Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 20: Lantang


__ADS_3

Aku tidak mau maladeni Ardi. Namun, dia terus menghalangi langkahku menuju Mutia. Dia seakan-akan sengaja ingin memancing ledakan emosiku.


“Lu mau ke mana sih, Gas? Gue kan udah bilang, biarin dia sendiri. Dia nggak butuh kehadiran lu atau siapa pun saat ini. Lu mau nyamperin dia? Kalau dia justru jadinya merasa terganggu, dan marah sama lu, bagaimana?” papar Ardi. “Baik kan gue ngingetin lu?”


Ya, perkataan Ardi ada benarnya. Aku harus memberi jeda kepada Mutia untuk mengeringkan air mata. Setelah suasananya kondusif, aku baru bisa menghibur atau memberikannya ketenangan.


Itu artinya aku selesaikan dulu satu pertanyaan yang hinggap di kepalaku. Pertanyaan terkait orang yang saat ini bertukar peran denganku.


“Sebenarnya lu siapa?” tanyaku seraya melayangkan tatapan sinis kepada Ardi.


“Gue? Lu masih nanya gue siapa? Haha….” Ardi justru tertawa. “Gue adalah Prasetya Winardi. Mahasisiwa semester awal yang hidup dalam kesepian. Mahasiswa yang terbiasa menjalani hari sendirian, tetapi tengah berusaha mengejar cinta pertamanya dari SMA.”


Aku mencengkram kerah baju Ardi. “Gue lagi nggak pengen bercanda. Gue nggak ngerti maksud lu dengan semua ini. Maka dari itu, jelasin sekarang juga mengenai jati diri lu. Atau…”


“Atau lu mau ngasih gue pelajaran? Pelajaran apa? Menulis puisi? Bernyanyi? Atau beladiri?” Ardi terus melemparkan wajah yang menguji batas kesabaranku.


Haruskah aku melayangkan tinju ke mulutnya? Tidak. Bisa jadi dia akan membuat luka yang aku hadiahkan sebagai senjata untuk melumpuhkanku di depan Mutia.


Seseorang yang sedang menantang badai, pasti memiliki skenario yang tersusun rapi. Ia tentu sudah menyiapkan penangkal atau pun asuransi jiwa. Jadi, dia sengaja membuat tubuh dilukai oleh orang lain untuk mengais keuntungan.


Kata-kata harus dibalas kata-kata juga. Jangan biarkan diri ini menjadi tersangka karena terjebak jerat permainan emosi.


“Huh!” Aku menghembuskan nafas di depan wajahnya. “Gue pengen nyebut lu bukan manusia, tetapi lu tidak takut sinar matahari. Gimana ya?! Lu bener-bener manipulatif. Jujur, gue nyesel, pernah iri sama lu yang selalu diagung-agungkan banyak orang.”


“Harusnya sekarang lu udah nggak iri sama gue, kan?” Dia menarik tanganku untuk melepaskan cengkraman yang sedari tadi aku tahan. “Harus berapa kali gue ngomong, nikmatin aja hidup lu dengan benar. Nggak usah berpikir untuk cari tahu tentang jati diri orang lain. Di dunia ini, tidak ada manusia yang tidak berkamuflase. Kenapa? Karena hidup tidak cukup hanya dengan satu wajah. Untuk mencapai maksud tertentu, setiap orang akan mengenakan topeng yang sesuai.”


“Wow! Mendadak lu jadi seorang motivator,” sindirku.


“Udah ya. Gue nggak mau ada orang lewat terus ngelihat kita lagi berduaan di tempat sepi seperti ini. Nanti dia bisa salah kira. Lagi pula, Mutia juga udah pergi dari tempat ini.” Ardi mendorongku sedikit, lalu bergegas pergi.


Dia selalu menghindar ketika kutanya tentang rahasia yang ditimbulkan oleh Mutiara Pengubah Nasib. Hah! Sikapnya semakin membuatku penasaran untuk mengungkap berbagai misteri yang dia sajikan.


Aku pun melangkah pergi. Hasrat hati ingin mengejar Mutia, tetapi terhalang dinding pemisah berupa si Muka Dua.


***


Setiap orang berhak memilih jalan hidup masing-masing. Perasaan tidak bisa dipaksa untuk berlabuh pada hati yang tidak dicintai.


“Kalau aku dan Bagas saling menyukai, mengapa aku yang harus mundur?” Kalimat tersebut terus mengiang di kepalaku semalaman. Benarkah Mutia juga menyukaiku? Jika benar, entah mengapa ada getir yang kurasakan.


