Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 30: Investigasi


__ADS_3

Perilaku Andy seperti tengah menginvestigasiku. Sangat kentara bahwa belakangan ini dia ingin selalu ikut ke mana pun aku pergi. Padahal sebelumnya, dia cukup abai dengan langkahku.


Keanehan Andy serta merta mendorongku untuk balik menyelidiki dirinya. Aku terbawa penasaran mengenai motif dan hal yang dia tahu tentangku. Apa mungkin ada semacam konspirasi yang dia sembunyikan? Ah, aku jadi curiga Ardi membongkar identitasnya kepada Andy.


Bagaimana pun, Andy pernah bercerita jika dia dan Bagas merupakan sahabat dekat. Maka dari itu, kecurigaanku sangat beralasan dan mungkin terjadi.


Ah, bedebah! Konklusi yang aku dapatkan justru membawaku pada misteri yang baru. Seperti sebuah bola salju, semakin menggelinding semakin besar ukurannya.


Turun dari mobil, aku merasa butuh kopi. Lantas, aku berjalan menuju kantin. Kantuk bercampur lelah membahana dalam raga. Semalaman aku sulit tidur karena pikiran yang berkeliling tak tentu arah.


Di setengah perjalanan, aku melihat Adisty berjalan seorang diri. Segeralah aku menghampiri dia. Aku hal penting yang harus aku mintakan pertanggung jawabannya. Ya, terkait pemotretan tempo hari.


Aku sudah coba hubungi dia, tetapi tak pernah direspon. Di fakultas pun dia bak menghilang dihisap langit.


“Kak,” sapaku seraya menyentuh pundaknya.


Dia berbalik badan. Tampak jelas raut tegang di wajahnya kala melihatku.


“Ba…. Ba…. Bagas. Hai, apa kabar?” suaranya selaras dengan ekpresinya.


Aku mengencangkan mukaku. Aku tatap dia dengan sedikit sinis.


“Em…. soal…. soal pemotretan kemarin, aku benar-benar minta maaf, Gas. Aku nggak ada maksud jahat kok sama kamu. Aku kepepet. Aku butuh uang buat berobat ayahku. Nanti secepatnya aku ganti kok,” ungkapnya memelas.


Dia seolah bisa membaca pikiranku. Namun, pernyataannya cukup mengerutkan dahiku.


“Jujur, aku nggak nyangka. Aku kira….” ucapku dengan tempo lambat. Aku pancing dia untuk bercerita lebih banyak.


Adisty meraih kedua tanganku. “Maafin aku ya, Gas. Aku promosikan kamu untuk jadi foto model majalah dewasa soalnya aku nggak tahu lagi gimana caranya dapat uang. Aku kira kamu pun bakal mau.” Matanya mulai diselimuti air. “Aku juga minta maaf, karena nggak ngejawab telepon dan bales chat kamu. Aku lagi bingung banget dikejar-kejar orang itu buat balikin uang yang udah aku terima dari dia.”


Adisty oh Adisty! Jika butuh uang seharusnya bilang langsung kepadaku, tak perlu menjebakku dengan pemotretan palsu.


Terlepas dari perkataannya jujur atau tidak, aku urungkan niatku untuk memarahi Adisty. Aku justru menjadi iba terhadapnya. Setidaknya, aku tahu rasanya ketika dalam kondisi kekurangan finansial.


Perasaanku terkadang memang sulit untuk dimengerti. Sudahlah! Adisty bukan targetku juga.


"Aku nggak masalah. Tapi aku harap Kakak...."


“Huh, dasar mesum!” Umpatan di udara bergemuruh menyasar telingaku hingga menjegal kalimat yang ingin aku sampaikan.


Sekertika aku putar pandangan untuk mencari sumber suara tersebut. Ternyata, dari taman fakultas.


Sebelum melihat langsung penyebab terjadinya kerumunan di taman, aku kembalikan pandanganku kepada Adisty. Namun, dia pergi dengan tergesa-gesa. Aku seolah-olah tengah bermain Russian Roulette. Semua orang yang ada di sekitarku tak bisa ditebak perannya, entah mereka protagonis, antagonis, atau tirtagonis.

__ADS_1


“Dasar manusia aneh! Pantes aja sikapnya kayak zombie, ternyata pikirannya kotor. Mesum!” hujat seorang perempuan dari kelasku.


