Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 44: Menahan


__ADS_3

Ombak menderu menyapu pantai. Hatiku pun ikut bergemuruh menatap laut lepas tak bertepi. Aku masih tak berani untuk membalikkan badan dan menuturkan kejujuran kepada Mutia.


Memang tak ada rahasia yang sempurna, tetapi aku tak pernah berpikir untuk membagi cerita ini dengan Mutia. Sungguh lebih baik tidak ada yang tahu siapa aku ini.


Ah! Mengapa aku jadi over thinking begini? Aku bisa mengatakan Mutia salah mengolah kata yang ia dengar. Lagi pula, siapa yang akan percaya jika dua jiwa bisa bertukar raga?!


Pikiran berlebihan ini masih saja sulit dilenyapkan dari kehidupanku yang dulu. Tenang, Bagas!


Aku atur nafas sejenak, lalu memutar untuk menghampiri Mutia. Sepatutnya tak ada yang perlu aku khawatirkan. Justru jika aku menampilkan ekspresi tersebut, maka Mutia bisa saja menyelidiki.


Hah! Tapi di mana Mutia? Tadi kudengar suaranya mendatar ke arahku. Kini, dia menghilang begitu saja. Apa mungkin aku yang salah dengar?


Mataku berkeliling untuk mencari keberadaan Mutia. Akhirnya, aku pun berhasil menemukan posisi dia.


Lantas, langkahku mengayun cepat. Begitu berada di belakangnya, aku langsung menodongkan pertanyaan. “Kamu lagi ngapain di sini, Mut?”


“Aku lagi bantuin Ardi mengumpulkan kelapa yang jatuh,” terangnya santai.


“Ardi?” Aku menghela nafas lega. Benar, tak ada yang perlu aku jelaskan. "Di mana dia sekarang?"


“Dia barusan membawa sebagian kelapa yang sudah terkumpul. Kenapa kamu terlihat terkejut gitu, Gas?” tanya Mutia sembari tampak meneliti mimikku.


Aku pun segera tersadar untuk memperbaiki setiap kerutan yang melingkar di wajahku. Lalu, aku memutuskan untuk kembali ke dalam rumah.


“Gas, apa sekarang kamu punya waktu untuk kita berbicara empat mata?” pintanya dengan nada serius.


Kakiku berhenti melangkah. Aku coba terka sejenak topik yang ingin dibicarakan oleh Mutia.


Menurut firasatku, ini pasti tentang Dita dan Metha. Mutia berupaya menyambung kembali pembicaraan tempo hari yang belum usai.


Oke! Aku bersedia mendengarkannya. Hitung-hitung untuk melengkapi dan mengkomparasi penuturan Andy.


“Ya, silakan,” ucapku tanpa berbalik badan.


Mutia berjalan ke hadapanku. “Gas, maaf, apa kamu tidak merasakan ada hal aneh dari Dita dan Metha?”


“Aneh? Apanya yang aneh dari mereka? Mereka punya rencana tidak baik sama aku, begitu? Itu lagi yang pengen kamu bahas?” Aku memainkan dinamika dan intonasi sedikit agar terdengar resah.


“Gas, aku harap kamu berhati-hati sama mereka.”


“Berhati-hati karena apa? Katakan aja langsung apa yang menjadi dasar kamu menjelek-jelekkan mereka.” Kali ini, aku meninggikan suara.


“Aku bukan sedang bermaksud menjelek-jelekkan mereka di depan kamu.”


“Terus apa?”

__ADS_1


Mutia menghela nafas sesaat. “Dita dan Metha ingin menculik kamu, Gas. Mereka sengaja mendekatimu untuk mencari titik kelemahanmu. Setelah kamu lengah, mereka akan membawamu ke suatu tempat yang jauh. Dita mengejar cinta kamu hanya untuk membuat kamu terpedaya dengan cintanya. Dia tidak benar-benar mencintaimu, Gas.”


Aku palangkan telapak tangan ke jidat. Kutarik juga kedua alis sambil melebarkan kedua bibir. Penjelasan Mutia terhantar begitu konyol.


“Haha….” tawaku. Bukan untuk meledek, melainkan untuk mengasah pernyataannya. “Dita dan Metha mau menculik aku, terus mereka mau minta tebusan ratusan jutaan atau miliaran rupiah kepada orang tuaku. Benar seperti itu?” seringaiku.


Mutia mengencangkan lukisan wajahnya. “Gas….”


“Oke, oke. Aku percaya. Tapi, dari mana kamu tahu hal tersebut?”


“Aku dengar sendiri dari mulut mereka. Waktu aku tak sengaja lihat Metha dan Dita mengobrol di DPR. Awalnya, aku ingin menghampiri Metha karena ada sesuatu yang ingin aku tanyakan terkait teknis pengerjaan tugas kelompok. Namun, aku lebih dulu mendengar mereka berbicara tentangmu, Gas. Aku pun coba menguping untuk...."


