Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 28: Kebencian


__ADS_3

Sesal berputar mengitari kepala. Amarah bergulir menyusuri alur nadi tubuh. resah bergelora membakar setiap centimeter kulit.


Laksana menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri. Mengapa setiap aku berupaya memberikan peringatan kepada Ardi, justru aku yang menanggung sial? Padahal, aku ibarat semut yang menggigit karena dinjak.


Kuakui, dia lihai dalam membaca permainan ini. Dia mampu menjebakku. Kebahagiaan yang aku rancang, karam di tengah jalan.


Penolakan cinta dari Mutia atas ungkapan cintaku begitu menyakitkan. Namun, Ardi memperparah keadaan. Seandainya dia tidak curang, Mutia pasti sudah jatuh di pelukanku.


Ya, Mutia mengatakan memiliki perasaan yang sama kepadaku. Hanya karena rekaman yang dipelintir itu, dia begitu mudah memuaikan rasa. Dia memberikan alasan bahwa aku tidak sebaik sangkaannya.


Sebentar! Mutia menyukai Bagas. Dia tidak tahu tentang jiwa yang terkandung dalam tubuh ini. Artinya, Mutia pun sebenarnya sama dengan perempuan lain di luar sana. Padahal kupikir, dia satu-satunya orang yang tidak menaruh hati kepada Bagas. Dia juga tidak memandang seseorang dari fisik dan penampilam. Nyatanya, aku keliru.


Mengapa aku bisa menyimpulkan Mutia seolah-olah munafik? Jika dia mencintai dari hati seharusnya dia mau mencerna penjelasanku lebih dahulu. Dia tidak lantas marah, dan pergi. Ini sedikit lucu. Da menginginkan sosok yang sempurna, tetapi berlagak innocent.


Akalku menghakimi Mutia bukan karena aku tidak terima kenyataan. Ini disebabkan oleh rasa kecewa yang meninggi dari hati ke dada.


Aku sudah membanggakannya seperti bintang di angkasa. Aku rela memusatkan cinta dari SMA hanya untuknya. Dia, dengan mudahnya, mematahkan penantian serta perjuanganku.


Jika kesalahan kecil membuatnya berubah pikiran secepat lagu kereta api, maka aku pun bisa memudarkan rasa ini. Tak akan ada lagi nama dia bersemayam dalam angan.


Huh! Situasi menjadi begitu rumit.


Ironisnya, aku tidak bisa membenci dia tanpa adanya antitesa yang benar-benar merusak rasionalitasku. Gambaran dirinya terlalu kuat bertahta dalam sanubariku.


Aku hubungi Tommy, Revan, dan Leo untuk bertemu di café biasa. Aku membutuhkan sudut pandang mereka mengenai masalah ini.


Urusan memanjakan lidah dan memenuhi isi perut, mereka sangat gesit. Kapan pun aku ajak bertemu, asal di tempat makan, mereka pasti bersedia.


Ketika aku tiba di café, mereka sudah duduk dilayani seorang pramusaji. Sapaan hormat layaknya bawahan mereka alunkan menyambutku. Para prajurit yang akan menjadi tombakku untuk balas dendam kepada Ardi.


“Kayaknya lu lagi kesal bengat, Gas. Kenapa?” tanya Tommy menganalisa raut wajahku.


“Kemarin gue nembak Mutia, tetapi dia nolak gue,” jawabku. Selain materi, kesedihan ampuh untuk menguatkan kesetiaan Tommy dan yang lain.


Namun, suasana malah mendadak hening ketika aku mulai menerangkan penyebab hatiku menjadi mendung. Mereka diam, bahkan berhenti mengunyah. Apakah mereka larut dalam emosi yang kupancarkan?


“Kok lu pada langsung diem? Gue lagi cerita nih,” tegasku. Aku datang untuk menghibur diri dan mengharap solusi hati, bukan untuk mendongengkan cerita si Kancil secara searah.


“Em…. kok bi…. bisa sih lu ditolak sa…. sama Mutia, Gas?” tanya lagi Tommy terdengar gugup.


Aku pun lekas inget kejadian dulu. Aku pernah marah ketika mereka meremehkan Mutia. Alasan tersebutlah yang mungkin melatari sikap kaku mereka sekarang.

