Inara, My Baby Sugar

Inara, My Baby Sugar
Bab 10 Season 2


__ADS_3

Bandung


Alex, Roy dan David mengunjungi gudang yang kemarin terbakar. Lokasi itu sudah dipasang garis kuning polisi. Karena memang sedang dalam penyelidikan oleh pihak berwajib setempat. Tidak ada korban jiwa namun ada beberapa karyawan yang mengalami luka ringan dan berat. Salah satu yang mengalami luka berat adalah Pak Nana. Salah satu pekerja yang bekerja saat kebakaran terjadi.


Dan saat ini mereka bertiga sedang berkunjung ke rumah sakit untuk memastikan keadaan para korban yang masih dalam perawatan. Salah satu diantaranya adalah Pak Nana. Pria yang usianya sudah lebih dari setengah abad. Dari informasi yang mereka dapat pak Nana saat ini mengalami patah tulang kaki karena tertimpa tiang Gedung.


Ceklek


Pintu ruang rawat kelas tiga terbuka. Memperlihatkan beberapa orang di dalam dengan satu anggota keluarga yang menemani. Di ujung ruangan pak Nana ditemani oleh putrinya yang bernama Mita.


Ketiga pria dari Jakarta itu melangkah masuk ke dalam. Mengamati satu per satu semua pasien yang ada di dalam ruangan. Hampir semua pasien rata-rata sudah tua. Hingga mereka bingung mana yang merupakan karyawan mereka.


“Maaf mengganggu istirahat kalian. Siapa diantara kalian yang bernama pak Nana?” tanya David dengan sopan.


Suasana hening sejenak sebelum akhirnya pak Nana bersuara saat menyadari mereka adalah bosnya.


“Ada apa kalian bertiga mencari saya.” tuturnya dengan penuh sopan.


Ketiga pasang mata itu langsung menoleh kearah sumber suara. Ketukan sepatu fantofel hitam dengan lantai mengiringi langkah mereka menuju brankar dimana pak Nana terbaring.


“Selamat siang pak. Bagaimana keadaan bapak saat ini?” tanya David.


“Apa mereka tidak lihat bagaimana kondisi ayah saat ini.” gerutu Mita.


“Bapak baik-baik saja nak.”


“Ayah.” Mita merasa kesal dengan jawaban ayahnya. Bagaimana bisa ayahnya berkata jika beliau baik-baik saja. Sedangkan hasil rontgen menunjukkan kaki kanan ayahnya patah. Dan butuh waktu yang tidak sebentar untuk sembuh.


“Syukurlah kalo begitu.”


“Ayahku sekarang cacat dan dia tidak bisa lagi mencari nafkah. Sekarang bagaimana tanggung jawab kalian sebagai pemimpin?” Roy terlihat kesal dengan gadis yang duduk di samping brankar pak Nana. Namun tidak dengan David dan Alex karena dia memahami kondisi pak Nana saat ini. Terlebih dia mendengar jika anak satu-satunya masih kuliah dan pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit.


“Kau kan sudah besar. Kenapa tidak kau saja yang bekerja?” Roy menatap Mita dengan sengit pun sebaliknya Mita juga memberikan tatapan yang tidak ramah.


“Roy.” tegur Alex dan David secara bersamaan.

__ADS_1


“Gadis ini menyebalkan kau tahu itu kan.” bisik Roy di dekat Alex namun masih terdengar di indera pendengaran Mita yang tajam.


“Kalau begitu keluarlah. Kami tidak butuh orang-orang seperti kalian.” Mita mengusir ketiga pria itu secara terang-terangan.


“Apa katamu?” Roy semakin geram dengan ucapan-ucapan yang keluar dari mulut Mita.


“Roy tenanglah.” Alex memegang lengan Roy meminta agar dia bisa lebih tenang.


“Kalian kalau berisik jangan disini. Ini rumah sakit kami butuh istirahat.” tegur salah satu pasien yang mulai terganggu dengan perdebatan mereka.


“Mita bersikap sopanlah kepada orang lain. Ayah menyekolahkanmu tinggi-tinggi bukan untuk tidak sopan seperti ini.” Pak Nana mulai menegur putrinya yang sudah kelewatan mengusir mereka bertiga. Terlebih mengusir ketiga bosnya.


“Maafkan Mita ayah.”


“Minta maaflah kepada mereka.”


