
Ketika cinta nyaris bertautan, ada saja aral yang melintang. Sabar pun terpaksa ditanam lebih dalam agar tidak salah dalam bertingkah. Aku sadar, aku tidak boleh tergesa-gesa.
Kemarin, aku gagal mengajak Mutia makan siang berdua. Akhirnya, aku makan bersama Dita dan 4 Panglimaku. Sungguh sebuah ironi. Bersantap bersama mereka yang sebelumnya selalu memandangku hina.
Setelah makan siang, aku ke kantor Papa. Sambutan yang luar biasa sudah aku terima ketika memasuki area parkiran mobil. Terlebih setelah mereka tahu bahwa aku anak pemilik perusahaan.
Dunia oh dunia, betapa kejamnya dirimu! Seolah hanya ada dua golongan yang memiliki kuasa dan hak istimewa. Pertama, mereka yang punya jabatan dan harta. Kedua, mereka yang punya pesona paras rupa.
Dulu, aku berpikir untuk mengubah paradigma tersebut. Membuktikan jika setiap orang punya hak untuk dipandang setara. Rupa bisa pudar karena usia. Harta bisa hilang karena inflasi dan perilaku hedonisme.
Mengkotak-kotakkan kelas sosial hanya menciptakan kesenjangan. Kemampuan dan keterampilan merupakan penyelamat utama dalam kehidupan. Namun, sekali lagi, itu pikiranku yang dulu. Ketika aku menginjak usia awal remaja. Ketika aku melihat segalanya dengan idealisme yang kuat, seperti baru memahami pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaaran. Ya, ketika aku belum merasakan yang namanya didiskriminasi.
Dari kelas 1 sekolah dasar hingga tamat SMP, aku selalu jadi juara satu. Aku giat belajar hingga dikirim ke berbagai perlombaan cerdas cermat antar sekolah. Aku pun selalu berhasil menjadi pemenang utama.
Sayangnya, prestasiku harus terhenti karena sebuah sabotase yang menghancurkan semangatku. Ini terjadi ketika aku kelas 3 SMP.
Kala itu, aku gagal mewakili daerah untuk olimpiade Matematika di tingkat nasional. Padahal, aku sudah dinyatakan lulus seleksi dan menerima surat pemberitahuan untuk berlaga di pentas nasional tersebut.
Seminggu sebelum berangkat ke Jakarta, tiba-tiba namaku menghilang dari daftar utusan. Menurut pihak sekolah, ada kesalahan dalam penilaian. Siswa yang harusnya berangkat yaitu teman kelasku yang ranking-nya selalu di luar 10 besar.
Aku kecewa. Aku sedih. Mengapa bisa tiba-tiba ada pergantian nama? Aku yakin semua soal yang aku kerjakan nilainya sempurna dengan waktu pengerjaan tercepat pula.
Tanpa bermaksud merendahkan temanku tersebut, aku tahu bagaimana kualitas dia. Rumus bangun datar saja dia masih belum paham.
Pada saat seleksi dia memang duduk di sampingku. Akan tetapi, aku tidak berpikir dia mencontekku. Soalnya yang diujikan pada saat itu bukan sekadar pilihan ganda. Ada juga penjabaran mengenai cara pengerjaan (rumus) untuk mendapatkan hasil atau jawaban.
Dia begitu saja menggantikanku. Jelas, hatiku kesal dan tidak terima. Apa dia sebenarnya jago, tetapi tidak memperlihatkannya? Atau karena ada peran orang tuanya yang bermain?
Dari kabar burung yang berhembus, kudengar jika orang tua temanku tersebut merupakan pejabat daerah. Temanku dipilih bukan karena kemampuannya, melainkan untuk ajang pamer kebanggaan alias pencitraan keluarga.
Ada kuasa yang bermain yang membuatku hanya bisa pasrah. Sejak saat itulah, aku merasa percuma belajar mati-matian setiap hari.
Lulus SMP, aku merengek ingin melanjutkan sekolah SMA di Jakarta. Aku pikir, kompetisi di ibu kota akan berjalan jauh lebih transparan. Ternyata, justru rintangan yang dihadapi jauh lebih banyak dan lebih sulit. Hal itu tercermin dari alasanku mengapa kini seperti baru merasakan sebagai makhluk bernyawa.
Hah! Enyahlah masa lalu! Jangan kembali lagi!
Hari ini aku ingin mencoba lagi untuk mengajak Mutia makan siang bersama. Setelah kelas usai, kulihat dia masih bertahan di kelas.
Lekas kuhampiri dia untuk mengutarakan maksudku. “Mut, kita makan siang bareng yuk!”
“Sekarang ya, Gas?” responnya lembut.
“Iya. Terserah kamu kok mau di mana.”
“Em…”
“Kamu nggak bersedia ya?” Aku baca rautnya seperti kebingungan.
“Maaf ya, Gas. Aku udah janji mau ngerjain tugas kelompok bareng Ardi, Metha, dan juga Andy.”
“Oh. Kalian ngerjain tugasnya sekarang juga?”
