
Ada perubahan signifikan dari perilaku Metha sepulang dari kampungnya. Dia menjadi lebih pendiam dan tertutup. Tak ada lagi cekikikan menggelegar mau pun senandung sumbang dari mulutnya.
Huh! Otakku benar-benar dibuat tidak berhenti bekerja untuk mengamati fenomena yang ada di sekitarku.
Aku coba selidiki Metha di kostnya. Sekaligus, aku ingin menyapa Ardi jika kebetulan bertemu. Niat tersebut muncul begitu saja dalam pikiranku ketika aku mendapatkan kesempatan keluar rumah secara lebih longgar.
Pekerjaan receh ini memang sangat bisa aku limpahkan kepada Tommy, Revan, dan Leo. Namun, aku tidak mau mereka terlalu banyak tahu mengenai perasaan serta pikiranku. Jika aku terlampau membuka cerita kepada mereka, maka mereka bisa berbalik mengidentifikasi diriku. Biarkan saja mereka “bermain” dengan si Kunyuk terlebih dahulu.
Firasat dan bisikan semesta cukup akurat. Metha keluar dari kostnya seorang diri. Lalu, dia berjalan ke arah yang bukan menuju kampus. Matanya memutar ke kanan dan kiri seakan mengamati keadaan. Gerakan tubuhnya sangat mencurigakan.
Aku ikuti langkah Metha dengan hati-hati. Tak lama, seseorang turun dari mobil, dan menghampiri Metha. Aku mengendap-endap ke sebuah warung yang posisinya dekat dengan mereka. Aku pun pura-pura membeli cemilan agar pengintaianku sempurna.
Kufokuskan telinga saat Dita mulai melantangkan kata.
“Kayaknya si Bagas udah mulai suka deh sama gue. Bener kan kata gue, cowok itu cukup didorong pake perhatian secara bertubi-tubi. Setelah itu, menghilanglah sejenak untuk membuatnya rindu,” ucap Dita berbicara tentangku.
Aku intip lebih saksama. Dia dan Metha laksana teman akrab. Rencana apa yang sebenarnya ingin mereka lancarkan kepadaku?
“Tapi gimana kalau lu cuma dijadiin pelampiasan sama si Bagas?” tanya Metha.
Dita menyunggingkan senyum. “Nggak masalah. Justru di situlah gue akan buat dia nyaman senyaman-nyamannya sama gue. Setelah di pikirannya tumbuh subur nama gue, gue akan patahkan hatinya seperti dulu dia mematahkan hati gue. Lagian, lu tuh harusnya nyerang dia secara perlahan. Bukan bikin dia jadi illfeel sama lu.”
“Sorry deh, Ta. Pengalaman gue soal beginian kan masih minim,” ungkap Dita.
Dulu aku dengar Ardi berbicara dengan Metha di telepon tentang diriku. Aku kira Metha diracuni pikirannya oleh Ardi. Nyatanya, ada Dita yang bersembunyi di balik layar. Apakah mereka tengah membuat persekutuan?
Aku pun jadi bertanya-tanya, siapakah dalang dan siapakah wayang di antara mereka? Jika aku telisik lebih dalam, Metha juga punya potensi sebagai sang pengatur atau pengendali cerita.
Ok. Baiklah trio tak bernama. Aku akan ikuti dulu skenario kalian seolah-olah aku aktor pendatang baru.
Dita dan Metha pergi dengan menumpang mobil yang mengantarkan Dita. Haruskah aku ikuti mereka? Namun, 20 menit lagi aku mesti masuk kelas. Aku tak mau mengorbankan kuliah demi dua perempuan “gila” tersebut.
Aku berjalan santai menuju kampus. Tuhan amat sangat menyayangiku. Dia tunjukkan kepalsuan yang lebih banyak tentang Dita dan Metha.
Memang, masih ada misteri yang mengganjal, yaitu mengenai bagaimana Dita dan Metha bisa menjadi sahabat seperti yang kulihat tadi. Ah, tapi seiring berjalannya waktu semua tabir pasti tersingkap. Intinya, aku sudah tahu rencana licik Dita.
