
Jalan pikiran manusia amatlah sulit untuk ditebak. Kata bisa menipu. Ekspresi bisa mengandung kepalsuan.
Entah apa yang dipikirkan oleh Metha. Aku terbawa kesal atas tingkahnya yang tiba-tiba menelepon hanya untuk memberiku ancaman.
Apakah benar dia mencintaiku? Atau dia hanya terobsesi untuk memilikiku. Dia ingin memamerkan kepada orang-orang jika mampu menaklukan hati Bagas.
Mengapa aku bisa berpikir demikian? Karena sikap yang ditunjukkan Metha belakangan ini laksana ombak yang menyapu pasir pantai. Ia seperti hanya ingin bermain-main bukan serius mendalami perasaan.
Hah! Aku benci dengan ancaman. Aku tidak suka apabila harus melakukan sesuatu dengan keterpaksaan. Situasi pelik ini justru memudarkan simpatiku kepadanya. Lagi pula, dari awal aku sudah jujur. Aku tidak mencoba memberinya harapan apalagi mempermainkan perasaannya. Sekali lagi, targetku bukanlah dia.
Aku jemput Mutia dan Andy di depan kampus. Ketika kuceritakan mengenai aksi nekat Metha, mereka pun terbawa panik seperti yang kurasakan. Namun, aku memiliki tambahan rasa kesal. Kesal karena dijadikan sandera sekaligus tebusan.
“Gas, serius Metha mau bunuh diri? Di mana dia sekarang?” tanya Mutia seusai ia dan Andy masuk ke dalam mobil.
“Bener, Mut. Barusan dia video call buat nunjukin posisi dia saat ini. Makanya, aku ngajakin kalian buat minta pencerahan,” jawabku sembari mengatur kecepatan berkendara.
“Apa alasan dia melakukan itu, Gas? Apa karena lu tolak dia?” Andy turut memastikan.
“Dari awal ketika dia nyatain perasaannya ke gue, gue udah bilang nggak bisa nerima dia. Sekarang tiba-tiba dia maksa gue buat setuju jadi pacar dia dengan ancaman bunuh diri seperti ini,” jelasku.
“Gue rasa dia hanya terobsesi sama lu aja, Gas.” Andy memberi komentar seperti yang aku pikirkan.
Aku jeda untuk ambil atur nafas sejenak. “Gue juga mikirnya gitu sih, Dy. Cuma ada hal yang aneh sih. Dulu dia bilangnya hanya ingin mengungkapkan perasaannya ke gue. Dia nggak meminta jawaban. Lu tahu sendiri kan, kalau gue udah lebih dulu suka sama orang lain.”
“Siapa, Gas?” Mutia menyahuti kalimat terakhir yang aku lontarkan. Dia tampak begitu penasaran.
Duh! Otakku kelepasan dalam mengatur kata-kata. Dalam hitungan detik bisa-bisanya aku lupa ada Mutia di kursi belakang. Haruskah aku katakan jika orang yang dimaksud dalam ucapanku yaitu dia?
“Awas, Gas!” teriak Andy. “Pelan-pelan aja, Gas! Atau lu mau gantian, biar gue aja yang nyetir?”
Hampir saja aku menabrak pedagang bakso yang menyeberang. Kacau!
“Sorry…. Sorry…. Gue takut Metha keburu terjun,” kilahku.
“Kalau menurutku, dia pasti nunggu kamu datang, Gas.” Mutia mengemukakan pandangannya. “Tujuan dia kan ngelakuin itu supaya kamu mau jadi pacar dia. Sudah pasti dia nggak akan terjun sebelum mendapatkan kepastian dari kamu.”
Aku satu suara dengan Mutia. Lantas, aku meminta bantuan ide dari mereka untuk menguraikan masalah ini. Pikiranku sedang terasa buntu. Tiba-tiba semua rencana yang sudah aku petakan bak menjadi gumpalan benang kusut.
Aku jelaskan kepada mereka bahwa aku tidak mau bersandiwara. Aku tidak bisa pura-pura cinta. Namun, aku juga tidak mau disalahkan jika terjadi sesuatu kepada Metha.
Menyelamatkan nyawa orang lain memang tindakan yang mulia. Akan tetapi, Metha juga harus belajar untuk menerima kenyataan. Dia harus konsisten dengan ucapannya.
Ataukah jangan-jangan ada yang meracuni pikiran Metha sehingga dia memiliki rencana dangkal seperti ini? Ya, dulu aku lihat dia sebagai perempuan yang ceplas-ceplos kalau ngomong, ceria, dan tangguh. Mengapa dia mendadak menjadi terlalu berperasaan seperti ini? Bukankah ada sesuatu yang janggal, sekalipun isi hati manusia tidak ada yang tahu dan bisa berubah wewaktu-waktu?
