Inara, My Baby Sugar

Inara, My Baby Sugar
Penusukan


__ADS_3

Inara memakai mini dress yang panjangnya selutut. Memiliki corak garis tebal vertikal dengan warna cream sangat cocok dengan warna kulit Inara. Tidak ketinggalan sepatu sneakers dan aksesoris berupa kacamata dan tas selempang yang menggantung di bahu. Tidak lupa memoles wajah dengan make up yang tipis agar terlihat natural.


Keluar kamar Inara bertatapan dengan Adnan. Lelaki itu begitu memuja kecantikan Inara. Dari jauh Inara sudah memberikan senyum untuk kakak tirinya itu. Membuat jantung Adnan berdegub lebih kencang.


“Kak Adnan.” sapa Inara.


Lelaki itu menghirup aroma parfum yang biasa dipakai Inara. Wangi bunga lili yang begitu harum. Wangi yang menjadi favorit Inara selain wangi vanilla.


“Kau sungguh cantik Inara.” puji Adnan yang tidak bisa berkedip ketika menatap gadis yang dulu suka menangis di dalam pelukannya kini berubah menjadi wanita dewasa yang begitu mempesona dimatanya.


“Terima kasih.” kemudian Inara memeluk Adnan seperti memeluk kakaknya. Namun tingkah Inara yang seperti ini membuat Adnan menjadi salah paham. Karena sejatinya memang tidak ada hubungan darah diantara mereka. Adnan memejamkan mata menghirup aroma sampo dari rambut Inara yang menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya.


Tuan Abi baru saja pulang bekerja. Melihat Inara dan Adnan saling berpelukan membuat perasaannya menjadi khawatir. Ada ketakutan tersendiri yang dirasakan oleh seorang ayah terhadap putrinya.


“Aku harus memperingatkan Inara untuk menjaga jarak dengan Adnan. Aku tidak ingin Adnan berbuat nekat dan membahayakan putriku.” batin tuan Abi kemudian mendekati mereka berdua.


“Inara, Adnan.”panggil tuan Abi membuat Inara mengurai pelukan dengan kakak tirinya.


“Datang di waktu yang tidak tepat.” kesal Adnan dalam hati yang melihat papa tirinya sudah kembali di jam yang masih terbilang sore.


“Papa sudah pulang.” Tuan Abi tersenyum mendengar pertanyaan purtinya.


“Kau cantik sekali. Mau pergi kemana?” tanya tuan Abi setelah melihat penampilan putrinya. Tidak terasa putri kecil yang dulu selalu dia gendong kini sudah menjelma menjadi wanita dewasa yang cantik seperti ibunya.


“Ehm…Inara ada janji dengan Mila pa.” Inara tidak berbohong dia memang ada janji dengan sahabatnya tapi dengan pasangan masing-masing tentunya.


“Baiklah hati-hati dijalan.” Inara kemudian mencium punggung tangan papanya kemudian melambaikan tangan kepada Adnan berpamitan untuk pergi.


“Adnan.” Langkah lelaki itu terhenti saat ingin mengikuti Inara. Sepertinya Tuan Abi dapat membaca apa yang ingin dilakukan oleh anak tirinya itu. Adnan berusaha mengendalikan diri untuk tidak terlihat kesal sebelum berbalik menghadap papa tirinya.


“Ada apa pa?”

__ADS_1


“Apa kau akan kembali ke apartemen?”


“Adnan akan kembali setelah ibu dan Ana pulang pa.”


“Kemana mereka pergi?”


“Mall.”


"Bersenang-senanglah sebelum kalian kehilangan semua." batin tuan Abi dengan senyum tipis di kedua sudut bibirnya


********


Sedangkan Nail merasa hatinya begitu sakit setelah mengetahui kebenaran hubungan Inara dengan Sean. Tadi pagi Inara memberi jawaban yang begitu jelas. Jawaban yang membuat hatinya hancur berkeping-keping. Bagaimana tidak Inara adalah gadis yang dia suka selama hidupnya. Jatuh cinta dan patah hati dia rasakan di waktu yang bersamaan. Nail merasa kalah sebelum berperang dan merasa ditolak sebelum menyatakan perasaan.


Nail merasa galau dia meninggalkan kelas dan memutuskan untuk pulang ke mansion miliknya. Mengambil wine koleksinya yang dia simpan di ruangan khusus kemudian membawanya ke dalam kamar.


Membuka botol kemudian meminumnya langsung tanpa menggunakan gelas. Kata-kata Inara yang menyebutkan bahwa Sean adalah kekasihnya terus terngiang di telinga Nail.


“Lelaki itu namanya Sean. Dia adalah kekasihku.” Inara berucap dengan wajah yang begitu bangga dan bahagia. Membuat Nail semakin merasa frustasi.


Inara sudah berada di ruang kerja milik Sean. Menunggu lelaki itu yang masih ada rapat. Inara duduk memainkan ponsel miliknya sambil menunggu Sean selesai dengan rapatnya. Dia meletakkan paper bag yang berisi celana jeans dan kaos di atas meja. Yang sebelumnya dia beli di dalam sebuah distro di pinggir jalan.