Mutia menyukai Bagas, bukan Ardi. Bagas yang sekarang adalah Ardi. Rumit! Aku ingin tidak peduli. Tetapi, bagaimana jika suatu saat aku kembali ke tubuhku yang asal?


Hah! Aku coba fokus dulu untuk menunggu kedatangan Metha. Aku mau menyelesaikan kesalahpahaman ini agar dia tidak lagi bersitegang dengan Mutia.


Metha yang ditunggu, Dita dan gerombolannya yang datang. Dia memangku buket bunga sembari berjalan tersenyum ke arahku.


“Bagas, selamat ya! Aku udah tahu kamu pasti menang," tutur Dita. "Tapi maaf, kemarin aku ada acara keluarga. Jadi, aku nggak sempat hadir deh. Kamu maafin aku kan, Gas?”


“Iya, Dit. Terima kasih ya!” Aku terima ucapan selamat darinya dengan tangan terbuka.

__ADS_1


“Kamu lagi nungguin siapa sih, Gas? Dari tadi aku perhatian kamu celingak celinguk kayak nggak tenang sih.”


Aku lihat ada Andy berjalan ke arahku. Di belakang Andy tampak Metha mengiringi.


Aku lekas memanggil Andy agar dijadikan tameng. Hanya dia yang bisa menutup pergerakan Dita.


Setelah Andy tiba, aku langsung bersilat lidah. “Dy, Dita nyariin lu nih. Katanya dia pengen ngobrol sesuatu sama lu.”


Mereka pun bengong dan terpaku.


“Gas…. aku….” Dita mencoba menahan langkahku.


“Dy, gue ada perlu penting. Tolongin gue ya!” bisikku kepada Andy.


Metha berjalan ke sisi samping gedung kelas. Entah dia menghindar, karena melihat aku dan Dita atau karena alasan lain. Tetapi, ini sesuai dengan yang kuharapkan.


Aku berjalan cepat. Mengejar sambil menyerukan namanya.


Metha pun berhenti. Aku tengok kanan dan kiri, memastikan suasana sepi.


“Met, aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Ini serius,” ungkapku tak mau berbasa-basi.


“Kamu mau menyatakan perasaanmu kepadaku, Gas?” Metha menatapku berbinar-binar.


Aku tidak mau lagi menanam rumput liar di hati Metha.


“Iya. Aku paham kok, Gas. Tapi, apa aku salah jika aku berharap suatu saat perasaanmu kepadaku akan berubah?”


Suara Metha mengalun sendu. Aku atur pikiran sesaat. Kejujuran memang menyakitkan, tetapi membiarkan harapan berseliweran akan lebih memberikan banyak masalah ke depannya.


“Terima kasih kamu sudah memiliki rasa kepadaku. Hanya saja, aku tidak menginginkanmu untuk menaruh harapan apa pun kepadaku,” terangku dengan suara bertempo pelan.


Metha mulai menitikan air mata. Aku alihkan pandangan ke sisi yang lain.


“Apa ini gara-gara Mutia? Apa sih Gas lebihnya Mutia dibanding aku? Apa aku kurang cantik? Aku bisa kok tampil jauh lebih anggun dan feminim dari dia. Apa aku kurang cerdas? Aku juga bisa belajar lebih keras untuk mengimbangi kecerdasannya.”


Dari awal aku sudah yakin perbincangan ini tidak akan mudah alias banyak emosi yang bertaut.


“Ini bukan masalah penampilan atau pun sejenisnya. Ini masalah hati, Met. Aku mohon kamu bisa mengerti ya.”


Metha berusaha memelukku. Kali ini, aku tidak mau terbawa rasa belas kasih. Aku lantas mundur dua langkah.


“Aku lihat perdebatan kamu dengan Mutia kemarin di belakang aula. Aku harap kamu bisa berbesar hati. Awalnya, aku percaya kamu mendukung hubungan aku dengan Mutia. Ternyata, kamu malah berbalik membenci Mutia.” Aku mencari redaksi yang sekiranya tidak membuat dia merasa sakit hati. Namun, aku pun tak bisa mendalami pola pikirnya.


“Gas, apa kamu nggak bisa sedikit aja buka hatimu untuk aku? Apa kamu nggak mau mencoba untuk memberi rasa sama aku? Beri aku kesempatan untuk bisa meluluhkan hatimu, Gas,” ucap Metha berderai-derai.


Harus dengan cara apa lagi aku memberinya penjelasan? Semua pernyataan yang aku lontarkan untuk kebaikannya juga. Aku tidak bisa berpura-pura apalagi coba-coba dengan perasaan.