__ADS_1


“Gue ngajak kalian ketemu di sini buat minta pendapat. Jadi, kalian santai aja lah. Kalian itu kan teman-teman terbaik gue. Kalau bukan sama kalian, sama siapa lagu gue bercerita." Aku ikatkan tali pertemanan untuk meraih simpati dan empati mereka. "Gue ditolak gara-gara Ardi."


Leo melongo ke arahku.“Ardi? Apa yang dia lakukan, Gas? Sialan tuh si Kunyuk. Dia mulai berani bertingkah sekarang.”


"Gas, apa pun yang membuat lu kesal, kami akan bantu atasi sampai ke akarnya," timpal Revan.


Aku paparkan bahwa Ardi menghasut Mutia agar menolak pernyataan cintaku. Ardi menudingku seorang playboy yang tidak pernah serius dalam menjalin ikatan. Maka dari itu, dia meminta Mutia agar tidak terlena dengan kata-kata manis yang keluar dari mulutku. Hanya sebatas itu yang aku senandungkan kepada mereka. Menggunakan kedekatan Ardi dan Mutia yang beberapa kali tampak sebagai penyebab.


Terkait rekaman yang Ardi gunakan sebagai senjata untuk melukaiku, aku simpan sebagai arsipku sendiri. Pada dasarnya, mereka tidak suka kepada Ardi. Aku cukup teteskan garam di atas kebencian mereka. Selanjutnya, aku cukup duduk sembari menyaksikan reaksi yang akan terjadi. Mudah bukan kalau memiliki banyak uang? Kebersihan tangan senantiasa terjaga.


Kebencian bak menenggak racun seraya berharap orang yang dibenci segera mati. Namun, racun tersebut aku sajikan kepada Tommy, Revan, dan Leo. Artinya, aku bisa menyingkirkan Ardi dan tiga orang ini dalam satu waktu. Killing two birds with one stone.


Anggap saja aku sedang bermain Marionette. Ketika nanti bosan, aku gunting talinya pengikatnya. Untuk bonekanya, aku bisa buang ke tempat sampah.


“Menurut gue, lu buat si Mutia menyesal,” ujar Revan.


“Caranya, Van?” Tommy yang justru menunjukkan antusiasme.


Revan mengumpulkan telinga kami di atas meja membentuk segi empat. “Lu tinggal cari aja cewek yang lebih cantik dan anggun dari dia. Gue rasa itu bukan hal yang sulit buat lu. Lagian, kayaknya dia cuma pura-pura aja nolak lu, Gas. Dia mungkin berkhayal dikejar-kejar pria tampan dan kaya raya seperti yang ada di cerita sinetron. Nah, kalau lu terlihat patah hati, si Mutia akan merasa bangga. Harga diri lu bisa diinjak-injak oleh dia.”


Tommy dan Leo menganggukkan kepala pertanda sepakat dengan pernyataan Revan.


Aku meresapi saran dari Revan. Benar juga. Sifat asli Mutia sudah terkuak. Untuk apa aku mengejar cintanya – merendahkan kesempurnaan yang aku rasakan sekarang?!


Leo meminta maaf atas kelalaiannya. Dia juga mengatakan punya rencana yang luar biasa untuk membuat Ardi jatuh tanpa disentuh.


Sayangnya, Leo enggan mengungkapkan hal yang akan dilakukan kepada Ardi. Katanya, itu kejutan spesial buatku. Biarkan menjadi urusannya bersama Tommy dan Revan sebagai tebusan atas kelalaiannya. Aku pun diminta untuk tidak perlu khawatir.


Ada rasa penasaran. Namun, memang  lebih baik aku menunggu hasil nyata “jerih payah” mereka saja. Terkadang, tidak tahu lebih menenangkan. Asalkan posisiku aman, aku tidak harus tahu strategi perang mereka.


Semakin malam, obrolan kami semakin seru. Aku mendaptakan kesenangan yang berbeda dari yang pernah kurasakan selama ini. Sisi gelap mereka membuatku bisa tertawa lega walau disusupi dosa.


Saking terbawa suasana, aku terkejut melihat catatan waktu di layar ponsel. Tertulis pukul 02.00 dini hari. Tak kusangku aku bertahan dengan mereka lebih dari 5 jam. Bercengkrama hingga lupa waktu.


