
Tiga minggu kemudian…
Setelah dilakukan perawatan khusus di rumah sakit akhirnya bayi Sean dan Inara diperbolehkan pulang. Karena sudah dapat minum ASI dengan baik. Berat badannya pun juga naik. Serta suhu tubuhnya stabil dan mampu menyesuaikan suhu ruang.
“Sudah siap?”
“Sudah papa.” Jawab Inara menirukan suara bayi sambil menggendong Seira. Tidak lupa memberikan sebuah kecupan di pipi bayi kecilnya yang terlihat begitu cantik saat tertidur pulas. Sesekali bayi itu menggeliat sambil menjulurkan lidah kecilnya. Hal itu membuat Sean dan Inara merasa bahagia saat melihat pemandangan yang indah di mata mereka.
Di dalam sebuah mobil Sandra menatap sepasang suami istri itu dengan tatapan membenci. Benci melihat pernikahan mereka yang sudah lengkap dengan seorang anak. Benci melihat kebahagiaan mereka. Dan benci karena selama ini masih saja gagal memisahkan mereka. Bahkan wanita itu gagal melenyapkan Inara maupun bayinya. Dan sekarang dia tidak ingin gagal lagi.
Saat melihat Inara berdiri sendiri dengan penuh kebencian Sandra memutar kontak mobil. Kemudian dengan kecepatan tinggi melajukan mobilnya kearah Inara. “Kali ini kau harus mati Inara.”
“Mama.” teriak Alex mendorong tubuh Inara dengan sekuat tenaga. Dan hampir membuat tubuh wanita itu terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Beruntung Sean menangkap tubuh istrinya tepat waktu.
“Kau baik-baik saja sayang?” tanya Sean dengan penuh kekhawatiran.
“Alex.” Inara melihat Alex yang sudah jatuh bersimbah darah. Sean pun menghampiri Alex yang masih sadarkan diri.
“Alex bertahanlah sayang papa akan membawamu ke rumah sakit.” dengan kedua tangannya Sean mengangkat tubuh bocah itu masuk ke dalam rumah sakit untuk segera mendapat pertolongan.
“Dokter tolong dokter.” teriak Sean sambil sesekali melihat Alex yang masih tersenyum sebelum menutup kedua matanya.
“Alex, bertahanlah sayang. Papa mohon bertahanlah.”
Alex kemudian dibawa ke ruang UGD untuk mendapat pertolongan. Sementara Sandra menjadi frustasi karena Alex telah menyelamatkan Inara beserta bayinya. “Dasar bocah sialan.” kesalnya sambil memukul kemudi dengan begitu keras.
Sementara papa Inara yang melihat kejadian itu segera menelepon polisi dan melaporkan nomor plat mobil tersebut.
“Inara.” panggil papa Inara.
__ADS_1
“Papa, Mama, Jeni.” Saudara tiri dan ibu tirinya sudah tidak mempermasalahkan lagi mengenai harta. Sebab beberapa bulan yang lalu papa Inara mengajak berbicara anak sambung beserta istrinya dari hati ke hati. Agar tidak terjadi lagi rasa iri dan cemburu pada Inara maka papanya mendiskusikan yang terbaik untuk keluarganya dengan mereka. Dan semua setuju dengan apa yang menjadi keputusan papanya. Semua dibagi rata dan semua adil. Dan kini keluarga papa Inara terlihat harmonis tanpa adanya perebutan harta kembali.
“Kau baik-baik saja sayang?” tanya mama Mirna.
“Aku baik ma, tapi Alex…” Inara menangis mengingat bagaimana kondisi Alex saat dibawa ke rumah sakit oleh Sean.
“Tenanglah, anak itu pasti baik-baik saja. Dia bocah yang kuat. Papa yakin itu.”
“Iya Inara, sebaiknya kita pulang. Biar Sean yang mengurus Alex.” Ajak mama Mirna.
“Tapi ma..” tolak Inara yang ingin melihat bagaimana keadaan Alex sekarang.
“Sayang, rumah sakit tidak baik untuk bayi. Karena daya tahan tubuh mereka yang belum sempurna. Jadi lebih baik kita pulang. Kita tunggu kabar saja di rumah.” Nasehat mama Mirna demi Kesehatan cucunya.
