inara untuk mengangkat kaki sebelah. Dan disitulah Sean mulai memasukkan lidahnya menjelajah lebih dalam menciptakan sensasi yang begitu luar biasa bagi Inara. Sensasi nikmat yang membuat tubuhnya melayang tanpa gravitasi,terbang tanpa sayap.
“Dad aku mau pipis.” ucap Inara.
“Keluarkan baby jangan ditahan.” akhirnya Inara berhasil mencapai ******* pertamanya. Tubuhnya jatuh di dalam pelukan Sean.
__ADS_1
“Giliran kau baby.” Sean menuntun Inara untuk masuk ke dalam bath up yang sudah terisi air.
“You on top baby.” jika selama ini Sean yang selalu memimpin maka kali ini dia ingin Inara yang memimpin permainan mereka. Meskipun pertama kalinya Inara memimpin permainan namun gadis itu bermain begitu hebat.
Sean men*desah pun dengan Inara. Nyanyian yang keluar dari bibir keduanya menggema di setiap sudut kamar mandi. Penyatuan tubuh mereka berlangsung cukup lama. Hingga nafas Inara memburu seiring dengan dadanya yang naik turun saat pelepasan terakhir yang membuat dia dan Sean merasa lega.
“You are the best baby.” ucap Sean di sela-sela nafasnya yang kembang kempis.
“Ayo mandi atau kau ingin terus berada diatas tubuhku dan mengulanginya lagi.” Sambung Sean membuat Inara langsung bangkit sebelum lelaki itu menerjangnya lagi.
Sean tergelak melihat reaksi Inara. Keduanya kemudian mandi tanpa aktifitas yang lain, benar-benar hanya mandi.
Sekarang keduanya sudah berada di atas ranjang. Bersandar pada sandaran ranjang dengan selimut yang menutup sebagian tubuh mereka.
“Dad.” panggil Inara.
“Hm.” jawab Sean membelai pipi mulus Inara.
“Ada apa denganmu?” tanya Inara.
Sean mengubah posisi tubuhnya menghadap Inara. Setelah sebelumnya mengambil ponsel yang dia letakkan diatas meja samping ranjang. Membuka pesan yang berisi foto dirinya dengan Nail di café. Foto yang menggambarkan kejadian tadi siang saat Nail sedang membersihkan mulut Inara dengan ibu jarinya karena sisa ice cream yang tertinggal di sudut bibir gadis itu. Dan slide berikutnya foto Inara bersama dengan lelaki yang sama sedang berpelukan. Karena sebuah rak yang hampir jatuh mengenai dirinya saat berada di toko buku.
“Dad, ini tidak seperti yang terlihat.” Inara merasa terkejut siapa yang telah mengirim foto dirinya kepada Sean.
__ADS_1
“Tadi siang aku pingsan dan lelaki itu yang mengantarkan ke klinik setelah itu dia mengajakku makan karena aku memang lapar. Dan saat aku ingin ke toko buku untuk membeli buku dia menawarkan diri untuk mengantar karena memang toko sudah hampir tutup. Dan disana tiba-tiba saja rak buku terjatuh dan dia menariku untuk menghindari hal itu.” Inara menjelaskan hanya dengan satu tarikan nafas.
“Apa kau tidak percaya padaku?” tanya Inara menggenggam tangan Sean dengan kedua tangannya. Berharap lelaki itu dapat mempercayai dirinya. Sean menatap dalam-dalam bola mata Inara kemudian membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata.