Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 25: Inversi


__ADS_3

Terkadang api harus dilawan dengan api. Api mana yang bisa membakar lawan lebih dulu, itu tergantung dari strategi yang diterapkan.


Leo memberi tahuku jika Tommy dan Revan sudah bergerak untuk menyingkirkan motor Ardi. Aku jadi tidak sabar menunggu kelas usai - melihat hasil dari tugas yang aku perintahkan kepada mereka.


Aku menoleh ke belakang, tersenyum kepada Ardi. Dia membalas dengan memberikan tatapan sinis.


Andai dia tidak memulai perang lebih dulu, aku sudah sangat tahu diri. Aku tidak akan bertindak sejauh ini. Bagaimana pun, aku punya kesadaran untuk membalas budinya.


Bahkan, aku sempat berpikir kami bisa menjadi teman setelah terjadinya pertukaran tubuh. Ternyata, dia penuh muslihat. Kedalaman isi pikiran manusia memang sulit diselami. Sifat dan sikap pun bisa berubah sewaktu-waktu.


Momen yang ditunggu tiba. Kelas usai, dan kelas selanjutnya masih sore nanti.


Siapkan mata dan kata-kata untuk menuai ekpresi si Muka Dua. Semoga saja, setelah ini, dia mengerti jika aku bisa melakukan pembalasan yang berkali lipat lebih kejam dari yang dia kira. Meskipun begitu, tanganku akan tetap terlihat suci di mata orang lain.


Empat panglimaku berkumpul. Tadinya, aku ingin mengajak Mutia bercengkrama di White Horse. Namun, dia mengatakan ada janji dengan temannya dari fakultas lain.


Hati perempuan memang sangat sulit ditebak arahnya. Entah dia sengaja menghindar atau terkait perasaanku yang membentangkan jarak, aku belum bisa memastikannya. Sementara, aku fokus kepada Ardi terlebih dahulu.


Mungkin dengan lebih aktif mengerjai Ardi, aku bisa mendepaknya dari peta persaingan. Mutia tidak boleh berpaling kepadanya.


Ardi merogoh kunci motor di dalam sakunya. Aku lihat tak ada yang berubah dari si Bapet (panggilanku untuk motor yang sekarang digunakan oleh Ardi). Dia masih tegak berdri, dan tampak tak bergeser dari posisinya.


Aku perhatikan lagi si Bapet lebih teliti. Bannya tak menunjukkan kondisi kempes. Padahal, aku kira Tommy dan Revan menyasar bagian tersebut.


Ah! Perasaanku mulai cemas. Aku takut mereka mengelabuiku.


Aku pandangi Tommy, Revan, dan Leo secara bergantian. Mereka seperti menahan tawa sambil mengarahkan mata kepada Ardi. Raut wajah mereka sarat akan kesenangan.


Ardi memasang helm di kepalanya. Kemudian, dia mengangkat satu kaki untuk menaiki motornya.


Begitu pantat Ardi menempel di jok motor, suara nyaring mengudara. Bruuukkkkk!!!


Kedua roda motor Ardi terlepas dan menggelinding liar. Ardi sendiri nyaris tersungkur, dan hanya bisa melongo.

__ADS_1


Seluruh orang yang menyaksikan kejadian tersebut terbahak-bahak. Aku pun sebenarnya ingin melepaskan tawa kencang, tetapi aku harus setia berlagak innocent.


Leo berbisik kepadaku, “Gimana, Gas? Dengan begini motor si Kunyuk tersingkir selamanya kan dari sisi mobil lu. Sedikit kejam sih. Tapi gue yakin orang-orang nggak akan ada yang curiga kalau itu ulah kita. Mereka pasti mengiranya motor si Kunyuk aja yang uzur.”


Aku sunggingkan senyum kepuasan. Sebenarnya agak berlebih membuat si Bapet terberai hingga beberapa bagian. Dia hadiah dari ayahku. Dia yang setia menemani kesendirianku. Dia yang  kerap membantuku mengusir lara dan sepi. Namun, memang sudah seharusnya dia tertinggal dalam masa laluku.


“Wahai manusia paling introvert sedunia, sungguh malang nasibmu, Kawan,” ujar Revan mengejek. Dia tampak begitu bahagia melihat wajah Ardi yang nestapa. “Lagian, motor butut kayak gitu aja lu masih bawa ke kampus. Tuh motor pantasnya lu pajang di Museum Bikini Bottom. Hahaha…”


Teman-teman semakin keras melaungkan tawa. Ardi terlihat kebingungan. Ia hanya bisa menatap tanpa mengerti yang harus diperbuat.


Duh, Ardi! Bagaimana rasanya saat ditimpa kesialan, tetapi tak ada seorang pun yang peduli? Orang-orang di sekitarmu justru menganggap nasib buruk yang menimpamu sebagai hiburan.


