
Masalah demi masalah mulai mengiringi hari-hariku. Aku pun mengamini semuanya sebagai suratan hidup. Bukankah hidup memang akan selalu dihadapkan pada masalah? Bedanya, sekarang aku jauh lebih siap. Aku bisa menjentikkan jari seperti Thanos dan Iron Man untuk melenyapkan masalah.
Ya, aku terkadang ingin menghilangkan orang-orang toxic dari muka bumi. Agar kehidupan di dunia berjalan penuh kesenangan. Karena jika hanya menunggu mereka mendapatkan karma, ibarat menunggu kelapa terlepas sendiri dari manggarnya.
Apa aku telah berubah menjadi psikopat? Aku masih sadar dan waras. Aku hanya menginginkan kedamaian agar mereka yang masih tertindas di luar sana bisa merasakan kebebasan.
Lagi pula, seseorang menjadi jahat bukan karena keinginan nuraninya. Terkadang hasrat tidak baik tersebut timbul atas akumulasi kesakitan yang diterima dari perlakuan sekitar. Bukan untuk membalas dendam, melainkan memberikan pengertian.
Hah! Nanti aku lanjutkan lagi berangan menjadi karakter superhero. Hidup harus seimbang. Terlalu baik akan dimanfaatkan. Menjadi jahat akan sellau menjadi tumpuan kesalahan. Ini menurutku saja, tidak untuk ditiru.
Malam ini para panglimaku mengajak berkumpul di White Horse. Tak ada perbincangan serius yang akan dibahas. Sekadar bersantai ala anak muda metropolitan menghabiskan weekend.
Baiklah! Aku meluncur sembari mengepalkan semangat. Aku sebenarnya ingin bertandang ke kost Mutia. Namun, kuyakin ada Metha yang tampaknya masih kesal kepada sang idaman hatiku tersebut. Tragedi kemarin cukup menyiratkan adanya perang dingin yang membatasi jarak di antara mereka.
Setiba di café, Tommy dan Revan menyambut. Berselang lima menit kemudian, Leo dan Andy muncul. Ada rasa bosan mendera bila selalu bersama mereka. Hal tersebut pengaruh kesan kurang baik yang pernah aku dapatkan dari mereka. Tetapi mau bagaimana lagi, tak ada teman lain untuk dijadikan arena bermain.
Setelah berkutat cukup lama mendengar obrolan mereka yang bagiku tidak jelas, tiba-tiba Leo merapat ke sampingku.
“Gas, gue perhatiin lu lagi deket sama Mutia. Anak-anak se-fakultas juga banyak loh yang ngomongin soal lu dan Mutia. Beneran itu, Gas? ” tanya Leo.
Aku tujukan mataku kepadanya. Tak ada pergerakan dari wajah. Hanya menunggu dia menjabarkan maksud secara lebih terperinci.
“Ngeliatin gue kok gitu banget sih, Gas? Gue cuma nanya aja, Ganteng.” Leo memegang kedua pipiku sembari cengengesan.
“Gas, serius lu suka sama Mutia?” timpal Revan. “Atau lu lagi iseng aja kayak di drama-drama Korea gitu? Seorang pemuda tampan dan kaya raya mengejar cinta cewek sederhana. Pria itu pun sangat tergila-gila kepada cewek tersebut. Haha…” Revan menertawaiku. “Udahlah, Gas. Gue rasa lu nggak perlu aneh-aneh begitu deh. Mending lu cari yang lain aja. Paling nggak, cewek yang nyambung dan bisa diajak nongkrong-nongkrong sama kita-kita begini. Iya, nggak?”
“Betul tuh, Gas,” sahut Leo.
“Gue juga setuju sih. Jangan sampe lu jadi bucin (budak cinta) sama cewek yang biasa-biasa aja.” Tommy menambahkan penjelasan pada narasi Revan.
Aku makin sinis menatap mereka. Berbagai penekanan yang mereka lontarkan sangat jelas mengindikasikan ketidaksukaan terhadap Mutia.
Lantas, mereka bertiga ini sebenarnya siapa? Bisa-bisanya mencoba masuk dalam ranah pribadiku.
“Kalau benar gue suka sama Mutia, memangnya kenapa?” ujarku dengan nada sedikit tinggi.
“Ya ampun, Gas. Masih banyak cewek yang spesifikasinya lebih tinggi dari Mutia,” ketus Leo.
Aku pun bangkit dari posisi duduknya. Ucapan Leo menyulutkan api yang besar di kepalaku. Bisa-bisanya dia terus berkata merendahkan mengenai Mutia. Ini bukan yang pertama. Sepertinya dia mudah lupa jika hanya diingatkan dengan kata-kata.