__ADS_1
“Aku nggak nyangka Metha menjadi seperti ini. Sejauh yang aku lihat, dia sosok yang kuat.” Pernyataan Mutia mengarah pada hal yang sama dengan yang kupikirkan. “Dia memang beberapa kali cerita sama aku kalau dia suka kamu, Gas. Tetapi, dia juga bilang hanya sekadar suka atau mengagumi aja. Ibarat mengidolakan seorang artis, dia tidak mengharapkan balasan rasa yang sama dari kamu,” papar Mutia.
Apa mungkin Ardi yang menjadi dalang perubahan emosi Metha? Bisa jadi. Namun, apa dasar dia melakukan hal tersebut? Sekadar menjadikan Metha sebagai boneka untuk menghalau langkahku mendekati Mutia? Apa mungkin ada alasan lain yang di luar prediksiku?
Ah, aku tidak boleh menyebut nama atau menuduh selagi belum memiliki bukti. Bisa saja ketika aku menjadi Bagas, dan tak sadar memberikan perhatian kecil kepada Metha, itu membentuk kuarsa di hatinya.
Benar. Jika kuingat-ingat, Bagas yang sebelumnya tidak dekat dengan Mutia dan Metha. Dia selalu bersama para panglimanya. Bahkan, dia hanya menebar senyum ketika mendapatkan perhatian dari para penggemar perempuan. Tidak ada keakraban lebih yang dia tunjukkan. Hidupnya damai tanpa digerogoti kata “posesif”.
Hem! Berarti aku yang telah salah langkah? Tidak. Aku tidak salah. Aku tidak boleh menyalahkan diriku sendiri. Itu berpotensi merusak kesenangan hidupku saat ini.
Justru ada satu hal yang mengganjal dalam benakku. Benarkan si Muka Dua itu menyukai Mutia? Jika ya, mengapa dia tidak memanfaatkan tubuh sempurnanya ini? Mengapa dia baru mengakui ketertarikannya terhadap Mutia ketika berada di dalam tubuhku?
“Gas, pokoknya nanti lu ajak Metha ke mobil dulu aja. Lu iyakan semua permintaan dia,” ujar Andy membuyarkan renunganku.
“Tapi, Dy. Gue kan tadi udah bilang kalau gue nggak mau nantinya Metha…”
“Gas, dengerin gue dulu!” potong Andy. “Gue sama Mutia akan tunggu di mobil. Lu selametin dulu aja Metha. Nah, kalau kita semua sudah ada di mobil, kita ajak dia ngobrol ke suatu tempat yang tenang.”
Aku belum paham maksud dari rencana yang Andy sampaikan. Sementara, aku ikuti saja arahannya. Tak ada waktu untuk berdebat. Google Maps sudah mewartakan jarak menuju tempat Metha berada tinggal 100 meter lagi.
Metha sudah tampak dalam jangkauan mataku. Kuparkirkan mobil di tempat yang agak sulit untuk dia terawang. Dia tidak boleh tahu bahwa aku mengajak Mutia dan Andy.
“Met, ayo pulang!” ajakku dengan suara lantang.
“Met, tadi kan aku sudah mengucapkan itu di telepon.”
Metha memelototiku. “Aku pengen dengar persetujuan itu secara langsung. Aku pengen lihat sorot matamu agar aku tahu kamu serius atau tidak dengan ucapanmu.”
Metha naik ke pagar jembatan untuk meningkatkan intimidasinya. Gertakan non verbal yang dia lakukan sungguh di luar nalar.
“Oke. Iya,” ucapku tak mau berlama-lama bercengkrama dengan kemelut.
“Iya, apa?”
Aku tidak mau mengatakan “setuju.”
“Sekarang kamu turun dulu. Jangan main-main dengan bahaya, Met! Bagaimana kalau kamu justru terpleset dan jatuh beneran?”
“Nggak apa-apa. Sekalian aja aku mati,” gertaknya.
Huh! Aku sudah tidak tahan lagi. “Ya sudahlah! Kalau memang itu sudah jadi pilihanmu. Kalau kamu mati, palingan aku hanya akan ditanya sama polisi mengenai penyebab kematianmu. Hari selanjutnya, aku akan menjalani hidupku seperti biasa. Teman-teman yang mengenalmu pun mungkin sama. Mereka hanya akan menangisimu hingga sampai kamu dimakamkan. Juga, orang tua dan keluargamu mungkin akan bersedih setiap hari, tetapi mereka pasti akan tetap melanjutkan hidup tanpamu.”
“Apa maksud kamu berbicara seperti itu?” Metha menurunkan kakiknya.