Aku jadi berpikir, seandainya aku menjahilinya secara rutin, mungkin dia akan mengemis untuk kembali pada kehidupan semula sebagai Bagas. Perlahan tapi pasti, aku akan buat dia merana. Aku akan menguji ketangguhan  dia dalam menjalani hidup yang seadanya.


Andy berjalan mendekati Ardi. Lalu, Mutia tiba-tiba saja muncul. Mengapa kehadiran Mutia seakan sudah diatur sedemikian rupa? Ah, saatnya aku menunjukkan pesonaku.


Aku berlari dengan cepat untuk membantu Ardi. Jangan sampai Andy menadahuluiku. Aku tak mau Mutia melihatku tak punya empati.


Ardi tak menjawab pertanyaanku. Dia malah memandangku geram.


“Kita bawa aja motor lu ke bengkel ya? Siapa tahu masih bisa diperbaiki. Biayanya biar gue yang nanggung,” ungkapku tersenyum diikuti dengan mengedipkan mata.


Aku memanggil Tommy, Revan, dan Leo untuk segera membawa motor Ardi ke bengkel. Sementara itu, Andy tampak menelaah keadaan.


“Ada apa ini, Di? Motor kamu kenapa? Kok bisa hancur begini, Di?” tanya Mutia keheranan.


Ardi diam seraya mengumpulkan kesedihan. Lukisan di wajahnya mencoba untuk menggapai belas kasihan dari Mutia.


Aku tarik tangan Ardi. Aku tak akan membiarkan dia mendapatkan setetes pun perhatian Mutia.


“Kita ke bengkel sekarang yuk, Di,” ajakku.


Ardi menghardik uluran tanganku. “Ini pasti kerjaan lu, kan? Lu pasti nyuruh teman-teman lu buat ngerusakin motor gue? Gu yakin lu ngelakuin ini, karena lu nggak suka sama gue.”

__ADS_1


Tak disangka, Ardi bisa juga membentakku di hadapan umum. Well, kemarahannya justru menguntungkan buatku.


“Jangan nuduh sembarangan lu!” Tommy berteriak kesal.


Aku minta Tommy, Revan, dan Leo mundur. Ini perkara kecil buatku. Bahkan, momentum ini bisa jadi titik balik untuk membuat Ardi merasakan derita sebagai insan yang hidup dalam kemuraman.


“Di, dari tadi kan kita di kelas. Kita keluar kelas juga bareng. Terus selama di kelas juga gue nggak ke mana-mana. Begitu pun, dengan mereka," paparku halus. Aku semakin tertantang untuk mengeluarkan semua amarah Ardi. Apa mungkin motor lu begini, karena tadi pagi gue nggak sengaja nabrak stang motor lu?”


Ardi mengepalkan tangan. Aku mengangkat kedua alis – menyulut api yang berkobar di matanya.


“Lu emang pandai banget berakting.” Gigi Ardi menggertak. Hembusannya terasa begitu kuat.


Andy menatapku. Aku tidak tahu maksud tatapannya tersebut. Akan tetapi, aku khawatir dia pro kepada si Kunyuk.


“Gue sama sekali nggak ngerti maksud lu, Di. Di sini, gue dan mereka cuma berusaha bantu lu aja. Gimana pun, kita ini kan teman.”


Ayo pukul, Di! Pukul aku! Aku amati emosinya sudah hampir meledak.


“Dasar lu nggak tahu terima kasih. Udah untung ada yang mau bantuin, malah nuduh lagi. Ada masalah apa sih lu sama Bagas? Atau jangan-jangan masalah lu sama hidup lu sendiri. Lu iri sama Bagas. Lu berusaha menjatuhkan dia. Huh!” seru salah satu teman membelaku.


Benar, kan? Sekalipun Ardi mencurigaiku, dan memang aku pelakunya, tetapi tidak akan ada satu pun yang percaya.


Teman-teman lantas meneriaki Ardi. Dengan membawa kesal dan malu, Ardi berlalu meninggalkan motornya.


Aku pun tetap berencana membawa si Bapet ke bengkel agar dia bisa hidup lagi.


Drama usai, teman-teman mulai pergi, termasuk Mutia.


Aku sama sekali tidak khawatir jika Ardi nantinya bercerita kepada Mutia tentang perseteruan ini. Aku akan biarkan dia menjelekkanku di hadapan Mutia.


Dalam hal ini, semakin Ardi menjatuhkan citraku, semakin aku akan bersikap manis kepadanya. Jika aku balas menguliti sifat buruk dia, artinya aku tak jauh beda dengan dirinya. Otakku harus lebih encer dari dia. Selanjurnya, biarkan si pendengar yang memberikan penilaian.


Ketika seseorang menjelekkan temannya di depan teman yang lain, namun si teman (orang yang dibicarakan) tetap bersikap baik, bukankah upaya yang orang itu lakukan akan sia-sia? Ardi, lebih baik menyerah sebelum aku memberikan ujian yang lebih berat.

__ADS_1


__ADS_2