“Maksud lu apa? Mutia itu bukan gadget yang bisa diukur secara kasat mata. Lagi pula, gue mau suka sama siapa pun, itu urusan gue. Nggak usah sok ikut campur dalam kehidupan pribadi gue. Juga, jangan sembarangan ngasih penilaian terhadap orang lain. Lu pada nilai diri lu sendiri sebelum nilai orang lain. Sebutin kelebihan lu sebelum ngerasa lebih tinggi dari orang yang lu rendahin.” Aku pun berceramah di tengah hiruk pikuk para pencari hiburan.
Padahal jika mengikuti emosi, aku ingin membanting kepala mereka bertiga ke meja.
“Sabar, Gas!” Andy mendekatiku. Tangannya mengajakku untuk kembali duduk.
“Gue tegaskan sekali lagi. Mau gue suka sama siapa pun, itu hak gitu. Kalau kalian bertiga nggak suka gue deketin Mutia, silakan unfollow gue. Gue nggak suka kalau kalian mulai mengatur pilihan hidup gue,” ungkapku dengan lantang dan tegas.
__ADS_1
Memberikan masukan itu sah-sah saja. Namun jika sudah berusaha mencampuri privasi, siapa pun pasti tidak berkenan.
“Maaf, Gas!” ucap mereka bertiga.
“Tenang, Gas! Mungkin mereka cuma bercanda. Jangan terlalu dimasukin ke hati,” ucap Andy.
Hanya saja, Andy terkesan justru membela mereka. Aku pun tambah murka. “Bercanda? Lu belain mereka, Dy? Lu anggap semua yang mereka katakan itu lelucon, begitu?”
“I…. iya, gue ngerti. Semua yang tadi mereka omongin memang cukup berlebihan. Tetapi, maksud mereka mungkin hanya bercanda. Gue yakin mereka nggak ada niatan sedikit pun ngatur-ngatur wilayah privasi lu, Gas,” papar Andy.
Andy selalu berupaya menjadi penengah ketika ada kekisruhan dalam komplotan ini. Ya, komplotan. Aku masih enggan mengikrarkan kebersamaan kami berlima dengan nama pertemanan apalagi persahabatan.
“Gu…. gu…. gue minta ya, Gas. Gue sama sekali nggak bermaksud ngomong seperti yang lu tuduhkan.” Leo meraih tanganku untuk meminta maaf.
“Kami juga minta maaf, Gas. Sumpah, kami nggak ada maksud seperti yang lu omongin.” Revan juga menyampaikan permohonan maaf.
“Bener, Gas. Kami janji nggak ajak membahas hal ini lagi,” imbuh Tommy.
Aku mengeratkan kepalan tangan, menunjukkan kekesalan untuk memberikan intimidasi kepada mereka. Dulu aku selalu diam tak berdaya ketika dikatai, sekarang sikap tersebut telah menjadi masa lalu. Akan kuperlihatkan yang namanya kuasa untuk menggunting lidah berandal mereka.
“Gas, ini tempat umum. Gue mohon lu jangan terbawa emosi ya.” Andy terus berupaya meencegah luapan amarahku.
Hem! Aku mencoba mencerna keadaan. Betul. Aku harus bisa meredam kemarahanku. Ada citra yang harus tetap dijaga. Tujuanku belum tercapai semua.
“Gas, mereka juga sudah minta maaf sama lu. Gue yakin mereka nggak akan mengulangi hal serupa lagi,” bisik Andy berupaya terus untuk mendinginkan kepalaku.
Aku atur nafas untuk menghembuskan kekesalan. Gas, terlalu dini untuk mendepak mereka sekarang! Ucap otakku.
Aku buat 3 Cecunguk itu terlena dengan permintaan maafku. Seakan mereka berharga bagiku. Tunggu saat nanti, ketika sembilu yang aku tancapkan menyasar daging di tubuh mereka.
Lalu, Leo, Revan, dan Tommy bangkit. Mereka merangkulku secara bergantian. Mereka juga ucapkan permohonan maaf lagi.
Huh! Pancinganku berhasill.
Aku harus terus mempertahankan Andy supaya berada di pihakku. Dia mampu mendinginkan kepalaku. Dia memang jauh lebih berguna untukku.
“Ya udah, gue pulang dulu ya. Ada hal yang gue harus persiapkan untuk pemilihan duta kampus nanti.” Aku pamit karena muak melihat mereka bertiga.
“Gas,” Revan berupaya menahan langkahku.
“Tenang, Van! Seperti biasa, gue yang bayar ini semua,” terangku seraya melemparkan senyum simpul.
“Bukan itu maksud gue….”
“Udah Van, kita nggak usah larut bahas hal yang tadi lagi,” ucapku bersikap dewasa walau sebetulnya sebuah kamuflase.
Kepalaku sedang menampung banyak rencananya. Aku harus memetakannya satu per satu. Aku juga harus menyusun skala prioritas. Pokonya, aku tidak boleh gegabah. Semua yang dilakukan tidak boleh keluar dari jalur yang bangun.
