
Otak menggerakkan lidah tanpa permisi pada hati. Seakan melihat peluang, mulutku mengalun begitu saja. Padahal, aku sudah mewanti-wanti untuk tidak tergoda menyatakan perasaaan saat ini.
Bagi sebagian orang, mungkin lebih cepat lebih baik. Namun, aku orang yang selalu memperhitungkan langkah. Aku tidak mau gegabah. Aku tidak mau nantinya dihinggapi penyesalan. Kecuali, tentang keputusan menelan Mutiara Pengubah Nasib. Aku melakukannya tanpa banyak pemikiran, karena aku yakin hal tersebut hadiah dari Tuhan.
Mutia memandangku tersipu, Aku tidak bisa membaca arti raut wajahnya, entah sebuah kesenangan atau sebuah ancang-ancang untuk melakukan penolakan secara halus.
“Kok kamu bertanya tentang perasaan aku ke kamu?”
Aku kira Mutia akan memberikan jawaban. Ternyata, dia justru bertanya balik. Kalau sudah begini, apa yang harus aku lakukan?
Aku terjebak dalam pertanyaanku sendiri. Seketika kepala terasa kopong. Aku mulai bimbang. Menjelaskan atau mengalihkan pembahasan?
“Oh! Haha…. Aku cuma bercanda. Mut. Aku cuma aneh aja sama Metha. Masa dia nyuruh kamu ngalah. Kita kan belum ada hubungan apa-apa. Haha….”
Hah! Dasar payah! Aku telanjur gugup, maka aku belokkan saja topik.
“Gas, aku tuh lagi serius. Kamu malah candain aku.”
“Maaf, maaf.” Aku juga sebenarnya serius, tetapi aku masih takut untuk menghadapi kenyataan yang mungkin tak sejalan dengan harapan.
“Kamu sendiri, apa ada perasaan sama Metha, Gas?” Mutia memandangku cukup dalam. “Em…. maksudku…. aku bukan ingin tahu tentang masalah pribadimu. Aku hanya tidak mau Metha merasa diberi harapan oleh kamu.”
Aku pun berpikir sama dengan kalimat terakhir yang Mutia ucapkan. Namun, aku tidak merasa memberikan harapan kepada Metha.
“Sekali lagi, aku minta maaf ya, Mut.”
Mutia mengatakan lagi jika aku tidak perlu merasa bersalah. Mungkin memang antara dia dan Metha sedang ingin menunjukkan sisi warna yang berbeda.
Menurutnya, terkadang persahabatan sejati perlu melewati beberapa ujian untuk menunjukkan keaslian. Apabila masalah ini saja (perihal laki-laki) sudah menemui jalan buntu, maka yang salah yaitu ego masing-masing.
Tidak semua hal bisa aku ceritakan kepada Mutia. Seandainya dia tahu memang akulah yang menjadi penyebab pertikaian dia dengan Metha, apakah dia akan memilihku?
Mutia juga bertanya terkait pertengkaran Metha dan Dita hari itu. Terkait hal tersebut, aku jelaskan secara jujur kepadanya. Pelukan antara aku dan Metha bukanlah didasari rasa cinta. Kala itu Metha mengungkap isi hatinya kepadaku, tetapi aku tidak memiliki rasa apa pun terhadapnya. Jadi, sentuhan yang terjalin hanyalah sebuah penenang.
Jika diakumulasikan, aku telah membuat dua kekacauan dalam hidup Metha. Dia bertengkar dengan Dita dan sahabatnya sendiri, Mutia. Namun, bukankah itu masalah pribadi Metha? Semestinya dia bisa bersikap lebih dewasa seperti omongannya terkait dukungan untukku bersama Mutia.
Ah, sudahlah! Intinya, aku sudah semakin yakin untuk menghadapi Metha hari esok.
Lantas, kami mengobrol lebih santai. Kami mengenang masa sekolah dulu, walau aku sangat berhati-hati berucap. Aku cari aman dengan lebih banyak mendengarkan cerita Mutia.
Akan tetapi, kekhawatiran terbersit ketika keakraban mulai terjalin hangat. Haruskah aku mengawali pendekatan sebagai teman terdekatnya? Bagaimana jika lama kelaman dia lebih nyaman menganggapku teman atau sahabat, bukan sebagai kekasih? Sifat pemikirku datang tak mengenal waktu.
***
Hari pemilihan duta kampus tiba. Perasaanku sebenarnya biasa-biasa saja. Mendadak antusiasmeku turun. Gairahku pudar karena tidak melihat Mutia hadir dalam acara ini.
Adisty terus menyemangatiku. Ia yakin aku pasti menang. Katanya, di atas kertas aku jauh unggul dari perwakilan jurusan lain. Andy, Tommy, Leo, dan Revan juga memberikanku sumbangsih berupa semangat yang tiada henti.
Aku akan tetap menjalani rangkaian penilaian secara optima. Hanya saja, aku merasa kemenangan yang mungkin akan kudapati menjadi kurang berarti jika Mutia tidak ada sini.
Dari awalnya niatku mengikuti ajang ini untuk memuaskan obsesi, kini menjadi upaya untuk “pamer” kepada Mutia. Ke mana dia sekarang? Mengapa dia tidak datang? Padahal, kemarin dia sudah berjanji akan hadir untuk mendukungku penuh.
Ada tiga babak yang harus aku lewati. Pertama, perkenalan dan pemaparan motivasi mengikuti ajang pemilihan duta kampus. Kedua, unjuk bakat. Ketiga, menjawab pertanyaan dari dewan juri.
__ADS_1
Jarum jam terus berputar. Detik ke menit aku memerhatikan kursi penonton. Harapan besar akan kedatangan Mutia tak lepas dari pikiran.
Hingga tiba waktunya aku mempresentasikan diri, Mutia masih tidak terlihat juga. Aku yakin dia bukan sosok yang bisa mengingkira janji. Apa suatu hal tengah menimpanya? Harapan berubah menjadi kekhawatiran.
Aku tunggu babak kedua di belakang panggung. Ponselku berbunyi. Sebuah pesan WhatsApp dari Mutia muncul dalam pop up layar.
[Maaf ya, Gas. Aku datangnya telat. Semangat!] Tulisnya.
Aku pun segera mengintip ke tribun. Betul, ada Mutia berdiri di barisan paling belakang. Aku perhatikan di sekelilingnya. Huh! Syukurlah, dia tidak didampingi oleh Ardi.
Waktuku untuk menampilkan bakat dimulai. Semangatku menggelora. Sebuah lagu dari Jamie Miller berjudul Here’s Your Perfect menjadi kesempatanku untuk memikat Mutia dengan suara.
Setelah kutahu tubuh ini bisa bernyanyi, tentu aku gunakan sebagai daya pikat. Bagaimana pun, perempuan menyukai pria yang romantis dan bersuara merdu, bukan?!
Riuh bergemuruh, tepuk tangan mengudara hingga puluhan detik. Mutia tersenyum ke arahku. Sempurna! Tadi, aku terlalu dini mengambil asumsi bahwa hari ini akan begitu membosankan.
Tak sabar rasanya ingin mengangkat piala ke arah Mutia. Ya, seperti kata Adisty, kemenanganku hanya menunggu pengumuman saja.
Acara pun terasa berjalan lebih cepat. Semangat seolah mendorong jarum jam dengan kuat. Tibalah di babak terakhir, dan di giliranku.
Salah satu juri mengambil kertas pertanyaan. “Menurut Anda, apa yang menjadi masalah utama remaja zaman sekarang atau di era digital ini? Dan apa pendapat Anda dalam menyikapi permasalahan tersebut?”
Dengan penuh percaya diri, aku layangkan senyuman kepada juri mau pun penonton. “Baik. Menurut saya, permasalahan utama yang dihadapi oleh remaja saat ini yaitu krisis identitas. Dengan berkembang pesatnya teknologi dan media sosial, banyak remaja yang membandingkan hidupnya dengan orang lain. Ketika mereka melihat hidupnya tidak lebih baik dari temannya atau sekitar, mereka pun mulai mempertanyakan arti dan tujuan hidup.” Aku jeda sekira 3 detik untuk menghela nafas.