“Mama benar Inara.” Sambung Jeni.
“Baiklah.” Inara pun pulang bersama dengan Jeni dan mama Mirna. Di rumah Sora sudah menunggu kedatangan mereka. Saat dikabari oleh Sean jika Inara pulang hari ini. Sora langsung menghias kamar bayi yang sudah dipersiapkan oleh Inara dan Sean dengan segala sesuatu bernuansa merah muda.
***
“Anak itu seharusnya aku membunuhnya sejak lama. Dasar bocah sialan.” Semua barang yang ada di ruangan menjadi sasaran amukan Sandra. Wanita itu menggila.
Sementara Sean sedang menunggu Alex yang sedang menjalani operasi. Karena terlalu banyak mengeluarkan darah maka bocah kecil itu membutuhkan transfusi darah secepatnya.
“Tuan stok darah golongan A RH negatif di rumah sakit sedang kosong. Apa ada anggota keluarga yang memiliki golongan darah yang sama dengan pasien?” tanya salah satu perawat yang menangani Alex.
Sean Nampak berfikir mengingat siapa yang memiliki golongan darah A. Sedangkan dirinya AB Inara B. Sora juga sama dengan dirinya AB suaminya B. Disaat yang bersamaan ada seorang lelaki bule menghampiri mereka.
“Mungkin golongan darah kami sama.” Sean menoleh ke sumber suara. Wajah lelaki itu mirip sekali dengan Alex. Mungkinkah dia ayah dari anak itu. Tapi entahlah yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan bocah kecil itu.
__ADS_1
“Mari ikut kami tuan untuk melakukan tes kecocokan dengan pasien.” Dan benar saja darah lelaki itu bereaksi baik dengan darah Alex.
Operasi berjalan dengan lancar dan Alex dapat diselamatkan. Semua orang yang mendengarkan merasa lega termasuk lelaki yang sudah memberikan darahnya untuk Alex.
“Tunggu.” Ucap Sean saat melihat lelaki bule itu hendak pergi.
“Siapa anda?” tanya Alex. Lelaki itu tersenyum kemudian menjawab “ Bukan siapa-siapa tuan, saya hanya orang yang lewat saja dan mendengar anda membutuhkan darah A dan kebetulan golongan darah saya A.”
Sean tidak percaya dengan orang itu begitu saja. Dia berjalan mendekat menatap lekat wajah lelaki itu. “Kenapa anda begitu mirip dengan Alex. Atau jangan-jangan anda adalah…”
Lelaki itu kembali tersenyum kemudian menepuk Pundak Sean dengan pelan. “ Aku titipkan dia kepada Anda. Saya yakin anda bisa mendidik dan menjaganya dengan baik.”
“Anda…”
“Terima kasih, dan saya titipkan dia kepada anda tuan.” Lelaki itu pergi dengan perasaan sedih. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Namun satu yang dia tahu dia ingin anak lelakinya tumbuh dengan baik bersama keluarga yang baik. Dan lelaki itu yakin Sean dan istrinya mampu merawat Alex dengan baik.
Beberapa hari kemudian Alex sudah sembuh dan diijinkan pulang oleh dokter. Sementara Sandra sudah ditangkap polisi dan menerima hukuman yang sesuai dengan perbuatannya.
“Welcome home sayang.” ucap Inara merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan Alex ke rumah mereka.
“Terima kasih sayang.” bisik Inara di dekat daun telinga Alex saat tubuh kecil itu masuk ke dalam dekapannya.
Alex mengangguk. Dia mencari sosok kecil yang beberapa hari lalu ingin dia lihat. “Kau mencari siapa sayang?” tanya Inara.
“Dimana adek ma?” Inara tersenyum kemudian menuntun bocah kecil itu untuk masuk ke dalam kamar Seira.
Bertepatan saat mereka membuka pintu kamar Seira menangis. Sepertinya bayi itu merasa kakaknya sudah pulang. Inara menggendong bayi mungil itu dengan telaten. Sean yang berada di belakang Alex tersenyum melihat itu. Kemudian Sean menggendong Alex untuk mendekat ke balkon dimana Seira sedang ditenangkan oleh Inara. Alex mencium pipi Seira secara bergantian.
“Aku bahagia memiliki kalian.”
__ADS_1
****TAMAT****