Aku cukup mengenali vokal teman-temanku. Pertanyaannya, kepada siapa hujatan tersebut ia berikan?


“Cukup! Jangan sembarangan nuduh orang tanpa bukti!” Terdengar Mutia memberikan pembelaan.


Aku mempercepat langkahku. Mendadak mataku menjadi segar tanpa perlu meneguk kopi.


Setiba di taman, kulihat Ardi bak penjahat yang terkepung. Dia mendapatkan lemparan tisu dan botol plastik kosong. Sesuai dugaanku, sang kesakitan yaitu si Kunyuk malang.


Akan tetapi, kehadiran Mutia yang membentengi Ardi membuatku merasakan sesak. Lagaknya laksana superhero wanita.


“Orang kayak lu nggak pantes ada di sini. Malu-maluin dan bikin resah!” teriak seorang perempuan lainnya mengecam keberadaan Ardi.


Aku yang berada di barisan belakang berusaha menerka. Mungkinkah pemandangan yang tersaji buah dari perbuatan tangan Tommy, Revan, dan Leo?


“Gas, ini baru ucapan salam buat si Kunyuk,” bisik Leo dari arah belakang.


Dia datang bersama dua serdaduku yang lain. “Oke. Tapi apa yang sebenarnya terjadi?”


Leo menuntunku untuk melihat layar ponselnya. Terpampang beberapa gambar mengenai kondisi kost Ardi. Leo menggunakan nomor baru untuk membagi penampakan di kost Ardi kepada semua teman kelas, kecuali aku, katanya.


Aku masih belum mengerti. Kemudian, Leo memperbesar foto yang terbentang.


Sial! Itu kan punyaku. Maksudku, yang berupa majalah saja. Untuk boneka, aku tidak tahu asalnya dari mana.


Lalu di foto selanjutnya, ada kumpulan gambar para perempuan teman sekelasku. Semuanya terpahat di dinding di dekat lemari, seperti bahan untuk berfantasi kala libido meningkat.


Tidak. Sekali lagi, punyaku hanya yang majalah. Sebagai pria yang menuju dewasa, wajar kan sesekali bersenggama dengan ilusi untuk menguji kualitas keperkasaanku? Ah, maaf! Aku sedikit bercerita untuk menunjukkan aku pria normal.


Aku tujukan kembali perhatianku kepada si Kunyuk yang tengah dibully. Biarkan saja! Aku pura-pura menutup mata. Untuk apa aku membantunya.


“Harusnya kalian tuh simpati kepada Ardi. Secara tidak langsung, ini peringatan bahwa ada orang yang begitu licik masuk ke kamar Ardi, dan melakukan pelanggaran privasi,” seru Mutia.


“Aduh, Mutia! Foto lu ada di dalam bahan fantasi si Kumuh itu, dan lu ngebela dia bagai seorang aktivitis. Emang lu nggak takut, tiba-tiba dia ngebius lu terus bawa lu ke kost dia. Gue sih kebayang mengerikannya si Kumuh itu yang ternyata seorang predator,” tentang Dita bernada mengejek, “Atau jangan-jangan lu pernah ‘dipake’ sama dia, makanya lu belain dia. Begitukah plot twistnya?”


Aku tidak sadar Dita menyusup dalam barisan teman-teman kelasku. Namun yang aku soroti, ucapannya terdengar begitu paradoks di batinku. Aku senang dia menambahkan bumbu nestapa kepada Ardi. Akan tetapi, ada perasaan sesak saat dia merendahkan mutia.


Ah! Mutia sudah bukan lagi perempuan idamanku. Biarkan saja! Lebih baik kunikmati tontonan ini.


Tak lama, aku lihat Andy berjalan dari sisi yang berlawanan. Padahal aku sedang merasakan keseruan menyaksikan Ardi tertunduk tak punya muka.


Langkah Andy semakin mendekat. Aku lekas menerobos kerumunan dan berdiri di hadapan teman-teman bak seorang dirigen.

__ADS_1


“Bubar, bubar!” usirku dengan berteriak. “Nggak pantes kalian melakukan perundungan seperti ini. Ayo, bubar! Kita ini di sini untuk menimba ilmu, memperbaiki akhlak, bukan mendegradasi harkat dan martabat teman kita sendiri,” ucapku seperti seorang orator ulung.


