
Jalan hidup memang tak bisa diprediksi, sekalipun sudah dibuat skenario secara terperinci. Aku masih tak menyangka Mutia merupakan wujud dewasa dari Rindu. Sungguh, aku tak akan bisa mengenali jika dia tidak bercerita.
Aku senyam-senyum sendiri ketika mengingat kejadian kemarin. Aku berhutang dua kali kepada Mutia. Kejadiannya pun sama, hanya berada di masa yang berbeda.
Hah! Benar. Semakin mendekati waktu kepulangan, semakin tak ingin melepaskan moment ini. Namun, aku tidak bisa memperpanjang keberadaanku di sini. Ayah memberiku waktu melepas rindu tak lebih dari satu minggu. Untuk melakukan negosiasi sepertinya berpotensi memicu konflik.
Aku berjalan menyapa pantai. Dulu, aku tak tertarik menyaksikan matahari terbenam di tengah laut. Aku lebih senang mononton televisi atau beraktivitas di dalam rumah. Sekarang, aku bak sedang hanyut mengumpulkan kenangan yang mungkin akan sulit diulang.
Selang berjalan beberapa meter menghampiri karang-karang besar, aku dengan sayup-sayup suara perempuan dan laki-laki di balik salah satu karang yang besar. Aku pun berhati-hati melangkah agar bisa memastikan yang sedang mereka lakukan.
Setelah semakin dekat, suaranya semakin jelas dan cukup familiar. Ya, itu Dita dan Ardi.
Tawa kecil yang saling bersahutan, diselingi sebuah *******. Apa yang mereka yang lakukan?
“Tahan! Sedikit lagi nih,” ucap si Kunyuk dengan intonasi pelan.
“Pokoknya jangan sampe kelepasan di dalam ya,” timpal Dita dengan suara manja penuh kepasrahan.
Aku masih menerka-nerka aksi mereka berdua. Sepulang dari perpustakaan mini, Andy mengantar Mutia dan Metha ke pasar untuk berbelanja sembako. Dita pulang lebih dulu, karena mengaku sakit kepala dan ingin beristirahat. Si Kunyuk pun mengikuti Dita di belakang dengan alasan hendak membantu Ibu memasak.
Setiba di rumah tadi, aku memang tidak memastikan keberadaan Dita dan si Kunyuk. Namun, aku tidak menyangka mereka ada di tempat ini.
“Udah yuk, pulang!” ajak Dita. Kalian ini, ada erangan dari mulutnya yang mengudara.
Tidak. Aku tidak sanggup bila harus berpikir jauh tentang mereka berdua. Mungkinkah mereka sedang sama-sama melepaskan birahi - melepaskan libido dengan berhubungan badan layaknya sepasang suami istri?
Ah, mengapa otakku menuduh secara liar begini? Tapi, obrolan mereka yang telah menguatkan pikiran kotorku.
Aku tarik nafas dalam-dalam. Sejatinya, aku tidak peduli jika mereka tengah saling melampiaskan nafsu. Hanya saja, mengapa harus di tempat ini? Mengapa juga hal tersebut mungkin terjadi? Bukankah keduanya saling membenci.
Kakiku lebih meratap untuk langsung melihat mereka. Terdengar si Kunyuk menghembuskan udara dengan cukup kencang.
“Ayo pulang sebelum yang lain juga pulang, dan curiga melihat kita berdua,” ucap si Kunyuk kepada Dita.
Aku tidak tahan lagi dengan menggenggam prasangka. Sungguh bejat perbuatan mereka mengotori keharmonisan kampung halamanku.
__ADS_1
“Ardi! Dita!” seruku dengan suara lantang sembari berdiri tegak di hadapan mereka.
Keduanya tampak begitu terkejut. Si Kunyuk mengunci resleting celana, sedangkan Dita mengancingkan baju.
“Ba…. Ba…. Bagas….” Dita gugup. Wajahnya merah, ucapannya terbata.
“Apa yang kalian lakukan di sini? Hah? Brengsek lu berdua.” Kutarik kerah kaos si Kunyuk sambil menombakkan tatapan penuh amarah.
“Kita nggak ngapain-ngapain. Kita cuma nikmatin sunset berdua,” jawab si Kunyuk dengan wajah datar. Tak ada sedikit pun guratan rasa bersalah di dirinya.
Lalu, aku lancarkan tinju ke pipi kiri si Kunyuk. Dia terpukul mundur dua langkah.
Dita menarik tanganku. Dia paham bahwa aku masih ingin menyeimbangkan satu pukulan lagi ke pipi kanan si Kunyuk.
“Cukup, Gas. Kamu salah paham. Kami nggak ngapain-ngapain kok.” Dita mengumbar air mata. Aku menarik tanganku dari cengkramannya. Aku tadi sudi bersentuhan dengan sifatnya yang munafik. “Gas, aku terbujuk rayuan dia. Aku dihipnotis sama dia, Gas. Tolong maafin aku!”
Sebelumnya mereka mengaku tidak melakukan perilaku tidak senonoh yang ada dipikiranku. Sekarang, Dita berkata telah diperdaya oleh si Kunyuk. Dia kira aku ini bodoh.
“Lu berdua mau ngelakuin apa pun sebenarnya gue nggak peduli. Tak kenapa harus di tempat ini? Kenapa kalian tidak melakukannya di tengah laut agar sekalian ditenggelamkan oleh ombak? Hah? Kalian sadar nggak kalau kelakuan kalian sama tak beradabnya dengan binatang? Di depan semua orang seperti bermusuhan. Sementara di tempat sepi, kalian enak-enakan,” tuturku dengan suara yang menggelegar.
