
Semilir angin malam yang seharusnya bisa kunikmati dengan khidmat justru terasa panas membelai tubuh. Riuhnya nyanyian samudera terbias riak gelombang. Semua kekacauan ini disebabkan oleh Dita.
Sayang seribu sayang, aku masih harus menahan emosi. Ini semata untuk membuat dia percaya bahwa aku mulai mencintainya.
“Kamu tuh pandai sekali berakting ya, Mutia. Mentang-mentang ditonton banyak orang, kamu berlagak sebagai sosok ya tertindas,” tuding Dita yang masih belum puas memaki Mutia.
Mutia memilih diam. Ia fokus membersihkan jagung yang terkontaminasi butiran pasir.
“Ga…. Gas, tolong bantu tenangkan situasi ini ya. Maaf, gue jadi ngerasa bersalah kalau justru terjadi keributan di sini,” ujar Ardi yang sebenarnya merupakan aktor utama di scene ini.
Aku coba ajak Dita duduk kembali di depan api unggun. Dalam suasana hati yang kesal. Diskusi kembali dilanjutkan.
Usai diskusi yang sangat canggung. Aku perintahkan para perempuan tidur di dalam rumah. Semoga saja Dita tidak menyambungkan keributan hingga mengganggu ketenangan istirahat Ayah dan Ibu.
Aku berjalan menyapa ombak sembari menyilangkan kedua tangan di dada. Begitu renta hidup ini. Ada saja ujian dalam menikmati kebahagiaan.
“Ini bukan lu, Gas,” suara Andy menggetarkan heningnya pertapaan pikiranku.
“Maksudnya?” sahutku seraya menangkap ekspresi wajahnya dalam samar cahaya.
“Lu lihat sendiri kan apa yang Dita lakuin tadi. Dan kenapa lu seolah membiarkan hal tersebut? Apa lu beneran udah jatuh cinta sama dia?” tanyanya lantang.
Aku memalingkan wajah ke laut lepas. Satu hal yang mengganjal di pikiran yaitu arogansi Dita yang mencuat tanpa rasa takut.
Ya, sikapku yang dingin memang mungkin menjadi pemicunya. Namun, seharusnya dia bersikap lemah lembut jika benar ingin membuat aku klepek-klepek kepadanya. Benar, ini lebih dari sekadar sifat posesif dan cemburu.
“Kenapa lu? Lu heran kenapa Dita bersikap angkuh di depan lu, sedangkan dia seharusnya berupaya keras meraih simpati lu?” Andy mampu menerka isi kepalaku.
“Terus apa yang mesti gue lakuin? Sementara lu sendiri menyimpan rahasia tentang dia. Kalau lu emang peduli sama gue, kenapa lu sulit berterus terang sama gue? Jangan-jangan, ada rahasia yang lebih besar yang lu sembunyikan di luar rencana Dita yang pernah lu omongkan ke gue,” sindirku.
Andy melangkah beberapa tapak menjauh dariku. Jelas, ada uraian yang masih terpaku di ujung lidahnya.
“Apa gue pernah ngejerumusin lu? Apa gue pernah melakukan hal yang membuat lu jatuh dalam masalah? Seperti apa pun perasaan lu ke Dita sekarang, hentikan sampai di sini. Gue bisa merasakan kalau lu belum ada rasa kepada Dita. Tetapi Dita seperti ombak yang menggulung tepi pantai, lu bisa aja terbawa hanyut olehnya ke tengah laut. Gue kenal lu, Gas," tegasnya.
“Be…. betul yang disampaikan oleh Andy, Gas,” ujar Ardi yang begitu mengagetkanku. Aku sama sekali tak mendengar jejak kehadirannya. “Gu…. gue ajak Dita untuk menunjukkan sikap dia yang sesungguhnya ke lu, Gas. Gu…. gue pernah baca, cara terbaik untuk mengetahui sifat asli orang yang kita suka yaitu mengajaknya travelling, entah itu hiking atau turut dalam kegiatan seperti ini.”
__ADS_1
Pernyataan si Kunyuk terdengar sangat bijaksana. Kontan, mataku tertuju secara lugas kepadanya.
