
Mata bawah Seira terdapat lingkaran hitam yang terlihat jelas. Itu dia dapat sebab semalam tidurnya tidak begitu nyenyak. Beberapa kali dia terbangun karena mimpi. Mimpi yang tidak ingin menjadi kenyataan. Dimana dalam mimpi Alex menikah dengan seorang wanita yang dia lihat tidak terlalu jelas siapa.
“Seira, kau sudah bangun?” Lena mendudukan diri di tepi ranjang dengan kaki yang terjuntai ke bawah.
“Ehm.” rasanya Seira begitu tidak bersemangat hari ini.
“Hei ada apa denganmu? Apa kau sakit?” Seira menjawab dengan gelengan kepala.
Rindu itu berat seperti itulah yang dirasa oleh Seira. Tubuhnya seolah susah untuk bergerak. Lesu seperti tidak bertenaga. Dan lemas tanpa daya. Soalnya belum ketemu dengan Alex jadi tidak ada energi ya😊
“Sudah ayo bangun. Kita ada kelas pagi hari ini. Kau tidak lupa kan Mr.Jhon seperti apa?” Lena bergidik ngeri seandainya dia terlambat masuk ke kelas dosen killer tua yang beruban dengan perut buncit dan kacamata tebalnya. Bisa-bisa dia tidak lulus mata kuliah Mr.Jhon jika terlambat sebanyak 3 kali. Dan Lena tidak ingin hal itu terjadi. Dia begitu malas harus bertemu Mr. Jhon jika mengulang mata kuliahnya.
“Iya-iya kau itu kenapa bawel sekali pagi ini.” Gerutu Seira berjalan mengambil handuk kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Semua mahasiswa yang ada mata kuliah Mr.Jhon sudah hadir di dalam ruangan tidak terkecuali Lena dan Seira. Mereka berdua selalu bersebelahan duduknya. Nempel seperti perangko. Dimana ada Seira disitu ada Lena. Karena tugas Lena hanya satu yaitu melaporkan setiap gerakan yang dilakukan oleh Seira.
“Tumben Mr. Jhon lama. Biasanya pak tua itu selalu on time.” gerutu Lena.
“Hush, awas nanti dia dengar baru tahu rasa kamu.”
“Aku tidak masalah tidak lulus mata kuliah Mr.Jhon asal pemasukan dari bos Alex tidak berkurang.” Lena berbicara dalam hati. Dengan senyum di wajah yang membuat Seira merasa aneh.
“Woi senyam-senyum. Kesambet kamu ya?” Seira menyenggol lengan Lena dengan lembut. Menatap wajah Lena yang mencurigakan.
“Apa sih ra, ganggu kesenangan aku aja.”
“Kesenangan kamu tuh hanya makan dan uang.”
“Kok kamu tahu. Kamu memang sahabat terbaikku.” Lena memeluk Seira dari samping dengan begitu erat. Menyandarkan kepala di Pundak Seira. Pantas saja bos Alex menyukai gadis ini selain baik Seira juga pengertian orangnya.
“Lepas. Mr. Jhon datang tuh.” Seira menunjuk pintu dengan dagu saat melihat pintu yang berhasil di dorong oleh seseorang dari luar.
Sepatu hitam pantofel yang berbenturan di lantai membuat semua mata teralihkan untuk menatap siapa sosok yang datang. Seorang lelaki yang jauh lebih muda dari Mr. Jhon. Dan pastinya lebih tampan dari dosen killer itu.
Kedua mata Seira tidak dapat berkedip melihat sosok yang dia rindu selama satu bulan ini telah berdiri di hadapannya. Sosok yang dia lihat semakin tampan dan gagah. Bahkan hampir semua mahasiswa mengagumi ketampanan Alex.
__ADS_1
“Lena.” panggil Seira lirih tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Alex.
“Tolong cubit tanganku sekarang.” pintanya. Dia enggan untuk berkedip takut jika sosok yang berdiri dihadapannya tiba-tiba berubah menjadi Mr.Jhon.
“Baiklah, kau yang minta ya.” Lena menyeringai tipis. Kapan lagi dia bisa iseng dengan gadis ini.
“Aw.” Sakit Le-Na.” geram Seira yang merasa cubitan kecil namun terasa sakit.
“Bagaimana sakit? Sudah bangun? Apa kau kira kita sedang bermimpi Mr. Jhon berubah menjadi pria tampan seperti dia?”
“Bagaimana kau bisa tahu apa yang sedang aku pikirkan?” lirih Seira sambil mengelus bekas cubitan Lena yang kini terlihat memerah bahkan hampir membiru.
