Inara, My Baby Sugar

Inara, My Baby Sugar
Bab 17 season 2


__ADS_3

“Seira.” panggil Lena saat melihat lagi-lagi Seira sedang melamun beberapa hari ini.


“Ehm.” rasanya begitu malas menghadapi hari-hari yang ia lalui disini. Entahlah seperti ada yang membuat dirinya begitu tidak bersemangat. Terutama semenjak kepulangan Alex beberapa hari lalu ke Indonesia. Terlebih waktu itu Seira tidak dapat mengantar kakaknya ke bandara karena ada ujian mendadak yang dilakukan dosennya.


“Boleh aku bertanya?” Lena meletakkan tas dan mendudukkan diri disamping Seira menghadap gadis itu.


“Apa?” Seira menatap Lena yang juga sedang menatap dirinya.


“Kenapa beberapa hari ini kau seperti orang linglung, kerjamu hanya melamun, melamun dan melamun?” Seira meletakkan kepala diatas meja dengan kedua tangan sebagai tumpuan.


“Apa kau sakit?” Lena secara reflek meletakkan punggung tangannya diatas dahi Seira.


“Tidak panas.”


“Tentu saja tidak bukan tubuhku yang sakit tapi…” Seira menggantung ucapannya. Tidak mungkin dia memberitahu Lena jika dirinya kehilangan semangat karena ditinggal oleh dosen yang menggantikan dosen killer kemarin.


“Tapi apa? Kau jangan membuatku penasaran.”


“Ah sudahlah percuma saja kalau aku jelaskan. Kamupun tidak akan mengerti.” Seira membalikkan wajah yang tadinya menghadap Lena kini membelakangi sahabatnya.


“Bagaimana jika aku tahu solusi dari masalahmu? Bukankah lebih baik jika kau memiliki teman untuk bercerita daripada kau pendam sendiri. Lama-lama nanti bisa berubah jadi penyakit yang menyeramkan jika kau pendam sendiri. Apa kau mau seperti itu?” Lena menakut-nakuti Seira agar sahabatnya itu mau bercerita.

__ADS_1


“Kau itu cerewet sekali.” Seira mengangkat wajahnya dari atas meja. Dukduk menyamping menghadap Lena. Gadis itu mulai bercerita dari semenjak ditinggal kakaknya dia merasa tidak semangat untuk melakukan aktifitas apapun sekarang. Dan rasanya Seira ingin kembali saja ke Indonesia. Namun dia tidak bisa sebab ini adalah keputusan dirinya untuk melanjutkan pendidikan keluar negeri. Sekarang gadis itu merasa bimbang.


“Oh karena itu.” Seira memicingkan mata merasa kata-kata yang keluar dari mulut Lena tidak sesuai dengan ekspektasi yang Seira pikirkan. Dia kira sahabatnya itu akan memberikan sebuah solusi yang membuat hatinya sedikit tenang ataupun merasa lega.


“Jawaban macam apa itu. Sudahlah lain kali aku malas bercerita denganmu.” kesal Seira mengambil tas miliknya kemudian keluar dari dalam ruangan.


“Hei kau mau kemana? Sebentar lagi mata kuliah dimulai.” Seira tidak menjawab ucapan Lena. Gadis itu terus saja berjalan tanpa melihat atau menoleh ke belakang.


“Haish dia ini.” Lena pun menyambar tas dan mengikuti kemana Seira pergi.


Sementara di Jakarta


Alex, dan Roy kembali membangun sebuah perusahaan yang bergerak di bidang design. Perusahaan yang menjual berbagai macam design karya anak bangsa yang bagus dan menarik. Yang mereka pasarkan di pasar dalam negeri dan luar negeri. Sedangkan untuk perusahaan daddynya dia serahkan kepada David. Karena Alex yakin dengan kemampuan David perusahaan daddynya akan bangkit kembali. Dibantu dengan Bryan yang sedang mengembangkan kemampuannya dalam bisnis.


“Semua beres kecuali…” Roy menghentikan ucapannya. Dan Alex sudah dapat menebak apa yang membuat Roy menghentikan ucapannya.


“Apa yang wanita itu inginkan?”


“Dia hanya salah satu gadis pemuja gunung es yang hanya bisa cair jika matahari di Paris sudah berpindah ke Indonesia.” kesal Roy sudah berkali-kali lelaki itu membujuk salah satu pejabat untuk menjual tanah yang dia miliki. Meski dia menawari pejabat itu dengan harga fastastis tetap saja pejabat itu menolak. Dengan alasan uang yang dia miliki sudah lebih dari cukup.


Alex menghela nafasnya dengan panjang. Inilah yang Alex paling tidak sukai. Urusan bisnis dicampur adukkan dengan urusan pribadi.

__ADS_1


“Kau terima saja cinta gadis itu. Ya Sebulan atau dua bulan untuk memenuhi syarat agar dia mau menjual tanahnya kepada kita.”


“Kau pikir akan semudah itu.”


“Tentu saja.” Roy mendaratkan tubuhnya diatas sofa yang tersedia di dalam ruangan tersebut.


“Apa kau pikir otak lelaki tua itu tidak licik?” Alex berbicara dengan aura yang dingin dan ekspresi yang datar. Pandangan matanya lurus kedepan namun pikiran dia penuh dengan rencana yang sudah dia pikirkan jika rencana Roy gagal.


“Tentu saja, bagaimana dia bisa sekaya itu jika otaknya tidak licik. Gaji pejabat tidak akan mampu untuk membeli rumah seharga puluhan milyar dan mobil mewah yang begitu banyak di garasinya.” Roy menerawang ingatan dimana dia pernah membujuk pejabat itu di rumahnya. Dan Roy tidak menyangka jika rumah pejabat itu begitu mewah dan banyak mobil sport maupun mobil mewah yang berjejer rapi di garasi rumahnya.


“Apa menurutmu ada oknum pemerintah yang membantu dia?” tanya Roy yang mulai memikirkan apakan ada orang dalam pemerintahan negara yang melindungi pejabat itu. Sebab bagaimana mungkin dia bisa lolos dari audit kekayaan negara dan tidak tertangkap oleh KPK.


“Itulah tugasmu cari tahu siapa oknum pemerintah itu. Kita gunakan dia sebagai senjata untuk menekan si tua bangka itu agar mau menjual tanahnya.”


“Apa kau tidak ada niat untuk memacari anaknya? Dia cantik dan sexy. Bodinya….” Roy meliukkan kedua tangan membentuk bagaimana lekuk tubuh anak pejabat itu.


“Auw.” Roy memegang kening yang terkena lemparan pulpen yang baru saja melayang mengenai kepalanya.


“Jika kau mau untukmu saja.”


“Tapi sayangnya dia hanya mau denganmu. Sudahlah aku harus ke ruanganku. Menggunakan otak cerdasku untuk menembus data pemerintahan. Mencari apa Dan jangan ganggu aku sebelum aku keluar ruangan.

__ADS_1


“Semoga selesai sebelum Seira pulang ke sini.”


__ADS_2