
Dua tahun kemudian
Sebuah pesawat berhasil mendarat di bandara internasional Soekarno-Hatta, Tangerang. Dua orang gadis cantik dengan baju yang berbeda style keluar dari pintu keluar penerbangan Internasional. Penampilan yang berbeda dari sebelumnya, kedua wanita itu lebih cantik, lebih anggun dan lebih elegan tentunya.
Dengan ilmu yang mereka dapatkan tidak sulit bagi keduanya untuk merancang sebuah baju yang trend dan fashionable. Dia tidak memberi tahu siapapun tentang kepulangannya ke Indonesia karena Seira ingin memberikan kejutan untuk keluarganya.
Berhubung Lena tidak memiliki siapapun di dunia ini maka Seira mengajak sahabatnya itu untuk tinggal di Indonesia bersama dirinya. Dan dengan senang hati Lena menerima. Karena selama beberapa tahun ini dia sudah menganggap Seira seperti saudara sendiri.
“Aku beritahu bos atau tidak ya kalau Seira pulang ke Indonesianya hari ini bukan minggu depan. Ah sudahlah biarkan saja ini menjadi sebuah kejutan untuk dia. Lagipula pengawal juga tidak ada.” Lena menatap ponselnya sambil bermonolog dalam hati.
“Kenapa?” tanya Seira saat melihat Lena terlihat bingung.
“Tidak ada.” Lena memasukkan kembali ponsel miliknya ke dalam tas.
“Ayo, ini kopermu.” Seira menyerahkan koper milik Lena yang sebelumnya dia ambil.
“Terima kasih.”
Keduanya berjalan keluar menuju taksi online yang sudah dipesan sebelumnya oleh Seira.Kemudian Seira dan Lena membuka pintu di sisi yang berbeda setelah sebelumnya memasukkan koper ke dalam bagasi.
“Sesuai tujuan ya nona.” ucap pengemudi taksi online.
“Iya pak.” ucap mereka secara bersamaan kemudian saling melempar senyum.
“Iya aja memang kamu sudah tahu rumah aku dimana?”
“Belum.” Lena tersenyum sambil menggaruk sebelah pipinya yang terasa tidak gatal.
“Dasar.”
“Seira, apa tidak sebaiknya aku tinggal di hotel saja atau menyewa sebuah apartment mungkin disini?” Lena merasa sungkan jika harus tinggal di rumah Seira. Terlebih dia takut keluarga Seira tidak bisa menerima dirinya.
“Sudahlah tidak usah berpikir macam-macam. Keluarga aku semua baik. Terlebih dengan sahabat anaknya.” Seira meyakinkan Lena kembali untuk tetap tinggal bersama dirinya.
“Baiklah. Tapi setelah mendapat pekerjaan aku akan menyewa sebuah rumah atau apartemen ya.”
__ADS_1
“Iya-iya kau itu cerewet sekali.”
“Oh iya ngomong-ngomong soal pekerjaan, nanti aku akan minta bantuan papa untuk merekomendasikan kita di salah satu perusahaan fashion terbesar di sini.” ucap Seira yang begitu antusias. Sebab dia sudah memiliki beberapa design baju yang akan dia gunakan untuk wawancara.
“Tidak perlu repot-repot mencari. Perusahaan itu sudah ada untukmu.” lirih Lena menatap wajah Seira yang begitu teduh dengan cahaya matahari senja yang menerpa wajahnya membuat gadis itu terlihat semakin cantik.
Hampir satu setengah jam mobil yang mereka tumpangi melaju membelah kemacetan jalanan ibukota. Cahaya matahari sudah berganti dengan cahaya bulan. Dan mobil diminta untuk berhenti di dekat pos penjagaan sehingga tidak ada suara mobil yang terdengar dari dalam rumah.
“Mbak Seira.” sapa penjaga pos.
“Iya pak.” Seira melempar senyum ke penjaga tersebut.
“Kenapa tidak sampai depan rumah mbak?”
“Seira mau kasih kejutan pak.”
“Oh gitu sini mbak biar bapak saja yang bawa kopernya.” penjaga itu mengambil alih dua koper di tangan Seira dan Lena. Kemudian berjalan mengekor di belakang kedua gadis itu.
“Terima kasih ya pak.” ucap Seira begitu mereka sudah tiba di depan pintu rumah. Tidak lupa Seira memberi penjaga tadi dengan selembar uang sebagai tanda terima kasih.