__ADS_1
“Aku hanya mengingatkanmu. Ketika kamu mati, orang yang mengenalmu hanya sehari atau dua hari menangisimu. Hari berikutnya, mereka akan terbiasa tanpamu. Mereka tertawa, bersenang-senang kembali. Mereka mungkin mengingatmu selalu, tetapi kamu tidak bisa berharap mereka akan setiap saat mengenangmu.”
Tiba-tiba Mutia datang. Tanpa pembukaan, dia langsung menampar Metha.
Aku terperangah. Aku sangat terkejut dengan aksi Mutia tersebut. Teriknya cahaya matahari di atas kepala menambah kepusingan
“Kenapa kamu ada di sini? Kenapa juga maen tampar aku begini?” Wajah Metha merah menyala.
Lalu, aku segera lindungi Mutia dari Metha yang berusaha menyosornya. Tampak jelas ia ingin membalas perbuatan Mutia.
Andy pun berlari. Dengan sigap, ia menahan Metha.
“Kamu lihat kan, Gas! Orang yang kamu suka ternyata seorang yang munafik. Tampilannya saja alim, tetapi perilakunya seperti preman. Perempuan seperti itu yang kamu suka? Perempuan bertopeng kepalsuan, bermuka dua.”
Aku melirik kepada Mutia. Perkataan Metha membuatku sangat khawatir akan menimbulkan perubahan sikap Mutia setelah ini.
“Iya, aku munafik. Aku pura-pura alim. Tapi asal kamu tahu ya Met, aku menampar kamu karena ingin menyadarkan kamu,” tegas Mutia.
“Menyadarkan? Memangnya aku sedang tidak pingsan.”
Aku dan Andy sama-sama waspada menahan dua perempuan ini. Mereka seperti sedang ingin adu kekuatan.
“Tubuhmu memang sedang tidak sedang pingsan, tetapi otakmu yang pingsan. Kamu suka sama orang hingga seperti ini. Kamu mengancamnya dengan tindakan bunuh diri. Buat apa? Buat menyenangkan diri kamu atau hanya untuk memuaskan ambisimu aja? Lalu, yang mau kamu tunjukkan itu cinta atau nafsu? Semisal sekarang kamu loncat, kemudian mati seketika. Orang yang kamu cintai akan tetap melanjutkan hidupnya. Sedangkan kamu? Kamu akan lebih dulu mempertanggung jawabkan hidupmu di dunia dengan para malaikat.” Mutia begitu emosional.
Metha berkaca-kaca. Inti ucapan aku dan Mutia sama. Kami ingin Metha sadar bahwa perasaannya telah melewati pembatas jalur.
“Aku minta maaf karena telah menggunakan tanganku untuk membuka pikiranmu. Saking pedulinya aku sama kamu, aku nggak bisa diam. Kamu tahu aku, kan? Aku nggak banyak bicara sama orang lain. Aku terkadang apatis. Itu karena apa? Karena aku tidak begitu peduli sama hidup mereka. Tapi sama kamu, aku nggak bisa seperti itu. Kita kenal dari OSPEK. Walau belum genap satu semester kita saling bersahabat, namun aku merasa kita banyak kesamaan dan sangat dekat.”
Mutia dan Metha menangis. Kemudian, aku mengajak mereka lekas ke dalam mobil. Aku khawatir ada pengendara yang usil – mengambil gambar, kemudian mem-viral-kannya ke media sosial.
Insiden ini semoga bisa merekatkan kembali persahabatan Mutia dan Metha. Aku jadi semakin tahu sisi lain dari Mutia.
Ada orang yang ketika peduli kepada orang lain akan mencurahkan segala perhatiannya dengan kata-kata dan sentuhan. Ada juga yang menyimpan bahasa, dan mengkonversinya ke dalam perilaku. Setiap orang punya cara tersendiri. Syukurilah jika memiliki teman seperti Mutia.
Aku injak gas dan putar setir menuju Ancol. Melihat laut lepas ditemani semilir angin pantai mungkin bisa merelaksasi pikiran kami.
***
Hari demi hari berlalu. Metha pulang ke kampung halamannya untuk sementara waktu. Aku berharap dia menjadi lebih bijak setelah kembali dari mudik.
Terkait perasaanku kepada Mutia. Aku belum mempertegasnya. Aku masih berikan sedikit waktu bagi dia untuk mencerna pernyataan Metha waktu itu – tentang orang yang sebenarnya aku suka.
Memang ada sedikit kecanggungan di antara kami setelah tragedi di jembatan. Kami berjumpa, tetapi terkadang seperti ada kata yang tertahan. Kami berbincang, tetapi belum seluwes sebelumnya.
__ADS_1