__ADS_1
Rencana yang Dita ungkapkan untuk balas dendam merupakan rencana yang sama denganku. Kini, dua kemenangan masuk ke dalam genggamanku. Pertama, dia yang akan aku buat mencintaiku lebih dalam. Kedua, ketika aku buat dia patah hati, dia akan menyadari ambisinya tak ubah bagaikan kibasan angin. Rasanya aku tertawa kencang di depan mukanya.
Dia mengira aku bersikap manis untuk mencurahkan rasa. Padahal, dia yang akan kubuat menggali kuburan deritanya sendiri.
Mendekati kost suram penuh nestapa, kulihat Ardi tengah menata tas besar di atas motor. Apakah dia akan pulang kampung?
Aku mempercepat langkahku. Akan tetapi, ada getaran sedih mengalun di pikiranku. Sendu pun seketika membayangi mataku.
“Lu mau ke mana, Di? Mau pulang kampung?” tanyaku dengan halus.
“Bukan urusan lu!” jawabnya sinis.
Ardi menambahkan banyak barang di atas motornya. Aku simpulkan dia bukan hendak pulang kampung.
Begitu hendak kupastikan, Ardi merogoh ponselnya. Dia juga tampak memperbaharui mimik wajahnya supaya tampak cerah.
“Halo, Yah,” sapa Ardi seraya mengarahkan panggilan videonya kepadaku.
Mendengar dan melihat wajah yang terlukis di ponsel Ardi, batinku tersentak. Tubuh pun bergejolak menahan kesedihan serta kerinduan. Ayah, rasanya sudah cukup lama aku tak mendengar tutur beliau yang bersahaja.
Kini, aku tak bisa lagi menjangkau suara Ayah seperti dulu. Identitasku sudah berubah sesuai cita-citaku.
“Oh iya, Yah. Ardi mau kenalin Ayah sama temen Ardi nih. Dia ini tampan, kaya raya, baik hati, dan tidak sombong. Dia orang paling populer di kampus, tetapi begitu rendah hati. Dia udah bantuin Ardi buat cari kost yang baru. Sekarang dia datang ke sini buat bantuin Ardi pindahan. Dia baik banget kan, Yah?” satir Ardi sembari merangkulku.
Air mataku makin menyedak keluar. Tahan! Aku harus bisa tahan.
“Wah, Ayah senang sekali mendengar kamu punya temen yang sangat baik di sana,” ucap Ayah melagukan keharuan. “Nama kamu siapa, Nak?” tanya Ayah kepadaku yang seketika meningkatkan kadar rinduku.
Aku ingin sekali berteriak, memanggilnya untuk bertutur kisah.
“Emmm…. Ini…. A…. Ar…. emmm…. Nama saya Bagas, Yah.” Air mataku seolah sudut menumpuk di balik kelopak hingga tak sadar melantunkan sapaan penghubung ikatan. Kuhela nafas sejenak untuk menahan tangisan yang akan menghantam bendungan.
“Terima kasih banyak ya, Nak Bagas. Nak Bagas sudah mau menjadi teman anak saya, Ardi. Ardi ini orangnya memang pemalu dan pendiam. Akan tetapi, dia sebenarnya anak yang penurut dan rajin belajar. Dia kebanggaan Ayah. Dari SD sampai SMP selalu juara 1. Namun, selama sekolah di Jakarta peringkatnya menurun. Tapi Ayah tetap bangga kepada Ardi. Itu artinya persaingan di Jakarta sangat ketat. Ardi bisa belajar banyak dari Nak Bagas dan teman-temannya yang lain,” ungkap Ayah santun.
Teman? Sejatinya, tak ada satu pun teman yang kumiliki di Jakarta. Teman yang sekarang berada di sekelilingku merupakan warisan dari pertukaran tubuh ini.
__ADS_1
Ayah menutup sambungan telepon video. Beliau mengatakan sedang perjalanan pulang. Sontak aku menyampaikan untuk berhati-hati di jalan kepada beliau. Beliau pun membalas dengan senyuman yang begitu meneduhkan jiwa.
Seburuk apa pun rupa dan hidupku di lingkungan luar rumah, Ayah selalu memandangku sebagai sosok yang sempurna – sosok yang diharapkan menjadi pribadi yang berguna di tengah-tengah masyarakat.
Aku naikkan kepala menghadap langit. Aku turunkan lagi air mata ke dalam raga. Kemudian, kulangkahkan kaki untuk meninggalkan Ardi. Hatiku sendu, pikiranku tersedu.
“Lu mau ke mana, Gas? Bukannya lu mau bantuin gue pindahan?” tanya Ardi menyindir.
Aku berhenti, dan membalikkan badan. “Kapan gue ngomong kayak gitu?”
Ardi menggeleng-gelengkan kepala berisyarat meledek. “Duh, Bagas! Lu masih muda tapi udah mulai pikun sih. Tadi kan lu udah mengiyakan di depan ayah lu ketika gue bilang bahwa lu akan bantu gue pindahan.” Ardi melepaskan udara melalui mulut. “Ups! Sorry, sorry, gue lupa. Gue harus segera meralatnya ya, kalau tadi itu lu ngobrol sama ayah gue bukan ayah lu.”
Sialan! Keharuan yang tak bisa aku sembunyikan ternyata bisa dibaca dengan baik oleh si Kunyuk.
“Lagian, gue harus pindah kost juga kan gara-gara lu. Maka dari itu, sudah selayaknya lu bantu gue angkut barang-barang gue ini,” imbuhnya.
“Gue nggak ngerti maksud lu,” ungkapku kesal.
Ardi mendekatiku. “Ok. Kayaknya lu emang beneran pikun ya. Tapi semoga lu nggak pikun atau pura-pura lupa tentang perjuangan ayah lu buat ngebiayain kuliah lu di sini. Uang semesteran, uang buku, uang saku, kebutuhan makan, dan sewa tempat tinggal, itu nggak murah, kan? Tentunya lu masih bisa mengingat gimana kerasnya ayah lu membanting tulang demi lu.”
Aku meraih kerah baju si Kunyuk. Bisa-bisanya dia memanfaatkan situasi untuk menyerang mentalku.
“Eh sorry lagi ya, Gas. Ternyata mungkin gue yang mulai pikun ya. Gue lupa kalau ayah lu kan konglomerat terkenal. Pemilik Permana grup yang setiap harinya bisa menghasilkan uang hingga miliaran rupiah.” Dia terus mengolah kata-kata manis yang dihiasi duri-duri tajam.
Darahku mendidih. Namun, kulihat Mutia membuka pagar – keluar dari kostnya. Kulepaskan cengkramanku sambil sedikit mendorong si Kunyuk bermuka dua, manusia paling munafik di dunia.
Aku bukan takut atas penilaian Mutia ketika aku terlibat adu fisik dengan si Kunyuk. Aku hanya malas saja melihat wajahnya yang seakan meniupkan sakit hati.
Aku pergi, tetapi sepatuku seakan disusupi paku. Setiap pijakan yang kutapaki terasa mengalirkan keperihan dari kaki hingga ujung rambut. Ayah, aku rindu sekali kepada Ayah.
Kujatuhkan diri di kursi, lalu menundukkan kepala. Mumpung kelas masih sepi, kutelusuri makna pertemuan singkat dengan Ayah tadi.
Aku telah melupakan beliau. Demi hasrat untuk merasakan gemerlap kehidupan, aku menanggalkan kasih sayang yang aku terima. Kasih sayang yang sederhana, tetapi selalu berhasil menenangkan batin.
Hidupku sebagai Bagas memang menyenangkan. Apa pun yang kumau tersedia di depan mata. Namun, bagaimana jika semua ini sirna tiba-tiba? Bagaimana jika aku tak mampu menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya dengan tubuh ini? Bukankah jalan kehidupan penuh misteri, dan arahnya terkadang tak bisa diprediksi? Bukankah puncak dari kebahagiaan itu ialah bisa tersenyum bersama kedua orang tua dan keluarga?
__ADS_1
Akhhhhh!!!