Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 51: Menjadi


__ADS_3

Lagi dan lagi, aku mengalami mimpi dengan adegan yang menguras logika. Alurnya seolah berkesinambungan dengan realitas laksana manifestasi luapan hati yang tak bisa disampaikan di kehidupan nyata. Ragaku pun turut merasakan setiap emosi yang tersusun dalam dunia bawah sadar tersebut.


Satu hal yang membuatku lega setelah terbangun, yaitu aku tidak menjadi seorang pembunuh. Tak bisa kubayangkan bila label tersebut menempel di jiwaku.


Setelah merenung beberapa saat – mengulas kejadian kemarin, aku coba menengok ke dapur. Suasana masih gelap, tetapi biasanya Ibu dan Ayah sudah sibuk mempersiapkan bekal energi untuk menjalani hari.


“Nak Bagas sudah bangun. Mau Ibu buatkan teh manis atau susu?” tanya Ibu menyapa kehadiranku.


“Nggak usah repot-repot, Bu. Nanti Bagas buat sendiri aja,” jawabku sambil memasukkan suluh (kayu bakar) ke dalam tungku yang di atasnya berdiri dandang yang tengah menanak nasi.


Momen seperti ini sudah lama sekali hilang dalam aktivitas pagiku. Bercerita di dapur bersama Ibu sembari menghangatkan badan. Lantas, aku duduk di samping Ibu – di sebuah ranjang bambu yang menjadi ikon dapur kami.


Ibu menatapku penuh kasih. “Ibu merasa Nak Bagas ini seperti anak Ibu sendiri. Ibu juga tidak tahu kenapa ngerasa udah dekat banget sama Nak Bagas,” tutur beliau menyenandungkan isi hati dengan sangat merdu.


“Ayah juga merasakan hal yang sama dengan Ibu,” timpal Ayah yang muncul dari balik pintu. Beliau pun lekas menghampiri kami.


Aku coba menahan haru. Sesungguhnya aku ingin bercerita banyak tentang diri ini.


“Ada yang berbeda dari sikap Ardi,” sambung Ibu. Ada sendu yang mengalun. “Waktu hari pertama pulang, Ardi seperti tak mengenali tempat ini. Ibu pikir mungkin dia memang merasa sedikit asing karena beberapa bulan tidak pulang. Namun, hari ke hari, Ibu melihat dia seperti menghindar kala Ibu ajak berbicara. Padahal, tiap kali pulang, dia selalu antusias menceritakan kehidupannya di Jakarta.”


Aku tidak menyangka Ibu sedetil itu merasakan perubahan antara aku yang asli dan bukan.  Aku pikir si Kunyuk akan menjalani perannya dengan maksimal. Kini, aku menjadi resah mendengar pengakuan Ibu.


Ayah merentangkan tangan kanannya di bahuku. “Ayah juga merasakan hal yang sama ketika bulan lalu menjenguk Ardi di Jakarta. Seperti ada beberapa bagian dari memorinya yang hilang. Bahkan, tutur katanya terkesan lebih kasar. Dia pernah memanggil Ayah dengan sebutan ‘kamu’. Lalu, dia bilang salah ucap. Padahal, selama ini Ardi tidak pernah sekali pun salah ucap dalam memanggil kami.”


“Dua kali Ibu memeluk Nak Bagas, justru Ibu merasakan Nak Bagas adalah Ardi. Maaf, Nak Bagas. Ibu hanya gelisah melihat perubahan Ardi,” ungkap Ibu.


Mendengar perkataan Ibu tersebut, aku sedikit salah tingkah. Memang benar, naluri seorang Ibu maupun Ayah begitu kuat dalam mengenali sang anak.


Haruskan aku sujur saja? Ah! Aku belum bisa.


“Nggak apa-apa kan kalau kami anggap Nak Bagas seperti anak kami sendiri?” tanya Ayah. Sebuah pertanyaan yang begitu menyentuh kalbuku.


Hanya anggukan kepala yang bisa kuberikan sebagai tanda setuju. Tak banyak kata yang bisa kuucap. Aku takut tak bisa menahan rahasia.


Akan tetapi, tawaran Ayah bak oase di tengah gurun pasir. Ketika aku bingung memikirkan cara agar bisa tetap dekat dengan orang tua kandungku, mereka menautkan ikatan yang hangat.


Tiba-tiba si Kunyuk datang. Dia menyelinap di antara Ayah dan Ibu seraya menyingkirkanku secara halus. Dia memang pengacau yang ulung.

__ADS_1


Aku pun memilih pamit untuk menyegarkan badan. Setidaknya, aku sudah mengetahui isi pikiran Ayah dan Ibu mengenai Ardi.


***


Kejadian tadi pagi di dapur membuatku bahagia, walau terselip rasa khawatir. Aku tak mau Ayah dan Ibu terus memikirkan penyebab perubahan sikap Ardi.


Meskipun mereka bisa mengecap perbedaan dua sifat, tetapi – aku yakin – mereka tidak akan sampai menerka bahwa antara Ardi dan Bagas telah terjadi pertukaran tubuh.


Aku dekati Ardi yang sedang sibuk bermain ponsel, sebuah kegiatan yang sangat kontras denganku.


“Di, gue perlu ngomong serius sama lu,” ucapku pelan.


“Ngomong aja,” ketusnya.


