
Adnan tidak sengaja melihat Inara yang keluar dari toilet The Pier By Kalaha. Dia mengikuti Inara dari belakang dengan perlahan ingin mengejutkan gadis itu. Tetapi justru dirinyalah yang terkejut. Dia melihat Inara bermanja memeluk seorang lelaki tampan disampingnya. Membuat darah Adnan mendidih karena cemburu.
“Pria itu lagi. Aku harus segera menyingkirkan dia dari hidup Inara.” batin Adnan dengan tangan terkepal dan rahang mengeras.
Adnan Kembali ke tempat duduknya semula kemudian memanggil pelayan untuk dia mintai tolong.
“Bisakah kau pinjamkan aku pisau lipat disini. Aku ingin membuka sesuatu menggunakan pisau itu.” Pelayan percaya dengan apa yang dikatakan Adnan. Dan meminjamkan benda yang diminta lelaki itu tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
Pandangan Adnan mengarah dimana Inara berada namun tempat itu sudah kosong. Matanya menyapu setiap sudut ruangan namun tidak ada. Dia pergi kearah parkiran disana masih ada mobil yang biasa Sean pakai untuk menjemput Inara. Adnan hafal betul dengan plat kendaraan tersebut.
Mengambil jaket,topi,masker dan kacamata hitam yang dia simpan di bagasi mobil kemudian memakainya. Agar orang tidak dapat melihat ataupun mengenali dirinya. Bergegas pergi ke pantai untuk mencari mereka. Adnan tersenyum sinis saat melihat siluet tubuh Inara yang dia hafal sangat.
Tubuhnya memanas darahnya mendidih matanya sakit melihat dua orang sedang bercumbu di tepi pantai. Sorot mata yang tajam dan penuh kebencian terpancar di mata Adnan. Hati dan pikirannya sudah tidak dapat berfikir dengan jernih. Yang ingin dia lakukan adalah membunuh lelaki yang telah menyentuh Inara. Gadis yang dia cintai secara diam-diam selama bertahun-tahun.
“Aku akan membunuhmu.” ucap Adnan kemudian mengambil pisau yang sempat dia simpan di dalam saku celananya.
Menyesal itulah yang terjadi. Adnan tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Pisau yang seharusnya menancap di tubuh pria itu justru menusuk perut Inara. Darah segar mulai membajiri tubuh Inara. Adnan yang melihat itu merasa bersalah.
“Inara.” Adnan sungguh sangat menyesal bukan ini yang dia inginkan. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Inara. Dia pasti akan sangat menyesal seumur hidupnya.
Mata Sean terbelalak melihat sebuah pisau menancap di perut bagian belakang Inara. Sean memeluk Inara yang sudah mulai melemas namun tangan kanan Sean masih memegang tangan lelaki itu. Orang sekitar mulai berkerumun dan lelaki misterius itu mulai memberontak hingga Sean sedikit kewalahan sebelum akhirnya memberikan sebuah tendangan di perut lelaki itu.
“Kejar dia.” teriak Sean saat melihat Devan.
Dengan langkah cepat akhirnya Devan dapat mengimbangi lari pria itu. Kemudian memberikan tendangan di punggung belakang yang membuat pria itu tersungkur ke depan. Keduanya kini saling baku hantam sebelum akhirnya pria itu kalah dengan Devan yang merupakan mantan atlet taekwondo sewaktu di sekolah menengah atas.
Sementara Inara matanya mulai menutup sempurna. Sean panik dia terus menepuk-tepuk pipi Inara agar tetap sadar.
“Cepat panggil ambulans.” Teriaknya.
Mila memberi tahu kejadian ini pada papa Inara melalui sambungan telepon. Mila juga memberi tahu di rumah sakit mana Inara dibawa. Dan malam itu juga tuan Abi langsung pergi menuju rumah sakit.
Inara sudah ditangani oleh dokter dan masih berada di ruang IGD. Sean begitu cemas dirinya berdiri di depan pintu mondar-mandir dengan baju yang sudah berlumuran darah.
Setelah menyelesaikan urusan Devan datang ke rumah sakit. Begitu sampai dia langsung dicecar begitu banyak pertanyaan dari Sean.
__ADS_1
“Bagaimana?”
“Dia adalah kakak tiri Inara.”
“Lalu kenapa dia ingin membunuh Inara?” Devan diam sejenak sebelum akhirnya memberi tahu Sean alasan dibalik kejadian ini.
“Bukan Inara yang ingin dia bunuh tetapi kau.”
“Aku??” tunjuk Sean pada dirinya sendiri. Devan mengangguk sebagai jawaban.
“Tapi kenapa sedangkan aku tidak mengenalnya bahkan tidak pernah bertemu dengannya.”
Devan duduk di kursi yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Diikuti oleh Sean yang berdiri dihadapannya.
“Dia mencintai Inara.” Sean seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Devan. Melihat reaksi yang ditunjukkan oleh atasannya itu Devan pun kembali berucap.
“Jika kau tidak percaya tanyakan saja padanya. Saat ini dia berada di kantor polisi. Dan aku sudah memasukkan laporan atas percobaan pembunuhan.”
