Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 34: Serangan


__ADS_3

Dingin merangsak ke setiap tulangku dengan begitu masif. Aku butuh selimut untuk membalutkan kehangatan. Namun, aku harus bersabar menunggu perkuliahan usai.


Aku pegang tangan Leo untuk memberitahu kondisiku. Sayangnya, dia hanya tersenyum kecil kepadaku. Tak ada tanya, dan tak ada juga komentar yang dia ucapkan. Mustahil dia tidak merasakan suhu berbeda yang aku tunjukkan melalui persentuhan ini.


Baiklah, Leo. Memang tak semestinya aku menaruh harapan akan perhatiannya. Hanya saja, sebagai orang yang sering aku beri makan, dia terlihat sangat tidak tahu balas budi.


Waktu pun mendadak tidak berpihak padaku. Satu menit laksana satu jam. Sedangkan, tubuhku semakin menggigil tak terkendali.


Andy menatapku dengan saksama. Kemudian, dia mengangkat tangan untuk menyampaikan interupsi kepada dosen yang sedang menjelaskan materi.


Tak kusangka, dia meminta izin kepada dosen agar aku bisa keluar kelas lebih cepat. Dia pun turut serta untuk mengantarku pulang.


Sembari menunggu sopir rumahku menjemput, Andy berlari ke kantin untuk membelikanku teh manis hangat. Dia begitu sigap membantuku. Kepeduliannya menghidupkan keharuan.


“Kenapa sih lu nggak minta bantuan gue langsung? Lu gengsi karena kemarin kita sempat adu argumen?” tanya Andy sembari memandu langkahku masuk ke dalam mobil.


Dia memarahiku, tetapi untuk hal yang tak kuduga. Dia tidak membahas sikap cuekku kepada Mutia.


“Thank you ya, Dy. Sorry gue jadi ngerepotin lu,” lirihku.


Tak terasa air mataku menetes. Seumur hidupku, ini baru pertama kalinya aku merasakan betapa hangatnya memiliki seorang sahabat. Walaupun mungkin perlakuan Andy akan berbeda andai dia tahu aku bukan Bagas yang asli, tetapi pengalaman ini akan sangat membekas dalam riwayatku.


“Lu nangis kenapa? Cengeng banget sih!” gerutu Andy. Namun, aku mengerti bila sesungguhnya ada canda yang membalut perkataannya.


Aku sendiri acapkali bingung dengan emosiku. Gampang tersentuh, tetapi terkadang dipenuhi perasaan seperti dendam.


Aku lantas berdalih jika tangisanku terjadi akibat bawaan dari sakit yang menerpa badanku.


“Namanya juga orang lagi sakit, Dy. Biasanya kan lelah dan letih membuat organ kita turut bersedih tanpa disadari,” pungkasku.


***


Selama tiga hari aku terbaring lemas di tempat tidur. Mama sempat menganjurkanku opname di rumah sakit. Aku pun menolak dengan alasan tubuhku hanya perlu dikembalikan pada pengaturan awal seperti tidur yang cukup dan berkualitas.


Padahal alasan utamaku tidak mau dirawat inap, karena aku takut sekali jarum suntik. Aku tidak sanggup membayangkan benda kecil nan tajam tersebut menorobos pembuluh darah venaku – ditanam untuk beberapa lama. Itu lebih mengerikan daripada tangan tersayat oleh silet.


Sementara itu, obat-obatan, vitamin, dan makanan penunjang kesehatan bersemayam di dalam lambung, tetapi aku tak merasakan perubahan signifikan. Biasanya ketika terserang demam atau gejala flu, aku cukup minum obat-obatan warung, dan bisa pulih tak lebih dari dua hari. Ternyata dalam raga orang kaya, sakit senang bermanja-manja.


Andy mengetuk pintu kamarku sembari memanggil namaku. Aku menyahuti dengan mempersilakan dia untuk langsung masuk.


Aku sangat terkejut. Di belakang Andy, ada Mutia mengikuti. Dia menampa satu keranjang buah-buahan.

__ADS_1


Mutia datang dengan maksud baik untuk menjengukku. Maka dari itu, aku tak mungkin menolak kehadirannya begitu saja.


“Bagaimana keadaanmu sekarang, Gas? Apa sudah enakan?” tanya Mutia sembari menyodorkan parcel yang dia bawa.


“Iya, better. Terima kasih sudah repot-repot ke sini," responku datar.


Aku tak memiliki banyak kosakata atau topik untuk mengobrol dengan Mutia. Ya, karena aku tidak mempersiapkannya. Andy tidak bercerita jika siang ini akan datang bersama Mutia.


“Syukurlah kalau begitu, Gas. Sepertinya kamu terlalu memforsir tenaga dan pikiranmu. Soalnya aku dengar kamu sibuk juga bantu ngurus perusahaan ayahmu. Ditambah lagi menjelang UAS justru kita dikasih banyak tugas oleh hampir semua dosen mata kuliah. Kamu pun punya tugas sebagai Duta Kampus yang sudah mulai padat kegiatannya ya.” Mutia begitu lancar berkisah mengenai diriku.


Satu sisi aku salut kepada dia, karena masih bisa berbicara lembut kepadaku setelah mendapatkan sikap kejamku beberapa hari lalu. Namun di sisi lain, aku agak skeptis kepadanya. Entahlah! Rasanya pikiranku begitu waspada menjaga hatiku supaya terhindar dari luka.


Saat aku tengah bingung menimpali pernyataan Mutia, Andy pamit untuk menjemput tamu yang akan menjengukku juga.


Apabila tebakku benar bahwa yang datang yaitu Tommy, Revan, dan Leo, aku akan menyindir mereka secara tajam.


Namun, bagaimana dengan Mutia?


Gawat! Tiga Cecungguk itu berpotensi menyindirku balik ketika mendapati Mutia ada di sini. Mereka mungkin tidak akan melepaskan sindiran secara tersurat. Hanya saja, pasti ada perubahan sikap yang bakal mereka tunjukkan.


Aku tidak boleh terlihat tidak konsisten di depan mereka. Misiku belum tuntas. Aku pun sudah mengeluarkan banyak modal untuk mencocok hidung mereka agar menurut kepadaku.


Andy! Kenapa dia tidak membicarakan terlebih dahulu denganku ketika hendak mengajak orang lain?


Mutia memerhatikan gerak-gerikku yang begitu gelisah dan resah. Sungguh sebuah dilema. Tak mungkin juga tiba-tiba menyuruhnya pulang.


“Ha…. ha…. halo, Gas! Gimana keadaanmu sekarang?” Rupanya Si Kunyuk yang datang.


Untuk apa dia datang ke sini? Apakah dia rindu pada  kenyamanan yang tersaji di rumah yang menjadi tempatnya bernaung selama belasan tahun?


“Baik, Di. Silakan duduk! Cari aja tempat ternyamanmu untuk bersandar ya.” Mau tak mau aku harus bersikap ramah melayani aktingnya yang berlagak culun.


“Wah, kamar kamu luas banget, Gas. Ini sih sebesar rumahku loh. Tapi kayaknya lebih besar dan tentunya lebih bagus kamarmu,” ungkapnya mendalami peran yang tengah dimainkan. Dia juga menggunakan kata ganti yang lebih halus dalam merujukku.


Dasar si Kunyuk Muka Dua, manusia paling aneh dari Lembah Munafik!


“Kamu terlalu berlebihan, Di,” balasku dengan sedikit berseri.


Andy membawa Mutia dan si Kunyuk tanpa persetujuanku. Dia benar-benar hilang akal. Jalan pikirannya tidak bisa ditebak. Kekagumanku terhadapnya pun masuk dalam ranah relatif.


Ah! Benar kata pepatah, jangan terlalu cepat mengukur kedalaman sungai dari kejernihan yang tercipta di atas permukaannya.

__ADS_1


Aku berjalan menuju dapur untuk melihat kesiapan santapan makan siang. Bagaiaman pun, aku harus menjamu tamu-tamuku dengan maksimal.


Baru beberapa langkah ditempuh, si Kunyuk mengejarku.