Pelayaran cintaku sudah mendekati pelabuhan. Aku memang belum mengenali arti cinta sesungguhnya, tetapi aku tak mau karam sebelum sampai di tepian.

__ADS_1


“Met, aku tidak bisa memberikan kesempatan seperti yang kamu ucapkan. Tolong mengerti! Ini masalah hati, aku tidak bisa menjanjikan apa pun,” tegasku.


“Baiklah!” Metha menyeka air matanya. “Aku tahu ini pasti gara-gara Mutia. Dia memang egois, mengorbankan persahabatan demi cinta,” kesahnya.


Aku ingin sabar, tetapi pernyataan Metha memantik panas dalam darah. Dia mengatakan Mutia egois. Aku bukan semata ingin membela Mutia, aku ingin Metha juga sadar.


“Sorry, yang sebenarnya egois itu kamu atau Mutia?”


“Maksud kamu, Gas?”


Aku hela nafas sejenak. “Kamu meminta Mutia menjauhi aku demi kamu, sedangkan kamu tahu aku menyukai Mutia. Aku memang belum menyatakan apa pun kepada dia. Namun, siapa yang dalam hal ini mengorbankan persahabatan? Aku lihat Mutia tetap bersikap baik kepadamu. Dia masih ingin bersahabat denganmu. Lalu, kenapa kamu benci kepada Mutia ketika aku tidak membalas tepukan tanganmu? Ya, harusnya kamu benci sama aku aja.”


Metha terdiam mendengar pemaparanku.


Sudahlah! Aku rasa masalahnya sudah clear. Aku tak mau terlibat drama berkepanjangan.


“Kelas udah mau dimulai. Aku duluan!” ujarku.


Aku tidak menawarinya untuk bersama-sama mengayunkan langkah ke kelas. Aku tidak mau menghidupkan pelita rasa setitik pun. Lebih baik dicap jahat karena berterus terang, daripada menipu untuk dianggap baik.


Ketika meninggalkan Metha, aku meneguhkan hati untuk tidak tergoda menoleh ke belakang. Ini hanya perkara waktu. Aku tidak peduli jika dia berubah menjadi dendam kepadaku.


“Wow! Lu habis syuting drama apa, Gas? Cintaku Terhalang Restu dari Sahabat Gebetanku, itu judulnya?” Ardi menyambut ketika aku hendak menapaki tangga.


Dasar hantu! Jangan-jangan selama ini dia mengintai ke mana pun aku pergi.


“Sorry ya, gue nggak ada waktu untuk menghadapi ular seperti lu.”


“Gue rasa lu mending sama Metha aja deh. Atau Dita. Em…. atau lu pacari aja keduanya sekaligus, selang-seling gitu. Biar Mutia sama gue aja. Kalau Mutia sama gue, gue yakin nggak akan ada drama perpecahan antara dia dengan sahabatnya,” urainya memberikan saran.


Akan tetapi, saran macam apakah itu? Mengapa tidak sekalian saja mengemis di hadapanku?


Beberapa hari ini Ardi sepertinya memanfaatkan keadaan untuk menyulut afeksi dan mentalku. Oh, oke. Aku tahu mengapa dia melakukan hal tersebut. Tanganku yang sempat mengepal kulonggarkan kembali.


“Lu gengsi mau minta tukeran tubuh lagi sama gue? Lu iri kalau pencapaian gue melebihi lu? Lu udah jengah dengan kehidupan yang 180 derajat berbalik ini. Coba bilang aja langsung gimana caranya biar kita bertukar tubuh lagi. Jangan bertele-tele kayak cewek!” Aku tepuk-tepuk pipinya secara halus.


Dia menatapku dengan tajam.


Kemudian, Mutia datang.


“Hai Gas, Di,” sapa Mutia. “Kalian kok masih di sini? Kayaknya lagi serius banget ngobrolnya. Kalau gitu aku duluan ya.”


“I…. iya, Mut,” respon Ardi berlakon lugu seperti biasanya jika berhadapan dengan Mutia.


Ardi, si Munafik! Aku putuskan mulai hari ini akan melakukan penyelidikan secara intensif tentangnya. Dari SMA hingga sebelum betukar tubuh, sifat dan perilakunya sangat bertolak belakang dengan dia yang sekarang.


Atau jangan-jangan dia bukan Bagas yang asli? Jadi, ada kemungkinan terjadinya pembiasan ketika pertukaran tubuh ini terjadi.


Lantas, jika dia sosok yang berbeda, apa mungkin Bagas yang asli disembunyikan di tempat yang lain? Ah, ini dunia nyata atau fiksi ilmiah sih?!

__ADS_1


__ADS_2