Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 5: Nyata


__ADS_3

Aku menggoyang-goyangkan kepala sedikit. Kemudian, begitu kesadaran mendekap sempurna, kuputar pandangan. Hah? Di mana ini? Sebuah kamar yang luasnya hampir sama dengan rumahku di kampung. Kasur yang besar dan empuk. Ornamen kamar yang mewah dan dan indah. Apa ini nirwana?


Aku raba setiap lekuk tubuhku. Ada banyak sekali perbedaan yang signifikan. Kurasakan hidung yang mancung, dada yang bidang, dan naki yang jenjang. Tubuhku tidak memiliki spesikasi yang tinggi seperti ini. Lantas, benarkah aku berhasil bertukar tubuh dengan Bagas?


Aku pun bergegas mencari cermin untuk memastikan. Masuklah aku ke kamar mandi. Wow! Kamar mandinya saja seukuran kamar kostku. Lantainya terbuat dari marmer, dinding mengkilap bak permata. Sungguh, aku gemetar. Bahkan, ini kali pertama aku menyaksiksan setiap jengkal di kamar mandi ber kemewahan. Bagaimana dengan ruangan lainnya di rumah ini?!


Aku salin gambar diri di depan cermin badan. Terpantul sosok yang mengenakan piyama hitam polos dengan paras yang begitu menawan. Padahal, baru bangun tidur. Apakah ini nyata?


Aku pun buka tutup mata untuk memastikan realita yang terpampang. Kini, aku ada di dalam tubuh Bagas. Ya, ini benar tubuh Bagas yang sempurna.


Eitsss! Jangan senang dulu, Ardi! Bisa saja ini masih ada di dalam mimpi. Kata orang, mimpi itu terkadang manifestasi dari ekspektasi di kehidupan nyata.


Kutampar pipi beberapa kali. Awww! Aku bisa merasakan sakit. Berarti ini bukan mimpi. Ini asli, ini nyata. Ini juga bukan alam lain atau dunia lain di dimensi berbeda.


Hahay, huhuy! Aku bersorak gembira. Jadi, ucapan Bagas kemarin benar adanya. Bagaimana ini bisa terjadi? Sihirkah? Atau ada cabang Ilmu Fisika yang bisa menjelaskan fenomena ini? Ah, biarlah! Aku tak perlu pusing memikirkan hal tersebut.


Tiba-tiba seakan ada alunan musik ceria membahana di telinga. Tubuhku bergoyang ke kanan dan kiri. Lalu, memutar bak sedang menari Salsa. Akhirnya, aku bisa mengatakan keajaiban memang ada. Tak perlu dibuktikan cara kerjanya, cukup dinikmati hasilnya. Hahay, huhuy!


Saat sedang asik-asiknya menikmati pagi yang berbeda, seseorang berseru.


“Tuan Muda, waktunya sarapan,” terangnya.


Aku pun terdiam. Aku baru saja berubah menjadi Bagas. Aku belum tahu elemen apa saja yang ikut bersamaku. Suara? Bagaimana jika dia tahu suaraku berbeda dengan Bagas? Keraguan membuatku bimbang untuk menyahuti.


“Tuan Muda….” Dia mengetuk pintu beberapa kali. “Apa Tuan Muda masih tidur? Ini sudah siang, Tuan. Hari ini Tuan Muda ada kuliah pagi, kan?”


Aku membuat putaran langkah kecil sembari terus mengadukan telunjuk kiri dan kanan. Apa yang harus aku lakukan.


“Tuan Muda, Nyonya dan Tuan Besar sudah menunggu di meja makan,” terangnya lagi.


Akhhh! Dia terus saja memanggil. Baiklah, aku coba sahuti saja. Sekalian kuhampiri dia untuk semakin meneguhkan kenyataan. Kenyataan jika aku sudah sah menjadi Bagas.


“Ba…ba…baik. Saya mandi dulu se…se…sebentar,” responku sedikit terbata.


Begitu pintu dibuka, aku justru gugup.


“Tuan Muda tumben jam segini belum rapi,” ungkapnya menatapku heran.


“Em….Em… Saya…. Saya sedang sakit perut. Jadi, tadi cukup lama bolak-balik ke WC.” Aku lantas berlakon sesuai kalimat yang diucapkan.


“Tuan Muda sakit?” tanyanya dengan ekpresi khawatir. “Saya ambilkan obat dulu ya, Tuan Muda.”


“Ti…. Tidak usah, Bi. Saya udah minum obat juga.”