Aku sela penjelasan Mutia. “Terima kasih atas kepedulian kamu, Mut. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku juga tidak suka apalagi cinta kepada Dita. Sampai saat ini, orang yang kucinta dari SMA masih sama.”


Aku berlalu meninggalkan Mutia sendiri. Aku takut larut dalam harap hingga sulit untuk memandu hati.


Entahlah! Gengsi membahana dengan lantang di sanubariku. Hasrat untuk bersama Mutia sejatinya masih terawat indah. Namun, aku takut dia menolakku lagi. Terkadang aku tak bisa membaca secara fasih setiap kode yang dia tunjukkan.


Kurebahkan badan di kursi sofa yang nyaris tinggal kerangka. Aku coba olah semua perkataan Mutia. Akalku masih belum mampu menerima rencana Dita dan Metha yang akan menculikku sebagaimana yang Mutia sampaikan. Lagi pula, untuk apa Duo Racun melakukan hal tersebut? Untuk mereka cicipi tubuhku ini? Rasanya itu terlalu liar bila dipikirkan.


Pun, jika tujuannya demi uang, aku tidak melihat Dita dan Metha sebagai sosok yang materialistis. Hidup mereka tampak cukup baik secara ekonomi. Dan lagi, aku bukan anak kecil yang mudah diimingi-imingi permen, lalu percaya bahwa sang pemberi merupakan orang baik.


Akhhhh!!!


Kupejamkan mata untuk mendinginkan kepala. Terkadang tidak tahu lebih menenangkan. Ya, karena Mutia memberi tahu rencana utama Dita dan Metha yaitu menculikku, pikiranku menjadi bimbang mengidentifikasi kebenaran. Aku sangsi kepada Mutia, tetapi aku juga dibayangi curiga tatkala merangkai tingkah polah Dita dan Metha.


Aku pun segera membuka mata. Kusambut riang semangkuk Es Sekemu yang Ibu bawakan.


“Terima kasih, Bu. Ini minuman terfavorit sepanjang masa. Apalagi jika Ibu yang buatkan.”


“Favorit.” Ibu menyipitkan mata, dahinya juga ikut mengkerut. “Memangnya di Jakarta ada yang jualan es ini? Ibu kira ini bakalan jadi kali pertama Nak Bagas cobain es ini.”


“Em…. a…. ada, Bu. Tapi memang agak jarang.” Padahal, aku belum pernah menemukan es dengan bahan dasar serutan kelapa yang lebar dan potongan sawo seperti ini di Jakarta.


Aku penuhi mulutku agar terlihat sibuk untuk diajak berbincang. Kontrolku sedang tidak baik, terlebih bila bertukar kata dengan Ibu dan Ayah.


Ibu tersenyum kepadaku, lalu kembali ke dapur.


Huh! Adrenalinku sedang dipacu oleh berbagai situasi.


***


Langit begitu indah. Bulan berbentuk bulat sempurna dikelilingi bintang-bintang yang berkilapan.


Mungkin pemandangan malam ini bisa disaksikan juga di berbagai tempat lain di belahan bumi. Namun, menikmatinya di kampung halaman sendiri sangatlah memanjakan mata dan memuaskan cipta rasa.

__ADS_1


Dua tenda sudah berdiri kokoh. Deburan ombak dan api unggun turut meromantisme suasana. Alam paham bahwa kami akan bercerita tentang rencana esok sembari mendekap syukur.


Hem! Aku berharap waktu berhenti sampai kudapati jumlah pasti bintang yang melayang di angkasa.


“Gas, gimana rencana kita besok?” Andy mengganggu kemesraanku dengan alam.


Kulihat jam di ponsel. Pukul 19:25. Aku ambil waktu 5 menit untuk menghimpun udara segar sembari memanggil Dita dan Metha – yang sibuk mengambil gambar – agar lekas merapat. Kemudian, Ardi pun datang membawa nampan berisi kopi dan teh hangat.


“Baiklah. Besok, sesuai diskusi kita tadi siang, paginya kita ikut kerja bakti. Setelah kerja bakti, aku, Andy, dan Ardi akan mencoba sharing dengan warga terkait pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Sebenarnya, di kampung ini warganya cukup tertib, tetapi karena itulah kita perlu menjaga atau memotivasi kebiasaan mereka. Untuk Dita, Metha, dan Mutia, kalian bimbing anak-anak ke perpustakaan mini yang kita buat. Buku-buku yang tersedia saat ini memang belum banyak, tapi seiring berjalannya waktu kita akan lengkapi. Kita bisa juga open donasi buku-buku bekas yang masih layak baca ke teman-teman kelas. Intinya, kita coba dirikian kampung ini untuk menjadi Kampung Literasi,” jelasku.