“Sama-sama mbak. Kalau begitu bapak kembali ke pos jaga ya mbak.” penjaga itu pergi setelah Seira mengiyakan ucapannya.
Ting tong
Bel berbunyi setelah Seira menekan tombol bertuliskan bel disini. Emily yang sedang menonton televisi langsung bangkit saat mendengar bel berbunyi. Gadis kecil itu pikir kak Alex yang pulang makanya dia bersemangat untuk membukakan pintu.
Ceklek
Pintu kayu berwarna cokelat berhasil dibuka dari dalam. Emily yang terlihat terkejut sampai membungkam mulut dengan kedua tangannya.
“Apa kabar adikku yang paling kecil?” sapa Seira sambil mengacak-acak poni anak itu.
“Kakak.”
“Iya ini kakakmu. Apa kau tidak akan membiarkan kakak masuk cantik?” Seira sedikit membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Emily yang terlihat sangat terkejut.
__ADS_1
“Sungguh? Kenapa kakak semakin cantik saja? Emily juga ingin lebih cantik seperti kakak. Ajari Emily ya kak, please.” Emily mengatupkan kedua tangannya di depan dada memohon kepada Seira untuk membuatnya terlihat cantik seperti sang kakak.
“Boleh, tapi Emily minggir dulu kakak mau masuk.” Emily langsung menggeser tubuhnya yang sebelumnya berdiri tepat di tengah pintu.
“Mama, Papa, kak Bryan cepat kesini lihat siapa yang datang.” teriak Emily dengan sekuat tenaga.
“Seira.” Mama yang baru saja keluar dari kamar langsung berhambur memeluk putri sulungnya. Betapa dia merindukan putrinya itu. Putri yang masih dia anggap sebagai anak kecil. Kini telah berubah menjadi wanita yang cantik dan anggun.
“Papa.” Seira memeluk ayahnya setelah pelukan mama yang cukup lama terlepas dari tubuhnya.
Bryan masih berdiri di tempatnya. Kedua tangan dia masukkan ke dalam kantong celana. Menatap santai kepada kakaknya.
“Kenapa pulang tidak memberitahu kami sayang. Jika kau menghubungi papa pasti papa akan menjemput putri papa ini.” Papa mengurai pelukan setelah mengatakan itu.
Seira tersenyum memandang wajah papanya yang masih terlihat tampan di usianya yang sudah senja. “Kejutan pa.”
“Kau ini.” Papa mencubit hidung Seira dengan lembut tanpa menimbulkan rasa sakit disana. Seira menatap satu per satu semua anggota keluarga. Dia terlihat seperti mencari seseorang. Bryan menyunggingkan kedua sudut bibirnya saat tahu apa yang sedang dicari oleh Seira.
“Kak Alex belum pulang. Mungkin sebentar lagi.” ucap Bryan dengan santai.
“Iya, kak Alex lama sekali pulangnya. Tadi aku pikir kak Seira itu kak Alex makanya Emily semangat buat bukain pintu. Eh ternyata yang datang kak Seira.” timpal Emily dengan begitu ceriwisnya.
“Jadi Emily tidak senang jika kakak pulang, ehm.”
“Bukan begitu kak. Aku suka kakak pulang dan aku juga suka kak Alex pulang. Bagaimana jika kak Alex dan kak Seira pulangnya bareng setiap hari. Sepertinya kalian cocok satu tampan dan yang satu cantik. Kenapa kalian tidak menikah saja seperti mama dan papa?” celoteh Emily.
“Siapa yang akan menikah?” suara itu bukan berasal dari dalam rumah melainkan seseorang yang baru saja masuk dari arah pintu. Semua mata langsung tertuju ke sumber suara. Jantung Seira berdegup begitu kencang saat suara derap langkah sepatu bergesekan dengan lantai berjalan semakin mendekat.
Deg
Alex terdiam, mematung di tempat saat matanya bertemu dengan mata seseorang yang sangat dia rindukan. Byan melihat interaksi keduannya pun dengan papa Sean. Dia menatap putra dan putrinya secara bergantian. Wajahnya datar seperti sedang menebak sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.
...****************...
...Hai bestie tolong kasih rating bintang 5 ya...
__ADS_1
...dan semangati author dengan komentar dari...
... kalian. Karena jika tidak ada yang komen rasanya karya author tuh tidak diminati jadi seperti tidak ada semangat untuk menulis😁🙏👍...