“Maka dari itu, penting bagi diri sendiri untuk menganggap hidup ini sempurna. Tak perlu berusaha menjadi seperti orang lain, tetapi belajarlah dari orang lain. Jadi diri sendiri dan tunjukkan pada dunia bahwa setiap orang itu spesial,” sambungku.
Waktu satu menit aku manfaatkan dengan baik. Terbukti, tribun bergemuruh kembali. Bahkan, aku seperti menyalakan kembang api. Semua penonton berdiri memberikan sambutan atas jawabanku.
Aku terlambat membaca jendela notifikasi. Kulihat, nama Ardi terpampang sebagai sang pengirim.
Jawaban yang sangat bagus. Sayangnya, itu seharusnya diucapkan kepada diri sendiri terlebih dahulu! Tulisnya penuh sarkasme.
Aku tidak melihat keberadaan Ardi di aula ini. Di mana dia?
Aku intip lagi dengan berjalan ke arah samping panggung. Mutia masih sendirian.
Biarlah! Lebih baik aku abaikan saja ejekan Ardi. Aku sadar dengan pernyataanku barusan. Bukan bermaksud menggurui, tetapi jawaban tersebut memang untuk diriku sendiri dan menyemangati orang lain. Apa aku salah jika bercerita pengalamanan pribadi secara tersirat? Hah! Aku tidak boleh terpancing dengan provokasi psikis yang Ardi layangkan.
Pengumuman pemenang diumumkan. Hasilnya, sesuai perkiraan. Aku menjadi juara satu. Namun, Mutia tidak ada di posisinya ketika aku hendak menebarkan senyum kepadanya. Ke mana dia? Kenapa dia tiba-tiba menghilang?
Aku berjalan mengelilingi aula untuk mencari Mutia. Aneh! Dia pergi saat aku ingin mempersembahkan kemenanganku.
“Dasar munafik!” umpat seseorang.
Aku mengenali pemilik vokal tersebut. Namun, di mana dia berada?
“Maksud kamu apa sih, Met? Kamu ngajak aku ketemu di sini buat ngomongin hal apa sebenernya?”
Ya, itu Metha dan Mutia. Aku coba berjalan ke arah belakang, tepatnya di samping gudang alat. Terlihat mereka saling berhadapan.
“Ngapain kamu tadi senyum-senyum ke arah Bagas pas Bagas di atas panggung? Aku juga tahu kemarin kamu makan berdua di McD sama Bagas, kan?” tanya Metha.
Sementara waktu, aku dengarkan dulu saja perdebatan mereka.
__ADS_1
Tetapi, tadi aku tidak melihat ada Metha di barisan penonton. Bahkan Dita pun tak tampak sejauh mataku menerawang. Hanya ada teman-temannya saja. Apa karena aku hanya fokus mencari Mutia?!
“Lalu, salahnya di mana, Met?” Mutia menimpali cercaan Metha dengan suara yang masih datar. “Bagas itu teman sekelas kita, mewakili jurusan kita, apa aku salah memberikan dia semangat? Terkait makan bareng di McD, kenapa aku tidak boleh makan bareng sama dia?”
“Kamu ini bebel (tidak bisa diberi tahu), aku udah bilang tolong mundur. Jangan deketin Bagas lagi! Apa belum jelas juga permohonan aku? Hah?” Metha terus meninggikan nada suara. “Aku nggak suka kamu terus mepet-mepet ke Bagas.”
Mutia terlihat mengatur nafas. “Kamu nggak suka aku deket Bagas karena apa? Kalau kamu suka sama Bagas ya silakan, tapi kamu nggak bisa dong meminta orang lain terus menjauhi Bagas.”
“Apa jangan-jangan kamu suka juga sama Bagas? Kalau iya, aku minta kamu mundur tanpa aku harus bilang lagi dan lagi. Ini permintaanku sekaligus peringatanku yang terakhir. Aku bisa mempertimbangkan lagi untuk kita bersahabat seperti sebelumnya. Asal kamu tahu diri.” Metha mengacungkan telunjuknya kepada Mutia.