Aku putuskan untuk segera pulang. Saat keluar rumah, aku mengatakan kepada Mama hanya pergi sebentar untuk mengerjakan tugas kuliah bersama teman.


Plong! Aku nikmati keindahan jakarta yang tidak pernah tidur. Jalanan masih cukup ramai dengan wara-wiri kendaraan. Hilir mudik warga juga terpantau padat di tempat-tempat hiburan.


Setiba di rumah, aku berhati-hati sekali melangkah. Aku mengatur ritme kaki agar tak menghasilkan bunyi yang bisa membangunkan Mama dan Papa.


Tik! Ruangan yang semula redup seketika berubah terang benderang bagaikan siang. Aku berhenti menaiki anak tangga. Ah! Semoga hanya teguran biasa yang akan kuterima.

__ADS_1


“Dari mana kamu jam segini baru pulang?” suara Papa menggema memecah kesunyian malam.


Aku berbalik badan. Papa menatapku dengan ekpresi yang menggoyahkan doaku.


“Kamu tahu ini jam berapa? Pulang sesuka hati. Mau jadi apa kamu?”


Aku berjalan menghadap Papa. Ucapan Papa yang begitu menggelegar membuatku takut.


Kemudian, aku berupaya menyusun jawaban – alasan yang bisa menyelematkanku dari amarah Papa. “Ba…. Ba…. Bagas dari kost teman, Pah. Bagas ketiduran karena kelelahan ngerjain tugas.”


Papa mengendus area di sekitar bahu dan kerah bajuku. Sikapnya semakin membuatku diliputi kecemasan.


Plaaak!!! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiriku. Aku tidak bisa mengelak sedikit pun, karena kedatangannya begitu tiba-tiba.


“Papa sudah payah mendisplinkan kamu. Juga, mengajari kamu pentingnya kejujuran. Kamu justru membohongi Papa. Kamu pikir Papa ini orang tua pikun yang bisa kamu tipu?” vokal Papa sangat berapi-api. “Sejak kapan kamu mulai minum alkohol? Bilang ngerjain tugas, tapi tahunya main di club malam. Iya, kan?”


Pembelaan apa yang harus aku sampaikan? Papa tahu aku mencicipi alkohol.


Ah, bir yang masuk melalui mulutku hanya satu gelas kecil, tetapi aromanya menyeruak pekat ke penciuman orang yang ada di dekatku. Sial! Tahu akan begini, semestinya aku "minum" sampai puas.


“Ma…. maaf, Pah. Ba…. Bagas di…. dipaksa sama teman. Tapi Bagas nggak sampai mabuk kok, Pah,” jelasku. Dalam situasi panas seperti ini lebih baik aku mengakui. Namun, tetap harus ada kambing hitam yang dikorbankan.


"Dipaksa? Memangnya kamu anak kecil yang tidak punya pendirian?"


Papa tidak lantas menerima alasannya. Bahkan, tangannya terlihat bergetar, mengayun ke udara.


Orang tua kandungku saja tidak pernah berkata keras apalagi memukulku.


Papa menarik lenganku. Tadinya, aku kira akan ditampar lagi.


"Sini kamu." Papa menyeretku.


Mama pun keluar kamar sembari merapikan rambutnya.


"Ada apa sih, Pah? Tengah malam begini kok teriak-teriak sih." Mama menghadang langkah Papa.


"Lihat nih anak kamu! Dia jam segini baru pulang, dan berani-beraninya dia mabuk-mabukkan," terang Papa dengan lantang.


"Terus Papa mau menghukum Bagas? Mama nggak terima. Bagas itu bukan lagi anak kecil yang bisa Papa hukum seperti dulu." Mama memelototi Papa untuk melindungiku.


Papa menghembuskan nafas penuh kekesalan, lalu masuk ke dalam kamar. Sementara itu, Mama menyuruhku untuk beristirahat.

__ADS_1


Setidaknya, aku beruntung memiliki Mama yang begitu penyayang.


Aku baringkan tubuh di atas kasur. Aku tidak mungkin dimarahi Papa jika bukan karena memikirkan Mutia. Ya, dialah penyebab aku lepas kendali hingga diamuk oleh Papa.


__ADS_2