Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 35: Kembali


__ADS_3

Aku menutup mata sembari berharap rasa sakit yang menjalar segera pergi. Entah apa dan bagaimana bisa terjadi, rasanya seperti ada belati yang menusuk-nusuk tubuhku.


Sesekali aku mengerang, lalu menjerit di bawah bantal. Pikiran kacau, batin begitu gelisah. Jika ini proses pertukaran tubuh kembali, aku tidak sudi melepas raga ini.


Dengan sekuat tenaga, aku coba membuka mata. Namun, nyeri justru semakin liar menulusuk sendi kala penglihatanku menahan kesadaran.


Aku luruskan kaki dan rentangkan tangan. Kemudian, aku atur sirkulasi udara yang memasuki saluran pernafasanku. Aku berupaya tetap tenang. Kuhempaskan ketakutan yang meratap di sanubari.


Setelah cukup lama berjuang, sedikit demi sedikit rasa sakit itu mulai hilang. Lantas, aku lebarkan pandangan untuk menerawang isi ruangan.


Syukurlah! Aku masih bersemayam dalam kesempurnaan. Ketakutakanku hanyalah sebuah delusi. Huh! Nyaris saja aku melayangkan makian kepada Sang Pemilik Kehidupan.


Kupejamkan mata kembali perlahan-lahan sambil tersenyum lega. Aku tidak peduli penyebab sakitku. Bukan hal penting untuk diselidiki saat ini.


Dalam perjalanan menuju dunia mimpi, aku teringat ekspresi si Kunyuk yang tampak berang tadi siang. Saat kukatakan serangan mentalnya tak mempan buatku, dia menjadi begitu kesal. Mungkin sekarang dia sedang tersudut dalam kalut – tak bisa tidur semalaman.


Mimpiku begitu indah. Aku berkeliling dunia dan dikerubungi perempuan-perempuan cantik. Sayangnya, hawa pengap memaksakan untuk menyudahi petualangan di alam bawah sadar.


Kuturunkan kaki untuk memeriksa penyebab hembusan AC berhenti. Mataku masih rapat, karena sesungguhnya belum siap untuk bangun.


Akan tetapi, aku tak merasakan jarak yang cukup tinggi antara kasur dan lantai. Posisi tempat tidurku seakan sejajar. Jelas, hal ini sangatlah janggal. Tidak mungkin spring bed mewahku kempes dan berubah datar.


Begitu kubuka mata, aku terbelalak tak percaya. Ini bukan kamarku. Aku pun tidak mengenal kamar sempit ini.


Di mana aku berada? Apakah ini masih bagian dari mimpi?


Aku tampar pipi kanan dan kiriku secara bergantian.


Tidak!!!


Ini sudah di alam nyata. Lantas, apa yang terjadi?


Pakaian yang berserakan, buku-buku yang berantakan, dan foto yang bertebaran di dinding, semuanya mengarah pada kesuraman.


Wahai hati kecil, tolong untuk tidak menambahkan larat pada ketakutanku! 


Aku tidak mau kembali menjadi Ardi lagi. Aku sudah nyaman sebagai Bagas walau tengah digandrungi berbagai konflik.


Tenang! Jangan panik dan jangan menerbangkan asumsi terlebih dahulu. Ini sebuah ilusi. Ya, afirmasi positif tidak boleh dibiarkan lari menjemput kelabu.


Aku belum melihat gambaran wajahku yang sekarang. Bisa saja ada episode lain dari pertukaran tubuh ini, seperti bertukar rasa – tempat tinggal. Maksudnya, aku tetap Bagas, tetapi harus menjalani kehidupan sebagai Ardi.

__ADS_1


Itu terdengar jauh lebih baik daripada kemali ke asal. Setidaknya, selama masih tampan rupawan, hidupku akan senantiasa aman.


Lepas mandi, aku segera memadu padankan pakaian di badan. Kutengok jam di ponsel untuk memastikan waktu yang tersisa untuk berdandan.


