
“Sial.” teriak Adnan di dalam jeruji besi merasa menyesal karena telah melakukan hal bodoh.
Seharusnya dia berpikir dengan matang sebelum bertindak. Menyusun rencana tanpa meninggalkan jejak. Sayang seribu sayang semua sudah terjadi menyesal pun percuma. Entah berapa lama dia harus berada di tempat yang sempit dan dingin seperti ini. Bukan dingin karena AC melainkan dingin karena tidur beralaskan lantai. Tidak ada fasilitas mewah dan tidak ada makanan enak.
“Kak Adnan.” Ana memanggil nama kakaknya yang baru saja keluar.
“Kenapa kakak bisa berada disini?” tanya Ana.
“Jangan pura-pura tidak tahu dan jangan sok peduli dengan ku.” ucap Adnan yang sudah merasa malas melihat wajah ibu dan adik perempuannya.
“Adnan.” teriak ibunya.
“Ibu kecewa padamu. Kenapa kamu begitu bodoh.” Adnan tertawa sinis dia tidak peduli dengan ucapan ibunya. Sejak kapan wanita tua itu peduli dengan dirinya. Yang ada di dalam hidup ibunya hanya uang, uang, dan uang.
“Benar aku bodoh aku mencintai Inara, apa kalian tahu?” ucap Adnan penuh dengan penegasan.
Plak
Sebuah tamparan mendarat di pipi Adnan. Itu diberikan oleh ibunya saat mendengar pengakuan dari putra sulungnya. Bagaimana dia bisa berpikir untuk mencintai Inara sedangkan dia adalah adik tirinya saat ini.
“Ibu.” Ana memeluk bahu ibunya berusaha menenangkan ibunya yang sedang dikuasai oleh amarah.
“Bagaimana bisa kau mencintai Inara sedangkan dia itu adikmu. Apa kau sudah gila!” nafas wanita itu terengah-engah dadanya kembang kempis naik turun sekuat tenaga dia menahan sesak di dada karena emosi. Ana dan ibunya merasa iba saat memandang wajah Adnan yang penuh dengan lebam. Bahkan masih ada noda darah yang mengering di sudut bibir putarnya. Ada rasa bersalah yang menjalar setelah tamparan itu mendarat di pipi Adnan.
“Tentu saja bisa, dia cantik dia baik dan yang pasti dia tidak sehina kalian yang menjebak pria kaya untuk bisa hidup layak dan nyaman. Bahkan sengaja mencampur minuman pria tua itu dengan racun setiap hari agar pria itu segera mati dan kalian bisa dengan mudah menguasai hartanya.” Adnan merasa terpancing emosi ketika ibunya berkata dirinya sudah tidak waras atau gila.
__ADS_1
“Bagaimana kau bisa tahu?” ucap ibu Adnan yang terlihat terkejut dengan ucapan putranya selama ini Adnan tidak tahu kalo dia dan Ana sudah melakukan cara licik seperti itu. Melihat reaksi ibunya lagi-lagi Adnan tersenyum mengejek.
“Tidak ada kejahatan yang tidak meninggalkan jejak bu.” ucap Adnan.
Semula bermula ketika Adnan sedang mencari Ibunya. Dia ingin memberi tahu bahwa proyek yang dia tangani untuk pertama kalinya telah berhasil. Dan dia mendapat bonus yang besar. Karena itu dia ingin mengajak Ibu dan adiknya untuk makan malam bersama merayakan keberhasilannya.
Adnan mencari ke setiap sudut rumah dan sepertinya ibunya tidak sedang berada di rumah. Adnan memutuskan untuk memberikan kejutan kepada ibunya dengan menaruh sekantong uang yang dia masukkan dalam amplop coklat kemudian menaruhnya ke dalam laci yang berada di dalam lemari ibunya.
Saat hendak menutup pintu almari Adnan melihat bungkus plastik yang berisi serbuk putih. Adnan pikir mungkin Ibunya mulai mengkonsumsi obat-obatan terlarang ataupun narkoba. Karena penasaran akhirnya Adnan memasukkan serbuk itu ke dalam kantong miliknya.
Keesokannya Adnan pergi ke dokter ingin memastikan barang ap aitu. Setelah diteliti oleh ahlinya ternyata itu adalah racun pelumpuh syaraf. Awalnya dia berfikir untuk apa ibunya mengkomsi obat itu. Namun saat papa Inara masuk rumah sakit baru dia tahu obat itu untuk siapa.