“Apa rencana kita tidak terlalu ketinggian, Gas? Sorry, kita di sini cuma untuk beberapa hari, kan? Ngapain juga kita sampai serepot itu. Ya, aku tahu maksud kamu baik, Gas. Tapi apa kita sanggup ke depannya mengontrol apa yang kita dirikan ini?” Metha melakukan interupsi. Mulutnya seperti disetel untuk bekerja secara efektif dan efisien - berbicara hanya jika perlu.


“Di sini kita mencoba menginisasi kebaikan. Seperti yang didiskusikan dengan Pak RT tadi siang, kita datang bukan untuk membentuk ikatan atau membangun gerakan secara berkisambungan, walau bisa saja itu kita lakukan. Intinya, di sini, kita hadir untuk berbagi dan belajar. Selanjutnya akan bagaimana setelah kita pergi, kita bisa mengontrol dari jarak jauh. Namun, hal itu pun bukan sebuah kewajiban bagi kita. Kenapa? Karena Pak RT bersedia menjadi supervisor kegiatan kita ini ke depannya. Beliau juga bilang bahwa apa yang kita lakukan sangat membantu tugasnya sebagai pengayom masyarakat,” paparku (sok) bijak.


Mereka pun terdiam. Sepertinya mereka terkesima dengan syair kebajikan yang aku dendangkan.


Tak lama, Mutia datang membawa satu nampan jagung mentah. “Apa pembagian tugasnya sudah dimulai? Maaf ya kalau aku telat,” katanya merdu.


“Gue kira lu udah pulang. Lagian, ada apa ya lu masih di sini? Lu kan nggak diajak.” Dita melontarkan sindiran yang menohok.


“Kata siapa aku nggak diajak? Buktinya Bagas dan Ardi aja nggak ngusir aku tuh,” balas Mutia.


Dita berdiri. Mukanya tegang dengan bibir sedikit digoyang-goyangkan.


“Mereka itu nggak tega aja ngusir lu. Harusnya lu yang tahu diri. Lu tuh kemarin cuma dikasih tebengan, bukan diajakin untuk terlibat dalam kegiatan ini. Gue yakin lu di sini pasti cuma mau tebar pesona sama Bagas, kan? Jangan lu pikir gue nggak tahu niat licik lu! Lu pura-puranya nolak Bagas, padahal lu cemburu banget kan lihat gue jadian sama Bagas,” suara Dita naik dua oktaf. Kata-katanya semakin menukik –  mengobrak-abrik kesenanganku.


“Aku nggak ngerti maksud kamu, Dit. Jelas-jelas kehadiranku di sini karena Bagas barusan chat aku buat segera berkumpul, pembagian tugas. Kenapa kamu malah membahas hal yang lain?” tegas Mutia membela diri.


“Benar Gas yang dia omongin itu?” tanya Dita kepadaku.


Aku mengangguk. Ini hanya sebatas profesionalismeku. Bagaimana pun, kehadiran Mutia kurasakan cukup berarti. Dia gesit membantu pekerjaan Ibu. Juga, dia handal dalam berkomunikasi dengan warga.


Dita mendekat kepada Mutia. Dia menghunuskan tatapan sinis beberapa detik. Kemudian, tak kusangka, dia mendorong Mutia dengan satu tangan. Mungkin karena tak menduga adanya serang dari Dita, Mutia terjatuh. Jagung-jagung pun tercecer di atas pasir.


“Ka…. kamu nggak apa-apa, Mut?” Ardi dengan sigap membantu Mutia berdiri.


“Dit, lu jangan keterlaluan! Kalau lu cemburu, mending lu kemas barang-barang lu, dan lu bisa pergi dari sini malam ini juga,” ucap Andy berapi-api.


Dita menggapai tanganku. “Kok kamu diem aja sih Gas lihat aku dibentak-bentak sama temen kamu itu?”


Lantas, aku harus bagaimana? Aku ingin menggampar Dita, tetapi aku tidak mungkin melakukannya.


Hem, lebih baik aku masa bodoh seperti Metha yang memilih menyeruput kopi daripada menjulurkan tangan untuk melerai sahabatnya.


Aku tarik tanganku dari borgol Dita. Lalu, kulantunkan tembang peneduh palsu ke telingannya. “Kamu tidak perlu cemburu secara berlebihan seperti ini ya, Sayang.”

__ADS_1


Dasar perempuan kasar! Pantas saja kecantikan yang dia miliki tak menjadi daya tarik bagi pria-pria yang berkeliaran di sekelilingnya.


__ADS_2