“Gas, gue boleh ikut lu nggak? Gue pengen banget keliling lihat-lihat rumah lu yang bagus dan megah ini,” katanya dengan nada memohon.


Dia pasti rindu suasana yang ada di rumah ini. Atau mungkin dia tengah mencari barang peninggalannya di sini. Ya, bisa jadi. Jika bukan karena ada maksud terselubung, dia tidak mungkin berkunjung.


“Ayo! Lu pasti lagi kangen lihat setiap sudut kemewahan yang ada di rumah ini, kan?. Gue paham kok, Teman,” seringaiku sembari mengipaskan hawa panas.


“Sebenarnya gue datang ke sini buat nyampein amanat ayah lu sih,” ungkapnya membuat otakku tersentak. “Sorry, maksud gue yaitu ayah gue. Maaf ya, gue masih belum terbiasa mengklaim sesuatu yang bukan milik gue.”


Aku berusaha tak mengindahkan mulut runcingnya. Keterangannya bagai anak panah yang ditujukan untuk menyakiti batinku.


“Ayah kemarin datang ke kost gue buat jenguk gue. Ayah juga nginep satu malam. Sebelum kembali ke Serang, Ayah ingin bertemu dengan lu buat ngucapin terima kasih. Sayangnya, lu nggak terlihat di kampus. Terus gue denger dari Andy kalau lu terbaring lemah tak berdaya. Haha, lu pasti kelelahan karena tak berhenti mikirin tentang gue,” tukasnya.


Tawanya kecilnya mengundang kepalan tanganku. “Mikirin lu? Buat apa? Mending lu sekarang keliling-keliling dulu sepuasnya mengitari istana ini. Bisa jadi lain kali gue nggak memberikan lu kesempatan seperti ini lagi.”


Aku mempercepat ayunan kaki. Sudah kuduga bahwa dia datang untuk membuatku tumbang.


“Ayah ternyata sangat menyenangkan. Kami berbicara banyak hal yang membuat kehidupan terasa penuh warna. Pokoknya, ngobrol sama Ayah, itu seru banget. Ucapannya, nasihatnya, begitu menenteramkan hati dan pikiran gue,” imbuhnya bagai motor yang baru diisi bensin.


Aku mengatur nafas seraya mencari kata-kata pembelasan.


“Oh gitu ya. Emangnya ngomongin apa sih? Ngomongin kemiskinan? Berbagi cerita mengenai penderitaan sebagai rakyat kecil yang kerap dipandang sebelah oleh orang lain. Ataukah kalian bertukar imajinasi untuk membangun skenario hidup seindah dunia fantasi?”


Maaf, Ayah! Aku tidak bermaksud durhaka kepadamu. Gumamku dlam hati.


Dia terdiam. Lantas, aku seperti mendapat ilham yang luar biasa.


“Udahlah, Di! Semakin lu memanaskan hati gue dengan topeng kesenangan lu, semakin jelas tergambar kalau lu sedang tidak baik-baik saja. Kalau memang lu merasa bahagia dengan kehidupan lu yang sekarang, mengapa lu terus mengumbarnya di telinga gue? Banyak bicara berarti banyak kebohongan, setuju kan dengan ungkapan tersebut?!” Aku rangkul pundak si Kunyuk. “Lebih baik kita makan siang dulu yuk biar mulut lu punya lebih banyak tenaga untuk nantinya mendongeng lagi.”


Wajahnya memerah. Mungkin dia sangat terpukul dengan serangan balikku yang jauh lebih dahsyat – menghancurkan pendengaran.


“Oh iya, lu mau makan apa? Jangan sungkan, lu bilang aja. Mau masakan Western, Chinese, Japanase, bahkan Mediteranian, tersedia lengkap di sini. Tapi maaf, di sini tidak ada stok mie instant. Adanya pasta,” ucapku dengan senyuman sinis yang penuh.


***


Aku terbangun di heningnya pertengahan malam. Tubuhku terasa begitu sakit tak tertahan. Mataku perlahan berbayang disertai pandangan yang menjadi kabur.


Ada apa ini? Apa yang terjadi dengan diriku? Kondisinya seperti ketika aku lepas dari tubuh lamaku.

__ADS_1


__ADS_2