Rautnya berubah aneh. Dia juga tampak mengamati fisikku dari kepala hingga kaki. Apa kata-kataku ada yang salah? Apa dia tahu aku bukan Bagas? Ah, sial! Kalimat apa yang harus kusampaikan kepadanya agar dia tidak memandangku curiga?


“Tuan Muda tidak apa-apa, kan?” tanyanya lagi masih menggunakan tatapan yang sama.


“Saya baik-baik aja. Kalau gitu, mending saya mandi dan ganti baju dulu ya!”


“Baik, Tuan Muda.” Dia membungkukkan badan, lalu pergi.


Suaraku? Apa dia mengenali suaraku berbeda? Kemarin semestinya aku tanya-tanya dulu kepada Bagas. Aku pastikan perubahan apa saja yang akan terjadi ketika aku menelan mutiara itu.

__ADS_1


Aku segera menutup pintu, dan menuju kamar mandi. Di depan cermin, aku coba menguji timbre suaraku. “Hah, Bagas! Hah, Ardi! Satu, dua, tiga kucing berlari, Ardi sekarang sudah bisa menari.”


Dari pantulan yang kudengar, ini bukan suaraku. Suaraku cenderung cempreng, sedangkan yang menggagung tone-nya sedikit ngebass.


Syukurlah, aku hanya berpindah memori. Seperti sebuah hardisk yang ditukar dalam perangkat laptop. Files tentang diriku masih tersusun rapi, penampilanku saja yang berganti piranti. Terima kasih banyak, Bagas! Pertukaran tubuh ini tidak diikuti oleh komponen yang menjadi identitas tubuh masing-masing.


Lantas, mengapa asisten rumah tangga tadi mengamatiku penuh tanda tanya? Ah, tak perlu dipikirkan! Bukankah secara eksplisit dia mengatakan hanya heran aku masih menggunakan pakaian tidur?!


Intinya, sekarang aku sudah bisa menyapa dunia dan berdansa dengan realita. Yes!!!


Lepas mandi, aku lekas berpakaian rapi. Hem! Enaknya menjadi orang tampan, pakaian apa pun akan terasa pas di badan. Tak perlu risau salah kostum atau keliru memadu padankan warna.


Saatnya menuju ruang makan. Namun baru selangkah meninggalkan kamar, aku terpana melihat rumah yang akbar ini. Apa ini Istana Alhambra?


Aku bak berada di negeri fantasi. Apa? Ini fantasi? Aku tepuk lengankan dengan kecang. Ardi, ini nyata! Ucapku meyakinkan kembali.


“Selamat pagi, Tuan Muda!” Sapa seorang wanita muda berjalan tergesa-gesa.


“I…iya, selamat pagi juga.”


Sudah beberapa menit aku berkeliling, entah di mana ruang makan itu berada. Tak ada papan denah yang dipajang. Tak ada juga penunjuk arah yang dipasang. Padahal seharusnya rumah ini memiliki banyak keterangan yang memudahkan langkah. Akan tetapi, jika hal tersebut dibentangkan, bukankah rumah ini jadi tak ubah layaknya semua mall?! Akkhh!


“Tuan Muda kenapa? Tampaknya sedang kebingungan?” tanya seorang wanita dari arah belakang. Dia orang ketiga dengan pakaian hitam berenda putih yang menyapaku.


Sebenarnya, ada berapa asisten rumah tangga di rumah ini? Aku dikejutkan lagi dan lagi oleh satu per satu dari mereka.


“Em…em… ruang makan di sebelah mana ya?”


“Iya.”


“Mari saya antar.”


Aku menghela nafas lega. Untung saja dia tidak menginterogasiku.


Namun, ini akan menjadi aneh ketika dia sadar jika Bagas lupa dengan seluk beluk rumahnya sendiri. Duh!


Begitu sampai di tempat yang diituju, orang tua Bagas langsung melayangkan pandangan ke arahku. Grogi dan canggung menyatu di kalbu.


Bodoh! Seharusnya sebelum memutuskan menelan mutiara itu, aku catat dan pelajari dulu kehidupan Bagas. Sekarang, aku bingung dalam bersikap.


Ah, percuma juga berdebat dengan diri sendiri. Toh, sebelumnya aku tidak percaya ini akan terjadi.


Begitu sudah di depan kursi, aku tidak tahu harus duduk di mana. Ada 8 kursi kosong berjejer mengelilingi meja makan yang besar nan cantik. Di mana aku harus duduk? Hal seperti ini bukan kemampuan, melainkan ingatan.