“Tapi yah.” saat Mita ingin protes akan perintah sang ayah,pak Nana lebih dulu melebarkan pupil mata hingga dengan berat hati Mita meminta maaf kepada Roy.


“Maafkan ketidak sopanan saya tuan-tuan.”ucap Mita menundukkan sedikit kepalanya.


“Nah begitu kan enak.” ujar Roy.


Mita melihat gerakan kecil yang dilakukan Alex. Kedua matanya kemudian menatap sosok lelaki tinggi dengan wajah blesteran yang menurutnya sangat tampan. Hingga beberapa detik gadis itu tidak berkedip memandang makluk ciptaan Tuhan yang terukir indah yang sedang bediri di sampingnya. Membuat jantungnya tiba-tiba berdebar.


“Ya Tuhan baru kali ini aku melihat ciptaanmu yang begitu tampan.” gumamnya dalam hati mengagumi ketampanan Alex.


“Jaga tuh mata, dia sudah ada yang punya.” suara Roy berhasil mengalihkan pandangan Mita .


“Dasar laki-laki tidak jelas.” gerutu Mita.


Tidak ingin perdebatan antara Mita dan Roy semakin panjang Alex pun berjalan mendekat ke sisi ranjang pak Nana. Melihat kaki pak Nana yang dipasang dengan gips. Dan beberapa luka ringan di kepala dan tangan.


“Pak Nana tidak perlu khawatir perusahaan akan menanggung semua biaya rumah sakit.”


“Dan perusahaan juga akan menanggung biaya kuliah anak Bapak hingga lulus nanti.” sambung Alex.

__ADS_1


“Terima kasih nak.” tutur pria paruh baya itu dengan tulus.


“Kalau begitu kami pergi pamit. Semoga Anda lekas sembuh.” Alex, David dan Roy meninggalkan ruangan pak Nana.


Tidak ingin kehilangan kesempatan Mita pun mengejar mereka. Bangkit dari duduknya berjalan cepat seperti sedikit berlari Mita segera keluar dari ruang rawat.


“Mita kau mau kemana nak?” tanya pak Nana yang melihat purtinya tiba-tiba keluar.


“Sebentar yah.” ucap Mita sedikit berteriak namun tidak terlalu kencang.


Di depan pintu Mita menoleh ke kanan dan kiri. Mencari ketiga pemuda yang sebenarnya tampan semua namun yang paling tampan adalah lelaki blesteran itu. Karena banyak orang yang berlalu Lalang di rumah sakit membuat Mita sedikit kesulitan mencari mereka.


“Cepat sekali mereka menghilang.”


Karena panggilan alam Mita pun pergi ke toilet rumah sakit untuk buang air kecil. Dengan cepat Mita menyelesaikan hajatnya. Dia tidak ingin kehilangan jejak pemuda Jakarta tadi. Setelah menyiram bekas kencingnya dengan air Mita segera keluar toilet.


Saat membuka pintu Mita tiba-tiba menarik kedua sudut bibirnya melihat seseorang yang baru saja keluar dari pintu toilet khusus laki-laki.


“Tuan tunggu.” panggil Mita.


“Dia lagi.”


“Apalagi?” ketus Roy yang masih kesal dengan Mita.


“Ehm…” Mita menggaruk lehernya yang tidak gatal sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia nampak sedang mencari alasan untuk bertanya.


“Cepatlah ada apa kau memanggilku. Aku sibuk. Tidak ada waktu untuk meladenimu.”


“Dasar lelaki jutek.” kesal Mita dengan mulut yang terlihat komat kamit seperti sedang membaca sebuah mantra.


“Apa katamu?” ucap Roy penuh selidik yang melihat bibir Mita seolah sedang mengumpat dirinya.


“Hehe tidak ada tuan.” Mita tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang rapi.


Roy melangkah pergi ingin meninggalkan gadis itu. Rasanya berlama-lama dengan dia membuat emosi Roy menjadi kacau. Baru satu kaki melangkah gerakannya sudah ditahan oleh Mita.

__ADS_1


“Tunggu tuan.” dengan berani Mita memegang lengan Roy. Lelaki itu menatap Mita dengan kesal. Kemudian tatapannya beralih pada tangan kecil yang memegang lengannya. Mita mengikuti arah pandang lelaki itu. Menyadari sesuatu Mita segera melepaskan tangannya dari lengan Roy.


“Maaf.”


__ADS_2