
Seharian kemarin aku merenung memikirkan nasibku ke depan. Wajah Ayah dan Ibu membayang kuat dalam pikiranku. Bisakah aku mendekap mereka seperti dahulu kala? Merasakan sentuhan kasih dalam kesederhaan mereka, tetapi terasa mewah ketika masuk membelai raga yang letih akan kejamnya dunia.
Seketika hasrat dan mimpiku terbias. Untuk apa aku mengejar pengakuan tentang eksistensi hidup? Untuk apa bersaing demi merengkuh asa yang fana?
Sebelum menjadi Bagas, aku menjalani hari yang abu-abu. Kini, aku merasa aura hitam semakin tebal menyelimuti isi kepalaku. Semua rencana kehidupan seakan hanya bagaimana cara menyingkirkan orang yang menganggu ketenteraman batinku.
Haruskah aku mengakhiri petualangan ini karena alasan rindu kepada kedua orang tuaku?
Akkkhhhhh!!!
Tidak. Aku tidak boleh kalah dari si Kunyuk. Dia sengaja mengintimidasiku dengan wajah Ayah untuk membalutkan rindu - membuatku dilema. Setelah itu, dia berharap aku memohon kepadanya agar bertukar tubuh lagi.
Aku yang mengundang keajaiban ini, maka aku tak boleh menjadi pecundang. Jika kerikil seperti ini saja tak bisa aku hadang, bagaimana aku bisa menang?!
Lagi pula, aku di sini punya Mama yang begitu menyayangiku. Mama yang selalu membelaku. Aku juga punya Papa yang luar biasa - seorang pengusaha yang hartanya tak akan habis dimangsa tujuh turunan.
Kutatap segala harta yang tersaji di dalam kamarku. Mimpi yang semula amatlah mustahil, kini sudah terwujud secara nyata. Maka dari itu, godaan dan ujian pasti Tuhan selipkan untuk meneguhkan imanku dalam memerankan tubuh ini.
Tanganku meraih kalender di atas meja. Dua minggu lagi liburan semester tiba. Aku bisa memanfaatkan waktu senggang yang panjang tersebut untuk pulang kampung. Ya, pulang kampung berkedok liburan. Setidaknya, sandiwara yang kemarin si Kunyuk sampaikan kepada Ayah bisa aku manfaatkan.
Hah! Dia ingin menjebakku. Tanpa dia sadari itu justru bisa jadi peluang untukku mengobati rasa rindu pada rumah. Ardi dan Bagas merupakan teman dekat, kata dia. Jika aku sudah ada di depan pintu, si Kunyuk pun tak akan punya kuasa untuk mengusirku.
Kecerdasanku memang luar biasa. Aku bisa mengubah busa menjadi permadani yang hangat. Rasanya, aku sudah tak sabar untuk memutar jarum jam.
Tenang, sabar, dan santai. Itulah kunci dalam menghadapi kemelut yang menantang keputusan. Aku tak boleh memasukkan provokasi ke dalam halusinasi. Ilusi harus dilawan tanpa emosi.
Lega dan bahagia pun melagu, menghiasi istanaku. Sesekali aku bersiul untuk merayakan keenceranku dalam memecahkan masalah.
Kemudian, kuambil ponsel untuk berswafoto. Tak ada salahnya mengabadikan lukisan cerah di wajah.
Namun saat hendak menekan tombol shutter kamera, sebuah pesan WhatsApp muncul di bagian atas layar.
[Gas, bisakah kita bertemu malam ini?] Begitu bunyi pesan yang dikirim oleh Mutia.
Aku putar-putar ponsel menggunakan jempol dan telunjuk. Dugaan pun coba dilayangkan mengenai hal yang akan Mutia sampaikan.
Jangan! Aku tak perlu membalas dengan bertanya. Lebih baik aku baca, lalu setelahnya aku abaikan saja.
Aku teringat kalimat Dita, “Menghilanglah sejenak agar dia merasa rindu”. Jika memang hal yang ingin Mutia bicarakan denganku sangatlah penting, seharusnya dia membuat pembukaan tentang topik yang akan dibahas.
Pun, aku sedikit trauma dengan insiden “penembakannya” yang berujung penolakan. Aku sudah mengira dia ingin mengungkap hal sama denganku. Ternyata, dia justru menyudutkanku dengan membela si Kunyuk.