Begitu layar ponsel menghitam, wajahku pun muncul melintang. Padahal aku sudah berupaya menghindari untuk mengetahui rupaku.


Duaaaar!!! Seperti ada peluru yang menyasar jantung, aku mendadak lemah tiada berdaya.


Ardi! Aku tidak mau menjadi Ardi lagi. Kalau ending-nya seperti ini, aku akan memilih untuk tidak memejamkan mata semalam.


Aku yakin si Kunyuk yang telah membaca mantra atau melakukan ritual untuk bertukar tubuh lagi. Dia merasa kalah denganku, lalu dia merebut tahta ini lagi.


Brengsek!!! Dia menggunakan cara kotor untuk memenangkan persaingan.


Si Kunyuk itu memang tidak punya pendirian. Dia bilang bahagia menjadi Ardi. Nyatanya, sesuai dugaanku, dia hanya berpura-pura berkata seperti itu supaya aku iri.


Segeralah kucari si Kunyuk di kampus. Sayangnya, mobil mewahnya belum terlihat bertengger di parkiran.


Tak berapa lama, dia datang. Dia turun bersama Andy, Tommy, Revan, dan Leo. Mereka tampak begitu gembira.


Aku ikuti langkah mereka sembari menjaga jarak aman. Aku tak mungkin menarik si Kunyuk di tengah kawalan 4 Panglima.


Bruuukkk! Aku kunci pintu utama toilet. Dia tampak begitu terkejut.


“Lu mau ngapain gue? Kenapa lu kunci toilet segala?” tanyanya sambil mencipratkan air yang tertinggal di kedua tangannya.


“Lu pikir gue mau berbuat tidak senonoh sama lu? Nggak usah kegeeran! Gue cuma mau lu balikan tubuh itu ke gue,” jawabku. Telunjukku mengarah tegak ke wajahnya.


“Apa maksud lu?”


Dia berlagak polos. Dia membuat otakku terbakar dan darahku mendidih.


Aku melangkah, mendekatinya. “Lu bilang, sekali kita bertukar tubuh, selamanya kita menjalani peran di tubuh yang baru.” Kudorong tubuhnya ke dinding. “Lantas, kenapa lu tukar lagi tubuh kita. Lu kurang aja ya. Lu yang mulai permainan, tetapi lu sendiri yang takut kalah.”


Dia melambungkan tawa ke udara. “Ardi, Ardi! Lu sendiri yang menelan Mutiara Pengubah Nasib itu. Artinya, kendali ada di lu. Kenapa lu nyalahin gue?”


Kendali? Apa yang aku kendalikan? Aku sama sekali tidak mengerti dengan yang dia katakan. Tak pernah juga ada pantangan atau pun penjelasan yang dia berikan terkait pertukaran tubuh ini. Bedebah!


“Jangan coba-coba mengelabui gue! Gue mau sekarang juga kita bertukar tubuh lagi. Cepat lakukan atau katakan gimana caranya supaya gue kembali menjadi Bagas! Bukankah lu selalu ngomong kalau lu udah bahagia dengan hidup lu sebagai Prasetya Winardi?” Kutarik bagian dada kemejanya. Amarahku membuncah tak terbendung.


Dia menepak tanganku. “Gue bahagia jadi Ardi. Namun, gue juga bahagia jadi Bagas,” ucapnya seperti meledek luapan emosiku.

__ADS_1


“Terus kenapa lu nggak mau bertukar tubuh lagi sama gue? Lu yang memulai, lu juga yang mengakhiri dengan cara yang sangat tidak etis,” caciku.


Dia balas mendorongku hingga aku mundur beberapa langkah. “Gue nggak bilang nggak mau. Gue bilang kan kendali ada di lu. Intinya, gue nggak bisa ngapa-ngapain dan nggak tahu juga gimana caranya bisa bertukar tubuh lagi sama lu.”


“Bohong!” pekikku.


“Terserah lu mau ngomong apa." Dia berjalan melewatiku. "Tapi sorry, di luar ada yang ketuk-ketuk pintu. Udahan ya ngobrolnya. Jangan buat orang curiga! Gue nggak mau citra gue jatuh gara-gara berduaan sama lu nggak jelas begini,” pungkasnya angkuh. Dia berlalu begitu saja.