Teman-teman pun undur diri. Memang karisma dan wibawa Bagas tak perlu diragukan.


Tersisa aku, si Kunyuk, si Aktivis, dan si Jiwa Malaikat. Kuakui suasananya cukup canggung.


“Lu nggak apa-apa, Di?" tanyaku basa-basi.


Dia mengangkat kepala, lalu menatapku tajam. Aku sunggingkan senyum untuk membalas intimidasi yang coba ia hunuskan.


Buuughh! Si Kunyuk berjalan melintasiku sembari mengadukan bahunya dengan bahuku. Dia seolah-olah memberikan sinyal untuk mulai menggunakan fisik dalam pertempuran ini. Sayangnya, seorang raja tidak akan turun gunung selama para kesatrianya masih cukup tangguh dan cukup mampu diandalkan.


Mutia menyusul Ardi. Baguslah! Terlalu lama menatapnya membuat sakit hatiku menganga kembali.


“Hai, Dy! Kita ke kelas langsung yuk!” ajakku.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada kaitannya sama lu, Gas?” tanyanya dengan suara tegas.


“Maksud lu apa sih, Dy? Kenapa setiap si Ardi dicemooh atau dibully sama teman-teman, pikiran negatif lu mengarah kepada gue?” Aku mendramatisasi keadaan sedikit. Lalu, aku tinggalkan saja Andy.


Andy menarik bagian bahu kemejaku. “Gas, gue ngerasa ada yang lu sembunyikan dari gue. Sikap dan tingkah lu beberapa hari ini cukup aneh buat gue.”


Aku pelototi Andy. “Siapa yang sebenarnya aneh? Gue atau lu? Bukankah harusnya gue yang bilang kalau yang aneh itu lu? Katanya lu sahabat gue dari SMP, lu kenal gue secara baik. Tetapi, kenapa pikiran lu tentang gue dipenuhi rasa curiga belakangan ini? Aneh, kan? Ya. Buat gue, lu juga aneh, Dy.”


Andy terdiam ketika aku todongkan balik pernyataannya. Namun, aku sedikit ngilu dengan adegan ini. Semoga tidak ada kamera yang merekam perdebatanku dengan Andy. Bisa-bisa aku dan dia menjadi trending di media sosial dengan tagar warna-warni.


Aku mantap tinggalkan Andy. Sepertinya dia merasa terserang balik oleh kata-kataku. Lama kelamaan, aku merasa kehadiran Andy bisa menjadi penghalang rencanaku.


Waktu berjalan cukup cepat kala bahagia menyergap. Si Kunyuk itu mungkin sedang meratapi kesedihan dan mencari topeng untuk menutupi wajahnya. Tak terbayang jika aku yang diperlakukan seperti itu. Mungkin aku sudah lari ke hutan, dan kemudian memohon kepada Tarzan untuk diperkenankan menginap.


Ardi dan Mutia tidak mengikuti dua mata kuliah yang tersaji hari ini. Mungkin mereka tengah saling menyalurkan semangat satu sama lain.


Tidak. Oh, pikiranku! Mengapa mengarah pada hal yang membangkitkan nyeri di hati?


Papa meneleponku agar aku bergegas ke kantor. Rencanaku untuk memberikan reward atas kerja keras Leo, Tommy, dan Revan tertunda. Loyalitas mereka memang patut diberi apresiasi yang tinggi.


Aku putar kemudi sembari menyalakan musik upbeat. Namun, mataku menangkap dua perempuan berdiri akrab di depan minimarket di seberang kampus.


Dita dan Metha. Mereka menjilat es krim seraya saling melemparkan tawa. Aku coba mengamati gerak bibir mereka. Sayangnya, posisiku yang dihalangi lalu lalang kendaraan cukup membuat aku kesulitan menerjemahkan percakapan mereka.


Haruskah aku turun untuk menguping mereka? Tidak bisa. Nama Papa berkedip kembali di layar ponselku. Artinya, aku harus segera menginjak gas lebih dalam.


Huh! Aku sangka mereka beroposisi, ternyata mereka mungkin berkoalisi. Baiklah, Dita! Nantikan serangan cintaku yang semu. Aku benci ditipu.

__ADS_1


__ADS_2