“Ibu akan telepon pengacara kita untuk membantumu.”
“Untuk apa repot-repot telepon jika pengacara sudah ada disini.” suara itu seperti tidak asing buat mereka. Dialah tuan Abi, berjalan masuk dengan asisten dan pengacara pribadinya. Ana dan ibunya terlihat bahagia dia pikir suaminya akan membantu putranya keluar dari tempat itu.
Tuan Abi mendekat tidak ada senyum yang dia tunjukkan. Ibu Ana pun langsung mendekati tuan Abi ingin memeluk lengan suaminya namun ditepis oleh tuan Abi. Dia sudah muak dengan wanita itu. Dan semua harus dia selesaikan hari ini.
“Dengarkan aku. Seandainya putriku mencintaimu aku tidak akan membiarkan Inara bersamamu.” tangan Adnan mulai terkepal sorot matanya mulai memancarkan ketidaksukaan dengan ucapan papa tirinya itu. Tuan Abi pun membalas dengan sorot mata yang tidak kalah tajam hingga menciutkan nyali Adnan.
“Dan kau apa kamu pikir aku terlalu bodoh untuk tidak mengetahui rencana licikmu.” ucap tuan Abi dengan sorot mata yang mengintimidasi istrinya.
“Apa maksudmu?” tanya ibu Ana dalam kepura-puraannya.
“Pengacara.” panggil tuan Abi kemudian pengacara memberikan selembar kertas untuk ditandatangani oleh Ibu Adnan. Membaca judulnya saja sudah membuat wanita itu naik pitam. Apalagi saat membaca point demi point tinta hitam yang terukir rapi di kertas itu.
__ADS_1
“Aku tidak mau tanda tangan.” tolak Ibu Ana karena dalam kertas itu dia tidak diuntungkan sama sekali.
“Baiklah kalau itu maumu.” Tuan Abi bertepuk tangan sebanyak tiga kali mengisyaratkan orang untuk masuk ke dalam. Ana yang melihat dua orang wanita berseragam polisi lain masuk mulai ketakutan. Wajahnya sudah pucat pasi. Tangannya mulai gemetar saat memegang lengan ibunya.
“Ibu.” lirihnya.
“Apa maksudnya ini?” ibu Adnan masih terlihat angkuh dengan ucapannya saat bertanya.
Kedua polisi itu mulai memegang kedua tangan Ana dan ibunya. Adnan diam karena memang dia tidak dapat melakukan apa-apa. Dia hanya pasrah menerima hukuman yang akan dia jalani. Sejujurnya Adnan lelaki baik mungkin dia hanya salah langkah sehingga membuatnya dirinya tersesat di jalan yang salah.
“Lepaskan.” berontak kedua wanita itu.
“Silahkan bawa mereka bu polisi.” ucap tuan Abi tanpa memandang wajah Ana dan ibunya.
“Tunggu, atas dasar apa kalian menangkap kami?” teriak ibu Adnan.
“Bukti! Kau ingin bukti. Baiklah.” Tuan Abi memberikan laporan hasil lab yang putrinya berikan dulu. Yang menerangkan bahwa di dalam tubuh papanya banyak mengandung racun. Kemudian dia juga memperlihatkan hasil rekaman CCTV yang memperlihatkan wanita itu sedang menuang serbuk putih ke dalam minuman. Selain itu dia juga menemukan sisa serbuk itu di dalam almari milik istrinya itu. Dan masih banyak bukti lain yang bisa memberatkan keduanya.
“Bagaimana apa ini sudah cukup atau kalian ingin bukti yang lain?”
“Tidak aku tidak ingin dipenjara.” gumam ibu Adnan kemudian wanita itu berlutut di hadapan suaminya meminta ampun supaya dia tidak dihukum atas perbuatannya.
“Mas, maafkan aku mas aku bersalah. Aku khilaf mas ampuni kami mas. Aku mohon.” Ibu Adnan berderai-derai air mata meyakinkan suaminya untuk dibebaskan. Dia juga mengisyaratkan Ana untuk melakukan hal yang sama. Ana yang paham maksud ibunya pun kemudian ikut berlutut memegang salah satu kaki papanya. Memohon hal yang sama untuk dibebaskan.
Hati tuan Abi sudah beku dia tidak akan mudah terpengaruh dengan air mata palsu mereka. Adnan yang mulai jengah dengan sandiwara ibunya lebih memilih untuk kembali masuk ke dalam.
__ADS_1
“Tunggu.”