“Lu cemburu karena gue cicipi pacar lu lebih dulu,” satirnya. Lalu, dia memerintahkan Dita untuk pergi. “Kamu nggak usah khawatir, Dit. Lebih baik kamu pulang aja.”
“Diam lu!” bentak Dita. “Gas, gimana kalau kita laporin Ardi atas tuduhan pemerkosaan?” Dita bersimpuh di kakiku seraya menangis.
Aku terkekeh mengejek kalimat Dita. Membuat laporan dengan tuduhan pemerkosaan? Tadi kudengar mereka melakukan adegan suami istri dengan kerelaan satu sama lain – saling menikmati. Bisa-bisanya dia mengajakku berkonspirasi membuat sandiwara.
“Bangun!” suruhku. “Dengar ya, Dit. Lu mau begituan sama siapa pun gue nggak ngurusin. Di sini, gue hanya nggak suka cara kalian berdua. Lu berdua nggak menghargai keberadaan gue dan yang lainnya. Satu lagi, gue nggak pernah sedikit pun suka sama lu. Jadi, jangan lu harap gue percaya sama air mata lu. Gue juga tahu lu nggak beneran suka sama gue.”
“Nggak, Gas. Aku…. aku suka sama kamu. Aku cinta sama kamu,” rintihnya.
Aku lambungkan tawa. “Bullshit! Gue akan laporin ini sama Pak RT dan orang tua Ardi biar kalian berdua dinikahkan.”
Si Kunyuk terus meminta Dita pergi. Sepertinya ada hal yang bersifat privat yang ingin dia selesaikan hanya berdua denganku.
Dita pun menurut. Dia berlari sembari memalangkan tangan kanan di wajah.
__ADS_1
“Lu mau laporin gue ke orang tua gue? Begitu? Gue nggak peduli. Gue juga nggak apa-apa dinikahkan dengan Dita,” seringainya.
Aku sudah muak beradu bacot, lebih baik beradu kekuatan. Aku coba cekik lehernya untuk mmenghantamkan badannya ke batuan karang. Namun, dia mampu membaca seranganku.
“Lu mau berkelahi sama gue sampe mati? Terus kalau gue mati, lu juga mati dong. Sedangkan gue, gue akan kembali ke istana gue. Gue akan menjalani hari seperti dulu yang bahagia yang sempat gue titipkan ke lu,” paparnya.
“Apa maksud lu?”
Si Kunyuk berdiri di sampingku sambil melekapkan tangannya di bahuku. “Coba lu hitung ini hari ke berapa kita bertukar tubuh? Betul. Hari ke-98. Artinya tinggal dua hari lagi sisa yang lu miliki untuk menjadi Bagas. Lu mau gue nikah sama Dita, silakan. Nantinya lu yang akan menjalani hidup berdua dengannya, bukan gue. Ya, tadi gue pinjem tubuh lu buat ngebantuin lu aja. Enak sih dan nggak akan bisa gue lupa. Tapi yang penting, punya gue masih perjaka.”
Dia melontarkan gelombang kehancuran disertai tawa yang puas. Jahanam! Dia tidak pernah bercerita jika lusa akan menjadi hari terakhirku menjadi Bagas.
Dia tidak sebaik yang aku kira. Dia picik. Dia tak bermoral. Dia pengrusak kehidupan. Dia menggunakan tubuhku untuk memuaskan nafsu konyolnya.
Api di kepalaku semakin berkobar. Gelap menyelimuti akalku secara merata.
Aku berpaling ke hadapannya, lalu menendangnya sekuat tenaga. Dia pun terkapar tak bisa membela diri.
Kemudian, aku bentur-benturkan kepalanya ke batu karang. Dia berusaha melawan, tetapi seluruh kekuatanku tak akan sebandingnya dengannya.
Dengan suara yang lemah, dia memohon aku berhenti menyiksanya.
Tidak! Aku akan melenyapkannya sekarang juga. Aku tidak percaya dengan ucapannya. Setelah dia mati, aku akan seutuhnya menjadi Bagas.
Darah mengucur deras di kepalanya. Dia mulai menutup mata. Namun, hembusan nafasnya masih terasa.
Aku seret dia menuju tengah laut. Akan kutenggelamkan jasadnya untuk menjadi pakan ikan-ikan. Selanjutnya, aku akan menyingkirkan Dita supaya tak ada saksi yang mengurai tragedi ini.
Setelah tubuh si Kunyuk terombang-ambing di lautan hingga tak tertangkap pandangan, aku jatuhkan diri ke atas pasir. Aku telah membunuh diriku sendiri.
“Tidakkkkkk!!!” jeritku.
Kuputar otak untuk membingkai skenario tentang tewasnya Ardi di tanganku. Ayah dan Ibu pasti akan sangat sedih. Akan tetapi, aku pasti bisa menghibur mereka.
Hal yang harus kupikirkan sekarang yaitu segera pulang, mengganti pakaian, dan mengatur ekspresi. Kemudian, aku akan menekan Dita agar dia mau berlakon sesuai alur cerita yang nantinya aku buat. Aku yakin dia tidak punya daya untuk membangkangku.
__ADS_1
Haha! Aku tak percaya naluriku sebagai psikopat lebih besar dibandingkan rasa penyesalan.