Sebentar! Walau terdengar bijaksana, namun tetap ada yang ganjil dari kata demi kata yang dirangkai oleh si Kunyuk. Sejak kapan dia baik dan peduli kepadaku?
Jelas, dia menyampaikan hal tersebut agar terlihat positif di depan Andy. Akan tetapi, artinya si Kunyuk pun tahu Dita merencanakan sesuatu yang tidak baik kepadaku.
Seketika aku dilanda krisis kepercayaan. Andy tidak mau mengurai rencana Dita. Si Kunyuk mendadak seolah ada di pihakku, sedangkan dia bisa saja sangat menipu.
Mutia. Ya, hanya Mutia yang terlihat tidak berafiliasi dengan siapa pun.
Ah, tapi dia telah menyakitiku. Sekarang dia mencoba lagi untuk dekat denganku. Di balik hal tersebut, pernyataan Dita tentang Mutia mungkin saja ada benarnya. Mutia tengah mempermainkan perasaanku saja.
Dunia menyemburkan kepelikannya. Rupa dan sikap sulit dijadikan patokan untuk mengenali isi hati seseorang. Kata dan ekspresi pun sangat mampu dimanipulasi untuk mencapai tujuan tertentu.
Kuutarakan keresahanku ini dalam bait yang puitis. Semoga Andy dan si Kunyuk mampu mencerna maksudku. “Jika kita genggam pasir pantai ini, maka ia terasa halus di tangan. Namun jika ia diangkat oleh angin ke udara, dan kemudian menerjang wajah kita, maka kita pun bisa buta.”
Mereka berdua terdiam. Aku benar-benar sangsi kepada siapa pun yang mengutarakan kebaikan, tetapi menunjukkan tingkah yang berkebalikan.
Kuputuskan untuk masuk tenda. Lebih baik kujernihkan pikiran agar bisa melawan gundah yang mendera.
Terakhir kali aku kerja bakti ketika kelas 3 SMP. Semua terasa menyenangkan, bercanda bersama teman-teman, berbaur dengan siapa pun.
Setelah aku hijrah ke Jakarta untuk menimba ilmu, aku selalu menghindari hari Minggu. Aku mengurung diri di kamar bila sedang di rumah. Aku takut keluar bertemu para tetangga. Aku bingung jika harus menghadapi berbagai pertanyaan mereka yang entah benar pertanyaan atau sebuah sindiran yang dibubuhi tanda tanya.
Teman-teman sebayaku pun di kampung tidak banyak. Ditambah, kami sudah tidak dekat lagi layaknya masa polos dahulu kala. Memang aku yang menarik diri dari pergaulan, karena tidak mau dijadikan sang penghibur – bahan lelucon.
“Di, kenalin dong sama teman kamu yang itu,” sayup suara perempuan menerpa telingaku. Aku kenal siapa perempuan itu. Dia adalah Astri, teman SD hingga SMP-ku.
“A…. ayo,” respon Ardi. Dia pun lantas menepuk bahuku. “Ga… Gas, ada yang mau kenalan sama kamu,” terangnya.
“Oh, halo." Aku sandarkan sapu lidi ke batang pohon. Namaku Bagas,” ucapku seraya menjulurkan tangan.
“Aku, Astri. Aku ini temannya Ardi dari SD sampai SMP. Kami ini akrab banget loh. Dulu kami berangkat sekolah bareng, main bareng, belajar bareng. Ardi selalu juara pertama di kelas, dan aku juara dua. Aku kuliah di sini ngambil jurusan Akuntansi,” ungkapnya ceria.
Astri oh Astri, sejak kapan akrab denganku? Aku ladeni saja bualannya. “Ardi sempat sih cerita sedikit tentang kamu.”
__ADS_1
“Cerita tentang aku? Apa yang dia ceritakan? Dia nggak ngejelek-jelekin aku, kan?” Astri menyela ucapanku dengan raut yang sumringah.