“ Iya, Gas. Aku lagi tunggu Metha dulu. Tadi dia ke toilet. Kami juga rencananya sekalian makan siang di kostku.”
“Oh begitu.” Aku kecewa, tetapi tetap melambungkan senyum. “Ya sudah. Mungkin lain waktu kamu bisa kan ya?”
“Atau kamu mau ikut nimbrung sama kami?”
Sesuai harapanku, Mutia mengajakku untuk ikut bergabung. Meskipun bukan makan siang romantis yang hanya berdua dengannya, tetapi ini tetap kesempatan yang baik untuk pendekatan.
Sayangnya, pengganggu selalu datang tepat waktu.
“Bagaaasss!” teriak si Pengganggu tersebut. Tak lain dan tak bukan, Dita.
Aku menghela nafas sembari menahan sabar.
“Bagas, aku tunggu kamu dari tadi di parkiran fakultas. Ternyata, kamu malah di sini bersama cewek sok imut ini.”
“Ada apa sih, Dit?”
“Kita makan siang bareng yuk!” Dita menarik lenganku.
“Sorry, hari ini gue nggak bisa. Gue udah janji mau makan siang sama Mutia,” jelasku.
Tak disangka, Dita menggebrak kursi di samping Mutia. Kami pun terkejut.
“Gue ingetin sama lu ya!” Dita menunjuk-nunjuk wajah Mutia. “Nggak usah kegatelan sama Bagas. Lu sadar diri dong! Lu tuh nggak se-level sama kita. Jangan coba-coba godain Bagas deh! Nggak usah sok kecantikan segala. Lu tuh pantesnya sama si Kunyuk itu.” Dita lalu memindahkan arah telunjuknya kepada Ardi.
Mutia bangkit dari tempat duduknya. Dia menatap Dita dengan tegas. “Kamu boleh tuduh saya, hina saya sesuka dan sepuas hatimu. Tapi, tolong jangan libatkan orang lain,” pungkas Mutia.
Bruuuukkk!!! Dita mendorong Mutia.
“Mut, kamu nggak apa-apa?” Aku coba membantu Mutia untuk berdiri. Namun, mungkin tidak menghiraukan uluran tanganku.
__ADS_1
Ardi yang semula hanya duduk memerhatikan, langsung berjalan cepat mendatangi Mutia. Tangan Ardi yang justru dipilih oleh Mutia untuk membantu.
“Nggak usah berlagak seperti aktivis!” caci Dita.
Bedebah! Aku ingin memarahi Dita, tetapi aku terkungkung citra.
“Dit, ayo kita makan siang!” ajakku seraya menahan amarah.
“Aku masih pengen ngasih pelajaran sama….”
“Dit, kamu nggak harus sampai seperti ini. Maaf, kalau masih ingin mengamuk, aku akan ilfil (hilang feeling/ perasaan) sama kamu,” gertakku.
Kemudian, aku meminta maaf kepada Mutia sebelum pergi. Namun, Mutia tak menanggapi. Ia malah mengalihkan pandangan kepada Ardi.
Ketika hendak keluar dari ruang kelas, Metha muncul. Ia menatap Dita dengan sinis. Sepertinya perdebatan tadi terdengar hingga luar ruang kelas.
“Tuan Muda Bagas, pesonamu memang luar biasa,” ujar Leo menyambutku di depan pintu.
Aku memilih tak menanggapi ujuran Leo. Hatiku kesal, emosi mau meledak.
Huh! Sabar, Ardi! Anggap ini hanya kerikil kecil yang terselip di dalam sepatu.
Dita! Aku akan membuat dia membayar kegagalanku hari ini. Hari di mana seharusnya aku menghabiskan banyak waktu dengan Mutia.
Setiba di parkiran, aku tenangkan diri sejenak. Aku pikirkan tujuan selanjutnya. Mood-ku hancur berserakan. Lebih baik aku cari tempat untuk menumpahkan kekesalan.
“Gas, kita jadinya makan siang di mana?” tanya Dita. Dia seolah tak punya dosa.
“Sorry, lain kali aja, Dit.”
“Kenapa?”
Dita merengek bak anak kecil sembari terus menggelayut di lenganku.
“Dy, Tom, Yo, Van, ayo masuk ke mobil. Mau pada ikut nggak?”
“Gue ada janji ngerjain tugas kelompok sama Mutia. Gue izin nggak ikut ya hari ini,” ucap Andy.
“Oke.”
Tommy, Leo, dan Revan langsung masuk ke mobil. Namun begitu aku hendak menuju kemudi, Dita terus menahanku.
“Bagas, kok aku nggak diajak?”
“Ya sudah, aku pulang aja kalau gitu,” ucapnya cemberut.
Hah! Mengapa tidak dari tadi aja dia pulang? Setelah mengacaukan rencana orang lain, dia baru sadar untuk pergi.
Semenjak aku memberi respon, sikap dan perilaku Dita makin agresif. Tampaknya aku terlalu cepat memulai permainan.
“Kita ke mana nih?” tanyaku kepada teman-teman. Aku tidak punya ide hendak memarkirkan mobil di mana.
“Bukannya kita mau makan siang ya, Gas?” respon Leo.