Aku berdebar mendengar pertanyaan yang Metha layangkan kepada Mutia. Ya, aku ingin segera tahu jawaban yang keluar dari Mutia.
Namun, Mutia hening sejenak. Ia menengok kanan dan kiri seolah mengambil waktu untuk menyusun jawaban.
“Kalau semisalnya aku suka sama Bagas, dan Bagas juga suka sama aku, kenapa? Kamu nggak bisa minta aku mundur. Kamu nggak punya hak untuk meminta itu. Kecuali, status hubunganmu dengan Bagas itu jelas,” terang Mutia.
“Emang kamu itu ternyata sok alim ya. Luarnya aja kelihatan pendiam. Dalamnya busuk. Kamu lebih memilih merusak persahabatan daripada memperbaikinya,” caci Metha.
“Merusak persahabatan?” Mutia mulai melantangkan suara. “Siapa yang sebenarnya merusak persahabatan? Kalau aku dan Bagas saling menyukai, mengapa aku yang harus mundur? Mengapa bukan kamu yang mundur dan mendukung sahabatmu? Kamu nggak bisa mengatur-ngatur perasaan seseorang. Kamu minta aku menjauhi Bagas, sementara ketika aku tanya hubunganmu dengan Bagas apa, kamu jawab masih sebatas pendekatan. Aku juga tanya kepada Bagas, dia bilang bahwa dia nggak ada perasaan yang sama seperti perasaan kamu ke dia.”
Metha berurai air mata. Mutia tampak tegar menghadapi sikap Metha.
Aku senang mendengar pengakuan Mutia. Namun, aku juga tidak tega membiarkan ia bertengkar dengan sahabatnya.
“Jadi, kamu suka sama Bagas?” Metha mempertegas lagi pertanyaan.
Mutia berusaha merangkul Metha, tetapi Metha memilih mundur beberapa langkah.
“Cepet jawab! Iya atau tidak? Aku ingin dengar sekali lagi pengakuan dari orang munafik, sok suci, sok alim di depanku.”
“Met, itu hanya analogi. Aku hanya ingin kamu berpikir realistis. Kalau kamu ingin mendapatkan sesuatu, ya berjuang. Bukan menyuruh orang lain mundur supaya kamu tidak memiliki saingan.”
“Nggak usah sok ngajarin gue. Dasar pelakor!” hujat Metha. Lalu, dia pun pergi.
Setelah Metha berlalu, aku lihat Mutia menutupi wajah dengan kedua tangannya. Ia tampak menangis.
Aku langkahkan kaki untuk menghampiri Mutia. Akan tetapi, seseorang menarik tanganku dari belakang.
“Gimana perasaan lu melihat drama yang barusan tersaji? Seru? Terhibur? Atau masih kurang menarik?” tanya Ardi dengan satir.
Dia benar-benar seperti bukan manusia. Atau dia sebenarnya jin? Ah, entahlah! Lebih baik aku hampiri Mutia.
“Biarkan Mutia sendiri. Kehadiran lu hanya akan membuat dia semakin merasa bersalah!” cegah Ardi.
“Sejak kapan lu ada di sini?”
Ardi memasang ekspresi mengejek. “Sejak lu terdiam menikmati dua sahabat bertengkar hanya karena memperebutkan lu. Gimana? Apa sekarang lu sudah merasa puas karena telah menaklukan hati banyak orang?”
“Gue heran sama lu. Apa sebenarnya lu adalah iblis yang menyamar? Lu masuk ke dunia manusia untuk merusak tatanan hidup orang lain?” kesalku.
“Lu terlalu jauh berpikir. Gue hanya iba aja sama lu. Kalau gue boleh balik bertanya. Lu sebenarnya ingin merasakan kehidupan yang sempurna atau ingin membalas dendam terhadap orang-orang yang pernah merendahkan lu,” ucap Ardi setengah berbisik.
Semakin ke sini, semakin aku penasaran dengan jati diri Ardi sebelumnya. Apa tujuan besar dia bertukar tubuh denganku? Ada keanehan besar yang aku rasakan berselimut dalam dirinya.
__ADS_1