“Bagas anak Papa, sang pewaris tunggal seluruh perusahaan Permana Group, ayo kita sarapan”, sambut Ayah Bagas.


“Em… I…Iya.”


Untung saja asisten rumah tangga yang mengantarku bergegas menarik satu kursi. Rupanya, aku harus duduk di samping ibunya Bagas. Baru hal seperti ini saja sudah cukup menguji adrenalinku.


“Sayang, kamu sedang sakit? Mama perhatikan kamu lebih diam dari biasanya.”


“Tidak, Bu. Saya baik-baik aja kok.”

__ADS_1


“Ibu?”


Aku segera mengklarifikasi redaksi kalimatku. “Em… Maksud… Maksud Bagas, Bagas baik-baik aja, Mah.”


“Oh, ya sudah. Ayo lekas makan! Kamu kan hari ini ada kuliah pagi.”


“Iya, Mah.”


Ayah Bagas terus memandangku. Aku gemetar, tetapi harus tetap terlihat tenang dan santai. Ditambah lagi, makan bersama seperti ini pasti berbeda dengan cara makanku sehari-hari. Ada istilah table manner yang harus dijunjung.


“Kamu lagi nggak berselera dengan menu pagi ini, Gas?”


“Ngg….nggak, Pah. Bagas cuma belum begitu lapar aja.”


“Tapi kamu harus tetap sarapan, Sayang. Tubuhmu butuh energi untuk beraktivitas,” ucap ibu Bagas dengan lembut.


“Benar kata Mama, Gas. Paling tidak kamu minum susu dan makan sepotong sandwich untuk pengganjal hingga ke makan siang,” timpal ayah Bagas.


“Baik, Ya…. Baik, Pah.” Hampir saja aku salah memanggil.


Seusai sarapan, aku berjalan keluar rumah dengan pikiran yang masih sangsi. Aku masih berusaha mencerna jika ini bukan khayalku. Aku percaya tentang hal-hal yang gaib, tetapi bisa bertukar tubuh seperti ini masih sulit diterima akal.


Apa juga alasan Bagas ingin bertukar tubuh denganku? Sementara dia memiliki segalanya, termasuk orang tua yang kulihat begitu lembut dan perhatian. Ah, sudahlah! Bukankah ini keinginanku?!


“Silakan Tuan Muda, mobilnya sudah dipanaskan dan siap dipakai,” ucap pria setengah baya sembari membungkukkan badan. Dia pun memandu langkahku menuju mobil.


“I…iya, Pak. Terima kasih!


Dia tampak heran mendengar balasan dariku. Apa ada kata yang salah dariku?


Ya, aku harus bisa se-natural mungkin. Jangan sampai mereka curiga jika aku sebenarnya bukan Bagas yang asli.


Tanpa kusadari, tubuhku sudah bersandar di depan kemudi BMW. Hah? Aku kan tidak bisa menyetir. Bahaya! Bahkan duduk di mobil selain angkutan umum saja baru pertama kali ini.


“Tuan Muda kenapa? Apa ada masalah dengan mobilnya? Maafkan saya, Tuan Muda!”


“Em…. cara hidupin mobil ini gimana ya?” tanyaku pelan.


“Tuan Muda ini ada-ada saja. Tumben sekali Tuan Muda ngajak saya bercanda.” Dia justru tertawa simpul.


“Saya serius.”


“Setiap hari Tuan Muda kan bawa mobil, tidak mungkin Tuan Muda lupa.”


Betul juga yang dia ucapkan. Aku pun kembangkan kedua bibir. “Saya hanya bercanda kok. Hehe… Iya, saya butuh sedikit hiburan. Haha….”


Si Bapak pun pamit untuk melakukan pekerjaan lain.


Oh Bagas, aku akan menginterogasimu begitu kita bertemu nanti. Ucapku dalam hati.


Kutekan tekan tombol starter. Apa? Mendadak kakiku bergerak lincah di atas pedal rem dan gas. Kedua tangan pun dengan sigap memutar setir sedikit demi sedikit. Bisa. Aku bisa mengemudikan mobil. Ini benar-benar ajaib.


Huhu! Aku bersenandung sepanjang perjalanan. Kaki dan tangan begitu lihai menerobos jalanan dan mengatur kecepatan. Ini luar biasa! Aku tak pernah merasakan kebahagian seperti yang saat ini tengah dirasakan.

__ADS_1


__ADS_2