Seseorang mengetuk pintu membuat dia harus menghentikan aktifitasnya dan bangkit untuk membuka pintu.


“Mila.” Gadis itu masuk melewati tubuh Inara begitu saja. Gadis itu terlihat kesal karena jadwal kencan menjadi mundur dari waktu yang sudah ditentukan karena ada rapat dadakan di perusahaan Sean.


Inara tahu kenapa Mila kesal. Kemudian mendudukkan diri di samping sahabatnya yang sedang memanyunkan bibir dengan kedua tangan yang terlipat di dada.


“Sudahlah jangan sampai wajahmu berubah menjadi jelek karena kesal. Dan Devan malah membatalkan kencan kita.” Mendengar ancaman yang keluar dari mulut Inara membuat rasa kesal di hati Mila mulai mereda.


Suara derap langkah sepatu yang mengetuk-etuk lantai terdengar semakin mendekat. Menampakkan dua sosok tampan yang menjadi pujaan hati masing-masing gadis itu dari balik pintu yang terbuka. Wajah Lelah Sean dan Devan yang sebelumnya terlihat tiba-tiba menguap begitu saja saat melihat bidadari tak bersayap mereka sudah menunggu.

__ADS_1


“Berangkat sekarang?” tanya Sean.


Inara mengambil paper bag yang sempat dia letakkan diatas meja kemudian memberikannya kepda Sean. Meminta lelaki itu untuk berganti baju. Pun dengan Mila yang menyerahkan baju ganti untuk Devan.


Karena hari sudah menjelang malam akhirnya mereka memutuskan untuk membatalkan pergi ke taman hiburan dan memilih menikmati makan malam di The Pier By Kalaha. Tempat ini memiliki area makan yang berada di atas laut. Suasana yang benar-benar romantis apalagi di malam hari bersama pasangan dengan lilin-lilin yang menghiasi meja mereka.


“Apa kalian suka?” tanya Sean kemudian menarik salah satu kursi untuk Inara duduk.


“Suka. Ini sangat indah.” jawab Inara yang disetujui oleh Mila yang begitu takjub melihat indahnya Jakarta saat malam hari dari tempat itu.


Selesai makan mereka memutuskan untuk berjalan dengan pasangan masing-masing di tepi pantai. Inara begitu menyukai suasana alam seperti ini. Dia memeluk Sean dengan begitu manja. Menyampaikan rasa terima kasih karena telah membuat hidupnya menjadi lebih berwarna.


“Aku ingin yang lain.” ucap Sean membuat Inara memandang lelaki yang kini memenuhi seluruh hatinya.


“Yang lain? Apa itu?” Sean memegang tengkuk Inara kemudian mencium bibir Inara dengan begitu lembut. Pertukaran saliva itu berlangsung cukup lama hingga nafas keduanya terengah-engah karena hampir kehabisan oksigen di dalam rongga paru-paru mereka.


Di sudut yang lain seseorang merasa sudah tidak bisa menahan diri saat melihat adegan yang membuat hati dan pikirannya memanas. Memakai pakaian serba hitam dengan topi hitam, masker hitam dan kacamata hitam membuat penampilan orang itu susah untuk dikenali.


Mengambil sebuah pisau lipat yang dia simpan di dalam jaket hitamnya.Kemudian lelaki itu mengambil langkah cepat mendekati Sean. Sorot matanya penuh dengan kebencian. Dia ingin lelaki itu segera mati. Dia tidak rela jika Inara menjadi milik orang lain.


Inara yang melihat orang aneh itu merasa curiga kemudian pandangannya turun ke arah pisau yang digenggam oleh lelaki itu. Saat hendak menancapkan pisau itu kearah dada belakang Sean terlebih dahulu dia memeluk dan membalikkan tubuh Sean.


“Awas.” teriak Inara detik kemudian pisau itu sudah menancap di perut Inara.


"Inara."


Mata Sean terbelalak melihat sebuah pisau menancap di perut bagian belakang Inara. Sean memeluk Inara yang sudah mulai melemas dengan darah yang sudah mengalir banyak namun tangan kanan Sean masih memegang tangan lelaki itu. Orang sekitar mulai berkerumun dan lelaki misterius itu mulai memberontak hingga Sean sedikit kewalahan sebelum akhirnya memberikan sebuah tendangan di perut lelaki itu.


“Kejar dia.” teriak Sean saat melihat Devan.


Berlari cepat kecepatan penuh akhirnya Devan mampu mengejar pria itu. Kemudian memberikan tendangan di punggung belakang yang membuat pria itu tersungkur ke depan.

__ADS_1


Keduanya kini saling baku hantam sebelum akhirnya pria itu kalah dengan Devan yang merupakan mantan atlet taekwondo sewaktu di sekolah menengah atas.


Sementara Inara…


__ADS_2