“Tidak di sini. Di belakang rumah sambil lihat matahari terbenam,” ajakku.


Dia malah membisu. Kutarik saja tangannya.


Setiba di belakang rumah, aku amati sekeliling. Sebelum aku menyampaikan maksudku, aku harus memastikan tidak ada satu pun telinga yang mendengar perbincangan ini.


“Terus, apa yang harus gue lakuin?” selanya dengan nada tinggi.


“Kenapa lu nggak berusaha menjadi Ardi yang sesungguhnya.” Aku langsung naik pitam. “Kalau ada hal yang lu bingung tentang seorang Ardi, lu bisa tanya sama gue. Jangan sampe mereka khawatir dan terjebak memikirkan sifat dan sikap anaknya yang berubah.”


Si Kunyuk menyunggingkan senyum getir. “Bagaimana dengan lu?”


“Mama dan Papa tidak pernah berkomentar tentang perubahan sikap anaknya. Gue mampu mempelajari identitas ini dengan sangat baik,” terangku.


“Bukan itu maksud gue.” Dia memuntahkan angin dengan cukup kencang. “Kehadiran lu di sini yang udah ngebuat Ayah dan Ibu curiga. Jangan-jangan lu emang sengaja datang ke sini untuk membocorkan rahasia secara halus. Lu bangun chemistry dengan mereka menggunakan sayap dan tiara malaikat. Gue nggak habis pikir dengan isi kepala lu. Padahal, lu udah punya Mama dan Papa yang begitu baik. Sekarang, lu minta gue menjaga pikiran Ayah dan Ibu. Lu sadar nggak sih, lu itu tidak tahu diri. Lu juga serakah!”


Amarahku semakin membara. Awalnya, kukira bisa berbicara tanpa mengadu urat dengannya. Ternyata, dia tetaplah si Kunyuk yang menyebalkan.


“Kalau lu terus ikut campur dalam ranah pribadi seperti ini, lu yang akan hancur,” pungkasnya.


Aku dorong dadanya, lalu aku tarik kerah kaosnya. “Gue yang ikut campur? Hah? Bukannya lu yang tiba-tiba mengusik hidup gue setelah kita bertukar tubuh.”


Si Kunyuk balas mendorong dadaku dengan kedua tangannya. Aku pun terpukul mundur beberapa langkah.

__ADS_1


“Camkan omongan gue baik-baik! Gue nggak suka lu ngatur-ngatur hidup gue. Gue ngasih kehidupan gue ke lu, karena gue pengen hidup bebas. Dan lu, lu pengen ngerasain hidup yang sempurna, kan? Jadi urusan Ayah dan Ibu, itu bukan lagi urusan lu. Dasar, SAMPAH!” umpatnya. Kemudian, dia berjalan meninggalkanku.


Sumpah! Aku tidak masalah dia panggil aku dengan sebutan hina. Namun, aku tidak bisa menerima jika dia bersikap tidak acuh terhadap kondisi psikologis Ayah dan Ibu.


Aku segera menyusulnya. Aku belum tuntas memberinya nasihat yang berharga.


“Ardi, tunggu!” seruku. Angkuhnya, dia tidak mau berhenti.


Lantas, kutepuk pundaknya dengan cukup kencang. Dia berbalik badan dengan wajah kesal membara.


“Jangan sampe gue gunain kekerasan buat ngingetin lu,” gertakku. Kesabaranku sudah di ujung tanduk dalam menghadapi sikapnya.


“Kalau bukan karena gue iba sama lu, hidup lu bakalan membusuk selamanya seperti tumpukan sampah.” Lagi, dia malah semakin liar mencemoohku.


Haaahhhh!!! Aku dorong dia hingga terjatuh ke tanah. Kemudian, kukunci pergerakan tangan dan kakinya. Dia amat menguji emosiku.


“Gue ngajak lu ngomong baik-baik ya, tapi lu malah mengungkit masa lalu,” ucapku sambil mencekik lehernya. Aku ingin tahu seberapa bacot dia jika aliran suaranya aku sumbat.


Si Kunyuk pun terbatuk-batuk. Aku kendorkan sedikit cengkramanku.


“Lu mau bunuh gue, silakan! Tapi ingat, siapa yang akan paling bersedih jika gue mati. Haha….” Dia terkekeh meledek.


Apa? Adegan ini mirip dengan yang ada di mimpiku kemarin.


Hentikan!


Aku atur ritme nafas. Mimpi buruk itu bisa menjadi kenyataan bila aku menuruti hawa nafsu.


“Kenapa lu lepasin tangan lu dari leher gue? Cekik aja gue sampe gue mati. Habis itu, lu bisa buang jasad gue ke laut. Jadilah lu Bagas selamanya, tetapi sebagai seorang pembunuh,” sarkasnya.


Aku bangkit, dan membelakangi si Kunyuk. Aku tutup mata untuk meminta asupan kesabaran dari alam.


“Urus hidup masing-masing!” laungnya.


Jangan! Jangan terprovokasi lagi oleh lidah kotornya!


Memang ucapannya menyakitkan di hati, tetapi aku harus bisa menahan emosi. Apabila suatu hari terpaksa harus melenyapkan dia, aku pastikan bukan tanganku yang melakukan eksekusinya.

__ADS_1


__ADS_2