“Iya, Yo. Maksud gue kita makan siang di mana?”
“Kita ke restoran Jepang aja, gimana?” usul Revan. “Gue lagi pengen makan Ramen dan Sushi.”
“Gue setuju,” ucap Leo.
“Tom, lu gimana?”
“Gue ngikut. Makan di mana aja gue siap, yang penting ditraktir. Haha…”
“Oke, sepakat.”
Duduk di dalam restoran, Revan dan Leo sibuk memilih menu, Tommy fokus bermain game di ponselnya. Sementara itu, aku berpikir cara untuk kembali mendekati Mutia.
Tadi, dia terlihat marah juga kepadaku. Terbukti, dia tidak merespon bantuan yang coba aku berikan. Aku harus minta maaf lagi kepada Mutia atas perbuatan Dita.
“Gas, lu mau pesen apa?” tanya Leo mengganggu lamunanku.
“Samain aja sama kalian.”
“Oke.”
Beberapa menit kemudian, pramusaji datang membawakan pesanan kami.
“Oishi (lezat),” ungkap Revan.
Aku bengong. “Ini Ramen cuma semangkok doang?”
“Lah, lu mau juga? Bukannya lu nggak suka mie-mie gitu,” terang Leo.
__ADS_1
“Terus gue makan nasi dengan ikan mentah ini?” tunjukku pada Sushi yang tersaji di depan mata.
“Kok lu kayak nggak suka, Gas. Ini kan favorit lu,” timpal Revan.
Favorit? Sushi? Sejak kapan aku suka makan Sushi.
“Oh, gue cuma bercanda kok,” kilahku.
Aku belum pernah mencicipi makanan khas Jepang ini, yang sekilas seperti nasi kepal diberi isian. Semoga rasanya nyaman di lidah.
Aku coba memasukkan satu potong ke mulut. Aku coba menahan mual. Aku tidak boleh mengunyahnya terlalu lama. Langsung telan saja.
Memang tidak ada aroma amis, tetapi tetap saja rasa tuna mentah tidak familiar di lidahku. Aku pun pura-pura pergi ke toilet uang buang air kecil. Padahal, aku coba memuntahkan makanan di mulutku.
Rupaku boleh berubah sempurna, tetapi lidahku masih lidah kampung.
“Kalian masih pengen di sini atau pulang?”
“Emang lu mau ke mana, Gas?” tanya Tommy.
“Gue mau jemput Andy.”
“Jemput Andy?” Tommy dan yang lainnya menatapku heran.
“Iya.”
“Ngapain lu jemput si Andy?”
Sewaktu di toilet aku berpikir untuk menjadikan Andy sebagai alat pancingan bertemu Mutia. Aku harus segera melakukan konsolidasi agar Mutia tidak salah paham.
“Ya udah kalau masih pada pengen di sini. Kalian pulangnya pada naik taksi aja ya.”
“Terus makanan ini?” Revan tampak khawatir.
“Iya, gue yang bayar. Kalau kalian masih mau makan kabari gue aja. Nanti gue transfer uangnya.”
Aku segera pergi. Semoga Andy masih di sana.
Untuk memastikan, kucoba telepon Andy.
“Iya, Gas. Ada apa?”
“Lu masih di tempat Mutia, Dy?”
“Masih.”
“Masih lama nggak?”
“Ini kita baru pada beres makan. Diskusinya baru mau dimulai.”
“Oke.”
“Ada apa sih, Gas?”
“Udah. Tunggu aja gue di sana.”
Aku menambahkan kecepatan. Ah, sial! Tiba-tiba saja ada kemacetan. Semoga hanya sesaat.
Harapan tak sejalan dengan kenyataan. Jalanan seolah enggan mendukungku. Waktu tempuh yang seharusnya hanya 15 menit, justru memakan durasi 80 menit.
Begitu sampai di depan kost Mutia, kulihat Andy berjalan keluar. Sepertinya mereka sudah selesai mengerjakan tugas kelompok.
Kuhampiri Andy dengan segera. “Udah kelar, Dy?”
“Udah. Lu datang tepat waktu, Gas. Yuk! Lu mau langsung anterin gue pulang atau mau ajak gue jalan-jalan dulu.”
“Mutia sudah ke dalam atau masih di teras?”
“Tommy, Revan, dan Leo kagak ikut, Gas?” Andy malah balik bertanya.
“Mereka lagi pada nongkrong.”
Aku segera mengintip di balik gerbang kost Mutia. Kulihat dia duduk sendiri di teras memanggu laptop.
“Mut…” Aku coba memanggilnya.
Namun, dia tampaknya tidak mendengar.
“Mut… Mutia….” Kukencangkan suara sedikit.
Kali ini, dia menoleh ke arahku. Hanya saja, aku terperangah dengan reaksi yang ia tunjukkan. Ia bergegas masuk ke dalam, lalu menutup pintu.
Baru saja aku mampu mengobrol dengannya, tetapi jarak tiba-tiba tercipta tanpa kendali. Haruskah aku pulang dan menunggu esok bertemu di kelas? Namun, menunggu itu menguras pikiran.
__ADS_1