“Apa yang dikatakan olehnya benar.” suara bariton seseorang muncul dari arah belakang Sean. Dia adalah tuan Abi papa Inara.
“Anda?” tanya Sean.
“Bagaimana keadaan Inara?” tanya tuan Abi yang sama khawatirnya dengan Sean.
“Dokter masih melakukan penanganan om. Sementara kami belum mengetahui bagaimana keadaan Inara.” ucap Sean memandang pintu IGD yang masih tertutup rapat.
“Kita berdoa saja semoga Inara selamat.”
“Iya om.” jawab Sean dengan sedikit canggung saat memanggil papa Inara dengan sebutan Om. Ada senyum tipis di wajah lelaki itu kemudian berucap.
“Panggil saja papa sama seperti Inara memanggil saya. Bukankah kamu kekasih putriku?” Sean tampak terkejut mendengar ucapan tuan Abi. Bagaimana bisa papa Inara mengetahui hubungan mereka sementara mereka belum memberi tahu siapa pun kecuali…
Pandangan Sean langsung mengarah pada pasangan yang sedang duduk di kursi tunggu rumah sakit. Devan yang tahu maksud pandangan Sean hanya bisa mengangkat kedua bahunya sebagai tanda bahwa dia tidak tahu apa-apa.
“Apa papa merestui hubungan kami walaupun jarak usia diantara kami cukup jauh?” Inara dan Sean memang terpaut usia lebih dari 10 tahun. Sean sudah kepala tiga sedangkan Inara baru mau menginjak usia 20 tahun.
__ADS_1
“Usia bukanlah halangan yang terpenting kalian saling mencintai,saling menjaga dan saling mengerti satu sama lain. Jika sudah tidak mencintainya jangan berselingkuh kembalikan saja dia pada papa karena papa akan terus mencintainya tanpa merasa bosan.” ada setitik air mata yang membasahi sudut mata lelaki tua itu saat membayangkan putrinya harus tersakiti.
Pintu IGD terbuka saat Sean hendak memeluk tuan Abi. Devan dan Mila bangkit dari duduknya. Mereka berempat menghampiri dokter yang menangani Inara.
“Bagaimana keadaan Inara dok?” tanya Sean yang sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan gadis yang baru saja menyelamatkan nyawanya.
“Pasien selamat.” semua orang merasa lega mendengarnya.
Inara sudah sadar diatas brankar tempat tidur saat semua orang masuk ke dalam ruangan. Gadis itu sudah sadar sepuluh menit yang lalu.
“Sayang bagaimana keadaanmu? Apakah sakit?” tanya Sean.
“Sedikit tapi jangan khawatir aku baik-baik saja.” Inara melihat orang sekeliling ada papanya di antara mereka.
“Papa.”
“Papa akan mengurus mereka kamu tidak perlu khawatir.” Inara sedikit bingung siapa yang dimaksud oleh papanya dengan kata mereka. Bukankah yang menusuk dirinya hanya satu orang atau mereka memiliki komplotan lain .
“Mereka?” Inara memicingkan mata menatap papanya.
“Adnan, Ana dan ibunya. Papa akan segera memberi hukuman kepada mereka.”
Inara masih merasa bingung bukankah Adnan selama ini baik kepada dirinya. Papa juga tahu itu lalu kenapa papa juga ingin memberikan hukuman kepada kak Adnan. Kesalahan apa yang sudah dilakukan oleh kakak tirinya itu.
“Kenapa kak Adnan?” Sean merasa kesal saat mendengar Inara masih membela orang yang sudah mencelakai dirinya.
“Dia yang telah menusuk mu.” Inara membekap mulut dengan kedua tangannya. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sean.
“Bagaimana mungkin?” lirihnya namun Sean masih mampu mendengar. Bisa-bisanya gadisnya ini tidak percaya dengan dirinya.
“Itu benar nak dialah yang menusuk mu karena dia mencintaimu dia menginginkanmu sehingga dia berusaha ingin mencelakai Sean namun malah kamu yang terkena pisau itu.” Inara terlihat semakin terkejut orang yang dia anggap sebagai kakak sebagai orang yang melindungi dirinya ternyata memiliki perasaan cinta terhadapnya. Dia pikir Adnan baik dengan dirinya selama ini tulus sebagai adik ternyata tidak. Dia baik karena mencintai Inara sebagai seorang gadis dewasa.
“Kalian pulanglah papa akan menjaga Inara disini.” ucap tuan Abi yan melihat malam semakin larut.
Mila dan Devan pamit pulang. Namun tidak dengan Sean. Dia ingin menjaga Inara malam ini. Dia tidak akan tenang jika meninggalkan Inara di rumah sakit tanpa dirinya.
__ADS_1
“Papa saja yang pulang biar Sean yang menjaga Inara. Ranjang di rumah sakit tidak cocok untuk kesehatan papa.”
Tuan Abi mengerti dan membiarkan Sean yang menjaga putrinya malam ini. Lelaki itu bahagia melihat Inara menemukan sosok pria yang mampu melindungi dan menjaga putrinya di masa depan. Besok dia akan mengurus ketiga manusia yang sudah membuat hidupnya dan hidup putrinya berantakan. Mereka harus menerima hukuman yang setara dengan perbuatan mereka.