Ekor mata Alex terus mengawasi interaksi antara Seira dan Lena. Dia ingin mendekat membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Meluapkan kerinduan yang hampir tidak bisa dia tahan.
“Kalian berdua.” tunjuk Alex kepada Lena dan Seira yang masih terlihat asyik mengobrol dengan sebuah pulpen ditangannya. “Temui saya setelah mata kuliah ini selesai.”
“Siapa dia?” tanya salah satu mahasiswi kepada mahasiswi lain di dalam ruangan itu.
“Entahlah. Apa mungkin dia anak dari MR. Jhon?” tebak mahasiswi yang ikut menimpali percakapan temannya.
“Kenapa tidak mungkin?”
“Kalian tidak lihat bagaimana buruk rupanya Mr.Jhon? Bagaimana mungkin bisa pria tua itu memiliki anak setampan dia?”
“Benar juga ya.”
Alex yang mendengar bisik-bisik itu langsung menghentikan aktifitas menulisnya kemudian membalikkan tubuh dengan wajah datar yang terlihat dingin dan berwibawa.
“Jika ingin mengobrol silahkan pergi dari sini. Dan kalian pasti tahu dimana pintu keluar.” ketiga mahasiswi tadi menelan salivanya dengan susah payah saat mendengar ucapan Alex. Ternyata dia sama killernya seperti Mr.Jhon. Pikir mereka bertiga.
Jam kuliah telah usai. Semua mahasiswa satu per satu meninggalkan ruangan. Seira dan Lena masih duduk di tempat. Jika Seira masih sibuk memasukkan bukunya ke dalam tas berbeda dengan Lena yang sibuk berbalas pesan dengan seseorang yang jaraknya hanya beberapa meter darinya.
“Ayo Lena.” Dengan cepat Lena memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas sebelum Seira melihat isi percakapan di dalam ponsel miliknya.
“Kemana?” Seira memicingkan mata menatap sahabatnya.
__ADS_1
“Jangan melihatku seperti itu.”
“Tentu saja ke kantin. Jam kuliah berikutnya masih dua jam lagi. Apa kau tidak lapar ?” Seira beranjak dari kursinya. Namun Lena mencegah dengan memegang pergelangan tangan gadis itu.
“Kau lupa dosen tadi meminta kita untuk datang menemuinya setelah jam kuliahnya selesai.”
“Ayo sebelum dia mengeluarkan tanduk seperti Mr.Jhon kita harus segera pergi untuk menemuinya.” Belum sempat menjawab Lena sudah menarik Seira lebih dulu untuk mengikuti Langkah kakinya.
“Kenapa dia terlihat begitu bersemangat?” gumam Seira menatap Langkah kaki sahabatnya yang begitu lebar.
“Dapat bonus.”hati Lena begitu senang hingga dia tidak melihat jika ekspresi wajahnya sedang diperhatikan oleh Seira.
“Apa Lena suka ya sama kak Alex?” pikir gadis itu.
“Jika Lena menyukai kak Alex apa aku harus membantunya? Kenapa tiba-tiba dadaku terasa sesak saat ada orang lain yang terlihat menyukai kak Alex.” Seira terus bermonolog dalam hati. Menatap senyum di wajah Lena yang terus mengembang di wajahnya. Tanpa dia sadari mereka berdua sudah tiba di depan ruangan Alex.
“Tunggu. Bagaimana kau bisa tahu kalau ini ruangannya?”
“Tentu saja tahu.” Lena tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan bersih.
“Kenapa aku merasa tidak senang ya?” gumam Seira dalam hati.
Lena langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu kayu berwarna coklat terlebih dahulu. Seira terkejut. Bagaimana sahabatnya itu langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dia tahu Lena pemberani. Namun Seira tidak tahu kalo Lena lebih berani dari yang dia pikirkan.
“Siang Mr.” salam hormat Lena pada atasannya.
“Ehm.” jawab Alex yang masih fokus dengan laptopnya.
“Kami sudah disini, untuk apa Mr. meminta kami berdua datang ke ruangan Mr.?” tanya Lena to the point tanpa basa-basi terlebih dahulu.
“Tolong carikan buku ini di perpustakaan dan jangan kembali sebelum dapat.” Alex memberikan judul buku yang harus Lena cari untuk dirinya.
Sejujurnya itu hanya akal-akalan mereka untuk meninggalkan Alex dan Seira berdua di dalam ruangan yang sama.
Ayo tebak apa yang akan Alex dan Seira lakukan selanjutnya?
__ADS_1