Inikah Rasanya?

Inikah Rasanya?
Chapter 49: Mangsa


__ADS_3

Aku telah menjadi pembunuh. Ironisnya, aku membunuh tubuhku sendiri.


Kupandangi langit yang beranjak gelap. Awan-awan putih mengembara ke belahan bumi yang lain. Keindahan matahari yang tenggelam di tengah laut, kini menjadi selaksa nelangsa yang membayangi masa depanku.


Air mataku mengalir semakin derasan. Deburan ombak bak musik pengiring larat. Batinku gundah, pikiranku tak tentu arah.


Aku pejamkan mata untuk menetralisasi kemelut diri. Keyakinan yang sempat terpatri dalam hati mulai terkena abrasi. Apa aku bisa lepas dari kegalatan ini?


Mengapa aku bisa bertindak sejauh ini? Seharusnya aku biarkan saja si Kunyuk dan Dita melakukan perbuatan bejat mereka. Seandainya aku memilih untuk tidak peduli, mungkin aku tidak akan menjadi seorang pembunuh.


Bagaimana pun, aku tidak suka hidup menggenggam masalah, terlebih tentang menghilangkan nyawa seseorang.


Ah! Di mana stok kesabaranku dan sikap tak acuhku yang dulu bersemayam kuat dalam jiwa? Setidaknya, menjadi seorang apatis bisa menghindarkan tangan dari lumuran darah.


Dosa dan siksa, maksiat dan bencana, itu urusan mereka. Aku bertindak bak pahlawan, tetapi justru terbawa menjadi sosok yang sangat kejam. Aku lepas kendali hingga kehilangan akal sehat.


Akhhhhh!!! Tidakkkkk!!!


“Tidak, aku bukan pembunuh. Aku hanya membela diri,” jeritku ke angkasa. Dalam barisan kata tersebut terselip hajat untuk Penguasa Langit agar tidak menghukumku dengan karma atau azab.


Si Kunyuk yang memancingku untuk melenyapkannya. Jadi, ini bukan salahku sepenuhnya. Ini hanya kecelakaan. Ini sebuah ketidaksengajaan.


Haha! Aku lambungkan tawa untuk menghibur diri sekaligus memikirkan langkah pasti untuk mengaburkan fakta yang tersaji. Bukankah dengan tewasnya si Kunyuk berarti tidak ada pergantian raga lagi?


Lusa, yang sejatinya kelam, akan tidak jadi bergulir di hidupku. Aku adalah Bagas yang abadi. Tak ada lagi yang menyiangi langkahku. Haha!

__ADS_1


Apa yang aku khawatirkan?


Bagas merupakan sosok dewa yang selalu menjadi idola. Baik, penyayang, sabar, karismatik, dan semua sifat positif yang dimiliki ada pada dirinya. Pun, semua sifat tersebut bisa dijadikan kucuran air bersih untuk mencuci tanganku.


Semua orang percaya jika Bagas ialah manusia suci. Maka dari itu, sepatutnya, aku tidak perlu ketakutan secara berlebihan begini.  Asalkan konsisten dalam berperilaku, tak akan ada satu pun yang mampu menyingkap kedokku.


Aku juga punya banyak materi. Aku bisa lakukan hal yang sama, seperti yang terjadi kepada si Kunyuk, kepada Dita. Cukup cari orang yang sedang terdesak memerlukan uang, lalu limpahkan semua dosa kepadanya. Hidupku aman sentosa.


Persetan dengan rasa bersalah! Di dunia ini tak ada manusia yang luput dari tinta neraka. Mereka hanya pandai menutupinya dengan berbagai topeng kebaikan di hadapan masyarakat.


Pencitraan dan menjaga label baik di badan, itulah kuncinya.


Cerdas! Kecerdasanku memang luar biasa. Hahaha!


Lantas, kuputar penglihatan untuk mencari si penabuh satir.


Setelah pandanganku dengan dia bertemu, aku coba memperbaiki gestur tubuhku. Dia pasti baru datang ke tempat ini. Aku tak boleh menunjukkan ekspresi yang kalut dan panik.


“Ha…. hai, Met. Kamu baru pulang? Ada apa kamu ke sini?” Aku tebarkan keramahan kepadanya.


Metha menggariskan senyum. Namun, guratan yang ia buat tampak berbeda. Tidak terlukis sebagai balasan keramahanku, melainkan semburan ancaman.


“Aku sama sekali tidak berpikir kamu bisa berindak sejauh ini. Tetapi aku yakin kamu lebih tidak berpikir bahwa setelah kamu melakukan tindakan tadi, ada saksi dan bukti yang mampu menjeratmu pada hukuman,” ungkap Metha sembari menyilangkan kedua tangannya di dada.


Sial! Sesuai dengan dugaanku, Metha melihat perbuatanku.

__ADS_1


Tidak! Mungkin saja itu hanya pancingan dari dia. Lagi pula, dia pasti baru datang ke tempat ini.


Aku paham dia ingin aku bercerita jujur. Kemudian, aku memohon ampun kepadanya. Aku bersujud agar dia menjaga rahasia ini. Tujuan utamanya, dia akan memberikan penawaran yang tentunya sangat menguntungkan bagi dia.


Dasar, Metha! Aku tidak sedungu itu. Aku terbiasa membaca wajah dan bahasa tubuh seseorang. Jadi, tak akan mudah untuk menipuku.


“Maksud kamu apa sih, Met?” tanyaku tenang.


Metha merogoh ponsel di saku belakang jeans-nya. Lalu, dia menepuk-nepukkan ponselnya ke telapak tangan kiri.


“Gas, kalau cuma aku doang yang lihat apa yang kamu lakukan tadi, pasti dunia tidak akan percaya dengan ceritaku. Namun, ada satu mata yang melihat aksimu dengan sangat jelas. Cukup aku klik bagikan, maka hukuman akan dengan cepat menghampirimu – secepat kamu menenggelamkan seseorang barusan,” paparnya.


Jelas, aku tak bisa untuk tidak cemas. Kata-kata yang keluar dari mulut Metha sangat nyata mengindikasikan perbuatanku tertangkap olehnya.


“Kok mukamu jadi tegang gitu sih, Gas? Kamu takut atau nggak percaya dengan yang aku katakan?” Dia bak berada di atas angin. “Biar kamu nggak nuduh aku mengarang cerita, kamu bisa lihat rekaman berikut ya,” seringainya.


Metha membentangkan layar ponselnya. Kemudian, ia tekan tombol segitiga untuk menjalankan video.


Ya, Metha tidak membual. Adegan aku menghabisi si Kunyuk dari awal hingga akhir tergambar secara gamblang di ponselnya.


Tenang, Gas! Jangan langsung tersulut emosi! Nasihatku dalam hati kepada diri sendiri


Aku amati gerakan tubuh Metha. Aku cari titik kelengahannya. Setelah yakin, aku rebut ponselnya. 'Kan kubuang benda jahanam tersebut ke laut untuk meemani si Kunyuk berenang.


Naluri buasku tengah diuji. Lantas, mengapa tidak untuk menjadi hiu yang kelaparan?

__ADS_1


__ADS_2