Mutia, jangan pikir aku mudah tergoda pada hembusan angin yang dikirimkan dalam sebaris ajakan pertemuan. Walau sebenarnya, aku senang kala melihat namanya muncul di layar ponsel.
__ADS_1
Duh, Bagas! Fokus! Saatnya menaikkan harga diri setinggi langit. Tidak ada lagi diskon, cuci gudang, atau pun flash sale demi mendapatkan sang cinta pertama.
Selang beberapa menit, Dita meneleponku. Dia mengajakku bertemu di sebuah café malam ini.
Dua perempuan menyapaku untuk bertatap muka dalam waktu yang bersamaan. Baiklah, aku pilih Dita.
Mutia bisa saja memberikan kesegaran palsu, sedangkan Dita lebih prospektif untuk meningkatkan kadar kesenanganku. Membuat permainan tambah seru – adu tangguh dalam menahan gempuran cinta. Setelah kutahu rencananya, aku tersulut semangat untuk meladeni.
Aku sempat kebingungan mencari alasan supaya diizinkan keluar oleh Papa.Lantas, aku coba bercerita kepada Mama. Kugunakan kencan sebagai penguat izin. Mama pun membujuk Papa supaya aku diperbolehkan pergi. Bujukan Mama membuahkan hasil, meski aku harus pulang sebelum pukul 22.00.
Diizinkan beraktivitas di luar rumah selama 3 jam sudah lebih dari cukup buatku. Lagi pula, tak ada niat untuk berlama-lama dengan Dita. Sejujurnya, bila mengikuti dendam, aku muak bertemu dengan perempuan ganjen tersebut.
Penampilan sudah rapi, badan wangi, dan wajah dipoles sedikit senyuman untuk memperhalus tujuanku. Café yang dipilih Dita untuk menjadi tempat pertemuan pun tak terlalu jauh dari kediamanku. Syukurlah, aku tak harus bertarung mood dengan kemacetan.
Kala kaki menapak café, mataku langsung menerawang posisi Dita. Kulihat dia tidak datang seorang diri. Aku bergegas melihat teman yang dia bawa, karena seklias seperti kukenali.
“Hai, Gas!” sapa Dita.
Aku masih tak percaya ada Metha dalam pertemuan ini. Akan tetapi, ekpresiku tak boleh tampak tegang apalagi tidak senang atas kehadiran Metha.
“Hai, Dit, Met,” sapaku balik seraya merekahkan kedua bibir. Lalu aku duduk di samping Dita, berhadapan dengan Metha.
“Gas, kamu pasti heran ya kenapa ada Metha di sini?” tanya Dita.
Aku jawab pertanyaan Dita dengan menggoyangkan kepala sedikit.
Aku identifikasi setiap kata yang keluar dari mulut Dita. Di awal pemaparan, dia mengatakan kedatangannya bersama Metha mungkin terlihat ganjil di mataku. Itu sudah jadi satu clue bahwa memang ada hal yang tak beres. Maksudnya, bisa jadi Dita dan Metha sengaja merancang pertemuan ini untuk melancarkan serangan terhadapku.
Kemudian, tentang mereka bicara hati ke hati. Apakah itu artinya insiden Metha yang hendak terjun dari jembatan merupakan bagian dari konspirasi mereka? Bisa jadi.
Di sinilah, aku akan berlakon polos dan percaya saja.
“Oh. Syukurlah kalau kalian akhirnya bisa menjadi teman. Memang lebih baik menambah teman daripada musuh, kan?!” ucapku sok bijak.
Metha terlihat canggung. Aku layangkan pandangan manis untuk menggoda suaranya. Kutahu dia sedang menutupi sesuatu.
“Gas, kamu mau makan apa? Pokoknya, malem ini aku yang traktir kamu sepuasnya.”
“Aku minum aja ya, Dit. Kebetulan aku sudah makan berat di rumah.”
Lepas mencatatkan makanan kepada pramusaji, Dita izin untuk ke toilet. Tinggallah aku dan Metha saling mencuri pandang. Adegan ini seakan sudah didesain sedemikian rupa oleh mereka.
“Met, aku perhatikan kamu sekarang berubah menjadi pendiem. Maaf, apa ada kaitannya denganku?” Aku buka percakapan dengan menyodorkan Metha kilas balik.
__ADS_1
“Emmm…. emmm…. aku minta maaf ya, Gas. Nggak seharusnya aku memaksakan perasaanku kepadamu waktu itu. Aku terbawa emosi. Tapi, ada satu hal yang ini aku sampaikan ke kamu,” terang Metha.