__ADS_1
Membalas sakit hati kepada Leo, Revan, dan Tommy bukanlah perkara yang sulit. Buat mereka seperti sapi gelonggongan. Dijejali makan dengan cara apa pun. Bukan untuk dikonsumsi, melaiankan untuk melihat mereka kesakitan. Kapan tepatnya hal tersebut aku lakukan? Ada misiku yang membutuhkan mereka untuk bertarung di garda terdepan sebagai prajurit. Intinya, jangan tergesa-gesa dan terbawa nafsu.
Sebuah perang tidak hanya membutuhkan senjata, tetapi perlu teknik yang baik. Sekarang sudah bukan zamannya lagi mengadu “mekanik” untuk melumpuhkan musuh.
***
Kejadian di White Horse kemarin lusa, aku tepikan di pinggir pikiranku. Fokusku sekarang yaitu menjadi pemenang duta kampus yang akan dilangsungkan pekan depan. Dengan kemenangan tersebut, kepuasan batinku akan meningkat berkali lipat.
Keluar dari kelas, aku bergegas menuju Balai Besar (aula utama kampus). Adisty mengabarkan ada technical meeting di sana. Poin penilaian juga akan disampaikan dalam pertemuan tersebut. Termasuk semua peserta diharapkan memberikan rancangan bakat yang akan ditampilkan di malam puncak pemilihan.
Kira-kira bakat apa yang akan kupentaskan? Bermain futsal? Menembak? Hah, menyanyi saja lah. Mungkin terdengar mainstream. Bahkan, aku sendiri belum pernah menguji tubuh ini bisa bersenandung merdu atau tidak.
Ketika sibuk mengidentifikasi bakat, kulihat Mutia berdiri di seberang mata. Lantas, aku pun berniat untuk menghampirinya. Terlebih, Mutia juga melemparkan senyum kala pandang kami beradu.
“Hai, Gas. Kamu mau ke mana? Kok kayak buru-buru gitu?” tanya Metha.
Apa, Metha? Aku tak mengira akan kedatangannya.
Kemudian, Metha bergerak cepat menghadang langkahku. Selalu saja ada gangguan untuk intim bersama Mutia.
“Em…. aku…. mau ke Balai Besar. Ada technical meeting di sana untuk acara Duta Kampus.”
“Wah! Aku ikut ya, Gas?” Metha merangkul lengan kananku.
Aku pun dibuat canggung olehnya. Mutia melirik, lalu pergi. Aku ingin memanggilnya, tetapi ada masalah yang seakan membayangi. Ya, persahabatan antara Mutia dan Metha.
Mereka berdua sepertinya sedang tidak akur. Tampak jelas dari sikap keduanya yang tidak lagi saling betegur sapa. Ditambah, Metha yang biasanya heboh memanggil Mutia, hanya diam seolah tidak melihat.
Namun, Mustahil Metha tidak melihat Mutia. Dia datang dari arah yang tegak lurus dengan posisi Mutia.
Hah! Bagaimana ini? Andy menyarankan aku harus tegas kepada Metha. Akan tetapi, aku juga teringat omongan Ardi tentang Mutia yang mungkin akan memilih menyelamatkan persahabatan daripada aku. Intinya, aku harus berbicara dulu dengan Mutia. Tapi, kapan waktunya? Ini obrolan serius, kurang afdol jika dibicarakan melalui telepon.
“Gas, ayo!” Metha menarikku agar segera melangkah.
Sementara itu, aku terpaku melihat Mutia berlalu.
“Met, maaf ya, aku nggak bisa ajak kamu ke ruang acara. Soalnya….”
Metha memotong ucapanku. “Iya, Gas. Aku paham. Nanti aku lihat dan tunggu kamu dari luar kok. Oke, kan?” Dia begitu sumringah ingin menemaniku.
Aku menggoyangkan kepala ke bawah. Mau bagaimana lagi. Aku terjepit dalam menghidupkan perasaan Metha.
Apa aku jujur saja bahwa aku bukanlah Bagas yang dia kagumi? Dengan cara seperti itu, dia mungkin akan jijik dan menjauhiku.
Ah, tidak! Opsi tersebut terlalu konyol. Aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak membongkar identitas asliku kepada siapa pun.
Dengan amat sangat terpaksa, aku berjalan beriringan bersama Metha. Kekhawatiranku yang lain juga muncul. Bagaimana jika tiba-tiba ada Dita di depan mata? Atau ada temannya yang memata-matai pergerakanku seperti malam yang lalu saat Metha memelukku.
__ADS_1
Aku memang sudah memperingatkan Dita, tetapi kerusuhan bisa saja terjadi tanpa kuketahui. Sial!
Di lain sisi, aku semakin heran dengan sikap Metha. Dia mengatakan aku dan Mutia serasi. Dia tahu aku menyukai Mutia. Namun, mengapa sekarang dia berusaha menghalangiku untuk lebih serius mendekati Mutia?