Garis bawahi “Dia nggak ngejelek-jelekin aku, kan?” Baru dipancing sedikit, dia sudah menceritakan kejujuran. Kejujuran tentang perlakuannya yang kerap memandangku rendah. Dia pernah menyalin PR-ku, dan mengatakan kepada guru bahwa aku yang mencontek kepadanya. Dia juga pernah menyembunyikan buku tugasku agar aku kena hukuman. Selain itu, ini kali pertama dia menyapaku. Padahal, rumah kami berhadapan.
Sejatinya, aku tidak peduli tentang bagaimana sikapnya terhadapku. Namun, satu hal yang aku pelajari pagi ini. Seandainya wajah tidak menolong, harta tidak mampu menopang, maka bertemanlah dengan orang-orang sempurna seperti Bagas. Niscaya akan ada orang yang datang untuk mengajak berbincang, sekalipun dia adalah sang musuh.
“Ngejelek-jelekin? Tentu tidak. Ardi bilang orang-orang di sini sangat ramah. Teman-teman sekolahnya pun cantik-cantik dan cerdas. Dan ketika aku lihat kamu, aku semakin percaya dengan omongan Ardi,” ucapku gombal.
Astri tersipu. Ia sisir rambut sebahunya dengan tangan sembari terus melambungkan senyum kepadaku.
“Bagas, aku boleh foto bareng kamu, nggak?” pintanya.
“Boleh, dong!”
Lalu, Astri memberikan ponselnya kepada Ardi. “Tolong fotoin aku sama Bagas ya, Di. Buat kenangan-kenangan. Hehe….”
Seperti penggalan lirik dalam sebuah lagu, “Oh dunia ini penuh kepalsuan”. Tapi ya sudahlah, anggap saja ini untuk mengangkat derajat Ardi atau sebagai bentuk personal branding baginya.
Lepas berfoto bersama, Astri meminta nomor ponselku. Aku menimbang sejenak. Dita saja sudah sangat mengangguku dengan setiap hari mengirimkan chat tidak perlu, dan menelepon untuk bertanya hal tidak penting. Kurasa Astri pun akan melakukan hal yang sama. “Kamu sedang apa?”, “Udah makan atau belum?”, “Gimana kuliahmu hari ini?”, terbayang pertanyaan-pertanyaan kurang berfaedah semacam itu.
“Em…. aku lupa nomor hapeku. Sebentar ya….” Aku memperlambat tempo sambil mencari alasan untuk tidak memberikan secara halus.
Bukkk!!! Tiba-tiba Dita datang. Dia tampak sengaja menyenggol Astri. Astri pun terduduk ke tanah.
“Kamu tuh siapa ya? Kok ganjen banget sama pacar orang. Dari tadi tuh aku lihat kamu cengar-cengir godain pacar aku. Ngajak dia juga foto barenglah. Buat dipamerin di medsos ya biar dapet banyak like dan comment? Kampungan! Pansos!”
“Heh! Saya memang orang kampung, tapi saya masih punya sopan santun. Nggak kayak kamu, datang ke tempat orang, tapi lagaknya seperti putri kahyangan. Saya juga perhatiin kamu dari kemarin. Teman-teman kamu sibuk ngobrol sama warga, kamu sibuk maen hape. Kalau kamu nggak nyaman di sini, pulang aja sana ke habitat kamu.” Astri bangkit. Dia pelototi Dita. “Paling juga kamu cuma ngaku-ngaku aja kan jadi pacarnya Bagas,” tukasnya.
Wajah Dita memerah. Tanpa merasa takut, Dia tarik rambut Astri. Astri membalas dengan melakukan hal yang sama. Ya, perkelahian pun tak dapat dihindarkan.
Bukannya membantuku memisahkan dua perempuan pahit lidah ini, Ardi malah menyunggingkan kedua bibirnya. Barulah setelah beberapa warga berdatangan, ia sibuk melerai Dita dan Astri.
Dita mengganggu kententeraman liburanku. Jika terus begini, perhatianku akan teralihkan untuk memasung pergerakannya.
Apa mungkin tujuan si Kunyuk mengajak Dita dan Metha untuk menginterupsi kebersamaanku dengan Ayah dan Ibu?
__ADS_1
Aku pun berkesimpulan bahwa di balik sikap brutal Dita, bisa jadi ada andil dari si Kunyuk. Ya, emosi Dita tampak mencuat secara janggal.