Dalam kekalutan pikiran dan kesemrawutan batin, aku coba mencerna perkataan si Kunyuk. Akan tetapi, aku tak punya petunjuk untuk memecahkan permasalahan ini. Dia pun seakan sengaja membuatku kelimpungan.


Jarum jam berputar. Hidupku kembali bertapa di dasar nestapa. Aku kembali merasakan hinanya duduk di pojok belakang ruangan kelas. Tak ada tawa, tak ada sapa yang bisa kulayangkan mau pun kudapatkan.


Keluar dari kelas, Bagas berbincang dengan Mutia dan Andy penuh ekpresi gembira. Aku terabaikan lagi bagai kisah sedih nan kelam dahulu kala.


Teganya permainan dunia ini. Aku diberikan kesenangan sesaat. Pun, kesenanganku diambil tanpa isyarat. Aku tak diberi waktu untuk bersiap atau mengemas harap.


Jika memang pertukaran tubuh ini memiliki masa aktif/ durasi tertentu, mengapa aku tidak diberi tahu di awal? Andai aku tahu akan begini, tentu aku akan benar-benar menikmati hidup sebagai Bagas untuk belajar. Belajar tentang menaikkan kehidupan pada jenjang yang lebih baik – diakui oleh sekitar.


Akkkkhhhhh!!!


Aku melaungkan suara sekencang mungkin ke angkasa. Aku berharap penguasa langit mendengar jeritanku.


“Kenapa lu berteriak-teriak? Lu ngerasa di-php-in (diberi harapan palsu) oleh kehidupan yang fana ini?” tanya si Kunyuk. Entah dari mana, dia tiba-tiba hadir di belakangku bagai hantu siang bolong.


“Gue mau teriak, gue mau ngapain juga, bukan urusan lu. Balikin tubuh gue sekarang!” jawabku seraya mencengkram kuat kerah bajunya.


Dia balas dengan menendang tubuhku. Seketika aku terjungkal ke aspal.


Perilaku kasarnya tampak ke permukaannya. Sayangnya, tak ada satu pun orang yang berlalu lalang untuk dijadikan saksi.


“Lu agresif banget sih,” makinya. Kemudian dia mengangkat daguku. “Jangan sembarangan mengakui punya orang lain. Lu tuh ternyata nggak tahu diri ya. Udah dipinjem selama berbulan-bulan, tetapi sekarang ingin menguasai. Kita bertukar tubuh untuk saling mengerti dan belajar tentang kehidupan masing-masing. Bukan untuk mencapai ambisi yang tidak masuk akal. Bukan pula untuk kita saling menghancurkan kehidupan masing-masing,” ucapnya dengan raut belagu.


“Apa yang bisa dipelajari dari lu? Si Tukang Pencitraan yang sok bijak,” tangkasku.


Dia pikir aku ini objek eksperimen. Seenaknya saja menukar kehidupan tanpa pemberitahuan.


“Paling tidak satu hal, semestinya ketika lu jadi Bagas, lu angkat posisi Ardi di hadapan teman-teman. Kenapa? Karena hidup tidak bisa diprediksi, bukan? Kalau sudah begini, lu kembali pada kehidupan lu yang mengenaskan, apa yang bisa lu lakukan? Mengulang perjuangan dari awal? Terus yang udah lu lakukan selama ini jadi percuma dong. Tidakkah lu menyesal karena telah menyia-nyiakan kesempatan emas yang lu dapet?” Dia menyeringai bangga.


Keparat!!! Aku hanya bisa mengumpat dalam hati. Bagaimana pun, meladeninya hanya akan membuang-buang energiku.


Aku lantas bangkit dan pergi. Aku malas mendengar ocehan sumbangnya. Kecurangannya akan aku balas dengan hal yang membuatnya merasakan kepedihan tiada tara.

__ADS_1


__ADS_2