Aku pun mengangguk sebagai tanda supaya Metha terus melanjutkan ucapannya.
“Aku sudah tahu tentang Mutia yang menolak pernyataan cinta kamu.”
“Lantas?” Aku menyela sedikit untuk menumbuhkan kesan lugu yang lebih dalam.
“Mutia sebenarnya sudah lama suka sama kamu, Gas. Dia tidak sungguh-sungguh menolakmu. Dia hanya menguji perjuanganmu. Seperti yang pernah aku katakan, kalian serasi. Aku dan Dita sadar perasaan yang kami miliki untukmu sepatutnya tidak membelenggu langkahmu dalam memilih perempuan yang kamu cintai.”
Sebentar! Mengapa Metha berbicara seolah-olah berada di pihak Mutia kembali? Sementara, kemarin dia dan Dita menyusun strategi untuk “membunuhuku”.
Kepusingan seketika mendera pikiranku. Setelah berhasil melewati jurang, aku dihadapkan lagi jurang yang baru. Kali ini, tampaknya butuh kecerdesan ekstra untuk mengurai bahaya dan membangun jembatan. Aku yakin Metha bukan sedang benar-benar ingin mempersatukanku dengan (mantan) karibnya.
“Tapi sayangnya, aku dengar Mutia dan Ardi sedang menjalin pendekatan. Orang tua mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Dan katanya, semacam ada perjodohan di antara mereka. Em…. itu baru kabar sekilas yang aku dengar dari Mutia sih." Metha merapikan rambutnya sesaat. Lalu, ia menyambung paragrafnya, "Aku ikut dalam pertemuan kamu dan Dita malam ini untuk meminta maaf secara tulus kepada kamu atas kebodohanku. Juga, untuk menyemangati kamu agar...."
Aku sela lagi ucapan Metha. “Agar aku memperjuangkan cintaku kepada Mutia?” Aku hela nafas sesaat. “Terima kasih banyak ya Met atas dukungan yang coba kamu berikan kepadaku. Juga untuk permintaan maafmu, aku terima dengan lapang hati. Hanya saja, aku sudah memutuskan membuka hati untuk orang yang sudah tulus mencintaiku.”
“Siapa itu, Gas? Bolehkan aku tahu? Apakah aku kenal sama dia?”
Agresivitas Metha dalam bertanya membuat paru-paruku tertawa.
“Dia teman kamu juga kok, Met,” terangku sembari melirik kursi kosong yang ditinggalkan sementara oleh Dita.
Hahay! Kebohongan dibalas kebohongan. Jadi impas, kan?!
Lidahku sesungguhnya begitu gatal ketika Metha bilang orang tuaku dan orang tua Mutia saling mengenal. Kami memang hidup dalam satu wilayah adminstratif tingkat II yang sama, tetapi orang tua kami tidak saling mengenal – sudah kami konfirmasi kepada orang tua masing-masing.
Dita kembali dari toilet. Metha beralih lagi pada mode senyap.
Maaf, aku ini sebenarnya dua orang. Haha! Antara lucu dan miris mendengar Metha berupaya menkonfrontasi pikiranku.
Obrolan kami pun berlanjut membahas seputar kuliah. Aku ikuti irama mereka. Tawa dan canda menggema penuh kepalsuan.
Usai “syuting” bersama Dita dan Metha, aku berjalan menuju mobilku dengan perasaan gembira. Rencana mereka memang belum mampu tersingkap, tetapi rencanaku pasti mulai menancap. Setelah ini, Metha pasti bercerita kepada Dita tentang pengalihan cintaku.
Saat kuputar kunci mobil, kudapati Andy keluar dari café seorang diri. Apakah kehadirannya di café ini sebuah kebetulan atau terkait dengan Dita dan Metha?
Aku segera turun dari mobil. Berjalan cepat, dan lekas menarik lengan Andy. Dia pun tampak terkejut ketika penglihatan kami beradu.
“Ga…. Gas,” sebutnya dengan tegang.
“Ngapain lu ada di sini?” tanyaku sinis.
__ADS_1
“Gue…. gue…. gue kebetulan aja ke sini mau makan. Gue bukan ngikutin lu kok,” jelasnya.
Aku seret Andy menuju mobilku. Aku perlu penjelasan terperinci mengenai alasannya mengikutiku dan bagaiamana dia bisa tahu aku ada di tempat ini.