Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 52: Perpisahan


__ADS_3

Siapa yang bisa dipercaya di dunia? Jawabannya, diri sendiri. Mengapa? Karena salah satu sifat manusia yang berbahaya, yaitu manipulatif. Berpenampilan bak malaikat, tetapi berhati penjahat.


Aku semakin paham bahwa si Kunyuk penuh dengan tipu muslihat. Semua perangainya palsu - sandiwara belaka. Sulit dipastikan misteri yang tengah ia sembunyikan.


Dia katakan ingin merengkuh kebebasan, ingin menjalani hidup tanpa beban. Maka dari itu, dia serahkan kehidupannya kepadaku. Hal tersebut terdengar lucu, bukan?!


Kebebasan seperti apa yang dia cari? Bebas menyendiri? Bebas dari perhatian?


Aku rasa pernyataannya terlalu dibuat-buat. Kenapa? Menjadi seorang Bagas jauh lebih bebas, dan tak memiliki keharusan untuk memutar otak setiap harinya. Mau apa pun tinggal tunjuk dan pilih. Ibaratnya, jika ingin membeli sesuatu tak perlu mengoreksi apalagi melihat label harga.


Aku memang sempat merasa terlalu banyak tuntutan sebagai Bagas. Namun, aku pikir ini hanya soal waktu dalam beradaptasi. Segalanya butuh proses untuk menjadi sempurna.


Lupakan sejenak tentang si Kunyuk. Lebih baik aku fokus meninkmati malam terakhir ini. Ya, besok aku kembali ke Jakarta.


Hari berputar dengan cepat. Cerita yang dilalui bertumpuk lagi menjadi sebuah kenangan.


“Nak Bagas belum tidur?” tanya Ayah menghampiriku yang sedang termenung menghitung bintang-bintang.


“Belum, Yah. Bagas sedang ingin menikmati malam yang indah ini,” jawabku tersenyum.


Aku pernah ingin terlahir kembali. Pada saat proses reinkarnasi, aku akan bernegosiasi dengan Sang Pencipta untuk memilih rupa dan orang tua. Aku tahu pikiranku gila, tetapi kala itu aku sedang benar-benar putus asa dengan kehidupanku.

__ADS_1


“Langit di sini sama di Jakarta, lebih indah yang mana, Nak Bagas?” Ayah seperti ingin menembangkan lagu penghantar tidur.


“Bagas rasa sama saja, Yah. Pada dasarnya, langit secara adil membagikan keindahannya. Rotasi bumilah yang terkadang tampak tidak sama rata memberi cahaya. Padahal, semua terjadi berdasarkan proposi dan porsi yang sudah diperhitungkan,” jabarku.


Sesaat aku tersentak. Tak kusangka, aku bisa melafalkan kalimat bijak di hadapan Ayah.


Hah! Munafik! Aku pantas ditampar oleh kata-kataku sendiri.


Ayah menghela nafas. “Itulah yang dinamakan syukur. Perlu keikhlasan yang dalam untuk menerima setiap pemberian Tuhan. Yakin bahwa takdir Tuhan bukan untuk menyiksa hamba-Nya. Kitalah yang terkadang berprasangka dan bersikukuh untuk mengubah takdir, karena merasa tidak mendapatkan keadilan. Kita kerap menghujat takdir, tetapi lupa mengucap doa dan terima kasih.”


Aku bak tambah tertampar oleh kalimat-kalimat mesra yang Ayah ucapkan. Aku menengadah ke langit untuk memalingkan butir air mata yang menyudut hendak berderai.


“Ayah tahu Ardi tidak sebahagia cerita-ceritanya. Dia tidak memiliki teman. Dia selalu menyendiri, mengasingkan diri dari pergaulan. Dia malu dengan penampilannya. Ditambah, Ayah tak bisa memberikan dia kepercayaan diri dari segi materi. Mungkin itulah alasan dia enggan atau tidak diterima dalam upayanya bersosialisasi," ungkap Ayah dengan berkaca-kaca.


Aku tercengang mendengar bait-bait kidung dari Ayah.


"Ketika dia mengabari ada Nak Bagas dan teman-temannya akan menginap kemari, Ayah kira itu hanya gurauan untuk menghibur kami. Sekarang, Ayah masih tidak percaya Nak Bagas dan teman-teman Nak Bagas sudi menjadi teman Ardi dan tamu istimewa bagi Ayah,” imbuh Ayah.


Aku pikir kebohonganku sudah cukup sempurna. Aku selalu berkata hidupku di Jakarta bahagia. Rupanya Ayah hanya pura-pura percaya.


Hidup penuh godaan. Ujian dan cobaan silih berganti menghampiri.

__ADS_1


Ayah menjadikan malam ini bagaikan seribu kisah mengenai Ardi. Beliau sampaikan harapan dan kekagumannya untuk sang anak semata wayang. Aku pun semakin tersentuh dalam balutan untaian kalbu.


Aku lantunkan kata maaf di dalam hati. Kemudian, kupeluk Ayah untuk mengucapkan sejuta terima kasih.


***


Semua pakaian dan perlengkapan tenda sudah tertata rapi di mobil. Warga berkumpul di depan rumah untuk melepas kepulanganku. Ini pengalaman yang luar biasa – berbagi kebahagiaan dan mendapatkan banyak perhatian.


Satu minggu untuk melepas rindu sangatlah kurang. Namun, apalah daya untuk meminta lebih karena aku sudah mendapatkan sesuatu yang lebih.


Si Kunyuk merapat ke sampingku. “Te…. terima kasih banyak ya, Gas. Kamu dan teman-teman yang lain sudah mau menginap di rumahku yang sederhana ini. Sa… sampai ketemu lagi nanti di Jakarta,” ucapnya sok polos di hadapan warga.


Aku sebenarnya ingin membalas ucapannya dengan sebuah peringatan. Aku harap dia sungguh-sungguh menjaga lakon di depan Ayah dan Ibu. Sayangnya, ada banyak pasang mata yang melihat.  Aku hanya bisa menyunggingkan senyum.


Kaki sudah siap untuk pergi. Ayah dan Ibu serta semua warga tampak menitikan air mata.


“Nak Bagas, kapan pun Nak Bagas mau ke rumah ini, pintu rumah ini selalu terbuka lebar untuk Nak Bagas dan teman-teman Nak Bagas,” rangkul Ayah.


Ibu terdiam terisak. Bibirnya bergetar ingin berucap, tetapi tampak tertahan oleh kesedihan.


Aku mungkin telah durhaka karena mengganti atap kehidupan, tetapi tak ada sedikit pun niat untuk mengingkari hubungan darah yang mengalir di tubuhku. Selamat tinggal, Ayah dan Ibu!

__ADS_1


__ADS_2